Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Menepi, Untuk Memantaskan Diri


__ADS_3

Seakan belum cukup membuat kepalanya pusing tujuh keliling karena kabur dari rumah, Juan juga semakin membuat kepala Reno seakan ingin pecah tatkala lelaki berotot itu tahu-tahu mengajukan resign pada keesokan harinya. Bajingannya lagi, Juan tidak mengajukan surat pengunduran diri secara langsung. Bocah tengik itu hanya meninggalkan selembar surat yang Reno temukan di atas meja kerjanya ketika dia baru sampai di kantor.


“Si anjing ini maunya apa, sih? Mau jadi gembel dia di luaran sana?” sambil mengomel begitu, dia menggulir layar ponselnya. Usai tidak berhasil membujuk Juan untuk memberitahukan di mana keberadaan lelaki itu malam tadi, Reno langsung memblokir nomor Juan. Namun pagi ini dua terpaksa membuka kembali blokirannya karena demi Tuhan, dia ingin sekali memaki bocah tengik itu sampai suaranya habis tak bersisa.


Nada tunggu yang monoton terdengar selama beberapa detik sebelum akhirnya sebuah suara serak menyahut dari seberang. Tak ingin membuang waktu untuk sekadar mendengar sapaan “Halo”, Reno langsung menyemprot Juan dengan nada tinggi yang sampai membuat tenggorokannya terasa sakit.


“Shareloc sekarang! Jangan sampai gue nemuin keberadaan lo dengan usaha gue sendiri, karena kalau sampai itu terjadi, gue pastiin kepala sama badan lo bakal kepisah!” ancamnya.


Dari seberang, Juan tidak meloloskan protes ataupun gerutuan seperti yang biasa lelaki itu lakukan. Namun, Juan juga tidak membuka suara sama sekali sehingga membuat Reno semakin geram.


“Lo budek? Atau bisu?” sarkasnya, hanya untuk membuat Juan menyuguhkan sebuah hela napas pendek yang entah diloloskan dengan ekspresi seperti apa. “Buruan jawab!” serunya lagi, seakan enggan memberi waktu bagi Reno untuk sekadar memikirkan jawaban.


“Nanti.” Setelah sekian lama menahan diri, hanya itu jawaban yang Reno dapatkan sebagai gantinya. Jelas saja itu membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun. Pena tak bersalah yang teronggok di atas mejanya pun menjadi sasaran. Dia remas benda itu kuat-kuat hingga membuat buku-buku jarinya memutih.


“Gue nggak menerima kata nanti.” Ucapnya dengan penuh penekanan. Sejenak, ia memejamkan mata. Mengatur napas dengan baik agar emosinya tidak meledak-ledak seperti kembang api pada perayaan malam tahun baru. “Sekarang.” Imbuhnya.


Namun, sama seperti kerasnya karang yang tak gentar meski terus-menerus diterjang ombak, jawaban yang Juan berikan tetap sama; nanti. Yang Reno tahu sekali nanti itu adalah jawaban paling tidak bisa diharapkan dari jawaban-jawaban lain yang ada.


Reno tidak sesabar itu untuk terus-menerus menahan emosi. Jadi daripada dia akan merusakkan lebih banyak barang di dalam ruang kerjanya, Reno memutuskan untuk menyudahi teleponnya. Membujuk Juan sama susahnya dengan mencari jarum di dalam tumpukan jerami, maka yang bisa Reno lakukan—mau tak mau—adalah mencari keberadaan lelaki itu dengan usahanya sendiri. Walaupun itu berarti, dia benar-benar harus melakukan kekerasan terhadap sepupunya itu nanti.


“Gue bener-bener bakal bikin kepala lo kepisah sama badan, Juananda.” Ia menggeram.

__ADS_1


Sementara dari celah pintu ruangan yang tak tertutup sempurna, ada Moana yang telinganya mendadak jadi lebih tajam daripada sebelumnya. Sembari menyembunyikan diri di balik tembok agar kehadirannya tidak terlihat dari dalam, perempuan itu mengepalkan tangan erat di samping tubuh. Gigi-gigi di dalam rongga mulutnya saking bertubrukan, suara gemeletuk tidak lagi dapat dihindarkan.


“Jadi, sampai segitunya lo mau bisa bersatu sama perempuan itu, Ju?” dan seharusnya Moana tahu, pertanyaan itu tidak perlu dikatakan karena jawabannya sudah jelas; Juan ingin Zahira, tidak ada yang lainnya.


...🍁🍁🍁...


Bip.


Terputusnya sambungan telepon secara sepihak membuat Juan lagi-lagi harus menghela napasnya dengan sabar. Ia tahu, keputusannya untuk keluar dari rumah memang akan menimbulkan keributan yang tentunya tidak mudah untuk dia hadapi. Namun, karena tekadnya yang sudah bulat untuk melepaskan diri dari belenggu yang selama ini menahannya untuk terbang lebih tinggi, Juan akan menghadapi semuanya—apa pun risikonya.


Di mata Reno dan Mama—dan anggota keluarganya yang lain—keputusan untuk keluar dari rumah ini pasti hanya karena dia ingin bersama dengan Zahira. Padahal faktanya tidak begitu. Ada alasan-alasan besar lainnya mengapa Juan akhirnya memilih pergi. Dan sekali lagi dia katakan, meskipun bukan sekarang, dia tetap akan angkat kaki.


