Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
SAH!


__ADS_3

Juan tak kuasa menahan haru kala kata ‘sah’ diucapkan secara serempak oleh para saksi. Air matanya jatuh, merembes ke pipi hingga membuatnya ditertawai oleh Reno dan kerabat lain yang turut hadir menyaksikan disahkannya ikatan pernikahan yang sakral antara dua anak manusia setelah melewati begitu banyak drama dan jalanan yang berkelok tajam.


Rasa haru Juan tidak berhenti hanya sampai di sana. Ketika dia, diantarkan oleh Papa dan Mama menuju ke pelaminan yang letaknya terpisah dari dari tempat dia mengucapkan ijab kabul, perasaannya semakin terasa diaduk-aduk kala menyaksikan betapa anggun dan cantiknya Zahira dalam balutan gaun pengantin yang meskipun sederhana namun tetap terlihat mewah dan melekat pas di tubuh pengantinnya itu.



Tetes demi tetes air mata yang jatuh membentuk sebuah genangan, yang pada akhirnya semakin dalam ketika dia akhirnya sampai di hadapan Zahira. Dalam jarak pandang itu, di bisa melihat dengan jelas betapa sempurna mahakarya yang Tuhan ciptakan dalam bentuk manusia. Juan rasa, Tuhan sedang dalam kondisi hati yang sangat baik ketika menciptakan Zahira, sehingga tidak ada satu titik cacat pun yang dia lihat ada pada diri perempuan itu.


“Za,” suaranya bergetar, dan berkat senyum cantik yang Zahira sunggingkan, dia memiliki kekuatan lebih untuk berdiri di samping pertemuan itu si atas pelaminan.


“Jangan nangis, dong. Ini kan hari bahagia kita.” Dengan tangannya, Zahira mengusap air mata Juan yang masih saja mengalir cukup deras.


Juan tidak mampu mengatakan apa pun. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokan hingga rasanya sulit bahkan hanya untuk sekadar mengambil napas. Dari sekian banyak air mata yang dia tumpahkan selama dia hidup, ini mungkin jadi yang paling memiliki efek dahsyat. Dia sampai sesenggukan, membuat tamu-tamu undangan yang datang untuk menghadiri pesta resepsi malah menjadi penonton untuk sebuah adegan haru di atas pelaminan.


“Udah, dong. Kamu nggak mau dilihatin sama orang-orang?” bujuk Zahira lagi. ‘The Crying Baby’ adalah julukan yang dia sematkan kepada Juan karena lelaki itu memang cukup sering menangis di depannya, tapi kalah di hadapan umum seperti ini, Juan biasanya akan stay cool demi menjaga citranya sebagai cowok keren sejagad Neosantara. Ini statement yang dia keluarkan sendiri, sih, tapi Zahira juga tidak meragukannya sama sekali karena Juan memang keren sejak masih zaman kuliah hingga sekarang.


“Nangis mulu, malu sama badan!” itu suara Reno, yang tahu-tahu datang membawakan segepok tisu yang dia dapat dari ruang rias pengantin di ujung belakang. “Nih, elap. Ingusnya tuh sekalian, biar nggak malu-maluin.” Suruhnya kemudian.


Juan masih sedikit terisak-isak, tapi di sempat-sempatnya mendumal karena katanya suara Reno terlalu berisik, mirip kaleng rombeng. Untung saja Reno sedang berbaik hati, jadi lelaki mungil itu tidak mengamuk dan malah membantu mengusap air mata Juan agar segera tuntas.


“Ini baru bab awal, perjalanan kalian masih panjang, jadi lo belum boleh nangis seheboh ini.” Tutur Reno kemudian setelah memastikan tidak ada lagi air mata yang tersisa di wajah sepupunya.


“Justru air matanya gue habisin sekarang, biar nanti kehidupan pernikahan gue cuma diwarnai tawa bahagia.” Juan ngeles. Aslinya sih dia sedang tengsin karena menjadi pusat perhatian sejak tadi gara-gara menangis seperti bocah.


