
Secangkir cokelat panas Juan letakkan di atas meja, masih dengan perasaan tidak percaya atas apa yang terjadi dan siapa yang sedang duduk berhadapan dengannya saat ini. Berkali-kali Juan mengerjap, sampai sesekali mengucek matanya untuk meyakinkan diri bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Sosok di hadapannya itu dia kuliti, dia pandangi dari ujung kepala sampai ujung kaki—untuk memeriksa kalau-kalau dia ternyata sudah mulai gila.
“So,” setelah yakin bahwa sosok yang ada di depannya itu memang nyata, Juan mulai buka suara. Ditatapnya lekat-lekat manik seseorang itu, kemudian dia melanjutkan. “Where have you been, Eleena Sabiru?”
Perempuan yang disebut namanya itu tampak menurunkan penutup kepala di hoodie, lalu mengulurkan tangan mengambil cokelat panas yang disediakan oleh Juan. “Di suatu tempat, yang nggak ada satu pun orang kenal sama kami.” Kemudian, perempuan itu menyesap cokelatnya sedikit. Cangkir yang masih penuh itu kemudian dia dekap menggunakan kedua tangan, seakan dia membutuhkan kehangatan lebih banyak sekarang.
Untuk beberapa lama, tidak ada yang bicara. Juan masih belum sepenuhnya terbiasa dengan keberadaan perempuan yang sudah menghilang bersama teman baiknya selama 5 tahun lebih. Ia masih merasa seperti mimpi, sehingga yang dia lakukan hanya terus menatap Sabiru semakin lekat dari waktu ke waktu.
“Gue nggak sengaja lihat foto lo di unggahan salah satu teman gue yang udah lama lost contact.” Biru memulai kembali ceritanya.
Kepalanya kemudian mulai penuh dengan cuplikan peristiwa yang terjadi 13 hari silam, di mana dia untuk pertama kalinya kembali menemukan kepingan dari masa lalu yang telah dia tinggalkan selama bertahun-tahun.
Sore itu, Biru sedang mengepak pakaian-pakaian miliknya dan Baskara. Mereka berencana untuk pindah ke rumah baru yang lebih besar karena kondisi Baskara sudah mulai membaik dan lelaki itu mulai aktif bekerja secara online, yang mana itu membutuhkan ruang kerja khusus yang lebih memadai. Semua sudah beres, mereka hanya tinggal menunggu mobil jemputan datang untuk mengantarkan mereka pindah ke rumah baru ketika dia malah dibuat terpaku kala menemukan foto Juan terselip di akun milik salah satu teman dekatnya semasa awal-awal dia pindah ke Surabaya, Albertus Soegijapranata.
Mulanya, Biru tidak yakin bahwa itu betulan Juan karena posisi lelaki itu berada jauh di belakang, bak gambar latar yang mendukung Albert si pemeran utama tengah ber-selfie seorang diri di depan sebuah cafe. Namun, setelah dia memperbesar foto yang Albert unggah hingga batas maksimal, dia yakin bahwa itu memang benar Juananda Saputra yang dia kenal.
Lalu, muncullah ide di kepala untuk mengirimkan pesan kepada Albert yang sudah lama tidak dia tanyai kabar. Bermodal skill basa-basi seadanya, dia bertanya kepada Albert tentang bagaimana kehidupan lelaki itu sekarang dan di mana lelaki itu tinggal. Dengan lancar, tanpa menaruh curiga, Albert menjawab semua pertanyaan Biru hingga sampailah ia pada kesimpulan bahwa Albert berada di Jakarta. Informasi-informasi lain datang menyusul. Biru juga akhirnya tahu di mana Albert bekerja, lelaki itu dengan senang hati memberikan alamatnya.
“Albertus Soegijapranata?” Juan menginterupsi di tengah-tengah kegiatan Biru menceritakan kisah di balik munculnya dia di hadapan Juan saat ini.
Biru mengangguk mengiyakan, “Iya, Albert yang itu.”
“Wah....” kata itu terlontar begitu saja dari bibir Juan. Dia sering mendengar perkataan ‘Dunia ini tak selebar daun kelor’, tapi untuk momen yang sekarang sedang dia hadapi... Benarkah dunia memang sesempit ini?
