Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
All Alone Crying Ugly


__ADS_3

Semenjak mendengar langsung omongan tidak enak tentang Zahira dari rekan sejawat perempuan itu, Juan menjadi lebih overprotektif. Dalam sehari, ia bisa mengirim pesan kepada Zahira sebanyak belasan bahkan puluhan kali, hanya untuk memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja dan harinya berjalan lancar. Tidak cuma itu, ia juga sampai memanfaatkan koneksi yang dimiliki oleh orang tuanya untuk menaruh satu orang kepercayaan di rumah sakit tempat Zahira bertugas agar dia bisa segera tahu kalau ada yang mencoba mengganggu kekasih hatinya itu.


“Sebenernya kamu tuh lagi kenapa, sih, Ju?” pertanyaan serupa yang telah Zahira tanyakan sebanyak enam kali hari ini. Lima yang lain lewat pesan singkat, sementara yang keenam ini ditanyakan melalui sambungan telepon di sela-sela jam istirahat.


“Kenapa apanya sih, Sayang? Emang ada yang aneh ya? Kan, enggak.”


“Ada.” Zahira sedikit kedengaran ngotot. Sesuatu yang langka karena perempuan itu biasanya tidak pernah meninggikan suaranya kepada siapa pun. “Sikap kamu aneh, Ju. Dalam sehari bisa ngirim puluhan chat yang isinya nggak jauh-jauh dari nanyain apa aku happy atau nggak, adakah yang ganggu aku atau apa ada hal yang bikin aku ngerasa nggak nyaman.”


“Itu namanya care. Kenapa itu jadi aneh?” Juan masih berusaha menyimpan rapat luka itu sendirian. Ia tidak akan dengan sukarela menceritakan kepada Zahira soal alasan sebenarnya mengapa sikapnya menjadi berlebihan.


“Jadi aneh karena sikap kamu berlebihan, Ju. Kamu bikin aku ngerasa kayak ... kamu lagi nyembunyiin sesuatu.”


“Nyembunyiin apa sih, Za?”


“Ya nggak tahu. Mungkin kamu ... selingkuh?”


Gerakan tangan Juan yang tengah mengetikkan sesuatu di keyboard seketika terhenti. Ia mendesah pelan, mengusak rambutan yang mulai memanjang dengan gerak frustrasi. Untungnya, ruang kerja sudah sepi karena rekannya yang lain sudah lebih dulu pulang sejak setengah jam yang lalu sehingga ia tidak perlu khawatir akan ada yang menguping percakapannya dengan Zahira.


“Selingkuh katamu?” ada kekecewaan yang kentara dari nada suara Juan. Dari sekian banyak prasangka yang bisa saja dituduhkan kepada dirinya, kenapa Zahira harus menyodorkan yang itu? Kenapa seolah-olah cara perempuan itu memandang dirinya sama saja dengan orang-orang kebanyakan yang berpikir dia adalah pria berengsek yang tidak setia? “Sedikit pun nggak ada kepikiran di kepala aku buat ngelirik perempuan lain, apalagi sampai selingkuh.”


“Aku cuma nanya.”

__ADS_1


“Itu bukan pertanyaan, itu tuduhan.” Mungkin, itu adalah kali pertamanya Juan ngotot terhadap Zahira. Sudah jelas, ia juga akan menyesalinya nanti, ketika emosi yang memenuhi dadanya sudah tidak ada lagi. “Orang lain boleh mikir kayak gitu soal aku, mereka boleh ngira aku ini bajingan yang nggak setia yang suka nemplok sana sini sesuka hati. Tapi, Za, kalau sampai kamu pun berpikir kayak gitu, apa jadinya aku? Gimana aku bisa berpikir baik tentang diriku sendiri kalau nyatanya orang yang aku sayang pun nggak bisa menaruh percaya ke aku?”


“Nggak gitu maksud aku, Ju.”


“Aku tahu aku ini bajingan.” Juan memutuskan untuk tidak lagi peduli pada pekerjaannya. Kursi kerja beroda yang dia duduki diputar, membuatnya kini bisa melemparkan pandangan ke luar jendela demi melihat hamparan langit malam yang pekat. “Tapi selingkuh adalah sesuatu yang paling terkutuk, yang nggak akan pernah aku lakuin sekali pun seumur hidupku.”


Karena perselingkuhan di mata Juan adalah sebuah perjalanan singkat menuju kehancuran. Selama hidup, dia sudah dipertontonkan begitu banyak adegan perselingkuhan dari orang-orang terdekat. Dan selama itu pula, dia dibuat mengerti bahwa akhir dari sebuah perselingkuhan hanyalah perpecahan yang penuh dendam, penuh amarah dan kehancuran yang tidak bisa dihindarkan.


