
Tengah hari bolong, sepulangnya dari apotek, Juan melipir ke kamar Reno. Hanya untuk menemukan lelaki berambut cepak itu sedang tidur dengan posisi tengkurap di atas ranjang dan kedua kakinya yang tidak seberapa panjang itu menggantung di sisi ranjang. Pukul 9 tadi, ketika Juan berangkat ke apotek, Reno baru pulang—entah dari mana—dalam keadaan setengah teler. Aroma alkohol masih menguar begitu kuat dari bibir lelaki itu ketika ia berbicara. Matanya juga tampak memerah, sementara kaus yang dia kenakan sudah kusut tak berbentuk.
“Udah tua bukannya tobat, malah makin jadi.” Omel Juan seraya geleng-geleng kepala. Ia lalu berjalan menghampiri. Dengan tanpa rasa belas kasih, dia menggunakan separuh tenaganya yang kuat seperti Samson untuk menggeser tubuh Reno hingga posisi tidur lelaki itu berubah menjadi telentang.
Merasa tidurnya terusik, Reno melenguh panjang. Matanya yang masih berat hanya bisa melirik samar ke arah Juan, yang mana hal itu semakin membuat kekesalannya bertambah karena kini sepupu besarnya itu sudah dengan santainya duduk di tepian ranjang.
“Dari mana aja lo? Kenapa baru balik? Mana teler gitu pula.” Juan memulai sesi interogasi.
Masih dengan mata yang terpejam, Reno menjawab, “Anniversary kolega.” Kemudian meregangkan tubuhnya dan kembali mencari posisi tidur yang nyaman.
“Anniversary apaan sampai bikin lo mabuk gini?” tanya Juan curiga. Tidak puas pada alasan yang Reno berikan karena menurutnya itu sama sekali tidak masuk akal. Dia malah curiga kalau jangan-jangan Reno kembali kelayapan ke kelab malam, kembali pada kehidupan kelam mereka di masa muda dulu.
Reno geming. Lelaki itu tidak menjawab sama sekali dan malah menarik selimut hingga membungkus seluruh tubuh beserta kepalanya. Dia juga meletakkan telapak tangan di telinga, berusaha menghalau suara Juan yang bisa masuk kapan saja.
“Answer me?” Juan masih menagih.
Namun lagi-lagi, tidak ada jawaban yang Reno berikan sehingga Juan berakhir pasrah setelah meloloskan hela napas rendah.
“Umur lo udah nggak muda lagi, ya, Ren. Badan lo juga udah nggak sekuat dulu, jadi kurang-kurangin deh minum alkohol.” Sebagai seseorang yang sudah lebih dulu berhenti, Juan hanya ingin membuat Reno mengerti. Meninggalkan alkohol dan asap rokok tidaklah buruk. Bahkan malah menimbulkan banyak sekali efek positif.
“Ini bukan karena gue mau sok alim atau gimana. Ya whatever lah soal aturan agama, tapi yang jelas alkohol kan emang nggak bagus buat kesehatan. Gue cuma mau lo mulai hidup dengan lebih sehat aja. Lagian, lo juga nggak selalu bisa kontrol apa yang bakal terjadi kalau lo lagi dalam pengaruh alkohol, kan?” panjang lebar Juan bicara, Reno sama sekali tidak menyahut.
Di dalam selimutnya sana, Reno sebenarnya mendengarkan. Dia juga diam-diam mengaminkan apa yang Juan sampaikan, sebab itu memang benar adanya. Kondisi tubuhnya sudah tidak seprima dulu lagi, mengingat umurnya yang juga sudah hampir menyentuh kepala tiga. Reno mengerti, dia hanya tidak mau menyahuti ucapan Juan karena dia malas. Karena sekali dia bersuara, obrolan mereka akan berakhir panjang.
Lagi pula, ada yang lebih mengganggu pikirannya saat ini. Yaitu perihal insiden yang terjadi setelah dia mabuk di pesta anniversary pernikahan salah satu kolega yang dia hadiri semalam. Insiden yang membuatnya takut setengah mati, hingga rasa-rasanya dia ingin sekali menghilang dari muka bumi.
Masih di tempat yang sama, dengan tidak adanya sahutan dari Reno, Juan kembali menghela napas—lebih berat.
“Kalau pala lo udah nggak terlalu pusing, turun gih buat makan siang. Gue yakin perut lo belum keisi apa-apa dari semalam.” Kemudian, Juan bangkit setelah mendaratkan tepukan di kepala Reno yang notabene lebih tua darinya. “Jangan dibawa tidur terus, yang ada pala lo makin pusing.” Itu ucapnya, kemudian dia keluar dari kamar Reno dengan tidak lupa menutup kembali pintunya.
