
“HAH?!!!” Juan memekik heboh. Secepat kilat dia melompat turun dari ranjang, sebagai respons atas keterkejutannya terhadap apa yang barusan Zahira sampaikan.
“Mama aku ke rumah kamu, terus dia ngapain?” tanyanya masih tidak percaya.
“Ngelamar aku, Ju.” Di ujung telepon, Zahira mengulangi ucapannya.
“Kamu jangan bercanda.” Masih tak percaya, Juan sampai mencubit pipinya sendiri. Karena kalau ini mimpi, dia pasti tidak akan merasakan sakit. Tapi sayangnya—entah harus disayangkan atau tidak—Juan merasa sakit.
“Kamu pikir aku bisa bercanda soal begini?”
Jawabannya adalah tidak. Karena Zahira bukan tipikal yang suka bercanda, apalagi untuk hal-hal yang serius begini. Tapi, bagaimana bisa?
Maksudnya, Juan senang-senang saja kalau Mama memang betulan melamar Zahira, karena itu artinya restu untuk hubungan mereka sudah turun. Tapi masalahnya, dia butuh alasan yang cukup masuk akal. Mama bukan tipikal yang akan mengubah keputusannya dengan mudah jika tidak ada alasan yang kuat.
“Aku juga nggak tahu kenapa bisa tiba-tiba mama kamu ke rumah. Abi sama Umi juga sampai nanya berkali-kali sama mama kamu, apa beliau yakin mau lamar aku jadi istri kamu. Tapi jawaban mama kamu nggak berubah sama sekali, Ju. Beliau tetap pengin aku jadi mantunya.”
Ini kabar baik, Juan wajib merayakannya. Tapi sebelum itu, dia harus mengonfirmasi langsung kepada ibunya, sekaligus mencari tahu alasan apa yang bisa membuat ibunya sampai mengubah keputusan dan akhirnya memberikan restu. Dia bahkan sama sekali tidak diberi pertanda apa pun.
“Za,” panggilnya.
Dari seberang telepon, Zahira berdeham pelan.
“Aku tutup dulu teleponnya, ya. Aku mau ke Mama.” Tuturnya.
Zahira mengiyakan. Malahan, perempuan itu yang lebih dulu memutus sambungan telepon setelah mengatakan “Safe ride.” kepada Juan.
Juan tidak sempat menjawab karena telepon sudah kadung putus, namun dia yakin Zahira tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
Tak mau membuang waktu, Juan segera bergegas. Dia sambar kunci mobil yang tergantung dekat pintu, kemudian dia segera berlarian keluar dari kamar.
Terburu-buru dia menuruni tangga, sampai-sampai sandal rumahan yang dia pakai copot sebelah. “Ah, elah!” sungutnya. Namun dia tetap berhenti sebentar untuk memungut sandal yang tertinggal di anak tangga. Tidak dia kenakan, akhirnya dia tenteng saja dua-duanya agar tidak ada lagi adegan copot sebelah seperti tadi. Ketika dia sampai di ujung tangga, barulah dia mengenakan sepasang sandal itu dengan baik dan benar.
Juan lantas berlarian menuju gerbang, membukanya lebar-lebar barulah dia bergerak mengambil mobil dan menyetirnya keluar.
“Ribet!” gerutunya lagi saat dia harus kembali turun dari mobil untuk menutup gerbang rumahnya lagi.
Seorang tukang nasi goreng yang kebetulan lewat sampai geleng-geleng kepala melihat Juan yang sewot sendiri. “Kalau nggak mau ribet teh nggak usah pakai gerbang rumahnya.” Komentar pria berkaus partai itu kemudian ngeloyor mendorong gerobak nasi gorengnya.
Tak menggubris selentingan yang sampai ke telinganya dalam nada berbisik, Juan langsung masuk kembali ke dalam mobil. Cepat-cepat dia injak pedal gas, kebut-kebutan di jalanan kompleks yang sepi.
Jalanan yang dia lalui setelah keluar dari gerbang kompleks pun terbilang cukup lengang. Maklum, sudah jam 10 malam dan jalanan juga licin sehabis hujan. Orang-orang normal yang jam tidurnya tidak tertukar-tukar jelas akan lebih memilih untuk mendekam di rumah, bergelung di balik selimut dan bersiap untuk tidur.
Hampir satu jam berkendara, mobil Juan tiba di Rumah Besar. Klakson dia pencet berkali-kali dengan tanpa jeda, suaranya yang melengking tidak hanya membangunkan satpam hang tertidur di pos jaga, tetapi juga satpam-satpam lain dari rumah sebelah yang turut melongokkan kepala keluar gerbang.
“IYA!!! TUNGGU!!!” Satpam di Rumah Besar tergopoh-gopoh membukakan gerbang. Wajahnya kusut, sedikit kesal karena tidurnya harus terganggu oleh ulah si empunya mobil yang memencet klakson dengan tidak ada akhlaknya.
