
Masih di hari yang sama, seakan tidak ingin melewatkan waktu bersama Zahira hanya dengan membenahi cafe dan hunian mereka kelak, Juan juga membawa Zahira ke showroom untuk membeli mobil. Meski sudah terbiasa menggunakan layanan ojek dan taksi online, Juan tetap merasa dia perlu menghemat agar uangnya bisa dipakai untuk keperluan yang lain.
Kalau ini si Juananda Saputra yang dulu, yang kerjaannya hanya datang ke kampus untuk setor absen lalu sehabis itu pergi nongkrong bersama teman Pain Killer di Mega, dia tidak akan kepikiran untuk menghemat uang—yang memang bukan dia yang mencarinya. Tapi karena ini adalah Juananda Saputra versi baru yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi calon kepala rumah tangga, dia sudah mulai memperhitungkan semuanya pelan-pelan.
“Yang ini oke, sih, tapi nanti kamu nggak bisa pakai, ketinggian.” Ujarnya kala seorang staf menuntunnya dan Zahira ke arah satu unit mobil Pajero Sport keluaran terbaru. Body-nya yang kekar jelas tipe Juan sekali. Tetapi karena dia perlu memastikan Zahira juga bisa nyaman menggunakannya, dia akan mencari alternatif yang lain.
“Kenapa jadi aku, deh? Ini kan mobil kamu, kamu yang beli, kamu juga yang mau pakai.” Sahut Zahira, sementara Juan malah menanggapinya dengan gelengan kepala.
“Ada yang body-nya lebih kecil dengan spesifikasi yang nggak terlalu beda jauh nggak, Mas? Yang istri saya bisa aman gitu pakainya. Kalau pakai Pajero takut dia nggak nyampe buat nginjak pedal gas.” Tutur Juan kemudian, membuat staf laki-laki yang menemani mereka berkeliling sejak beberapa menit yang lalu sontak mengulum senyum.
“Ada, Pak, sebelah sini.” Si staf menggiring mereka berpindah ke deretan mobil yang lain.
Zahira membuntut saja di belakang. Bibirnya sedikit cemberut karena masih terbayang kalimat Juan sebelumnya yang secara tidak langsung telah mengatainya pendek. Namun, ketika dia ingat lagi bahwa Juan juga menyebutnya sebagai istri, kekesalan Zahira sedikit demi sedikit mereda.
Selama staf tadi menjelaskan fitur-fitur apa saja yang ada di dalam mobil yang dia rekomendasikan, Zahira malah salah fokus pada Juan yang tampak serius sekali memperhatikan. Padahal, dia yakin kekasihnya itu sudah tahu lebih banyak soal permobilan. Memang bukan seorang ahli, tapi kalau untuk hal-hal dasar seperti spesifikasi mobil yang akan dibeli, Zahira yakin Juan sudah lebih dulu melakukan riset. Lelaki itu tidak akan membuang uangnya secara sembarangan, terlebih jika itu adalah uang yang dia dapatkan dengan hasil keringatnya sendiri.
Mungkin kelihatan biasa saja di mata orang lain, namun dalam pandangan Zahira, bagaimana Juan memperhatikan penjelasan si staf itu dengan saksama adalah bentuk penghargaan yang lelaki itu berikan. Dia menghargai pekerjaan si staf yang memang bertugas untuk menjelaskan secara rinci, tanpa berniat menyela meski sebenarnya dia sudah tahu.
Panjangnya penjelasan yang mendetail dibubuhi dengan kalimat-kalimat bujuk rayu yang khas membawa Juan akhirnya berhasil menentukan pilihan. Satu unit Mitsubishi Xpander berwarna putih dia sunting untuk menjadi calon kendaraan mereka.
Selagi Juan mengurus administrasi, Zahira memilih untuk menepi. Dia duduk sendirian di kursi yang memang sudah disediakan, menenggak air mineral dingin yang diberikan secara cuma-cuma oleh pihak showroom kepada pelanggan yang datang demi membasahi tenggorokannya yang kering. Aneh juga, padahal dia hanya bicara sedikit dan hampir semua transaksi di handle oleh Juan, tapi malah justru dia yang merasa haus.
Sekian menit berlalu, Juan datang menghampiri sambil membawa map berisi berkas-berkas kontrak pembelian. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, lelaki itu menyambar botol air mineral bekas minum Zahira lalu menenggaknya hingga tandas.
