
Rintik hujan yang berisik beradu dengan gelegar petir yang bersahut-sahutan membangunkan Zahira dari tidur di jam 4 subuh. Kondisi kamar yang gelap dan air conditioner yang disetel pada suhu minimum membuat kesan dingin nan mencekam semakin terasa. Kabar buruknya, ia lupa menutup pintu akses menuju balkon dengan benar sehingga angin dingin dari luar pun turut berembus masuk, menerpa tubuhnya yang terbalut baju tidur tipis hingga menggigil tak keruan.
Gontai, Zahira turun dari ranjang. Langkahnya terseret menuju pintu balkon, hendak menutupnya dengan benar. Namun, dia malah berakhir terduduk tak berdaya di sana, kembali menangis sebab ingatan tentang pertengkaran dirinya dengan Juan beberapa waktu lalu kembali datang menyambangi.
Zahira masih ingat dengan jelas bagaimana Juan berdiri di luar pagar rumahnya dalam keadaan basah kuyup hanya agar hubungan mereka menjadi baik-baik saja. Lelaki itu menyingkirkan segala sisi egoisnya, mengesampingkan emosi yang bisa meluluhlantakkan segalanya. Jika dipikirkan lebih banyak, Zahira sadar Juan memang berjuang lebih banyak. Kekasihnya itu selalu menjadi yang paling keras kepala, yang paling berkeinginan agar hubungan mereka baik-baik saja. Meski terkadang caranya cukup ekstrem dan cukup untuk membuatnya sakit kepala, Zahira tahu itu semua Juan lakukan karena menyayangi dirinya.
Sedangkan Zahira sendiri, ia merasa dirinya terlalu pasrah menerima keadaan. Setiap kali mereka bertengkar, apalagi jika masalah itu datang dari Juan, ia akan menjadi sangat egois dengan tidak melangkah lebih dekat, menjadi jauh lebih pasif dan hanya menunggu sampai Juan datang mendekat membawakan segala bujuk rayu dan solusi untuk masalah mereka. Zahira kalah, oleh dirinya sendiri, oleh ketakutan-ketakutan yang dia tahu mungkin bahkan tidak akan pernah terjadi.
Tentu tidak boleh begini. Zahira tahu ada yang salah dengan Juan malam tadi. Seharusnya dia mencari cara untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kekasihnya itu, tanpa membuat hubungan mereka kembali bersitegang, kan?
“Ju,” Zahira menekan dadanya sendiri, meraba-raba, mencari di mana titik sakit yang membuat dadanya seakan penuh hingga tidak mampu menampung oksigen yang dia hirup susah payah dengan lebih baik.
Menangis tidak pernah menjadi solusi untuk masalah apa pun. Zahira tahu. Dia paham air matanya tidak akan menyelesaikan apa-apa. Tapi subuh itu, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain menangis sepuasnya.
Waktu yang berlalu dengan Zahira yang tersedu-sedu akhirnya berhenti pada satu titik ketika azan subuh berkumandang. Alarm di tubuh Zahira berbunyi, serta-merta membantu menutup keran yang membuat air matanya banjir tiada henti.
Dengan napas yang tersengal-sengal karena masih sedikit terisak, Zahira berjalan kembali mendekati ranjang. Ponsel miliknya tergeletak di atas nakas, sejak semalam tidak dia sentuh karena sepulangnya ia dari rumah sakit dengan tanpa diantarkan sampai ke dalam rumah oleh Juan, ia sibuk menangis.
Tangan gemetarnya yang dingin lalu meraih ponsel tersebut. Dadanya kembali terasa sesak saat tidak menemukan satu pun notifikasi yang berasal dari Juan di sana. Semakin memperkuat bahwa Juan memang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Untuk beberapa lama, Zahira mengambil waktu terdiam, menuntaskan tangis. Barulah kemudian, dia menggerakkan jemari rapuhnya untuk mengetikkan beberapa kata, lalu dia kirimkan kepada Juan sebelum akhirnya dia meninggalkan ponsel itu kembali ke atas nakas untuk bergegas ke kamar mandi mengambil air wudu.
