Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Needs


__ADS_3

Moana hanya bisa menenangkan dirinya sendiri secara berulang-ulang kali kala menemukan selembar undangan pernikahan tergeletak di atas meja kerjanya, sekembalinya ia dari meeting di luar kantor. Nama yang tertera di sana jelas bukan nama yang ingin Moana lihat untuk bersanding dengan nama lain selain dirinya, namun karena semuanya sudah terjadi, dia tidak punya pilihan selain menerimanya.


“Tadi Juan datang anterin undangan itu sendiri. Dia juga ada ninggalin parsel buat kita semua.” Informasi yang Galih berikan itu hanya masuk ke telinga kanan, lalu dengan cepat menembus keluar melalui telinga kiri. Moana juga tidak tertarik pada isi di dalam parsel yang Juan tinggalkan, sebab dia sedang kepayahan untuk mengatur perasaannya sendiri yang hancur lebur tidak keruan.


“Mo, you okay?”


“I am not.” Dengan tatapan kosong yang terlempar keluar jendela, Moana menjawab demikian. Perjuangan gue harus selesai sampai di sini, gimana ceritanya gue masih bisa baik-baik aja?”


Prihatin, namun tidak banyak yang bisa Galih lakukan untuk menghibur Moana yang sedang patah hati. Laki-laki berkemeja biru tua itu hanya menepuk pundak Moana singkat, lalu beranjak sambil menggiring rekan kerjanya yang lain agar pergi meninggalkan ruangan. Pikirnya, Moana mungkin butuh waktu untuk menangisi patah hatinya tanpa ada siapa pun yang menyaksikan.


Tidak seperti biasa, bahkan si Lukas yang menyebalkan pun menurut saja ketika Galih meminta mereka mengosongkan ruangan. Sambil mengunyah cokelat batangan yang dia curi dari pantri—entah milik siapa—lelaki itu berjalan keluar sesuai arahan Galih setelah melirik sekilas ke arah Moana yang berdiri kaku di depan meja kerjanya—lesu, seperti mayat hidup.


Keheningan yang tercipta usai perginya semua rekan kerja tak lantas membuat Moana jadi bisa menumpahkan tangisnya. Saat ini, dia terlalu bingung. Alih-alih sedih, dia justru merasa ada luapan amarah yang begitu besar, membuat dadanya panas dan seakan hendak meledak.


Dia tidak membenci Juan atas keputusannya menikahi Zahira. Dia juga tidak membenci Zahira karena telah menjadi seseorang yang membuatnya tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bersanding dengan Juan. Moana justru marah kepada dirinya sendiri, karena dia tidak kunjung bisa berhenti mencintai Juan walaupun dia sadar kemungkinan yang dia untuk cinta itu bisa berbalas sangatlah kecil. Moana marah. Dia kesal pada dirinya sendiri yang kehilangan kendali.


Moana tahu akhirnya akan menyakitkan, tapi dia masih saja berusaha menipu dirinya sendiri bahwa semuanya akan berakhir indah selagi dia tetap berusaha. Padahal, dalam hidup ini, ada beberapa hal yang tetap tidak akan bisa tercapai, tak peduli seberapa keras kita berusaha. Kadang, sudah hampir mau mati sekalipun, apa yang kita mau tetap tidak bisa digenggam karena Tuhan memang tidak menakdirkannya untuk kita. Sebaliknya, ada hal-hal yang tidak kita inginkan, namun terus-menerus datang kepada kita dengan begitu mudahnya tanpa kita berusaha. Ketika sadar, hal-hal itu memang bukan sesuatu yang kita mau, tapi tanpa sadar adalah sesuatu yang kita butuhkan.


Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau. Lambat laun, Moana mulai mengerti itu. Dia memang menginginkan Juan karena perasaannya terhadap lelaki itu sangat menggebu-gebu. Namun, tanpa dia tahu, mungkin memang bukan Juan yang dia butuhkan di dalam hidup yang penuh liku-liku ini.