“Kalau minum tuh sambil duduk.” Zahira menegur, meski terlambat karena Juan sudah terlanjur menghabiskan minuman.
“Hehe, maaf, terlalu haus.” Cengir si laki-laki. Zahira hanya menggeleng seraya meloloskan hela napas pelan. Untuk kali ini saja, dia akan berusaha maklum.
“Kamu udah selesai?” tanya perempuan itu kemudian, seraya bangun dari kursi.
Juan mengangguk, lalu senyum cerahnya terbit kala ia menyodorkan map yang dia pegang kepada Zahira. “Nih, kamu yang simpan.” Ujarnya.
Zahira yang tidak tahu apa-apa jelas terlihat kebingungan. “Kenapa aku yang simpan?” tanyanya, namun tak urung tetap menerima map itu.
“Soalnya mobilnya atas nama kamu, aku minta dianterinnya juga ke rumah kamu nanti.” Juan menjelaskan dengan entengnya, berbanding terbalik dengan reaksi Zahira yang seketika melotot tak percaya.
__ADS_1
Satu gebukan kemudian mendarat di bahu Juan, membuat lelaki itu mengaduh. “Kenapa aku dipukul?” tanyanya, tak terima sudah diberi kekerasan fisik.
“Kamu ngawur.” Omel Zahira. “Kenapa atas nama aku? Itu mobil kamu, kamu yang beli.”
“Nggak boleh gitu aku bikin atas nama kamu?”
“Jelas nggak boleh!” Zahira semakin galak. Yah, walaupun di mata Juan sama sekali tidak kelihatan sangar, sih. Malah terlihat lucu dan menggemaskan. Ehe!
“Kenapa nggak boleh? Coba sini, kasih tahu aku apa alasannya?” tantang Juan. Lagaknya sok jagoan dengan kedua tangan berada di pinggang. Mukanya juga songong abis, seperti anak pejabat yang sedang menantang aparat penegak hukum dengan membawa-bawa jabatan orang tua. “Apa, hmm?”
“First of all, itu uang kamu, kamu nggak ada kewajiban buat spend them buying things yang bukan buat kamu. Kedua, aku bukan cewek matre, aku bisa beli mobil sendiri kalau aku emang mau. And last but not least, it’s just simply ‘what if we don’t end up together?’. Aku nggak mau ada drama-drama minta dibalikin ini itu or whatever, buang-buang waktu.”
Kalau dipikir Juan akan setuju, tentu salah besar. Tapi, dia juga tidak serta-merta tersulut emosi hingga harus menanggapi penjelasan Zahira dengan menggebu-gebu. Santai saja. Chill, Baby.
“Oke, now listen to me.” Ujarnya. Kedua tangannya sudah tidak berada di pinggang, tampang songongnya juga sudah hilang. “First of all, karena ini uang aku, maka aku punya hak buat beli apa pun asal itu bukan hal-hal yang ngerugiin diri aku sendiri. Kedua, sure, I know you’re not materialistic, tapi aku beli ini atas kemauan aku sendiri, jadi kamu nggak boleh menolak. And last but not least, aku bisa jamin nggak akan ada drama kayak yang kamu khawatirin itu, karena aku bukan tipikal yang bakal minta balik apa pun yang udah aku kasih. Kalau kita nggak jodoh, ya udah. Mobil itu tetap buat kamu karena sedari awal niat aku beli emang biar memudahkan kamu buat ke mana-mana. Let’s make it easy, Baby. Jangan terlalu banyak mikir yang di luar konteks perjuangan kita buat bersatu.”
“Aku nggak mau dengar kamu protes, jadi ayo kita pulang.” Tanpa mengizinkan Zahira menyangkal lagi, Juan menarik lengan kekasihnya. Menggenggam tangannya erat, menuntunnya pergi meninggalkan showroom tanpa tahu kalau di belakang mereka, staf laki-laki yang tadi menemani dengan sepenuh hati hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan aneh sepasang kekasih itu.