“Mana ada pernikahan yang nggak ada air mata? Wake up, bro! Ini dunia nyata, bukan cerita dongeng Disney yang ending-nya selalu happily ever after.” Pernikahan kedu orang tua mereka seharusnya menjadi contoh nyata bagi Juan bahwa di dunia nyata ini, tidak ada yang namanya pernikahan yang sempurna. Tapi dasarnya Juan memang sudah bucin akut, otaknya jadi agak jauh dari realita.


“Doain yang baik-baik aja kenapa, sih? Heran banget gue, kayaknya nggak bisa ngeliat sepupunya happy.” Juan bersungut-sungut.


“I’m just telling you the fact, brother.” Reno mengendikkan bahu, lalu dia melipir ke sisi Zahira karena sisi yang dia tempati sebelumnya hendak ditempati oleh Julius. Om-om itu sepertinya sedang ingin mengobrol berdua dengan putranya yang baru saja melepas masa lajang.

__ADS_1


“Kuat-kuat lo, ini masa berlakunya kayak KTP; seumur hidup!” bisik Reno pada Zahira, yang hanya ditanggapi oleh perempuan itu dengan kekehan ringan.


Sementara itu, di sisi satunya, di mana Julius dan Juan sudah berdiri berdampingan, sepasang ayah dan anak itu mula-mula hanya saling pandang. Seperti tengah bertelepati agar hanya mereka berdua saja yang mengerti apa yang sedang mereka obrolkan melalui tatapan mata. Hingga kemudian, Julius memutus kontak lebih dulu dan mulai berbicara.


“Ini baru awal, Ju. Perjalanan kalian masih panjang.” Kalimat yang sama, namun diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Juan ingin menyetop dan bilang kalau dia sudah mendengarnya lebih dulu dari Reno, tapi urung karena sadar petuah ini datangnya dari orang yang sudah lebih dulu mengarungi bahtera rumah tangga.


“Apa yang kelihatan menarik sekarang, bisa jadi terlihat membosankan buat kamu suatu hari nanti.” Kata Julius lagi. Namun saat mengatakan itu, ia tidak menatap ke arah Zahira, melainkan ke arah Chyntia yang tengah berbincang dengan kedua besannya. “Kalau saat itu tiba, kamu cuma perlu ingat hal-hal apa yang pertama kali bikin kamu jatuh cinta sama dia. Sebesar apa usaha kamu buat bisa dapetin dia, mengalahkan sekian banyak pria yang dalam sudut pandang kamu punya jauh lebih banyak kelebihan ketimbang kamu. Ingat lagi betapa bersyukurnya kamu sewaktu berhasil mempersunting dia sebagai istri, menjadikannya wanita paling bahagia selama hari-hari sebelum rasa bosan itu datang menghampiri.”


“Nggak ada pernikahan yang sempurna, tapi kamu tetap bisa menciptakan pernikahan terbaik versi diri kamu sendiri, asal kamu tahu bagaimana menyikapi segala hal yang bergerak perlahan untuk merusak apa yang udah kalian berdua bangun sama-sama.”


Hampir 30 tahun hidup, baru hari ini Juan mendapat ayahnya bicara panjang lebar, dan isi pembicaraannya pun terdengar bijak. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Mama tetap bertahan dalam pernikahan, karena ada sisi-sisi dari dalam diri Papa yang tidak ditunjukkan kepada orang lain selain istrinya sendiri, termasuk kepada anak kandungnya sekalipun.


“Tolong doakan yang baik-baik buat Juan sama Zahira.” Karena tidak tahu harus menanggapi dengan apa—dan dia juga malah sibuk terkesima—Juan akhirnya hanya mampu mengatakan itu sebagai gantinya.


Sekian lama terpaku menatap sang istri, Julius akhirnya kembali menatap putranya, lantas ia terkekeh pelan. “Meskipun nggak pernah disuarakan, doa itu terus mengalir deras dari Papa dan Mama.” Sama seperti kasih sayang mereka yang terkadang datang dalam bentuk yang tak terduga.