Biru mengerti bagaimana perasaan Juan, sebab dia juga tidak menyangka kalau Albert, si kunyuk yang menjadi satu-satunya teman yang care pada dirinya yang sedang setengah gila, rupanya juga masih akan terlibat dalam peristiwa di masa depan, bertahun-tahun kemudian.
“Lo bilang, kalian seharusnya pindah ke rumah baru. Is that mean kalian sebenarnya nggak pergi ke mana-mana, dan masih di sekitaran Jakarta?” ada satu momen yang terasa miss bagi Juan, maka dia bertanya demikian.
Namun, dia malah menemukan Sabiru menggeleng, yang tentu saja membuatnya semakin kebingungan.
“Gue sama Baskara baru balik ke Jakarta 3 hari yang lalu.” Tutur Biru.
__ADS_1
“Sebelumnya?”
“Pindah-pindah.” Ujar Biru, menyungging senyum sumir kala mengingat lagi betapa kacaunya hidup dia dan Baskara selama bertahun-tahun sebelum hari ini. “Di tahun pertama, kami tinggal di Surabaya. Tapi harus buru-buru pindah karena bokapnya Baskara udah ngelacak sampai sana, bahkan terus-terusan desak tante gue buat kasih tahu di mana gue dan Baskara tinggal.”
“Tahun-tahun setelah itu, kami pindah dari satu kota ke kota lain. Jogja, Bali, Medan, Bogor. Semuanya kami jajah, dan kami bakal langsung pindah kalau udah ada tanda-tanda bokapnya Baskara nyari kami di kota itu.”
“Dan apa yang akhirnya bikin kalian balik ke Jakarta?” tanya Juan. Karena dia ingin tahu, apa yang akhirnya membuat sepasang kekasih itu memutuskan kembali ke kota di mana patah hati mereka dimulai.
Tidak langsung menjawab, Biru kembali menyesap cokelat di dalam cangkir—yang kini sudah tidak panas. “Karena kalian.” Jawabnya kemudian, ketika cangkir cokelat telah kembali dia letakkan ke atas meja setelah separuh lebih isinya berhasil berpindah ke dalam perut.
“Siapa?”
“Lo dan Reno.” Biru memperjelas. “Gue kasih tahu dia soal lo, dan pada akhirnya, kalian—teman-teman Pain Killer, tetap jadi orang-orang yang berpengaruh banyak buat dia. Even nyokap dan bokapnya nggak bisa bawa dia balik, Ju. But you did. Cuma karena dia ngeliat foto lo yang bahkan nggak terlalu jelas ketika di zoom.”
Sekali lagi, Juan menjadi bisu. Perasaannya campur aduk. Senang, sedih, terharu. Semuanya berkumpul di dalam dada, berdesakan minta diberikan validasi lebih dulu hingga membuat Juan malah berakhir kewalahan.
“Tapi, Ju,”
Mendengar kata ‘tapi’, Juan kembali mencurahkan perhatian kepada Sabiru.
“Of course we will.” Juan menyahut. Tidak sekalipun di dalam bayangannya, dia pernah berpikir untuk menolak kedatangan Baskara lagi. Bahkan meskipun lelaki itu pergi tanpa sepatah pun kata pamit, Juan tetap akan menyambut kepulangannya dengan meriah, merayakan pertemuan mereka kembali dalam euforia yang mewah. Sebab sedari dulu sampai sekarang, Pain Killer adalah rumah. Ketika dua tiangnya menghilang, dan rumah itu terancam roboh, Juan jelas tidak akan menolak ketika salah satunya pulang. Karena dengan begitu, mereka bisa mempertahankan rumah itu hingga satu tiangnya yang lain kembali.
“Yeah, gue tahu kalian pasti akan nerima dia lagi. Tapi, ada yang perlu kalian tahu, Ju.”
“Apa?”
Seolah sedang mengumpulkan banyak sekali energi, Sabiru menarik napas beberapa kali sebelum mulai berbicara. “Baksara yang sekarang, udah bukan lagi Baskara yang dulu. Banyak yang udah berubah dari diri dia, yang mungkin bakal bikin kalian merasa asing. Dia nggak seceria dulu, dan hatinya juga jadi jauh lebih sensitif daripada yang sebelumnya. Jadi, Ju, if one day you guys finally meet him, please make sure you guys didn’t ask him a question we know he wouldn’t give the answer. Jangan tanya apa pun ke dia soal apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun silam. Jangan singgung apa pun soal ibunya dan ibu Fabian. Let him tell you guys the things he wanted to and keep the rest. Cukup terima dia lagi, Ju, jangan bikin dia ingat-ingat lagi kenangan buruk yang bikin dia hampir kehilangan dirinya sendiri.”
