Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Meet Him


__ADS_3

Antrean di toilet perempuan ternyata lumayan panjang. Karena itu, Zahira mengurungkan niat untuk buang air kecil karena takut akan membuat Juan menunggu terlalu lama. Lagi pula, masih bisa ditahan, belum sampai yang mendesak sekali.


Putar balik, Zahira berjalan kembali ke tempat di mana terakhir kali dia berpisah dengan Juan--meja kasir. Namun, ketika dia celingukan mencari keberadaan Juan di sana, rupanya lelaki itu sudah tidak ada.


"Cepet juga si Mbak kasir kerjanya, padahal belanjaan Juan ada seabrek." Celoteh Zahira, sempat-sempatnya dia terkekeh sendiri kala mengingat lagi barang-barang absurd yang Juan beli. Dia yakin, hampir lebih dari 50 persen dari barang-barang itu akan berakhir tidak terpakai. Yah, sedikit salahnya juga karena tidak membantu menyetop sebelum lebih cepat.


Masih sambil mengitarkan pandangan, Zahira berjalan menuju pintu masuk di mana dia dan Juan sudah janjian akan bertemu di sana.


Di perjalanan, sebelum mencapai pintu depan, Zahira berhenti. Bukan karena dia sudah menemukan keberadaan Juan, melainkan karena matanya menangkap keberadaan sosok lain yang terasa tidak asing. Postur tubuh tinggi yang sedikit tidak tegap, rambut hitam legam yang panjangnya sudah menyentuh leher, juga leather jacket andalan yang Zahira kenal sekali milik siapa.


Ragu sempat terasa, namun Zahira meyakinkan diri berkali-kali bahwa dia tidak sedang salah lihat. Buru-buru, sebelum sosok itu berlalu dari jangkauan pandangnya, Zahira berlari menghampiri.


Untung hari ini dia mengenakan sneaker, jadi ayunan langkah kakinya bisa lebih sat-set ketimbang saat dia mengenakan pantofel atau pun flat shoes.


"Bas!" serunya, saat dia lihat sosok tadi hampir memencet pintu lift yang ada di depannya.


Sosok itu, Baskara, menolehkan kepala dan jelas terlihat terkejut mendapati siapa yang sudah memanggil namanya. Seorang gadis berkerudung biru tua yang berlari tergopoh ke arahnya.


"Aku tahu aku nggak salah mengenali orang." Ucap Zahira dengan senyum lebar tatkala dia berhasil sampai di hadapan Baskara.


Alih-alih menjawab, Baskara malah mengitarkan pandangan dengan hati yang was-was. Dia terpaksa keluar dari kandang untuk membeli sendiri beberapa kebutuhan rumah tangga karena si Biru sedang tepar. Dia sengaja memilih pusat perbelanjaan yang dia pikir tidak akan mungkin didatangi oleh Reno atau pun Juan karena lokasinya cukup jauh dari kediaman mereka berdua. Tapi sepertinya, Baskara lupa mempertimbangkan soal Zahira.


"Aku sendirian kok." Statement Zahira itu berhasil membuat Baskara kembali menolehkan kepala. "Well, nggak beneran sendiri, sih. Ada Juan, tapi dia lagi nunggu di luar." Ralatnya.


"Itu artinya, Juan bisa nyusulin lo ke sini kapan aja." Baskara bersuara. Ia masih memasang sikap waspada, pandangannya masih berkeliling, berjaga kalau-kalau Juan datang dari arah yang tak terduga.


"Nggak akan." Zahira meyakinkan. "Dia tahunya aku lagi ke toilet."


Untuk beberapa lama, Baskara terdiam. Ditatapnya betul-betul gadis bertubuh kecil di hadapannya itu, kemudian dia menghela napas pelan. "Gue lagi nggak mau ketemu sama siapa pun dulu, jadi tolong rahasiain soal lo yang ketemu gue sekarang." Pintanya.


"Aman." Zahira manggut-manggut. "Aku cuma mau mastiin kalau tadi aku nggak salah lihat, dan sekalian mau make sure kalau kamu in a good condition walaupun..." ia menjeda, hanya untuk mengamati penampilan Baskara lebih saksama. Dibandingkan dengan kali terakhir mereka bertemu lima tahun yang lalu, Baskara terlihat jauh lebih kurus. Ekspresi wajahnya pun tidak lagi sama, tidak seramah dulu ketika awal-awal Juan gencar mendekati dirinya--di mana Baskara selalu menjadi tim hore yang memeriahkan suasana.


"Kayak mayat hidup, right?"


Zahira mengangkat kepala dengan cepat, terpaku sebentar pada senyum sumir yang Baskara sunggingkan, lalu menggeleng pelan. "I know you're getting better now. Buktinya kamu udah mau balik ke Jakarta."


Baskara tertawa sumbang. Kalau dibilang kondisinya sudah baik, itu tidak sepenuhnya benar. Tapi, memang, dia harus mengakui bahwa kondisinya jauh lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya.