Jengah, Moana kembali menghela napas. Kertas undangan dia ambil, lalu dia simpan ke dalam tas. Alih-alih mendoakan yang terbaik untuk pernikahan Juan dan Zahira, sore itu Moana lebih memilih untuk mendoakan dirinya sendiri. Agar dirinya lebih ikhlas, agar dirinya lebih berpasrah menerima ketentuan Tuhan. Juga, agar dirinya bisa lebih cepat memudarkan perasaannya kepada Juan supaya laki-laki lain bisa masuk ke hatinya.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Undangan, gedung, katering. Semuanya sudah diurus oleh ibunda. Sang mempelai hanya tinggal ongkang-ongkang kaki, sambil menyumbangkan ide perihal wedding dream semacam apa yang ingin mereka wujudkan.


Sebagai seseorang yang tidak ingin mengambil kesempatan di dalam kesempitan, Zahira jelas menolak ide itu pada awalnya. Dia bersikeras untuk mengurus semuanya sendiri bersama Juan, dengan menggunakan uang tabungan milik mereka berdua.


Akan tetapi, Chyntia tidak kalah keras kepala. Wanita itu mati-matian meyakinkan Zahira bahwa ini adalah bentuk bakti terakhirnya pada sang putra, sebelum nantinya dia benar-benar membiarkan putra semata wayangnya menjalani kehidupan rumah tangga hanya berdua dengan istrinya, tanpa campur tangan dirinya sama sekali. Karena tidak ingin rencana pernikahan malah menjadi ajang perdebatan, Zahira pun mengalah. Dia membiarkan calon ibu mertuanya melakukan apa pun yang diinginkan. Sementara dia dan Juan hanya memperhatikan sambil sesekali meminta saran kalau memang diminta.


“Za,”


"Hmm."


“Jajan es krim, yuk?”


Zahira menoleh, “Sekarang?” tanyanya setengah berbisik.


“Iya. Yuk?”


“Nanti aja, tunggu kelar.” Zahira berbisik lagi. Pasalnya, mereka sedang ada meeting dengan pihak wedding organizer demi memaksimalkan semua persiapan untuk pernikahan yang akan digelar delapan hari lagi.


“Nggak mau, maunya sekarang.” Rengek Juan, seperti bayi.


Karena mereka terus berbisik-bisik, Chyntia yang sedang mendengarkan penuturan dari salah satu staf wedding organizer pun menoleh, agaknya penasaran apa yang sedang diributkan oleh sepasang calon pengantin itu.


“Kenapa? Kalian butuh sesuatu? Atau ada yang mau kalian sampaikan ke pihak wedding organizer?” tanya Chyntia, berpikir bahwa bisik-bisik tetangga yang dia dengar ada kaitannya dengan persiapan pernikahan. Padahal tidak sama sekali.


“Zahira pengin jajan es krim katanya.” Celetuk Juan, sekonyong-konyong menjadikan Zahira sebagai tumbal demi memenuhi keinginannya membeli es krim.

__ADS_1


Tak terima dituduh, Zahira pun menggeleng cepat, lalu dia menunjuk Juan sebagai pertanda bahwa calon suaminya itulah yang sebenarnya ingin jajan.


Untungnya, Chyntia mengerti. Mungkin karena sesama perempuan, or it’s just simply karena Juan adalah putranya dan dia sudah paham betul dengan tabiat anak itu.


“Let me finish this one convo, and then you can go anywhere you want with my baby.” Kata Chyntia, jelas ditujukan kepada Juan yang sudah memanyunkan bibirnya. “Can I?”


“Okay, okay.” Juan memutar bola mata malas, lalu merosotkan tubuhnya hingga kepalanya sejajar dengan bangku panjang tempat meeting sedang berlangsung.


Penjelasan dari staf wedding organizer yang sempat terputus kembali disambung, dan benar-benar hanya Chyntia yang mendengarkan dengan saksama karena Juan malah asyik memainkan kursi beroda yang dia duduki, maju-mundur seperti sedang naik Bombom car di arena bermain. Sementara Zahira juga tidak bisa fokus ikut mendengarkan, pasalnya dia harus sesekali mencubit Juan agar lelaki itu kembali anteng.


