
Di hadapan imam besar dan beberapa saksi, Juan mengikrarkan janji untuk teguh pada satu kepercayaan agama yang akan dia peluk sampai mati. Dua kalimat syahadat dia lantunkan, disambut ucapan hamdalah yang tak putus-putus dari orang-orang yang berkesempatan menyaksikan proses hijrahnya seorang berandalan bernama Juananda Saputra.
“Mulai saat ini, kamu adalah seorang muslim. Semoga Allah senantiasa ridai setiap langkah yang kamu ambil untuk teguh di jalan-Nya.” Ujar sang imam masjid junjungan para makmumnya.
Juan tidak kuasa menahan haru. Kabut bening menyelimuti bola matanya, berkumpul di sudut-sudut dan siap untuk tumpah kapan saja.
“Ini baru awal, Ju. Perjalanan kamu masih panjang.” Bisik Abi Hamzah seraya menepuk-nepuk bahu Juan.
“Terima kasih sudah mau menunggu saya sampai saya tiba di titik ini, Abi.” Juan balas berbisik.
Abi Hamzah tersenyum lembut. Aura kebapakannya menyebar memenuhi masjid yang lama-kelamaan mulai penuh dengan jemaah yang hendak melaksanakan salat magrib.
“Allah yang sudah tentukan jalan. Kepercayaan itu nggak ada di hati Abi kalau Allah nggak kasih rida.”
Mendengar itu, Juan semakin mengharu biru. Dia lalu memeluk Abi Hamzah, meresapi kehangatan yang lelaki itu berikan dengan sebaik-baiknya. Sementara Abi Hamzah yang juga tak kuasa menahan haru, telah meneteskan air mata bahagia yang kemudian dia seka sebelum jatuh mengenai pundak Juan yang masih ada di dalam pelukannya.
Keharuan itu berlanjut hingga ketika azan berkumandang. Lalu Juan beserta Abi Hamzah dan jemaah yang lain berderap mengambil posisi, mengisi saf-saf depan dan memastikan tidak ada celah.
Dalam salat yang dia jalankan untuk pertama kalinya setelah sah menjadi seorang muslim, Juan merasakan hatinya bergetar hebat. Seperti sesuatu dengan daya magis yang kuat telah menyentuhnya, membuatnya tak kuasa menahan tangis hingga air mata itu jatuh dengan bebas. Setiap doa yang keluar dari bibirnya membuat air mata Juan mengalir semakin banyak. Untuk pertama kalinya selama dia hidup, Juan merasakan bahwa Tuhan begitu dekat.
Tidak ada yang salah dari ajaran agama mana pun. Bagaimana cara kita menyebut Tuhan dan bagaimana cara kita berkomunikasi dengannya tidak lantas membuat semuanya menjadi berbeda. Ini hanya soal bagaimana kita meyakini seperti apa Tuhan itu, tanpa mengubah esensi sesungguhnya bahwa Tuhan itu hanya satu. Dan di titik ini, menemukan keyakinan untuk memeluk Islam bagi Juan adalah salah satu cara baginya untuk lebih memaknai apa itu arti kata Esa.
__ADS_1
Magrib dilanjut isya. Meski sudah tidak sehebat sebelumnya, Juan juga masih meneteskan air mata di rakaat terakhirnya, tepat sebelum dia menoleh ke kanan seraya mengucap salam.
Doa demi doa dia lantunkan dengan bibir yang terkatup rapat, namun hati yang berbicara dengan hebat. Tidak muluk-muluk. Sebagai seseorang yang banyak dosa, dia hanya meminta agar hatinya diteguhkan dan niatnya diluruskan. Agar level sabarnya dinaikkan dan dia diizinkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
“Amin.” Juan menyudahi doa panjangnya seraya mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan yang bersih. Setelah itu, dia beringsut mendekati Abi Hamzah, mencium punggung tangan lelaki itu untuk kedua kalinya.
“Anak Abi.” Ujar Abi Hamzah seraya mengusap kepala Juan berkali-kali. Kebanggaan yang timbul dari mata renta itu sudah menjelaskan semuanya. Bahwa memang benar seperti itulah posisi Juan di dalam hatinya. Bukan sekadar sebagai calon mantu, tapi benar-benar seperti anak laki-laki yang dia urus dan dia didik dengan sepenuh hati.
Satu persatu jemaah pergi meninggalkan masjid, pun dengan Juan dan Abi Hamzah yang mengayunkan langkah mereka dengan lebih ringan.
Hari-hari biasanya, Abi Hamzah akan pergi ke masjid naik motor. Tetapi khusus hari ini, lelaki itu sengaja mengajak Juan berjalan kaki karena katanya setiap langkah yang diambil untuk sampai ke masjid itu dihitung dengan baik oleh malaikat.
“Sebagai seorang muslim, Abi percaya bahwa pernikahan adalah ibadah yang dilakukannya seumur hidup. Segala macam cobaan dan rintangan pasti akan datang buat menguji keimanan kita, dan rasa cinta yang kita agung-agungkan pada waktu sebelum menikah mungkin nggak akan berpengaruh banyak.” Di tengah perjalanan mereka yang tinggal seperempat lagi, Abi Hamzah bersuara.
