
“Salam buat Abi sama Umi.” Juan membiarkan Zahira keluar dari mobil dengan usahanya sendiri. Tidak ia bantu membukakan pintu, tidak pula ia ikut turun karena jujur saja perasaannya masih belum membaik. Memanfaatkan quiet time selama sisa perjalanan ternyata belum cukup ampuh untuk meredakan emosinya. Masih ada sisa-sisa yang membuat dadanya terasa penuh.
“Iya.” Zahira pun menjawab singkat. Mungkin dia mengerti bahwa kondisi Juan tidak cukup baik, namun terlalu kebingungan untuk bertanya apa sejatinya yang terjadi. Juan sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Bertanya tentang laki-laki yang bersama Zahira di rumah sakit tanpa tedeng aling-aling akan terdengar seperti ia sedang berusaha menabuh genderang perang, dan Juan tidak mau itu terjadi.
Tubuh Zahira menjauh dari pandangan. Perlahan-lahan, seperti kepulan asap yang pelan-pelan meninggalkan tempat ia berasal. Lalu saat gerbang rumahnya membuat tubuh itu sepenuhnya hilang, Juan kembali mengembuskan napas kasar. Pengendalian emosinya menjadi buruk akhir-akhir ini, dan Juan benci sekali akan hal itu. Juan benci, tapi tidak punya cara untuk menghentikan dirinya sendiri.
“Sialan!” kemudi yang tidak berdosa menjadi sasaran kemarahan Juan. Berkali-kali dihantam, dipukul, dicengkeram hingga beberapa bagiannya tergores kuku jari yang padahal tidak seberapa panjang. Jika bukan milik Moana, mobil ini pasti sudah hancur di tangan Juan.
Luapan emosi masih terus berlanjut. Kini, bahkan tubuh Juan sendiri pun menjadi sasaran kemarahan yang entah kenapa sudah sekali untuk diredam. Beberapa helai rambutnya rontok akibat dijambak sekuat tenaga. Wajah kusutnya, ia usap kasar hingga terasa perih di beberapa bagian karena kukunya mungkin tidak sengaja membuat goresan.
Kalau diteruskan, Juan bisa menghabiskan semalaman untuk menyiksa diri sendiri. Tentu saja, itu tidak boleh terjadi. Maka dengan sisa kekalutan yang membayangi kepala, Juan melajukan mobil kembali.
Pedal gas ia injak sedalam mungkin, sudah tidak lagi terpikir olehnya risiko apa yang mungkin akan dia tanggung nantinya. Kecelakaan, menyerempet orang, apa pun itu. Juan sudah tidak peduli. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah, menenggelamkan diri di dalam bathub berisi air dingin. Kalau bisa, ia ingin berdiam semalaman di sana, agar asap yang mengepul di kepala segera menyingkir dan ia bisa berpikir lebih jernih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Lo dari mana aja, sih?! Izinnya cuma sebentar buat nganterin Moana pulang, tapi sampai jam pulang kantor lo nggak balik lagi! Dan ini, ini hape lo kenapa segala ditinggalin di kantor? Kalau gue nggak ke ruang kerja lo buat ngecek, gue nggak akan tahu kalau lo belum balik!”
Percayalah, menerima sebanyak itu ocehan ketika kepalanya masih dalam keadaan ribut bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Jangankan untuk menjawab, sekadar mendengarkan sampai selesai pun rasanya Juan tidak sanggup. Panas. Telinganya terasa seperti baru saja diuapi.
__ADS_1
“Punya mulut nggak lo?! Bisa jawab nggak kalau ditanya?!” Juan masih mengabaikan Reno yang mengekor di belakang. Bahkan ketika tangan kecil Reno menarik kemeja bagian belakang yang ia kenakan dan membuat mereka nyaris terjatuh dari tangga, Juan masih tidak peduli.
“Ju!”
Kesal, Juan berbalik cepat setelah kakinya menapak di lantai dua. Reno masih berdiri di anak tangga kedua, membuat postur tubuhnya makin-makin kelihatan kecil di mata Juan.
“Jawab. Lo dari mana aja?”
“Rumah Moana.” Juan menjawab singkat. Suasana hatinya tidak sebaik itu untuk menjelaskan panjang lebar. Dan lagi, tidak yakin juga Reno akan cukup mengerti jika ia menceritakan secara detail apa yang terjadi hingga membuatnya menjadi kesal seperti ini.