Sementara itu, bermenit-menit setelah kepergian Juan, barulah Reno mau menyembulkan kepala. Perlahan-lahan dia mendudukkan diri, hanya untuk merutuki kembali apa yang sudah terjadi, mengacak-acak rambutnya seperti hanya itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini.
“Reno goblok, tolol, idiot!!!”
...🍁🍁🍁🍁🍁...
“Nginep sehari lagi deh, Ju.” Chyntia memelas. Kedua tangannya tidak lepas dari lengan Juan, menggelendot seperti kucing minta makan.
“Nggak bisa, Mama. Juan sibuk, banyak kerjaan. Nanti Juan sering-sering ke sini deh biar Mama nggak kangen.” Tanpa mengurangi rasa hormat, Juan berusaha melepaskan diri dari gelendotan sang mama.
“Bohong, ah. Kemarin-kemarin juga bilangnya gitu, bakal sering-sering main. Tapi faktanya apa? Sampai seminggu kamu baru datang.” Chyntia merengut. Sungguh, dia masih tidak rela harus melepaskan bayi besarnya ini untuk pergi lagi—yang kapan entah akan kembali.
“Nggak bohong.” Juan meyakinkan. Dirangkumnya kedua belah pipi sang ibu, lalu dia menatap netra wanita itu dalam-dalam. “Juan janji bakal sering datang. Tiga, no, dua hari sekali. Dua hari sekali Juan bakal datang buat ketemu Mama.”
“Nggak bisa setiap hari aja?” rengek Chyntia lagi. Malah kalau bisa, dia mau menyuruh Juan untuk kembali tinggal di sini saja. Tapi dia sadar, itu tidak akan terjadi.
__ADS_1
Dengan berat hati, Juan menggelengkan kepala. Bukannya mau sombong, tapi dia benar-benar sudah menjadi orang sibuk sekarang. Pagi sampai sore pergi ke cafe, malamnya harus menjemput Zahira, pulang dari Zahira, dia juga masih harus bekerja dari rumah (seminggu terakhir, dia menerima pekerjaan freelance dari beberapa perusahaan luar negeri). Dia benar-benar sibuk, melebihi ketika dia masih menjadi karyawan di perusahaan milik keluarga.
Meskipun kecewa, Chyntia tidak punya pilihan selain membiarkan putranya bergerak menjalani kehidupan yang sudah dia pilih sendiri. Dua puluh tahun lebih menjadi orang tua yang diktator membuatnya lama-kelamaan lelah juga. Apalagi dia sudah tua dan energinya untuk marah-marah tidak sebesar dulu lagi. Juan juga sudah dewasa, sudah lebih bisa memberikan argumen untuk setiap keputusan yang diambilnya.
Akhirnya, dengan pasrah, Chyntia tetap mengantarkan Juan pulang. Tapi tetap, dia kembali menggelendot di lengan sang putra hingga mencapai pintu depan.
Hanya satu detik sebelum tangan Juan menyentuh handle pintu, pintu besar itu sudah lebih dulu didorong dari luar, membuat Juan dan ibunya harus melangkah mundur demi memberi jalan bagi siapa pun itu untuk masuk.
Rupanya, seseorang itu adalah Julius, ayah Juan. Pria paruh baya itu pulang dalam keadaan amburadul. Kemeja putihnya kusut, dasi yang seharusnya menggantung di lehernya juga sudah entah berada di mana rimbanya. Kantung matanya menebal, matanya memerah dan rambut yang sudah dihiasi beberapa helai uban itu terlihat acak-acakan.
Juan tidak tahu berapa puluh juta lagi yang telah dihabiskan oleh ayahnya untuk berjudi selama 3 hari ini. Yang jelas, dari ekspresi wajahnya yang kusut, Juan tahu lelaki tua itu pasti kalah lumayan banyak.
Yang membuat Juan heran adalah, kenapa ayahnya masih saja gemar berjudi padahal sudah tahu dia selalu kalah? Apalagi, sekarang bisnis jual beli narkoba dan perdagangan manusia yang dia geluti sejak masih muda sudah tidak jalan lagi. Otomatis, pemasukannya berkurang, bukan? Tapi kenapa si tua bangka itu masih tidak bertobat juga?
Selayaknya orang asing, Juan hanya memandang kepulangan ayahnya dengan acuh tak acuh. Tidak ada sapaan hangat yang dia suguhkan kepada laki-laki yang tidak pernah menghujaninya dengan kasih sayang sejak ia masih balita. Dia hanya sedikit bersyukur bahwa setidaknya lelaki itu masih pulang dalam keadaan bernyawa.