Zahira tahu mungkin akan kedengaran kurang ajar, tetapi di sepanjang perjalanannya menuju kamar mandi, tak putus-putusnya ia berdoa semoga Tuhan yang dia agung-agungkan masih berkenan membiarkan dirinya dan Juan berjalan bersama. Semoga hubungan mereka masih bisa dipelihara sedemikian rupa, sampai nanti mereka tahu harus bersandar di dermaga yang mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menyambut pagi tidak pernah terasa begitu menyesakkan bagi Juan sebelum ini. Mungkin sampai pukul 2 atau 3 dini hari, dia masih terjaga bersama ponsel yang dia genggam erat sekali. Harapannya jelas hanya satu, dia ingin menunggu apakah ada pesan yang dikirimkan oleh Zahira untuk dirinya. Sekadar menanyakan apakah dirinya sudah sampai rumah dengan selamat atau belum. Namun nyatanya, satu pesan pun tidak dia dapati hingga dia memutuskan untuk mematikan ponselnya dan pergi tidur dengan perasaan yang tidak baik.
“Ayo ke Moana.” Reno tahu-tahu menyembulkan kepala di pintu kamar, membuat Juan memicing ke arah sepupu kecilnya itu lalu mendengus pelan.
“Ngapain?” tanyanya seraya bangkit dari kasur. Dia sudah siap dengan setelan kerja, tinggal merapikan rambutnya sedikit dan menyemprotkan parfum.
“Gue balikin sendiri aja, nanti naik taksi.” Tolak Juan. Bukan apa-apa, dia hanya sedang tidak ingin bersinggungan dengan siapa-siapa. Kalau bisa, dia bahkan ingin menepi dulu dari jangkauan pandang orang-orang, menghilang sebentar sampai kepalanya bisa kembali jernih dan bayangan soal laki-laki yang ‘memeluk’ Zahira semalam sepenuhnya hilang.
“Sama gue.” Reno bersikeras. “Gue nggak yakin Moana bakal biarin lo pergi cepat-cepat kalau lo datang sendiri.”
Kepala yang masih ribut dan emosi yang belum stabil membuat Juan akhirnya memilih mengalah saja, daripada dia harus terlibat baku hantam dengan Reno sejak masih pagi.
Usai menata rambut dengan jemari panjangnya dan menyemprotkan parfum sekenanya, Juan berjalan mendahului Reno. Tanpa membawa serta ponselnya, yang masih dia biarkan dalam keadaan mati.
__ADS_1
Reno mengekor di belakang setelah melirik nanar pada ponsel tak berdosa yang selalu saja menjadi sasaran utama kemarahan sepupunya. Dalam hati, ingin sekali dia bergerak lancang membawa serta ponsel itu dan memberikannya kepada Juan setelah menyalakannya nanti, tapi dia bukan orang yang seperti itu. Meski kepeduliannya pada Juan tinggi sekali, dia tidak akan berani melewati batas untuk sampai menyentuh barang-barang pribadi tanpa seizin sang empunya.
Jadi dengan hati yang sama terasa beratnya, Reno melanjutkan langkah. Menatap nanar punggung Juan yang bergerak semakin jauh, seakan sengaja membangun jarak yang lumayan di antara mereka.
“Lo di depan, gue buntutin dari belakang.” Ucap Reno begitu dia sampai di sisi mobilnya.
Juan tidak menoleh sama sekali. Bahkan, lelaki itu juga tidak memberikan reaksi untuk menunjukkan bahwa ucapan Reno didengar. Yang Juan lakukan hanya masuk ke dalam mobil Moana, menyalakan mesin dan langsung tancap gas bahkan sebelum ia memasang seatbelt dengan benar.
Bohong kalau Juan tidak mendengar apa yang Reno katakan. Dia hanya merasa tidak memiliki cukup energi untuk merespons hal-hal yang tidak terlalu penting.
Untuk menyingkirkan pemikiran apa pun yang akan mengganggu konsentrasinya menyetir, Juan menyalakan radio. Tapi sialnya, lagu yang pertama kali terputar dari sana tepat setelah sang penyiar berhenti mengoceh justru membuat dadanya semakin terasa lebam-lebam.
Peri Cintaku yang dinyanyikan ulang oleh penyanyi wanita berbakat, Ziva Magnolya, mengudara dengan begitu jemawanya. Seakan meledek, seakan hendak mempertegas bahwa sekeras apa pun dia berusaha, dinding pembatas antara dirinya dengan Zahira tidak akan pernah bisa dirobohkan, kecuali salah satu di antara mereka mau mengalah.
Bahkan dari masalah-masalah yang terus datang menghampiri, Tuhan seakan ingin menunjukkan bahwa cinta adalah anugerah itu tidak berlaku untuk mereka yang meyakini Tuhan yang berbeda, seperti dirinya dan Zahira.
Matahari bersinar terik di atas kepala, namun pagi itu, hujan turun begitu deras di hati Juan. Hujan yang sudah menjadi teman, dan tidak tahu kapan akan mereda.
Bersambung
__ADS_1