Tapi seolah sudah kesetanan, Juan masih saja memencet klakson meskipun sang satpam sudah membukakan gerbang.
“SA—“
“Makasih, Pak!” Juan berseru setelah menurunkan kaca mobil dan melongokkan sedikit kepalanya.
__ADS_1
Melihat siapa si pembuat onar, yang ternyata adalah salah satu Tuan Muda yang sudah lama tidak pulang, si satpam pun menelan kembali umpatannya. Dia malah berbalik tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Mengingat kembali apakah ada kata-kata kasar yang sempat keluar dari mulutnya tadi. Karena kalau iya, dia harus siap-siap di kick dari pekerjaannya.
Mobil Juan kembali melaju, menembus halaman Rumah Besar yang luasnya sudah seperti lapangan bola. Nope, ini lebay. Ya pokoknya luas saja. Kalau dibangun rumah seperti rumah yang dia tempati, mungkin bisa jadi dua.
“****!” Juan mengumpat lagi, kalo ini karena tangannya terjepit pintu mobil. Untung tidak terlalu kencang, jadi hanya sedikit nyut-nyutan saja.
Mengurusi luka kecil itu tidak penting. Mendadak Juan berubah menjadi super hero yang punya kekuatan super untuk meredam rasa sakit. Hanya dia usap dan tiup sedikit, nyut-nyutan di tangan hilang sehingga dia bisa segera melanjutkan langkah.
Kondisi Rumah Besar sudah sepi, tentu saja. Jadi dia perlu usaha ekstra untuk mengetuk pintu berkali-kali sebelum akhirnya asisten rumah tangga mereka membukakannya.
“Oh, Den Juan, mau ketemu sama—“
“Mama di mana?” dia memotong.
“Seharusnya udah di kamar sih, Den. Ada Bapak juga.”
“Oke, makasih.” Tak berlama-lama, Juan langsung melesat menuju kamar ibunya di lantai dua. Informasi soal ayahnya yang juga ada di rumah tidak terlalu dia dengarkan, karena fokus Juan hanya untuk bertemu dengan ibunya.
“Mamaaaaaa!!!” serunya ketika dia tiba di depan pintu kamar orang tuanya. Tangannya menggedor pintu kamar, sudah seperti anak bocah yang minta ditemani ke kamar mandi pada tengah malam.
“Mamaaaaa bukain pintu!!!” teriaknya lagi. Makin heboh, pun dengan gedorannya yang kian menjadi.
Alih-alih dibukakan pintu, Juan malah dibuat terkejut akan datangnya sebuah suara yang datang dari arah belakang tubuhnya.
Refleks, Juan berbalik sambil memegangi dadanya yang deg-degan bukan main.
“Papa,” cicit Juan kala menemukan ayahnya berdiri dengan kening berkerut. “Papa ngapain di sini?”
“Harusnya Papa yang nanya, kamu ngapain di sini? Mana teriak-teriak sama gedor-gedor pintu kamar Papa sama Mama.” Julius melipat kedua tangan di depan dada. Matanya lalu bergerak naik turun, menelisik penampilan putranya yang tidak kelihatan amburadul.
“Ada tuh di dapur, lagi nyeduh susu.”
“Oke.” Seperti bocah minim akhlak yang tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan terima kasih, Juan berlari meninggalkan ayahnya, berlarian menuruni tangga menuju dapur untuk menemui ibunya.
“Anak sama ibu makin lama makin aneh aja kelakuannya.” Komentar Julius, namun dia memutuskan untuk tidak ikut campur. Dengan santainya dia masuk ke dalam kamar, membiarkan apa pun yang menjadi urusan Juan dengan ibunya diselesaikan hanya oleh mereka berdua.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Chyntia hampir menemukan jantungnya copot saat Juan tiba-tiba saja muncul di hadapannya, tepat ketika dia berbalik dan hendak kembali ke kamar dengan membawa segelas susu. Untung saja pegangannya pada gelas cukup kuat sehingga tidak harus ada tragedi gelas jatuh di mana dia harus bekerja dua kali mengerjakan sesuatu.
“Kenapa, sih, Ju? Ngagetin aja, tiba-tiba muncul di depan Mama.” Setelah keterkejutannya mereda, Chyntia memilih untuk meletakkan gelas berisi susu cokelat ke atas meja makan.
“Mama,” panggil Juan, kali ini dengan suara yang lebih pelan—hampir seperti berbisik.
Makin heranlah Chyntia melihat tingkah laku putranya. Apalagi ketika mendapati raut wajah Juan yang tidak ada keren-kerennya sama sekali. Lelaki itu terlihat menahan tangis. Matanya sudah berair dan bibir bawahnya cemberut.
“Kenapa?” ulangnya, sebab Juan tak kunjung berbicara.