Dan sama seperti Juan yang cuek, Julius pun melakukan hal yang sama. Seakan tidak melihat keberadaan anak dan istrinya, lelaki itu berlalu masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar yang terlihat ringan. Meninggalkan anak dan istrinya di belakang dengan kehampaan dan tawa miris yang tak bisa lagi ditahan.
“Orang gila.” Juan mendesis, tapi detik berikutnya, dia kembali menurunkan tensi dan memilih untuk menarik ibunya keluar dari rumah.
Di dalam kepala, Juan sudah menyiapkan pertanyaan: mengapa mereka tidak bercerai saja? Karena sepertinya, itu akan lebih baik—terutama untuk Mama. Bukan tidak mungkin jika Mama bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan laki-laki yang lebih baik ketimbang Papa, kan? Siapa tahu saja, Mama bisa memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan orang yang dia cintai dan mencintainya sepenuh jiwa raga.
Akan tetapi, sampai genggaman tangan ibunya terlepas dan dia masuk ke dalam mobil, pertanyaan itu tidak pernah bisa Juan sampaikan. Dia hanya... Tidak ingin menyakiti ibunya lebih banyak.
“Iya. Nanti Juan langsung call Mama. Udah, sana masuk.”
Sekali lagi, Chyntia membungkukkan badan untuk bisa mengecup pipi putranya. “Hati-hati di jalan.”
“Iya...” Juan mengulas senyum, lalu dia menaikkan kaca mobil dan segera menginjak pedal gas. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan Rumah Besar.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Di lampu lalu lintas yang berubah merah, fokus Juan kembali terpecah. Di saat pengemudi lain sudah tidak sabar menanti lampu berganti hijau, Juan malah dengan khidmat menyaksikan seorang pria paruh baya yang sedang menawarkan tangkai-tangkai bunga mawar merah segar kepada para pejalan kaki yang melintas di trotoar. Tubuh rentanya seakan bukan halangan untuk tetap semangat mengais rezeki. Seperti perkataan: jangan berhenti, sebelum benar-benar mati.
Hanya dengan melihat senyum yang terpatri di wajah lelaki tua itu ketika seseorang mau menerima tangkai bunga miliknya, hati Juan menghangat. Lalu ketika lampu lalu lintas akhirnya berubah hijau, Juan menepikan mobilnya kemudian turun menghampiri sang lelaki tua tadi.
“Bunga mawarnya berapaan, Pak?” tanya Juan seraya mencomot satu tangkai mawar yang kelihatan paling mencolok. Ia membawanya ke depan wajah, membaui aromanya yang khas selama beberapa detik penuh selagi menunggu jawaban dari sang empunya bunga.
“Gratis.” Jawab si lelaki tua, sontak membuat Juan melongo tak percaya.
Bunga mawar di depan wajah dia jauhkan dengan gerakan dramatis, sementara mata sipitnya malah mengerjap-ngerjap tak percaya.
“Gratis?” tanyanya masih dengan tampang cengo.
Si bapak tua mengangguk dengan senyum hangat yang masih tak kunjung luntur. “Kalau Mas mau, ambil aja.” Kemudian dengan tangannya yang sudah dipenuhi keriput, bapak tua tadi menyodorkan satu tangkai mawar lagi kepada Juan.
__ADS_1
Walaupun otaknya masih belum selesai mencerna, tangan Juan tetap bergerak sendirinya menerima tangkai mawar yang bapak tua ulurkan.
“Beneran gratis, Pak?” tanya Juan lagi, masih tidak percaya.
Sekali lagi, si bapak tua mengangguk. “Mas mau lagi? Boleh, kok.”
Juan tidak menjawab, dia malah menunduk mengamati keranjang berisi belasan tangkai bunga mawar yang tampak segar. Rasanya masih aneh kalau bunga-bunga cantik ini dibagikan secara cuma-cuma.
“Kenapa nggak dijual aja, Pak? Mawarnya cantik dan segar gini?”
Si bapak tua kembali tersenyum, “Mawar-mawar ini saya petik dari kebun peninggalan mendiang istri saya. Saya sengaja bagi-bagikan supaya paling tidak dia bisa bermanfaat untuk orang lain. Mas lihat di ujung jalan sana?” si bapak tua menunjuk ke ujung jalan, persisnya beberapa ratus meter dari tempat mereka berdiri.