"Bas,"


Baskara meluruskan kembali sudut-sudut bibirnya. Ia menatap Zahira lekat-lekat, menunggu dengan sabar sampai perempuan itu melanjutkan kalimatnya.


"Kembali ke Juan, kapan pun kalau kamu udah siap." Tutur perempuan itu, dibubuhi senyum yang ketulusannya sampai juga ke kedua bola matanya yang berbinar. "Dia nggak akan ke mana-mana, bakal terus ada di tempatnya buat nyambut kamu pulang."


Meski sepertinya Baskara punya banyak kosa kata untuk diucapkan, lelaki itu lebih memilih untuk hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai respons.


"Gue harus balik, Biru needs me." Lalu itu adalah kalimat pamit yang dia ucapkan, dalam keadaan hati yang jauh lebih tenang.

__ADS_1


Zahira menyambut kalimat pamit itu sebagai sesuatu yang baik. Sebab dia tahu, lelaki itu akan kembali lagi. Entah kapan. Entah besok, lusa, atau bahkan butuh sampai berminggu-minggu. Yang jelas, Zahira tahu Baskara tidak akan lari ke mana-mana lagi. Dia sudah pulang, ke tempat di mana dia memang seharusnya pergi.


"Hati-hati di jalan, salam buat Sabiru." Dan begitu saja, pertemuan singkat itu berhenti di sana.


Zahira menunggu sampai Baskara masuk ke dalam lift, tetap bertahan di posisinya sampai pintu lift tertutup dan lampu indikator menunjukkan benda besi itu sudah bergerak turun.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Ditunggu punya tunggu, Zahira tidak kunjung kembali. Sudah hampir 20 menit, rentang waktu yang agak tidak wajar kalau hanya sekadar buang air di pusat perbelanjaan yang cuma 4 lantai. Bahkan, se-antre apa pun, 20 menit agaknya terlalu berlebihan.


Tak terbiasa membiarkan kekasihnya hilang terlalu lama dari radar, Juan pun memutuskan untuk menyusul. Kantong belanjaan yang sebarek dia titipkan kepada petugas keamanan, sambil menyelipkan dua lembar uang pecahan seratus ribu agar di penjaga keamanan itu bekerja dengan lebih ikhlas menjaga barang belanjaannya. Setelah itu, dia bergegas masuk lagi ke dalam pusat perbelanjaan.


Juan berlari menuju lift, tetapi saat melihat lampu indikator yang masih berada di lantai atas, dia malas menunggu. Akhirnya dia memilih untuk naik eskalator saja, meski tetap saja dia harus sambil berlari-lari agar lebih cepat sampai ke lantai tiga--lantai di mana dia berpisah dengan Zahira.


Dua kali naik eskalator, Juan akhirnya sampai. Dia langsung saja berjalan menuju toilet sambil berusaha menelepon Zahira.


"Nggak diangkat?" herannya sewaktu nada tunggu di ponselnya berakhir putus tanpa sempat ada jawaban. Tiga kali lagi dia mencoba, dan hasilnya tetap saja begitu.


Sekarang, level paniknya sudah naik drastis. Telepon yang tidak diangkat sudah tida dia hiraukan lagi. Sudah begitu, dia juga tidak peduli pada para perempuan yang menatap aneh ketika dia menerobos masuk begitu saja ke dalam toilet perempuan.


"Toilet laki-laki di sebelah sana, Mas." Tegur seroang petugas kebersihan perempuan yang memang selalu stand by di toilet perempuan untuk memastikan kebersihannya.


Juan menoleh, "Saya nyari pacar saya, Mbak. Dia pamit ke toilet, tapi udah 20 menit saya tunggu nggak balik-balik." Tuturnya, kembali ia longgokkan kepala pada setiap bilik yang terbuka, berharap seseorang yang keluar dari sana adalah Zahira.


Namun, hadapannya pupus saat semua bilik berganti penghuni, dan dia sama sekali tidak mendapati ada Zahira di sana.


Perhatian Juan lantas beralih kepada perempuan berambut pirang sepunggung itu. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Tapi yang menjadi masalah adalah, Zahira sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Itulah yang membuatnya merasa khawatir.


"Mas mending turun terus ke information center aja, minta tolong petugas untuk bantu cari pacarnya." Usul petugas kebersihan yang tadi.


Merasa tidak punya pilihan lain, dan dia juga mulai risi dipandangi sebegitunya oleh perempuan-perempuan yang sedang mengantre untuk menggunakan toilet, Juan pun memutuskan untuk menerima saran itu.


"Terima kasih," ucapnya, lalu dia bergegas pergi.


Ayunan langkah Juan semakin lebar dan dalam tempo yang cepat. Hingga kemudian, ia mengerem mendadak saat dari kejauhan, dia melihat seorang perempuan berkerudung biru tua yang berdiri di depan lift yang pintunya hampir menutup--membelakangi dirinya. Juan yakin itu adalah Zahira. Selain karena postur tubuhnya, outfit yang perempuan itu kenakan juga hampir tidak ada yang menyamai. Maka tanpa pikir panjang, Juan langsung berlari menghampiri.


