
“Jadi, Mama tiba-tiba kasih restu karena ngeliat Zahira bantuin anak kecil sama kucingnya di rumah sakit?” tanya Juan setelah selesai mendengarkan penjelasan ibunya. Seperti rencana awal, dia menanyakan langsung kepada sang ibu tentang alasan mengapa restu itu bisa mengalir deras secara tiba-tiba, agar di kemudian hari dia tidak menemukan hal-hal janggal yang mengganggu.
Chyntia mengangguk, tapi kemudian dia menggeleng hanya sepersekian detik setelahnya. Juan pun dibuat bingung. Anak itu bahkan bangun dari posisi tidur dan menatap ibunya penuh tanda tanya.
“Iya, atau nggak jadinya?” tuntutnya.
Chyntia juga ikut bangun. “Iya, salah satu alasan kenapa Mama kasih restu adalah karena ngeliat kebaikan Zahira siang itu. Dan enggak, untuk statement kamu yang bilang bahwa restu ini datang tiba-tiba. Nope, Mama nggak kasih ini secara tiba-tiba.” Ia menjelaskan.
Bukannya paham, Juan malah semakin terlihat kebingungan. Dia bahkan sampai membalikkan tubuhnya, menunduk memeriksa ayahnya yang tidur di kasur lantai selagi dia dan ibunya nangkring di atas kasur yang empuk. Ayahnya terlihat memejamkan mata, namun Juan yakin lelaki itu tidak benar-benar tidur.
“Papa paham apa yang dimaksud sama Mama?” tanyanya, pada seseorang yang sejak awal tidak mereka anggap ada.
Eksistensinya tiba-tiba dipertimbangkan membuat Julius membuka mata. Ia menatap putranya sejenak sebelum tatapan itu berhenti pada sosok istrinya. Selama beberapa detik, Julius tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu seolah sedang mengobrol dengan Chyntia melalui tatapan mata, sengaja agar obrolan mereka tidak dimengerti oleh anak laki-laki mereka yang mendadak cosplay menjadi bayi besar.
Kemudian, helaan napas mengawali pergerakan Julius bangkit dari posisi tidurnya. Dia duduk sambil menekuk lutut, lalu matanya kali ini menatap intens Juan yang masih menunggu jawaban.
“Mamamu sebenarnya udah jatuh cinta sama pacarmu dari lama, cuma kekhawatirannya aja yang bikin dia jadi menutup mata atas perasaan itu.” Jelasnya.
__ADS_1
Meskipun di mata Juan dia hanyalah seorang laki-laki tak bertanggung jawab yang lebih senang menghabiskan waktu di meja judi alih-alih menemani istrinya di rumah, Julius masih memiliki sisi baik sebagai seorang suami yang hanya dia tunjukkan di depan Chyntia seorang. Setiap kali dia habis tidak pulang, dia akan mengurung diri di kamar, hanya demi mendengarkan segala keluh kesah yang istrinya pendam sendirian sementara dia mengejar kesenangannya sendiri di luaran. Dan dari sekian banyak keluh kesah yang dia dengar dari Chyntia, nama Zahira muncul lebih sering beberapa bulan terakhir. Itu bahkan terjadi di bulan-bulan sebelum Juan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.
Sementara bagi Juan, ini adalah informasi baru yang sama sekali tidak dia duga. Ibunya menyukai Zahira, tetapi rasa sukanya tertutupi oleh segala hal yang menumpuk di kepala. Kira-kira, dari mana ibunya mendapatkan kebiasaan overthinking itu? Dari kakeknya yang perfeksionis kah? Atau justru dari mendiang neneknya yang terlihat pendiam bagai air sungai yang tenang?
“Is it real?” Juan beralih pada ibunya.
Sudah tak memiliki jalan keluar untuk mengelak, Chyntia mengembuskan napas pasrah. Gengsinya masih sebesar gunung Fuji sebelum ini, namun berkat afirmasi-afirmasi positif yang selalu diberikan oleh suaminya yang tukang judi, ia akhirnya berusaha menerima bahwa perasaannya terhadap Zahira adalah sesuatu yang valid. Justru kekhawatiran berlebih yang dia pelihara itulah yang hanya merupakan ilusi.
“Oh my God, I love you so much, Mama.” Lagi, Juan mengatakannya dengan gaya yang dilebih-lebihkan, sehingga alih-alih merasa terharu, Chyntia malah mencibir.
“Kamu bilang gitu karena Mama kasih restu, kan? Coba kalau nggak, kamu pasti bilang ‘I hate you, Mama, to the moon and back!’ iya, kan?” kata Chyntia seraya menirukan betapa lebay cara berbicara putranya.
“Tapi om-om itu juga cintaaaa banget sama Mama. Rasa cinta kamu juga masih kalah.” Ujar Chyntia membela suaminya. Dalam sudut pandang orang lain, Julius Antonio Saputra boleh jadi laki-laki berengsek yang acuh terhadap anak dan istri. Namun dalam sudut pandang Chyntia, Julius adalah laki-laki yang mencintainya sebesar dunia. Rasa cintanya tidak pernah berkurang, meski dia harus ekstra sabar menunggu sampai lelaki itu kembali dari petualangannya mencari kepuasan duniawi di meja judi.