Di arah yang bapak tua itu tunjuk, Juan bisa melihat hamparan tanah luas yang di dalamnya berisi banyak sekali gundukan tanah. Pohon-pohon rindang di tanam di beberapa spot untuk menambah kesan adem—meskipun terkadang malah membuatnya semakin terlihat horor di malam hari. Melalui gapura besar di sisi kanan dan kiri pintu masuk, Juan bisa membaca papan penanda yang menunjukkan bahwa itu adalah sebuah pemakaman umum.
“TPU?” sahut Juan, lalu dia ragu-ragu menoleh lagi ke arah si bapak tua.
“Benar.” Si bapak tua mengangguk lagi. “Tempat di mana orang-orang beristirahat di dalam dunia yang lebih kekal. Nggak semua yang dimakamkan di sana berasal dari keluarga berada. Yang itu artinya, nggak semua sanak saudara bisa datang berkunjung dengan membawakan mereka buket bunga mahal dari toko bunga mewah di sisi jalan yang satunya. Itu sebabnya, saya di sini, untuk membagikan hasil panen dari kebun peninggalan mendiang istri saya ini kepada para peziarah yang tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan kepada anggota keluarga mereka yang telah tiada.”
“Dengan begitu, saya harap, istri saya juga bisa ikut tersenyum dari tempatnya berada sekarang. Karena kebun bunga yang dia rawat sepenuh hati akhirnya membuahkan sesuatu yang bisa berguna untuk orang lain.”
Untuk beberapa lama, Juan terpaku menatap bapak tua yang masih saja tersenyum kepadanya. Binar-binar cerah dari kedua bola matanya yang berwarna cokelat gelap membuat hati Juan berdesir hebat. Di saat dia menyaksikan ibunya nelangsa karena hidup dengan laki-laki tak bertanggung jawab seperti ayahnya, dia malah dipertemukan dengan seorang laki-laki yang cintanya kepada mendiang sang istri begitu besar. Pertanda bahwa Tuhan selalu punya hal-hal baik untuk setiap makhluk ciptaan-Nya, sesuai dengan kadar yang dibutuhkan masing-masing.
Keluarganya dilimpahi gelimang harta yang tidak ada habisnya, maka sepertinya menjadi kesepian adalah harga yang harus dibayar agar dia ingat bahwa uang tidak selalu menjadi yang utama. Sementara untuk bapak tua ini, dalam kesederhanaan hidupnya, Tuhan limpahkan kepadanya seseorang yang dia cintai sepenuh hati, yang membuatnya senantiasa bersyukur bahwa kesederhanaan yang dia jalani tidak berarti bahwa dia kekurangan.
“Saya mau ambil semua mawarnya, Pak. Boleh?” tanya Juan setelah sekian lamanya ia terdiam.
Si bapak tua tampak kebingungan, namun dia tetap mengiyakan permintaan Juan. “Asal jangan dibuang, ya, Mas.”
“Nggak akan saya buang, kok, Pak.” Ujar Juan meyakinkan.
Sebelum mengangkut semua mawar dari keranjang, Juan lebih dulu mengeluarkan dompet, menarik beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kemudian dia ulurkan kepada si bapak tua yang semakin terlihat kebingungan.
“Bunganya nggak dijual, Mas. Kayak yang tadi saya udah bilang.” Bapak tua itu mundur dua langkah, kedua tangannya berada di depan dada, memberikan gestur menolak yang sopan.
Juan menyunggingkan senyum, lalu tetap memberikan lembaran uang yang sudah dia keluarkan kepada si bapak tua. “Rezeki nggak boleh ditolak.” Ucapnya. Kemudian dia membungkuk, membawa tangkai-tangkai mawar ke dalam pelukannya.
“Bapak bisa pakai uangnya buat beli bibit bunga yang baru, tanam lagi, panen lagi dan bagi-bagikan lagi ke orang-orang.”
Dari ragu-ragu, si bapak tua kemudian menerima uang pemberian Juan dengan lebih yakin. “Terima kasih. Saya akan pakai untuk beli bibit bunga yang lain, bukan cuma mawar saja.” Dan semoga, keberkahan selalu menaungi kehidupan Mas ke depannya.
Doa dan harapan itu tidak dia sampaikan langsung kepada Juan, sebab dia percaya, kekuatan doa akan lebih dahsyat jika hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan.
Sore ketika langit memunculkan perpaduan warna oranye dan merah muda yang cantik, Juan membawa tangkai-tangkai bunga mawar ke dalam mobil. Meletakkannya di kursi penumpang depan lalu dia melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih lapang.
Bersambung
__ADS_1