"Za!" teriaknya. Takut-takut kalau Zahira malah akan masuk ke dalam lift dan mereka jadi harus kucing-kucingan lagi.


Yang dipanggil menoleh, menyuguhkan wajah polos tanpa dosa yang seketika membuat Juan ingin sekali menggigitnya hingga habis sudah pipi itu olehnya. Dia sudah ketar-ketir, tapi kekasihnya malah berdiri santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Hai," sapa yang perempuan. Juan tidak membalas sapaan itu, malah menarik lengan Zahira dan membawa perempuan itu mendekat.


"Kamu dari mana aja, sih? Aku tungguin kamu di depan tapi kamu nggak datang-datang, udah gitu aku telepon juga nggak kamu angkat sama sekali!" Juan setengah emosi. Bukan marah sih, tapi lebih kepada merasa gereget pada Zahira yang hilang-hilangan seperti bocah yang terlepas dari gandengan ibunya.


"Kamu telepon aku?" dengan polosnya, Zahira menunjuk wajahnya sendiri. Kala Juan mengangguk, dia langsung merogoh kantong rok yang dia kenakan untuk memeriksa ponselnya. Benar saja, ada empat panggilan tak terjawab dari Juan. "Ya ampun, mode silentnya aktif, kayaknya nggak sengaja kepecet deh."


"Astagaaaaa...." Juan sengaja memanjangkan akhir kata untuk menambah kesan berlebihan. "Kamu tuh bikin aku panik, tahu nggak? Aku pikir kamu tenggelam di dalam closet."

__ADS_1


"Hello!" Zahira balik mengomel. "Aku ini manusia loh, masa tenggelam di closet?"


"Ya siapa tahu aja, kan kamu kecil. Segini." Gurau Juan seraya memeragakan gerakan jari menjumput garam ala-ala Mama untuk menunjukkan seberapa kecil Zahira di matanya.


"Nggak boleh body shamming!" Zahira protes sambil merengut.


Melihat itu, Juan terkekeh. "Gimana aku bisa marah, ya, kalau kamu selalu secute ini?" tuturnya seraya mencubit pelan pipi Zahira.


"Jangan dicubit, nanti melar!"


"Itu pipi apa karet, kok melar?" goda Juan.


Zahira tidak menanggapi guyonan itu. Dia juga seketika terdiam. sebab kini, dia baru kepikiran satu hal: apakah Juan sempat melihatnya mengobrol dengan Baskara? Mengingat jarak waktu dari Baskara pamit dengan kedatangan Juan hanya selisih beberapa detik saja.


"Ju,"


"Hmmm?"


"Kamu... tadi lihat aku di sini sama siapa?" tanyanya hati-hati.


Ditanya begitu, Juan malah kelihatan bingung. "Maksudnya? Emang kamu di sini sama siapa tadi? Aku lihatnya kamu sendirian, kayak lagi nungguin lift. Tapi tadi liftnya emang ketutup sih dan kamu nggak masuk. Mungkin karena penuh, ya?"


Jawaban itu membuat Zahira menghela napas lega. Bukankah itu artinya Juan memang tidak sempat melihat Baskara?


"Kamu mau tahu, nggak?" tanyanya lagi, sebuah ide jahil terlintas di kepalanya.


"Apa?" dan dengan polosnya, Juan mengambil umpan yang dia berikan.


"Aku tuh tadi nggak sendirian, Ju." Katanya, semakin lama suaranya semakin pelan, sehingga Juan pun semakin mendekatkan kepala untuk bisa mendengar lebih baik.


"Terus, sama siapa?"


"Nenek-nenek, Ju. Rambutnya disanggul, warnanya udah putih semuanya. Dia pakai kebaya warna abu-abu tua sama rok batik warna cokelat terang. Giginya oranye kemerahan, bekas sirih." Mulailah ia mengarang bebas.


Juan mendengarkan dengan serius, meski teknisnya dia tidak benar-benar percaya hantu.


Lalu saat suasana sedang hening....


"HUWAAA!!!" Zahira tahu-tahu mengangetkan Juan, membuat lelaki itu tersentak sembari mengelus dadanya sendiri.


Tawa Zahira meledak-ledak, riuh seperti kembang api yang dinyalakan untuk memeriahkan perayaan tahun baru.


"Muka kamu lucu kalau pas kaget, Ju!" ucapnya sambil memegangi perut yang mulai terasa keram karena terlalu lama tertawa.


"Dasar usil." Alih-alih marah karena sudah dikerjai, Juan hanya menghadiahkan sentilan ringan di dahi kekasihnya sebagai sebuah hukuman. "Udah ketawanya, kita harus cepetan pulang." Ajaknya kemudian. Tanpa menunggu lebih lama, dia merapatkan gandengan di tangan Zahira. Mereka pun berjalan beriringan menuruni eskalator, dengan Zahira yang masih sesekali menertawakan Juan yang kaget dan Juan yang sama sekali tidak tahu kalau semua itu hanya sebuah pengalihan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2