Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Lies


__ADS_3

“Moana?” Zahira bertanya kepada Reno yang duduk sendirian di kursi tunggu depan IGD.


Beberapa menit sebelumnya, Zahira hanya berdiri di balik tembok rumah sakit yang dingin, menyaksikan bagaimana Juan bergerak mondar-mandir seraya menggigiti kuku jari dengan raut wajah yang khawatir. Barulah ketika seorang dokter laki-laki keluar dari pintu dan mengajak Juan pergi berbincang di ruangan lain, ia berani bergerak mendekat, menyasar Reno sebagai sumber informasi yang dia rasa lebih baik ketimbang harus bertanya langsung kepada Juan yang jelas-jelas belum sama sekali menerima pesan-pesan yang dia kirimkan sebelumnya. Malahan, lelaki itu sepertinya memang sengaja menghindari dirinya.


“Gue sama Juan tadi ke rumah Moana. Niatnya sih cuma mau balikin mobil, tapi malah berakhir nemuin dia lagi sekarat di dalam rumah.” Reno menjelaskan lebih detail setelah sebelumnya hanya menganggukkan kepala singkat.


Mendengar itu, kerutan samar muncul di dahi Zahira. “Mobil?” tanyanya keheranan. Mobil apa?


Reno mengangguk lagi. “Kemarin, sehabis makan siang, Moana tiba-tiba sakit, terus Juan inisiatif buat anterin dia pulang. Dan, yah, mobilnya jadi kebawa sama Juan dan pagi ini kami rencana mau balikin mobilnya.” Terang Reno.


Diam-diam, Zahira meremas rok berwarna hitam yang dia kenakan. Sesak. Dia merasa seperti ada sesuatu yang menekan dadanya terlalu kuat hingga membuatnya kesulitan mengambil napas.


Bagaimana tidak? Juan sendiri yang selalu mengatakan kepada dirinya agar mereka selalu terbuka dan saling jujur kepada satu sama lain, tetapi nyatanya lelaki itu malah menjadi orang yang berdusta lebih dulu. Tidak main-main, kebohongannya bahkan sampai membuat Zahira merasa ngilu di sekujur tubuh terutama di bagian dada dan kepala.


Kenapa? Kenapa Juan harus berbohong? Kenapa tidak berterus terang saja dari awal kalau mobil yang dipakai untuk menjemput dirinya semalam adalah milik Moana? Apakah Juan berpikir, dia akan marah jika tahu lelaki itu telah pergi mengantarkan Moana yang padahal memang sedang sakit? Apa secetek itu penilaian Juan terhadap dirinya?


Tapi lebih dari itu, Zahira merasa penasaran pada satu hal. Lebih tepatnya, sejauh mana kebohongan yang Juan katakan tadi malam? Hanya sebatas soal pemilik mobil yang sebenarnya, atau ada yang lainnya? Dan, apakah kebohongan-kebohongan itu yang pada akhirnya membuat Juan bersikap aneh—sebagai upaya untuk menutupi diri dari rasa bersalah?


“Za,”


Panggilan itu tidak datang dari Reno, melainkan dari Juan yang baru kembali dari ruang dokter di ujung koridor.

__ADS_1


Zahira menoleh cepat, lalu tersenyum nanar pada sosok kekasih hati yang telah tega membohongi dirinya tanpa alasan yang cukup bisa dia mengerti.


“Kamu ... ngapain di sini?”


Konon katanya, seseorang memang akan cenderung melemparkan pertanyaan yang terkesan bodoh ketika sedang merasa gugup. Pagi ini, Zahira mengamini hal tersebut. Dan sialnya, kenyataan itu malah membuat beban di pundaknya terasa semakin berat.


“Aku koas di sini, kalau kamu lupa.” Sahut Zahira, lalu dia beranjak dari kursi besi yang dingin dan keras.


Untuk beberapa lama, Zahira berdiri di hadapan Juan tanpa mengatakan apa-apa. Yang perempuan itu lakukan hanya menatap tepat di manik kekasihnya, berusaha mencari di mana lelaki itu meletakkan kebohongan yang dia bawa—entah sejak kapan. Sayangnya, usaha itu tidak membuahkan hasil. Zahira kalah. Dia mungkin sudah terlalu jatuh cinta pada Juan sehingga tidak mampu lagi untuk memilah, mana saja dari apa-apa yang lelaki itu tunjukkan yang merupakan kebohongan dan mana yang tidak.


Pada akhirnya, yang bisa Zahira lakukan adalah menarik napas sudah payah, lalu mengembuskannya dengan begitu pasrah.


“Moana sakit apa?” tanyanya kemudian, mati-matian menahan air mata yang sebetulnya sudah berjejalan ingin keluar.


Zahira mengangguk singkat, lalu bersiap untuk pergi. Terlepas fakta bahwa dia memang harus segera beranjak untuk menjalankan tugas, berada di sini terlalu lama hanya akan membuat kondisi hatinya semakin sekarat. Juan yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah seseorang yang dia kenal dan sangat dia cintai. Juan yang ini kelihatan asing, dan Zahira tidak ingin bersinggungan dengannya sebelum sosok itu kembali seperti sosok yang ia kenal selama ini.


