Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Kompor Meleduk


__ADS_3

Kepergian Juan dari kantor membuat Moana seperti kehilangan separuh nyawa. Banyak hal yang berubah dari kebiasaan-kebiasaannya selama di kantor. Dan yang paling mencolok adalah di mana perempuan itu sudah tidak pernah lagi pergi makan siang bersama dengan teman-teman satu divisi. Ia lebih memilih untuk makan sendirian di ruang kerja, menyantap menu makanan yang dia beli dari layanan pesan antar sambil meratapi kepergian Juan yang dia tahu tidak akan kembali lagi.


Seperti siang ini, bersama sekotak Bento yang dia pesan dari restoran cepat saji terkenal, Moana kembali mengundang kenangan bersama Juan yang terkumpul selama 2 tahun lebih. Di sini, di ruangan ini, sudah banyak hal yang terjadi antara dirinya dengan Juan. Di sinilah dia pertama kali menyadari bahwa Juan di matanya bukanlah sekadar seorang teman. Di sini pulalah dia pertama kali patah hati saat tahu bahwa ternyata, cukup sulit baginya untuk merebut perhatian Juan yang sudah kadung tercurah sepenuhnya untuk perempuan bernama Zahira Cassanova, yang di mata Moana sama sekali tidak ada istimewanya.


Kenangan-kenangan yang terkumpul itu seperti berdesakan di dalam kepala, membuat Moana mulai kepayahan dan dia akhirnya menyerah untuk melanjutkan prosesi makan siang. Kotak makan siang yang masih tersisa lebih dari setengah dia tutup kembali, lalu dia singkirkan ke sisi meja yang lain. Botol air mineral yang tersedia dia sambar, isinya dia tenggak sampai separuh habis lalu dia kembali membisu bersama angan yang beterbangan tidak menentu.


Sementara itu, tanpa Moana tahu, ada Lukas yang sedari tadi mengamati setiap gerakannya dari ambang pintu. Lelaki berkemeja navy itu baru kembali dari makan siang ketika mendapati Moana lagi-lagi sedang makan siang dengan tidak berselera di meja kerja Juan. Iya, alih-alih mejanya sendiri, Moana memang selalu makan siang di meja Juan. Mungkin karena ingin sekalian bernostalgia.


“Tragic.” Cibir Lukas, lalu dia kembali menyedot es Americano yang dia dapatkan dari hasil memeras anak divisi sebelah.


Tak puas hanya menjadi penonton, Lukas pun berjalan mendekati Moana. Cup es Americano dia letakkan di meja kerja Juan, persis di sebelah botol air mineral milik Moana yang sebelumnya ditinggalkan.


Kehadirannya yang tak diundang jelas membuat Moana mendelik kesal, berbanding terbalik dengan Lukas yang justru tersenyum cerah karena tujuannya memang untuk menyulut emosi perempuan itu.


“Minggir.” Usir Moana. Tapi jelas, Lukas tidak akan menurut.


Alih-alih pergi, Lukas malah menyandarkan bokongnya ke meja kerja Juan, menunduk menatap Moana dengan tatapan meremehkan selagi kedua tangannya terlipat angkuh di depan dada.


“Udahlah, nyerah aja.” Suruhnya tiba-tiba.


Tanpa dijelaskan pun, Moana tahu ke mana arah pembicaraan Lukas itu akan bermuara. Jadi, dia serta-merta mendecih dan berniat untuk pergi meninggalkan Lukas sebelum lelaki itu semakin banyak memuntahkan omong kosong.


Buru-buru Moana membereskan bekas makan siangnya. Makanan yang tidak habis dia buang ke tong sampah, begitu juga dengan air mineralnya. Kemudian, dia hendak berjalan ke pintu keluar ketika suara menyebalkan Lukas kembali mengudara.


“Lo udah kalah.” Begitu yang dikatakan oleh laki-laki menyebalkan itu.


Sontak, Moana berbalik. Dia menatap tajam Lukas, yang malah ditanggapi dengan kekehan ringan tanpa beban oleh lelaki itu.


“Mau nggak mau, suka nggak suka, lo harus mengakui kalau lo udah kalah, Mo. Dari Zahira, yang lo anggap nggak ada apa-apanya itu.”

__ADS_1


Jika membunuh orang itu tidak berdosa, dan dia tidak harus berurusan dengan hukum, Moana pasti sudah membunuh Lukas sejak pertama kali mereka bertemu. Oh, dia bahkan sudah berkali-kali membayangkan bagaimana rasanya memenggal kepala Lukas, lalu melemparkannya ke kandang harimau untuk dijadikan menu makan siang. Di mata Moana, Lukas itu sama sekali tidak ada akhlak.


“Di luar sana masih banyak cowok yang lebih oke dari Juan. Dan yang pasti, yang bisa sayang dan bersedia mencintai lo dengan tulus.” Sembari berkata demikian, Lukas beranjak dari posisinya. Dia berjalan mendekati Moana, dengan kedua tangan yang masuk ke saku celana. “Makanya, buka mata lo lebar-lebar. Jangan cuma ngeliat ke arah Juan doang.”


“Bukan urusan lo.” Ketus Moana. Tak ingin menguji kesabarannya lebih lanjut, Moana pun kembali melangkah. Sudah tidak dia pedulikan lagi suara Lukas yang datang dari arah belakang, disusul suara tertawa meremehkan yang membuatnya ingin sekali merobek bibir Lukas sampai ke telinga.