Sepuluh menit berlalu, meeting selesai. Juan menjadi orang pertama yang bangkit dari kursi sambil bersorak girang, membuat beberapa orang staf wedding organizer menggeleng tak habis pikir pada calon pengantin yang acaranya sedang mereka tangani ini. Baru kali ini mereka menemukan calon pengantin yang kelihatan tidak tertarik sama sekali dengan rangkaian acara pesta pernikahan dan malah bersemangat untuk membeli es krim.


“Harap maklum, he’s a giant baby.” Chyntia menyampaikan permohonan maaf sekaligus meminta pemakluman atas sikap absurd putranya. Para staf mengangguk diiringi kekehan ringan. Di tengah pekerja mereka yang berat, tingkah Juan tadi justru menjadi sebuah hiburan tersendiri.


“I’ll take my baby out, bye bye!” belum selesai salam diberikan oleh Chintya dan Zahira, Juan sudah ngebet sekali. Ditariknya lengan Zahira, lalu calon istrinya itu diajak berlari meninggalkan ruangan. Seakan jika mereka menunda satu detik saja, mereka akan ketinggalan kereta.


“Toko es krimnya nggak akan tiba-tiba pindah ke Afrika walaupun kita jalan pelan-pelan.” Protes Zahira, namun kaki kecilnya tetap berlari mengikuti arahan Juan.


“Ini bukan soal toko es krim, ini soal aku yang udah nggak betah ada di ruangan itu buat dengerin ini itu yang aku nggak ngerti.” Setelah agak jauh dari area gedung pertemuan, barulah Juan memberikan pengakuan. Kakinya juga perlahan-lahan berhenti berlari, mulai kembali berjalan pelan.


“Melarikan diri, huh?” Zahira menyindir, sementara Juan malah mengangguk tanpa ragu sambil cengengesan.


“Emang kamu nggak pusing dengerin si Mbak tadi ngomong apa?” tanyanya balik.


Alih-alih memberikan jawaban yang kontra, Zahira malah menggeleng pertanda bahwa mereka berada di kubu yang sama. Sontak saja, tawa mereka meledak secara bersamaan. Riuhnya mengudara, sampai pada telinga orang-orang yang berlalu-lalang hingga membuat mereka sejenak berhenti untuk memeriksa. Dan ketika mereka menemukan tawa itu berasal dari sepasang muda-mudi yang memancarkan aura cinta hingga bermeter-meter jauhnya, mereka pun turut tersenyum.


“I love you.” Kata Juan.


“I know.” Sahut Zahira.


Tidak puas dengan jawaban itu, Juan menoleh cepat sambil merengut. “I said I love you.” Ulangnya, lebih penuh penekanan.


“I know, Juan.” Balas Zahira lagi.


“Ugh! Kamu nyebelin.” Meski begitu, Juan tetap tidak melepaskan genggamannya dan memilih untuk melanjutkan langkah.


Zahira mengulum senyum. Sisi menggemaskan ini... Zahira yakin hanya dia yang bisa melihatnya selain kedua orang tua Juan dan juga teman-teman Pain Killer. Bayi besarnya ini tidak akan pernah menampakkan sisi cute nan menggemaskan yang padahal merupakan daya tarik tersendiri. Yeah, Zahira bersyukur untuk itu. Karena kalau Juan sampai menunjukkannya kepada banyak orang, yang ada penggemar lelaki itu akan langsung bertambah lima miliar.


“I love you.” Kata Zahira tiba-tiba, di saat sebenarnya Juan sudah tidak lagi menuntut Zahira untuk membalas ucapan cintanya.


Jelas, hal itu membuat Juan lalu menoleh cepat dengan ekspresi lucu tak tertahankan. “Huh?” tanyanya clueless.


“I said I love you, whether you know it or not.”


“Sial.” Tahu-tahu, Juan mengumpat.


Zahira jelas bingung. Dia baru saja menyatakan cinta, tapi malah mendapatkan umpatan sebagai gantinya? Oh, apa yang salah?