Normalnya, orang-orang akan berdebat tentang mobil apa yang harus dibeli, atas nama siapa surat-surat mobil itu akan dibuat, dan bagaimana nasibnya nanti jika mereka berpisah. Tapi yang dia saksikan hari ini justru kebalikannya. Yang perempuan tidak mau diberikan sesuatu secara cuma-cuma, sedangkan yang laki-laki kekeuh bahwa itu adalah salah satu bentuk kecil dari pembuktian cinta.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Zahira menyadari bahwa Juan akhir-akhir ini sering sekali mengejutkan dirinya dengan berbagai macam hal. Kepindahannya dari rumah, adanya cafe kekinian yang selama ini luput dari radar, hingga pembelian satu unit mobil yang diatasnamakan dirinya. Namun, seakan belum cukup dengan itu semua, bahkan sampai mereka tiba di rumah pun, Zahira masih dibuat terkejut saat Juan dengan santainya berjalan naik ke lantai dua. Melepaskan genggaman tangannya sampai ke ruang tengah dan tidak menyahuti ketika dia bertanya lelaki itu hendak pergi ke mana.
Untuk kemudian, Juan kembali dalam balutan busana yang tidak kalah membuat Zahira terkejut terheran-heran. Baju Koko berwarna putih dipadankan dengan celana bahan warna cokelat terang. Rambutnya klimis, ada bulir-bulir air yang tertinggal di sana dan tampak berkilauan terkena terpaan sinar lampu. Yang lebih mengejutkan lagi, Abi mengekor tak terlalu jauh di belakang. Outfit-nya sih biasa, template outfit yang biasa dikenakan untuk ke masjid. Baju Koko, sarung, peci, dan sajadah yang tersampir di pundak kanan.
Yang tidak biasa adalah, ketika Abi berkata, “Ayo, Ju.” Kemudian berjalan mendahului Juan dan yang diajak hanya mengangguk singkat seraya tersenyum cerah.
“Kamu mau ke mana?” tanya Zahira.
“Masjid.” Juan menjawab dengan mata yang menghilang karena senyumnya kian lebar.
“Masjid? Ngapain?”
“Nyuci gosok.” Sarkasnya, lalu dia terkekeh pelan. “Emang kalau orang ke masjid itu kau ngapain?”
__ADS_1
“Salat.”
“Nah, ya itu.” Kata Juan seraya menjentikkan jari.
Namun, Zahira masih saja ngebug. Tiba-tiba kinerja otaknya berada pada level paling buruk.
“Hah?” gumamnya.
“Hah apa, sih? Udah, ah, aku mau jalan, keburu azan.” Tak mau menunggu loading di otak Zahira selesai, Juan bergegas kabur menyusul Abi Hamzah yang sudah lebih dulu berjalan sampai ke ruang tamu.
Hingga bermenit-menit setelah Juan pergi, Zahira masih saja belum berhasil mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Masjid memang tempat untuk salat, tetapi itu diperuntukkan bagi umat muslim. Sedangkan Juan....
“Oh, ya ampun!” tahu-tahu, dia memekik heboh, membuat Umi Maryam yang baru muncul dari tangga sontak menghentikan langkah seraya mengusap dadanya yang deg-degan karena kelakuan putrinya.
“Kenapa, Za? Ngagetin aja.” Umi Maryam meneruskan langkahnya hingga tiba di sebelah putrinya.
Zahira menoleh, menyuguhi ibunya tatapan yang hanya dia sendiri yang tahu apa maknanya.
“Umi,” panggilnya lirih.
“Iya, kenapa?” Umi Maryam dengan begitu sabarnya.
“Juan mau ke masjid, katanya.” Adunya, seperti anak bocah yang mengadu pada ibunya bahwa mainan kesayangannya barusan direbut oleh teman.
“Iya, terus?”
“Mau salat, katanya.”
Sampai di situ, Umi Maryam mulai paham dengan kebingungan putrinya. Dengan senyum selembut sutra, perempuan itu menyentuh pundak putrinya. “Iya. Hari ini, Juan mau mulai salat pertamanya sebagai sebagai umat muslim.”
Bagai masuk ke alam mimpi, Zahira tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Perasaannya campur aduk, dan lagi-lagi yang bisa mewakili luapan perasaan itu adalah lelehan air mata yang keluar pelan-pelan.
Satu dinding pembatas sudah dirobohkan, apakah itu lantas menjadi sinyal baik untuk hubungan mereka ke depannya?
Bersambung
__ADS_1