“Mau sebanyak apa pun cowok keren di dunia ini, gue nggak akan tertarik. Karena mereka bukan Juan.” Ujar Moana, entah kepada siapa ketika dia melewati koridor yang sepi.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Saran dari Lukas agar dia menyerah mengejar Juan justru membuat semangat Moana untuk maju semakin terbakar. Alih-alih menjauhkan diri, dia malah dengan sengaja bertandang ke rumah Juan dengan membawa banyak sekali tentengan. Tujuannya jelas hanya satu; agar dia bisa mendekati ibunya Juan dan mengambil hati perempuan itu supaya keberadaannya bisa mulai dipertimbangkan oleh Juan.


Tidak tahu diri? Persetan. Moana tidak peduli. Seperti yang dia pernah bilang, selagi janur kuning belum melengkung, dia tidak akan menyerah.


“Harusnya nggak perlu repot-repot, Mo.” Chyntia kembali dari dapur setelah menyimpan bingkisan yang Moana bawakan untuknya. Bersamanya, asisten rumah tangga turut datang membawakan nampan berisi minuman dan beberapa camilan.


“Nggak repot kok, Tante.” Moana menyetel senyumannya hingga level paling tinggi. Di saat sedang menjalankan misi seperti ini, dia harus pandai-pandai mengatur diri agar menyisakan kesan yang baik.


“Gimana kabar? Baik? Mamamu juga, sehat?” tanya Chyntia.


“Sehat, Tante. Semuanya oke, kecuali....” Moana dengan sengaja menggantungkan ucapannya untuk memancing rasa penasaran Chyntia.


Dan terbukti berhasil saat Chyntia bertanya, “Kecuali apa?” dengan alis yang saling bertaut.


“Kecuali hati ini, Tante. Agak sepi, soalnya udah nggak ada Juan lagi.” Iyuhhhh... Alay sekali. Kalau bukan dalam rangka untuk menarik simpati, Moana ogah kalau harus bicara menye-menye seperti itu.


Sebab ia merasakan hal yang sama seperti Moana, maka Chyntia pun mengangguk setuju. “Iya, Mo, kamu benar. Hati ini rasanya sepi semenjak Juan pergi.” Dan dengan begitu saja, perasaan Chyntia kembali campur aduk.


“Emang Juan sama sekali nggak ngasih kabar, ya, Tante? Dia nggak ada kasih tahu dia tinggal di mana?”

__ADS_1


Chyntia menggeleng. Meskipun dia sebenarnya tahu, dia tidak selancang itu untuk membocorkannya kepada Moana. Masalahnya, risiko yang harus dia tanggung itu besar sekali. Dia harus siap untuk dimusuhi oleh Juan kalau nekat melakukan itu.


“Kok gitu, ya, Tante? Padahal Juan sebelumnya nggak pernah kayak gini. Apa ... gara-gara pacarnya?” Moana memancing.


Dasarnya Chyntia kan memang tidak suka pada Zahira, pancingan itu disambar begitu saja. “Udah pasti. Juan nggak akan nekat kabur kalau bukan karena perempuan itu, Mo.”


Diam-diam, Moana mengulum senyum. Namun di depan calon mertua yang sedang dia dekati ini, dia tetap harus menampakkan raut murung. “Iya, kan? Soalnya Moana juga ngerasa Juan banyak berubah semenjak pacaran sama Zahira. Ya ... nggak jadi lebih nakal, sih, Tante. Tapi ya gitu, jadi semakin jauh sama teman-temannya yang lain.”


Tersulut, Chyntia makin menggebu-gebu menceritakan berbagai perubahan yang dia lihat dari putranya. Dari yang awalnya penurut dan iya-iya saja kalau disuruh, mulai bisa menolak meskipun alasannya selalu masuk akal. Pokoknya, Chyntia meluapkan semua perasaannya—pada orang yang salah, karena Moana bukanlah tempat bercerita, melainkan kompor meleduk yang siap memorak-porandakan semuanya.


Saat sedang asyik bergibah, Reno pulang. Lelaki itu dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada keberadaan Moana, dan Moana sendiri pun menyadarinya—namun dia tidak peduli.


Ogah berbasa-basi, Reno langsung berlalu meninggalkan ruang tamu. Dia bahkan juga tidak menyapa Mama seperti yang biasa dia lakukan. Sudah kadung muak pada Moana soalnya.


Ketidakramahan Reno bukanlah masalah besar bagi Moana. Dia sama sekali tidak peduli pada apa pun yang lelaki mungil itu lakukan kepada dirinya. Pokoknya, target utamanya sekarang ini adalah Tante Chyntia. Orang-orang lain tidak akan dia gubris sampai dia mendapatkan kepastian bahwa Tante Chyntia bisa menjamin posisinya aman di sisi Juan.


“Tante tuh sampai sedih, loh, Mo. Padahal Tante ini ibunya, yang mengandung dan ngerawat dia dari kecil. Tapi dia malah lebih milih perempuan yang baru dia ketemu beberapa tahun. Kan, nggak imbang sama sekali.” Keluh Chyntia lagi.


Moana mengangguk setuju. Tidak hanya itu, dia juga kembali mengeluarkan jurus kompor meleduk untuk membuat suasana semakin ribut.


Ting!


Satu notifikasi masuk ke dalam ponsel milik Moana, tepat ketika dia hendak membuka mulut untuk menimpali ucapan Chyntia.


Saat dibuka, ternyata pesan itu datang dari Reno.


Stop gangguin hubungan Juan sama Zahira, mereka udah happy. Jangan jadi manusia rendahan dengan ngerusak kebahagiaan orang.


Begitu isi pesannya. Namun sekali lagi, Moana tidak peduli. Pesan dari Reno itu dia abaikan, lalu dia kembali melancarkan aksinya menjadi kompor demi membuat keributan yang lebih besar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2