“No, no. I said that to myself.” Juan meralat hanya karena Zahira terus menatapnya penuh kebingungan. “Memang sialan diri ini, selalu nggak tahan pengin gigit bibir kamu setiap kali kamu ngomong hal-hal yang bikin jantung aku deg-degan.” Lanjutnya.

__ADS_1


Sudah tahu bukan apa yang akan dia dapatkan sebagai hadiah karena sudah berbicara sembarangan? Ya, benar. Sebuah geplakan maut dari tangan kurus yang damage-nya lebih mematikan daripada tukang pukul profesional.


“Belum nikah udah KDRT aja kamu!” protesnya, lalu balik memukul punggung tangan Zahira pelan. “Nggak boleh gitu, durhaka.”


“Belum jadi suami, nggak kan durhaka.” Zahira ngeyel, kali ini dicubitnya lengan Juan hingga si lelaki memekik kesakitan.


“SAKIT! KAMU JANGAN JADI SIKOPAT!!!”


“Segini doang, nggak usah lebay!” Zahira mengulangi cubitannya.


“ASTAGHFIRULLAH, CALON ISTRI GUE SIKOPAT, GIMANA INI TUHAN?!!!”


Melihat kekasihnya kesakitan, Zahira malah cekikikan. Benar, sepertinya dia sudah berubah menjadi psikopat sekarang.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Niat awal membeli es krim, ujung-ujungnya malah berkeliling pusat perbelanjaan. Apa saja dibeli. Mulai dari sikat gigi, lampu tumblr, sampai underwear pun Juan masukkan ke dalam troli. Zahira sih bodo amat. Dia cuma mengekor di belakang sambil menikmati es krim rasa coklat vanila, menunggu barang random apa lagi yang akan Juan beli selanjutnya.


“Bagusan yang mana warnanya? Biru atau merah muda?” tanya Juan seraya menyodorkan teflon anti-lengket yang dia samar dari rak.


“Biru.” Jawab Zahira.


Juan mengangguk, langsung saja dia masukkan satu teflon yang warna biru sesuai pilihan Zahira ke dalam troli, menambah daftar belanjaan yang padahal sudah hampir luber.


“Kalau ini, bagusan yang mana?” kali ini, sebuah pot hiasan berisi tanaman imitasi yang dia tunjuk.


Zahira melirik sekilas, kemudian menghela napas panjang tepat setelah es krimnya habis. “Buat apa beli itu? Kita bisa tanam yang asli.” Ucapnya, enggan memilih satu di antara banyaknya jenis tanaman imitasi yang Juan tunjuk.


“Jadi nggak usah beli?”


“Nggak usah. Kamu jangan buang-buang duit, mentang-mentang biaya resepsi semuanya Mama yang tanggung.” Omel Zahira, lalu dia mengambil alih troli dan mendorongnya menjauh agar tidak ada lagi yang Juan masukkan ke dalamnya. “Udah sore, ayo kita pulang.”


“Ke rumah kita?”


“Ke rumah masing-masing.”


Juan melenguh, langkahnya mendadak lesu, padahal sedari tadi dia semangat sekali mendorong troli ke sana kemari.


Sampai di depan kasir, Zahira mengembalikan troli ke tangan Juan. “Kamu bayar dulu, aku mau ke toilet sebentar. Kalau kamu udah selesai duluan sebelum aku balik, kamu tunggu aja di depan pintu masuk.”


“Sama aku aja ke toiletnya.” Juan menahan.


“Terus aku harus nahan pipis sampai belanjaan kamu yang seabrek itu selesai discan? Nope, nggak dulu.” Pergilah Zahira ke toilet, meninggalkan Juan bersama belanjaannya yang seabrek—dan entah apa manfaatnya itu.


“Ini gue beli buat apa, deh?” tutur Juan sambil memegang pencukur jenggot manual warna biru tua. Padahal di rumah dia punya yang elektrik, yang pastinya lebih canggih.


Hah... Entahlah, mungkin Juan sedang kesurupan emak-emak gila diskonan yang apa-apa jadi dibeli padahal belum tentu butuh atau tidak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2