Kemudian, obrolan itu berhenti sampai di sana. Baik Julius maupun Juan sama-sama sibuk menyalami tamu undangan. Walaupun terkadang yang datang bukan seseorang yang familier, mereka tetap menyambut jabat tangan mereka dan membalas ucapan selamat yang mereka berikan dengan senyum dan kata ‘terima kasih’ yang tidak kalah tulus.


“Sekalian makan siang dulu, ya. Biar Umi bantu siapkan.” Tawar Umi Maryam sambil melongokkan kepala ke dalam ruangan yang habis mereka gunakan untuk salat berjamaah. Di sana, Juan dan Zahira masih duduk di atas sajadah. Juan masih dengan sarung dan kopiah, Zahira juga masih mengenakan mukena.


“Makasih, Umi.” Pengantin baru itu menjawab serempak. Kompak sekali, sudah seperti tim paduan suara yang biasa memang lomba tingkat nasional.


Umi Maryam tersenyum lembut, lalu berlalu untuk menyiapkan makan siang bagi pengantin baru yang masih hangat-hangatnya itu.


“Za,”


“Hmmm?”


Tak menjawab lagi, Juan malah menggeser tubuhnya perlahan, lalu semena-mena merebahkan kepala di atas pangkuan Zahira. Untuk beberapa lama, lelaki itu hanya terdiam, terus menatap Zahira dengan sorot mata yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.

__ADS_1


“Kenapa, Ju?” tanya Zahira penasaran. Lima tahun berpacaran, dan sekarang malah sudah sah menjadi suami istri, Zahira masih tetap saja tidak terbiasa dipandangi sampai sebegitunya oleh Juan.


“Udah sah.” Jawab Juan, serta-merta memancing munculnya semburat merah di kedua belah pipi istrinya. Hanya berkata ‘udah sah’ tanpa melanjutkan apa-apa, dan tanpa konteks yang jelas, namun dia sudah bisa membuat Zahira merona. Entah dia yang terlalu hebat, atau memang dasarnya Zahira yang kelewat menggemaskan.


“Y—ya, terus?”


“Mau cium.” Pinta Juan, tanpa tedeng aling-aling. Semburat yang tadinya hanya muncul di pipi, kini merembet ke mana-mana, hingga seluruh wajah Zahira berubah merah.


Karena Zahira tidak kunjung menjawab apakah dia boleh atau tidak mendapatkan ciuman, Juan akhirnya berinisiatif mengambil gerakan. Dia sentuh wajah istrinya, lalu pelan-pelan dia bawa wajah cantik itu mendekat ke wajahnya. Embusan napas mereka saling beradu, pun dengan tatapan mereka yang sudah penuh dengan puja yang menggebu-gebu.


“Boleh, kan?” tanya Juan dari jarak yang teramat dekat. Entah Zahira mengangguk atau pun menggelengkan, kedua gerakan itu tetap akan berakhir membawa bibir mereka bertemu. Jadi, Zahira hanya diam. Dia tetap membisu.


Makin lama, jarak di antara wajah mereka semakin dekat.


Semakin dekat.


Semakin dekat.


Semakin dekat.


Sampai ketika jarak antara bibir mereka hanya tinggal dua sentimeter, seseorang datang mengacaukan semuanya. Membuat keduanya refleks menjauhkan diri dalam kepanikan yang naik sampai ke ubun-ubun. Mereka seperti remaja tanggung yang habis ketahuan hendak berbuat mesum di tempat umum.


“Sialan!” Juan mengumpat, pada Reno yang sekonyong-konyong mendobrak pintu ruangan. “Ketuk dulu kalau mau masuk! Adabnya tuh dipakai, sobat!”


Namun, alih-alih balas mengomel, Reno malah berjalan mendekat dengan raut wajah yang—aneh. Juan tidak bisa membacanya sama sekali. Itu perpaduan antara senang, sedih, takut, dan bingung.


“Lo kenapa?” tanya Juan panik. Dia buru-buru bangkit, meninggalkan Zahira yang masih berusaha menahan malu karena Reno yang menerobos sembarangan. “What happened?”


“Di depan ada.....”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2