“Siapa pun boleh ragu, asal bukan kamu.”


“Ju,”


“Maaf kalau pesan-pesan yang aku kirim malah bikin kamu keganggu dan jadi mikir yang enggak-enggak. Aku cuma mau mastiin kamu aman dan nyaman, itu aja. Tapi kalau ternyata yang aku lakuin nggak berdampak positif apa pun buat kamu, ya oke, aku nggak akan lakuin lagi.”


“Aku tahu kamu capek, Za. Sama, aku pun capek. Kita sama-sama capek dan yang bisa aku lakuin buat kamu ya cuma memastikan kamu oke karena aku sadar, aku nggak bisa selalu ada di sisi kamu. Waktu yang kita punya buat ketemu sedikit, itu pun selalu kita habisin buat bahas banyak hal sampai kita kadang-kadang lupa buat bilang kangen satu sama lain.”


“Ju, aku—“


“Sekali lagi aku minta maaf karena udah bikin kamu nggak nyaman.” Lagi-lagi, Juan memotong ucapan Zahira. Entah, kepalanya hanya tiba-tiba terasa penuh dan dia takut akan meledakkan emosi secara besar-besaran jika ia tetap berdiam diri membiarkan Zahira melanjutkan ucapannya. Ia tidak siap untuk mendengar kalimat yang tidak berkenan di hatinya. Tidak, setelah tuduhan selingkuh meluncur begitu saja dari bibir Zahira.


“Udah malam, aku harus pulang. Kamu juga masih harus kunjungan, kan? Aku tutup teleponnya, ya, baik-baik kamu di sana.”

__ADS_1


Sepanjang sejarah 5 tahun mereka berpacaran, Juan hampir tidak pernah mematikan telepon lebih dulu, apalagi dengan kondisi hati yang berantakan seperti sekarang. Namun malam ini, dia banyak melakukan sesuatu yang baru pertama kali dia lakukan selama berpacaran dengan Zahira.


“Ah, bajingan.” Juan menarik rambutnya sendiri, cukup kuat hingga membuat kulit kepalanya terasa seperti mengelupas dan beberapa helai rambutnya seketika rontok. “Lo bajingan, Ju.”


...****************...


Di pojok tangga darurat yang sepi dan gelap, Zahira menangis tersedu-sedu setelah teleponnya dimatikan secara sepihak oleh Juan. Itu adalah yang pertama, dan rasa sakitnya ternyata sangat luar biasa.


Memang, Zahira mengakui bahwa ia telah salah. Meski sama sekali tidak ada niatan dari dirinya untuk menuduh Juan berselingkuh, namun caranya bertanya memang bisa saja membuat lelaki itu tersinggung.


Zahira merutuk, memaki dirinya sendiri yang terlampau bodoh untuk membaca situasi. Padahal dari sekian banyak orang yang ada di muka bumi, dia adalah yang paling tahu betapa perselingkuhan adalah hal yang sensitif untuk seorang Juananda Saputra. Ia yang paling tahu, tapi dia juga yang melemparkan tuduhan kepada lelaki itu.


Sesak. Zahira memukul dadanya berkali-kali dengan harapan bisa membantu dadanya menjadi lebih lega agar ia bisa menarik napas dengan benar. Namun ternyata, dia malah semakin merasakan kesulitan bernapas karena air mata yang membanjiri wajahnya turut membuat hidungnya tersumbat.


Selama 5 tahun berpacaran dengan Juan, ini adalah kali pertama ia menangis begitu hebat.


“Maaf, Ju...” sebanyak apa pun ia meminta maaf, Juan tidak akan bisa mendengarnya. Malahan, kata maaf itu justru sampai ke telinga seseorang yang diam-diam berdiri di balik dinding, menyaksikan perempuan yang dia kagumi selama beberapa bulan terakhir menangis tersedu-sedu untuk alasan yang tidak dia ketahui.


Daripada berjalan mendekat dan bersikap sok akrab dengan menawarkan sapu tangan seperti yang biasanya ada di dalam drama-drama percintaan, orang itu lebih memilih untuk duduk lesehan di atas lantai yang kotor. Punggung serta kepalanya bersandar di tempok yang dingin, sementara telinganya masih terus dibuka lebar-lebar agar bisa mendengar setiap isak tangis yang keluar dari bibir Zahira.


Zayyan, dokter muda berusia 29 tahun itu lalu merelakan waktu istirahatnya terbuang, lebih memilih untuk menemani Zahira menangis ketimbang merebahkan dirinya untuk tidur mumpung ada waktu.

__ADS_1


Semakin lama, tangis Zahira semakin kedengaran pilu, sementara Zayyan masih dengan setia menjadi saksi betapa hancurnya hati perempuan itu.


Bersambung


__ADS_2