“Lo nungguin Moana di rumahnya? Seharian? Serius? Waras lo? Gimana kalau Zahira sampai tahu, hah?! Kalian baru baikan, Ju! Bisa nggak, sih, jangan nyari gara-gara?!”
Selalu Zahira. Di mata siapa saja, selalu Zahira yang pertama. Selalu Zahira yang ada di pihak korban, selalu dia yang tidak bersalah. Sementara Juan, selalu menjadi pihak yang bajingan. Sekalipun ia menjabarkan semuanya, kesalahan itu akan selalu ada pada dirinya. Yah, apa memangnya yang bisa dia lakukan jika sejak awal ‘bajingan’ memang sudah menjadi nama tengahnya. Yakin. Bahkan jika suatu hari nanti dia memutuskan untuk berhijrah, orang-orang hanya akan menganggap ia sedang pencitraan.
“Ju!”
“Gue lagi ngomong sama lo, Ju! Heh! Anjing!”
Bam!!!
__ADS_1
Pintu kamar sengaja Juan banting agar mulut cerewet Reno segera bungkam. Suara cerewetnya sudah tidak terdengar, Juan bersyukur sepupunya juga tidak berusaha mendobrak pintu yang sudah dia kunci. Karena kalau itu terjadi, mereka mungkin akan betulan terlibat baku hantam yang tidak ada siapa pun penghuni rumah ini yang akan bisa melerai.
Sesuai rencana yang sudah ia rancang selama dalam perjalanan pulang, Juan bergegas masuk ke kamar mandi. Seraya menanggalkan pakaian, ia menyalakan keran untuk memenuhi bathub dengan air dingin. Persetan dengan risiko masuk angin. Juan betul-betul hanya ingin menenangkan pikiran yang keruhnya bukan main.
Setelah bathub penuh, keran Juan matikan lalu ia buru-buru masuk ke dalamnya. Dingin menjalar dengan cepat, membuat sel-sel di tubuhnya terkejut selama beberapa saat sebelum akhirnya bisa membiasakan diri dan ia bisa menenggelamkan bagian tubuhnya lebih banyak.
Mulanya, ia hanya berendam sampai menyisakan kepalanya saja. Tapi karena dia sadar masalah utamanya justru ada di kepala, Juan tidak ragu untuk membawa tubuhnya semakin ke dalam. Terus. Terus. Terus. Sampai kepalanya berhasil tenggelam. Ia tidak ahli menahan napas, tapi untuk malam ini saja, dia akan berusaha lebih keras.
“Kalau lagi marah, aku biasanya diam dulu, terus hitung mundur dari sepuluh ke satu. Kalau belum berhasil, aku bakal rubah posisi aku jadi duduk, terus ngulangin lagi hitungan mundur. Kalau belum berhasil juga, aku bakal rebahan, terus hitungan mundurnya juga tetap dilakuin. Kalau tiga-tiganya masih nggak manjur juga, aku bakal pergi ke kamar mandi, ambil wudhu terus baca doa banyak-banyak. Kamu bisa coba poin pertama, kedua dan ketiga. Tapi karena yang terakhir nggak bisa, dan aku nggak tahu gimana biasanya kamu berdoa, ya kamu lakuin aja sesuai apa yang kamu yakini.” Kata Zahira, di suatu pagi ketika Juan bertanya bagaimana caranya Zahira menahan diri dari emosi.
Malam ini, Juan sudah melakukan semuanya. Dia bahkan sudah melantunkan doa meski hanya dia dalam hati, namun emosinya tidak juga kunjung pergi.
Apakah ini karena dia terlalu takut kehilangan Zahira? Atau memang dasarnya dia saja yang emosional dan susah mengendalikan diri?
Byur!!!
Banyak sekali air yang tumpah dalam usaha Juan mengeluarkan diri dari dalam bathub.
“H—hah!” Juan megap-megap, seperti ikan yang terdampar di tepi lautan. Meski sudah begitu, hatinya masih tidak kunjung lega.
__ADS_1
“Gue harus gimana, Tuhan?” lirihnya, bagai manusia paling merana di dunia.
Bersambung