“Cih!” Juan mencibir. Dia melirik sengit ke arah ayahnya yang senyum-senyum sendiri karena barusan dibela oleh sang istri. Tapi kemudian, Juan tertegun. Dia mulai melihat ayahnya serupa dirinya sendiri. Di mana semua orang menganggapnya bajingan, tak berguna, tak layak dicintai. Namun di sisinya, ada seorang perempuan yang setia mendampingi tidak peduli apa yang orang-orang katakan.
Malam itu, untuk pertama kalinya Juan menyadari bahwa dia punya banyak sekali sisi yang mirip dengan ayahnya. Sebuah kesadaran yang akhirnya membuatnya mengerti, mengapa ibunya masih tegak berdiri menunggu kepulangan ayahnya yang terkadang tidak pasti.
__ADS_1
Keluarganya memang tidak sehangat milik Zahira atau pun orang-orang di luar sana yang bahkan sampai berjuluk ‘Keluarga Cemara'. Namun, di keluarga ini, dari dua manusia tak sempurna ini, Juan belajar bahwa ketidaksempurnaan itu tidak pernah menjadikan seseorang menjadi bukan apa-apa, asal dia bertemu dengan orang yang tepat.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Detik-detik menjelang pergantian hari, Zahira terjaga. Dia terduduk di depan jendela kamarnya, memandangi langit pekat di atas sana yang tampak kesepian sebab bulan dan bintang tertutup awan mendung.
Tinggal menghitung menit, umurnya akan bertambah satu tahun. Dan di dalam sejarah hidupnya, ini mungkin menjadi ulang tahun paling berkesan setelah sekian lama. Kembali dia pandangi cincin permata yang tersemat di jari manis tangan kirinya, menggantikan cincin couple miliknya dan Juan yang kini dia pindahkan ke jari tengah. Ia tidak terlalu suka mengenakan perhiasan, namun terlalu sayang jika dia harus menyingkirkan salah satunya—sebab dua-duanya berharga.
Selain melamarnya untuk dijadikan mantu, ibunda Juan juga datang membawakan petuah yang kurang lebih isinya mungkin sama dengan apa yang Abi dan Umi sampaikan kepada Juan sebelumnya. Perempuan anggun itu secara terang-terangan mengatakan kepadanya bahwa Juan tidak sempurna, bahwa Juan hanya manusia biasa yang memiliki banyak sekali cacat dan kurang yang juga ingin diterima.
Atas petuah itu, Zahira menyampaikan hal serupa. Dia pun dengan rendah hati mengatakan bahwa sama seperti Juan, ia pun tidak sempurna. Banyak sisi menyebalkan yang dia miliki, yang kadang bahkan membuat Umi dan Abi menyerah menghadapi. Orang-orang mungkin berpikir Juan beruntung bisa memilikinya, namun untuk Zahira sendiri, malah dia yang merasa beruntung karena bisa memiliki Juan di dalam hidupnya.
Banyak kenalan Zahira yang merupakan anak orang kaya. Namun, dari mereka semua, hanya Juan satu-satunya yang tampak berbeda di mata Zahira. Lelaki itu tidak pernah menggunakan koneksi yang dimiliki oleh orang tuanya untuk meraup keuntungan bagi dirinya sendiri. Juan tidak pernah mendeklarasikan diri kepada semua orang bahwa dia adalah anak orang kaya dan mereka sebaiknya tidak macam-macam. Dia bahkan lebih senang dikenal sebagai bagian dari Pain Killer, alih-alih anak dari salah satu petinggi di kampus.
Kita berharga di mata orang yang tepat. Barangkali, itu adalah kalimat paling pas untuk menggambarkan bagaimana Juan di mata Zahira, begitu juga sebaliknya. Orang lain boleh menganggap mereka bukan apa-apa, tidak masalah selagi mereka masih saling memiliki.
Jarum jam terus bergerak mendekati angka 12, dan ketika ia akhirnya sampai dan melanjutkan perjalanan ke angka lain, Zahira memejamkan matanya sejenak untuk berdoa. Persis di hari ulang tahunnya, dia berdoa semoga semuanya diberikan kelancaran sampai hari di mana dia dan Juan benar-benar dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan.
__ADS_1
“Amin.” Zahira mengusap wajahnya, kemudian terdiam sebentar sebelum kembali ke kasur. Dia akan pergi tidur, dengan perasaan baik dan harapan untuk hari-hari ke depan yang lebih baik. Tidak akan dia tunggu ucapan selamat ulang tahun dari Juan, karena lelaki itu tidak akan melakukan sedini ini. Juan memang tidak pernah menjadi seseorang yang mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ paling awal, namun lelaki itu selalu menjadi seseorang yang menemaninya melewati hari ulang tahun dengan perasaan syukur yang tidak ada habis-habisnya. Tentu, dengan caranya sendiri, sebuah cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Juananda Saputra, tidak ada yang lain lagi.
Bersambung