“Jadi, Ju, sebelum kamu benar-benar mengajukan lamaran kepada Zahira, tolong kamu pikirkan lagi baik-baik. Sudah siapkah kamu dengan semua konsekuensi yang harus kamu hadapi ke depannya? Karena ketika kalian menikah nanti, masalah yang kalian hadapi bisa jadi berkali-kali lipat lebih hebat dan lebih kompleks daripada apa yang udah kalian hadapi selama masih berpacaran.”
Meski bibirnya masih belum menyahut, namun Juan paham sekali dengan apa yang Abi Hamzah sampaikan. Sebagai seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis, dia tahu bahwa menikah memang bukan hanya soal saya mencintai dia, saya mau kami hidup bersama selamanya. Tapi juga tentang menerima.
Menerima bahwa suatu saat, rasa cinta itu mungkin tidak akan sebesar sebelumnya dan kita harus mencari cara agar pernikahannya tetap bertahan. Menerima bahwa suatu saat, keindahan fisik yang ada di dalam diri pasangan kita akan memudar dan kita harus mencari cara agar mereka tetap terlihat menarik meskipun wajahnya sudah penuh keriput dan rambutnya penuh uban. Menerima bahwa akan selalu ada yang terlihat lebih, dan kita harus mencari cara untuk bersyukur agar tidak oleng ke yang lain. Dan masih banyak lagi. Masih banyak penerimaan yang harus kita lakukan, Juan paham sekali soal itu.
Juan tidak akan menjadi sombong dengan mengklaim dirinya tidak akan berubah. Bahwa cintanya pada Zahira akan tetap utuh, atau bahwa mereka akan tetap teguh pada perasaan cinta yang mereka rajut sejak lama. Namun, Juan juga tidak akan menjadi pengecut yang serta-merta menarik langkah mundur hanya karena dia tahu, di depan sana sudah ada banyak rintangan yang siap menghadang.
__ADS_1
Tidak. Jiwa juang Juan tidak serendah itu, maka dia tidak akan menyerah. Terlebih lagi, orang itu adalah Zahira.
Perjalanan mereka usai tanpa Juan sempat memberikan tanggapan. Kendati demikian, Abi Hamzah juga tidak terlihat keberatan. Lelaki paruh baya itu kembali menepuk-nepuk pundak Juan sebelum mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum....” ucap keduanya berbarengan.
Jawaban salam terdengar hanya dari satu suara, dan itu adalah milik Zahira. Tak lama kemudian, perempuan itu muncul untuk membukakan pintu. Lalu seketika tatapannya bertemu dengan Juan, matanya pun berkaca-kaca. Haru tak bisa lagi ditahan. Bibirnya mencebik gemas, lalu air mata mulai meleleh, bergerak turun menghiasi pipi pualamnya.
“Nah, nangis lagi dia, Bi.” Juan berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan candaan. Abi Hamzah pun turut menyambut dengan candaan lain, namun bukannya mereda, tangis Zahira malah semakin menjadi.
Bagai habis disakiti dengan sedemikian rupa, Zahira menangis sampai sesenggukan. Napasnya ngos-ngosan hanya dalam waktu singkat, membuat kedua lelaki di hadapannya yang bahkan masih berdiri di ambang pintu seketika bingung harus berbuat apa.
Untungnya, Umi Maryam datang memberikan pertolongan semakin Zahira semakin berubah menjadi reog. Sudah tahu bahwa putri semata wayang itu cengeng bukan main, Umi Maryam tidak berusaha membujuk Zahira untuk berhenti menangis. Sebagai gantinya, perempuan berkerudung kuning kunyit itu memeluk putrinya, mengusap-usap kepalanya tanpa bicara apa-apa. Melalui sentuhannya yang lembut sudah seperti mewakili perkataan, “Nggak apa-apa, nangis aja sepuasnya, nggak ada yang ngelarang.”
“Ini contohnya.” Selagi menyaksikan Zahira menangis di pelukan ibunya, Abi Hamzah berbisik pelan. “Kamu harus tahan sama cengengnya anak ini, selama seumur hidup.”
“Nanti, bisa jadi lebih parah. Bisa jadi, dia bakal nangis cuma perkara kamu lupa tanggal pernikahan, atau karena kamu nggak meluk dia waktu tidur. Biasanya, kalau udah menikah, yang tadinya sepele bisa jadi lebih prahara besar.”
Meresapi kalimat itu, Juan pun mengambil napas dalam-dalam. Memang tidak akan mudah, tapi dia akan mengusahakan yang terbaik.
“Asal nangisnya bukan karena pengin dibeliin pulau pribadi, sih, kayaknya Juan masih sanggup, Bi.” Celetuknya. Detik kemudian, ia dan Abi Hamzah tertawa bersama, sementara Zahira yang tangisnya sudah mulai mereda hanya bisa mengintip dari dalam pelukan ibunya seraya bertanya-tanya di dalam hati, “Kenapa dua laki-laki itu tertawa?”
__ADS_1
Bersambung