Beberapa waktu terakhir, ketika hubungannya dengan Zahira mengalami pasang surut yang membuatnya tertatih-tatih dan nyaris menyerah, Juan tiba-tiba teringat lagi pada Fabian dan Baskara. Dua teman yang sudah menghilang dari jangkauan pandangnya sejak tragedi memilukan menimpa keduanya bertahun-tahun silam.


Sama seperti apa yang Fabian dan Baskara berani lakukan, Juan pun ingin begitu. Dia ingin setidaknya mulai melepaskan apa yang telah mengungkung dirinya sejak kecil. Gelimang harta dan nama baik keluarga yang membuatnya tidak bisa leluasa melakukan apa yang dia mau, trauma dari luka-luka kecil di masa lalu yang akhirnya membuat ia tumbuh menjadi seseorang yang gemar kabur dan menepikan diri ketika sedang ada masalah, juga predikat sebagai bajingan gila maniak **** yang hanya bisa mengandalkan harta dan jabatan orang tua untuk bisa eksis di dunia.


Setidaknya sekali dalam seumur hidup, Juan ingin dirinya dikenal sebagai Juananda Saputra yang hidup di atas tumpuan kakinya sendiri. Dia ingin, orang-orang tidak lagi meragukan kemampuannya untuk bertahan hidup hanya karena mereka berpikir gelimang harta orang tua telah membuat Juan lena dan enggan berjuang untuk dirinya sendiri.


Juan ingin dihargai, meskipun tidak pernah ada satu pun di antara orang-orang terdekatnya yang menuntut dia ini itu.


“Menepi sejenak, untuk kembali menjadi sosok yang lebih hebat.” Juan menggumamkan sebaris kalimat yang dia baca dari penggalan tulisan di dalam buku koleksi Zahira. Dia tidak ingat siapa penulisnya, tapi yang jelas Juan simpan di dalam kepala adalah, penulis itu memiliki banyak sekali kegelisahan yang akhirnya dia tuangkan ke dalam karya-karyanya. Orang-orang berpikir apa yang dia tulis hanya sekadar fiksi dan khayalan semata, tapi bagi Juan, ia telah menuangkan banyak sekali sisi dirinya di dalam sana.

__ADS_1


Dan seperti kalimat yang barusan, dia akan menggunakan waktunya menepi ini dengan sebaik mungkin. Agar nanti ketika waktunya dia harus kembali berhadapan dengan orang-orang dari masa lalu, dia bisa menyuguhkan sisi dirinya yang baru.


...🍁🍁🍁...


Apa yang menjadi ketakutan terbesar bagi Zahira adalah membuat Juan menjauh dari keluarganya sendiri. Dan hari ini, hal itu betulan terjadi.


Melalui sambungan telepon, Juan menceritakan semuanya. Bahwa dia telah meninggalkan rumah sejak semalam, mengajukan resign, dan memutuskan untuk merahasiakan di mana dia tinggal dari keluarga besarnya—termasuk Reno—untuk sementara waktu.


Kalau biasanya dia punya banyak sekali wejangan, kata-kata bijak—atau apa pun itu orang menyebutnya—untuk menasihati Juan, kali ini Zahira hanya mampu terdiam. Keputusan Juan sudah bulat, dan Zahira tidak bisa berbuat apa-apa meski dia mau.


“Bukan karena kamu.” Seperti bisa membaca pikiran, Juan mengatakan itu. “Aku nggak mau sampai kamu ngerasa bersalah, ya, Za. Kalau itu terjadi, malah akunya yang jadi sedih.”


Sebagai kekasih, yang bisa Zahira lakukan untuk setiap langkah yang Juan ambil adalah mendukungnya. Tapi untuk keputusan yang kali ini, Zahira bimbang sekali. Jika dia mendukung, bukankah berarti dia juga mendukung Juan untuk menjauh dari keluarganya sendiri? Tapi jika keputusan ini memang baik untuk kehidupan Juan ke depannya, maka Zahira bisa apa selain mengaminkannya?


“Tapi kamu oke, kan? Maksud aku, kamu nggak kekurangan apa pun di sana?” tanya Zahira kemudian.


Di seberang, Juan terkekeh pelan sebelum menjawab. “Enggak ada. Aku udah siapin semuanya dari jauh-jauh hari kok, Za, kamu nggak perlu khawatir.”


Tapi tetap saja, Zahira merasa khawatir. Memulai sesuatu yang baru dengan segala hal yang jauh berbeda dari sebelumnya bukan perkara mudah, setidaknya itu yang dia tahu.


Namun pada akhirnya, Zahira tidak menunjukkan kekhawatiran itu secara berlebihan. Dia lebih memilih untuk melanjutkan sisa obrolan mereka dengan hal-hal remeh. Sekadar menanyakan apakah Juan sudah sarapan, bagaimana tidur yang dimiliki lelaki itu semalam, sampai hal-hal kecil lain seperti ingin makan apa lelaki itu untuk makan siang nanti.

__ADS_1


Di teras rumah yang sudah sepi, selagi ia bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, Zahira masih terus meladeni ocehan Juan yang seperti tidak memiliki garis akhir. Mereka terus beralih dari satu topik ke topik lain, sampai mereka lupa bahwa setelah ini, masih banyak hal-hal sulit yang harus mereka hadapi dalam upaya mereka untuk menempuh hidup yang lebih baik.


Bersambung


__ADS_2