“Titip salam buat Moana, semoga lekas sembuh.” Ujarnya, lalu perempuan itu berjalan melewati tubuh tinggi Juan tanpa mengatakan kalimat pamit yang semestinya. Kepada Reno pun, ia tidak berkata apa-apa. Bahkan untuk sekadar berterima kasih atas informasi yang telah lelaki itu bagikan kepadanya.


Seraya menggigit bibir bawah dan mengepalkan tangan erat di samping tubuh, Zahira mempercepat langkah. Sementara di tempatnya berdiri, Juan hanya bisa termenung, menyaksikan punggung kekasihnya bergerak menjauh dan dia tidak memiliki daya untuk berlari mengejar.


“Lo lagi berantem sama Zahira?”

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Juan hanya bisa menghela napas rendah. Alih-alih menjawab, dia kemudian justru berkata, “Lo berangkat ke kantor aja sendiri, hari ini gue izin nggak masuk, mau ngurusin Moana dulu buat pindah ke ruang rawat.” Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Reno yang tidak tahu-menahu perihal masalahnya dengan Zahira.


...****************...


Sampai menjelang jam makan siang, Moana masih belum juga membuka mata. Tubuh lemahnya tergolek di atas brankar dan selang infus telah terpasang di tangan kiri. Tadi pagi, dokter mengatakan kepada Juan bahwa Moana mengalami dehidrasi yang cukup parah, dan jika saja Juan datang ke rumah sakit sedikit lebih terlambat, kondisi Moana kemungkinan akan semakin parah.


Lama. Lama sekali Juan terpaku memandangi wajah pucat Moana. Rona kemerahan yang biasa muncul di belah pipi perempuan itu benar-benar lenyap tak bersisa. Mulut cerewetnya yang biasa dipulas gincu warna merah terang kini tampak membiru. Kelopak matanya yang terpejam, terlihat begitu sayu.


Saat ini, Juan sudah sama sekali tidak melihat Moana sebagai seseorang yang menyukainya dan berusaha untuk mengganggu hubungannya dengan Zahira. Malahan, Juan merasa iba pada Moana, karena perempuan itu harus melewati masa-masa sakit seperti ini sendirian sedangkan kedua orang tuanya entah sedang berada di mana dan tengah melakukan apa, tanpa tahu bahwa putri semata wayang mereka bisa saja kehilangan nyawa.


“Titip salam buat Moana, semoga lekas sembuh.”


Perkataan Zahira yang kembali terdengar jelas di telinga membuat Juan urung menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan helaian rambut Maoana yang menjuntai menutupi kelopak mata sayu perempuan itu. Dari raut wajahnya, Juan tahu Zahira memendam kecewa yang begitu besar terhadap dirinya. Walaupun dia tidak menanyakan kepada Reno apa-apa saja yang sudah Zahira tanyakan sebelumnya, Juan merasa perempuan itu sudah tahu cukup banyak hal.


Juan tahu, dia seharusnya menahan kepergian Zahira pagi tadi. Setidaknya, dia bisa mengajak perempuan itu untuk menepi sebentar demi menjelaskan kesalahpahaman yang sepertinya sedang terjadi di antara mereka. Namun, Juan tidak memiliki keberanian itu. Emosinya belum cukup stabil, dan dia takut hanya akan kelepasan hingga tidak sengaja berbicara hal-hal buruk terhadap Zahira. Hati perempuan itu lembut, ia tidak bisa menghadapi perempuan itu dengan emosi.


Nanti malam. Dia berencana mengambil waktu untuk meredakan emosinya sampai nanti malam. Sampai tiba waktunya bagi Zahira untuk pulang ke rumah dan dia akan mengantarkan kekasihnya itu pulang. Mereka bisa membicarakan semuanya dalam perjalanan pulang. Semuanya. Soal Moana, soal laki-laki yang bersama Zahira semalam, juga soal alasan kenapa Juan sampai menonaktifkan ponsel padahal itu jauh sekali dari kebiasaannya.


Katanya, jangan suka menunda-nunda. Tapi menurut Juan, memilih timing yang pas untuk menyelesaikan sebuah masalah adalah sebuah pengecualian.


Menarik napas begitu dalam, Juan kembali mencurahkan perhatian kepada Moana. Untuk saat ini, dia akan fokus menunggui Moana sampai perempuan itu membuka mata. Dengan begitu, dia bisa mendesak Moana untuk segera menghubungi kedua orang tuanya dan menyuruh mereka untuk pulang.

__ADS_1


“Bangun, jangan kelamaan pingsannya.” Bisiknya pelan. Niatnya yang sempat tertunda untuk membenahi rambut Moana yang berantakan akhirnya dia laksanakan juga. Tanpa dia tahu, bahwa di balik pintu ruang rawat yang sedikit terbuka, ada Zahira yang kebetulan lewat sehabis melakukan kunjungan ke ruang rawat di sebelah bersama dengan seorang dokter.


Bersambung


__ADS_2