Namun lagi-lagi, alih-alih menjawab pertanyaannya, Juan malah kembali melakukan sesuatu yang semakin membuatnya kebingungan. Anak itu tiba-tiba saja menarik tubuhnya, memeluknya erat sekali seperti mereka telah terpisah sekian lama dan Juan tidak ingin perpisahan itu terjadi lagi.
Kesambet apa ini bocah? Pikirnya. Tapi tentu saja pertanyaan itu tidak benar-benar dia lontarkan. Chyntia lebih memilih untuk membalas pelukan putranya. Karena jarang-jarang juga bayi besarnya itu mau memeluknya sampai seerat ini.
__ADS_1
“Mama,” cicit anak itu lagi.
“Apa?” tanya Chyntia lembut.
“Makasih, ya.”
“Makasih buat apa?” Chyntia masih clueless.
“Makasih karena udah kasih restu buat Juan sama Zahira.”
Nama calon menantunya yang disebut membuat Chyntia mendapatkan titik terang. Dia tersenyum tipis, lalu memaksa Juan melepaskan pelukan mereka agar dia bisa melihat secara langsung seperti apa ekspresi yang tergambar di wajah putranya.
“Jadi kamu kayak gini karena itu?” tanya Chyntia seraya menangkup kedua pipi putranya.
Juan mengangguk-anggukkan kepala, “Juan nggak tahu harus bilang apa selain terima kasih.” Susulnya.
“Nggak perlu berterima kasih, kamu cuma harus pastiin kalau kamu nggak akan pernah nyakitin Zahira. Buktiin kalau keputusan orang tua dia buat nerima kamu itu nggak salah, karena kamu bisa jagain putri mereka dengan baik.”
“Mama kok tiba-tiba jadi bijak?” celetuk Juan, yang sontak membuat Chyntia menggebuk lengannya pelan.
“Mama emang udah bijak dari dulu, kamunya aja yang selalu negatif thinking sama Mama.”
Mendengar itu, Juan cengengesan. “Emang, sih. Selain bijak, cantik juga.” Pujinya. Itu hanya sebuah sogokan. Percayalah, dia hanya ingin membuat ibunya merasa senang karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Tipikal lelaki. Ugh!
Chyntia hanya menggeleng pelan. Dia tahu pujian itu hanya basa-basi, namun dia tetap menerimanya dengan senang hati.
“By the way, udah malam. Mama sekarang nggak bisa tidur larut, jadi sekarang harus balik ke kamar buat tidur. Kamu mau nginep atau pulang? Kalau nginep, biar Mama rapihin kamar kamu dulu sebentar.”
“Nginep.” Juan menawab cepat.
Chyntia mengangguk, dia lalu meraih kembali gelas susunya dan hendak pergi kembali ke kamar. Namun dia terpaksa berhenti lagi karena Juan tahu-tahu menggelendot di lengannya, seperti ulat bulu.
“Kenapa lagi?” tanyanya.
“Juan mau nginep, tapi tidurnya sama Mama.” Ujar si laki-laki berotot yang tingkahnya kini lebih mirip bocah berusia empat tahun.
“Ada Papa, kamu mau tidur bertiga?”
Juan menggeleng, “Nope. Kita usir aja om-om itu dari kamar Mama. Kamar tamu sounds good buat dia yang jarang pulang.” Usulnya, yang malah membuat kepalanya kena jitak.
“He’s your dad, you little punk.” Kata Chyntia.
“Your husband, yes. My dad? Nope.” Celoteh Juan yang makin membuat Chyntia gemas.
“Coba kamu ngomong gitu langsung di depan orangnya, berani nggak?” tantang Chyntia. Sebab dia tahu anaknya ini cuma berani mengomel di depannya saja. Dan meskipun hubungan ayah dan anak tidak pernah baik, Chyntia tahu Juan masih memiliki rasa sayang yang besar layaknya anak kepada ayah pada umumnya. Dua laki-laki beda generasi itu hanya tidak tahu saja bagaimana caranya mengkomunikasikan rasa sayang mereka masing-masing. Biasalah, laki-laki. Suka lebih mengutamakan gengsi.
“Gimana mau ngomong kau orangnya aja muncul cuma setahun sekali.” Cibir Juan, melebih-lebihkan soal ayahnya yang jarang pulang. Padahal paling banter juga hanya tidak pulang selama sehari.
“Kalau ngomong suka bener.” Malas berdebat, Chyntia malah mengikuti saja inside jokes yang dilemparkan oleh putranya.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kamar dengan obrolan yang berubah haluan. Tidak lagi membahas Zahira, malah asyik menggosip soal Julius.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar, Julius sedang terduduk di atas kasur sambil membaca berita via tab miliknya, tanpa tahu bahwa sebentar lagi di akan diusir dari sana oleh istri dan anaknya.
Bersambung