Saat Biru mengatakan itu, Juan sepenuhnya clueless. Dia tidak tahu perubahan sesignifikan apa yang terjadi pada Baskara, dan apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun silam hingga menimbulkan bencana yang sebegini hebatnya. Karena sampai sekarang, yang Juan dan Reno—bahkan orang di sekitar mereka—tahu soal kasus pembunuhan Raya hanya sebatas bahwa pelakunya adalah Sera. Motif dan hal-hal lain yang mendasari terjadinya peristiwa itu sama sekali tidak jelas—tidak ada yang berusaha membuat mereka mengerti.
Tapi kemudian, dia tetap menganggukkan kepala. Apa yang terjadi tidak perlu dia ketahui, jika memang tidak sampai sana kapasitas dia untuk tahu. Karena bukankah yang terpenting adalah dia bisa menyambut Baskara kembali, agar Pain Killer yang hampir roboh bisa berdiri tegak lagi?
__ADS_1
“I promise.”
“Thanks, Ju.”
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Pukul 2 dini hari, Juan mengantarkan Biru ke halaman depan cafe, di mana satu unit taksi online sudah menunggu untuk mengantarkan perempuan itu kembali ke tempat di mana dia dan Baskara tinggal. Dia sudah menawarkan untuk mengantar, hanya sampai radius yang Biru pikir aman, namun perempuan itu dengan cepat menolak karena tidak ingin mengambil risiko.
“Jangan buntutin gue, jangan coba minta informasi ke sopir taksi ini, jangan lakuin apa pun buat nemuin keberadaan gue dan Baskara. Kami bakal muncul di depan kalian kalau waktunya udah tepat.” Biru memberi peringatan untuk yang terakhir kali.
Juan mendengus malas, namun tetap menggerakkan kepalanya naik turun tanda setuju. “Nggak perlu khawatir.”
Biru tidak menjawab lagi. Dengan cepat, perempuan itu masuk ke dalam taksi dan dalam waktu singkat, taksi itu pun melaju meninggalkan pelataran cafe yang sepi.
“Hati-hati di jalan.” Kalimat itu hanya bisa Juan katakan setelah taksi hampir menghilang dari pandangan. Kemudian, dia berbalik menuju cafe untuk benar-benar bersiap pulang.
Karena seluruh area memang sudah bersih dan dia hanya perlu mematikan lampu, Juan pun melakukannya dengan cepat. Tak lupa, dia memastikan semua pintu baik pintu depan maupun belakang telah terkunci dengan baik sebelum dia melipir ke area parkiran di samping kanan bangunan cafe. Di situ adalah area parkir khusus untuk staf—termasuk dirinya.
Juan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin lalu memasangkan seatbelt ke tubuhnya. Dan ketika kakinya hendak menginjak pedal gas, gerakan Juan terhenti.
Sisa obrolannya bersama Sabiru masih membayang di kepalanya. Soal masa-masa sulit yang Baskara hadapi selama beberapa tahun setelah kepergiannya. Mulai dari harus berpindah-pindah tempat dengan mengandalkan uang tunai yang dia kuras dari tabungan sebelum kabur, luntang-lantung di jalanan mencari pekerjaan sebelum uang tunainya habis, sampai harus secara rutin datang menemui psikiater untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang menyerbunya secara bertubi-tubi.
Di saat dia dan Reno masih bisa hidup meski hanya dengan separuh nyawa, Baskara nyatanya berjuang hanya dengan sedikit nyawa yang tersisa di tubuhnya. Tidak terbayang sama sekali olehnya, apa yang akan terjadi pada teman baiknya itu jika tidak ada Sabiru yang mendampingi. Mungkin, Pamudya Baskara hanya akan tinggal nama saja.
Cukup lama merenung, Juan akhirnya lanjut menjalankan mobil. Dia harus segera pulang, merebahkan tubuh dan kepalanya yang lelah, untuk menyambut peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah menguras emosi dan tenaga.
Bersambung
🍁
🍁
__ADS_1
🍁
Baskara cuma numpang lewat, guys. Entah mereka bakal ketemu di work ini atau enggak wkwk