
Sebuah rumah bergaya minimalis modern dengan dua lantai menjadi tujuan Juan untuk singgah malam ini. Rumah bercat warna cokelat gelap dan sebagian besar ornamennya dipenuhi kaca itu merupakan rumah yang sudah dia siapkan sejak lama. Tentu saja, dia membelinya dengan uang gaji yang dia terima selama bekerja di perusahaan milik keluarganya. Seharusnya, ini juga dihitung sebagai aset yang dia beli dengan jerih payahnya sendiri, kan?
Meksipun kelihatannya tidak terlalu peduli pada kehidupan dan masa depan, namun Juan adalah tipikal orang yang gemar mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Ketika pertama kali cinta diterima oleh Zahira, dan dia akhirnya kepikiran untuk menikahi perempuan itu suatu hari nanti, Juan sudah punya rencana untuk menyiapkan hunian masa depan bagi mereka. Sebab saat sudah menikah, Juan tidak ingin memboyong Zahira untuk ikut tinggal di Rumah Besar bersama dengan anggota keluarganya yang lain.
“Mau saya bantu bawa kopernya sampai ke dalam, Mas?” tawar sopir taksi yang sedari tadi setia memegangi payung untuk Juan. Hujan masih turun cukup deras. Angin yang berembus cukup kencang juga bahkan membuat sebagian kaus yang Juan kenakan basah terutama di bagian bahu.
“Enggak usah, Pak, makasih. Sampai sini aja.” Juan menolak tawaran itu secara halus. Tidak lupa dia ulurkan selembar uang pecahan seratus ribu sebagai tip atas kesigapan si bapak sopir taksi yang bersedia memayungi dirinya selagi ia mengeluarkan koper dari bagasi.
Uang tip itu diterima dengan senang hati, disusul gaungan rasa syukur juga untaian doa tulus yang dilangitkan untuk Juan. Isinya tidak jauh-jauh dari permohonan agar rezeki Juan dilancarkan, agar dia diberikan kesehatan dan segala urusannya dipermudah. Dan meski hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun terkait doa yang diucapkan begitu lantang oleh si sopir taksi, Juan diam-diam ikut mengamini.
“Sekali lagi, makasih banyak ya, Mas.” Saking senangnya, si sopir menjabat tangan Juan berkali-kali.
Juan tersenyum lembut. Teringat kembali perkataan Zahira soal “Menolong orang lain itu berarti kita sedang menolong diri kita sendiri.” Dulu Juan tidak terlalu paham. Tapi seiring berjalannya waktu, dia mulai mengerti bahwa dengan berbuat baik kepada orang lain, dia memang sedang berbuat baik kepada dirinya sendiri. Hatinya yang lega setelah melihat senyum cerah si sopir taksi ini adalah bukti nyata dari perkataan tersebut. Sebab sebelumnya, meski tidak banyak, hatinya cukup membawa beban yang lumayan.
“Hati-hati nyetirnya, Pak, jalanan licin.” Pesan Juan terakhir kali yang ditanggapi dengan anggukan kepala penuh semangat oleh si sopir taksi.
Kemudian, pria berusia sekitar akhir 50-an itu pamit undur diri, masih sesekali mengucapkan syukur hingga Juan tidak lagi melihat sosoknya yang menghilang bersama taksi yang dia kendarai menembus kegelapan malam.
Juan kemudian berjalan memasuki gerbang rumahnya. Payung hitam yang menaungi tubuh bongsornya sudah tidak lagi banyak membantu ketika angin tahu-tahu berembus lebih dahsyat ketika kakinya menapak di halaman yang tidak seberapa luas namun penuh dengan rerumputan dan pepohonan hijau nan rindang.
Sudah kadung basah, Juan tidak berusaha menyembunyikan diri lebih banyak di bawah naungan payung. Dia biarkan saja tetes-tetes air hujan tampias di bahunya. Sampai kemudian dia tiba di teras dan tugas payung hitam itu telah selesai.
“Welcome home, Juananda.” Ia memberikan sambutan ramah itu untuk dirinya sendiri. Sebuah sambutan yang sudah lama dia bayangkan di dalam kepala. Hanya saja, kemarin-kemarin, dia berharap Zahira lah yang akan menyambutnya dengan kalimat seperti itu nantinya. Tapi, tidak apa-apa, karena tidak lama lagi, semua itu pasti akan terjadi.
Walaupun belum secara resmi ditempati, namun rumah milik Juan ini jauh sekali dari kata berdebu atau pun terlantar. Karena tanpa sepengetahuan siapa pun, dia sering melipir ke sini untuk sekadar beberes setelah pulang kerja.
Berhubung malam belum terlalu larut dan dia juga belum mengantuk, Juan memutuskan untuk berkeliling sebentar. Lantai satu di rumah ini terdiri dari ruang tamu, ruang makan yang tergabung dengan dapur, satu kamar mandi, tempat laundry dan jemuran. Sementara di lantai dua terdapat 2 kamar tidur, satu ruang keluarga, satu kamar mandi, dan sebuah balkon dengan view menghadap ke sebuah hamparan tanah lapang yang di seberangnya terdapat danau buatan. Kalau malam, beberapa lampu yang terpasang di sekitaran danau akan menyala dengan serempak, menampilkan warna-warna cantik yang menenangkan.
__ADS_1
Juan berhenti di balkon. Derasnya air hujan yang tampias ke lantai balkon tidak sedikit pun mengganggu, dia dengan senang hati membiarkan titik-titik air itu bersentuhan dengan kakinya yang telanjang.
Lalu di tengah damainya perasaan Juan, dering nyaring yang berasal dari ponsel yang dia tinggalkan di atas kasur membuatnya mau tak mau bergegas masuk untuk memeriksa. Bukan apa-apa, dia sudah berjanji kepada Zahira tercinta untuk tidak lagi menghindari siapa pun ketika hatinya sedang resah. Janji adalah hutang, begitu kaya Zahira. Maka Juan tidak akan mengingkarinya.
Nama Reno muncul di layar. Dan meskipun Juan belum menggeser log hijau untuk menyambungkan telepon, dia sudah bisa mendengar gelegar suara Reno dengan jelas. Bahkan, raut wajah garang lelaki mungil itu pun terpampang begitu nyata di depan matanya.
Ditimbang-timbang, Juan sepertinya tidak ingin mengangkat telepon itu. Karena kurang lebih dua sudah tahu apa yang akan dia dapatkan dari sepuluh kecilnya itu.
“Ah, besok pagi aja gue telepon balik. Kan, bisa alasan kalau udah tidur.” Monolognya. Hanya didengarkan oleh debu-debu yang beterbangan tertiup angin.
Benar saja. Panggilan itu tidak dia terima hingga deringnya berhenti sendiri dan layar ponselnya kembali padam. Seharusnya, semua sudah berakhir dan dia bisa bernapas lega. Tapi masalahnya, dia lupa kalau Reno itu kadang-kadang bisa berubah menjadi psikopat gila. Alih-alih menyerah, lelaki itu kembali meneleponnya. Dan Juan tahu, dering ini tidak akan pernah berhenti kecuali ponselnya mati kehabisan daya.
Jadi dengan berat hati, berbekal tarikan napas yang diambil dalam sekali, Juan akhirnya menggeser log hijau setelah Reno menelepon untuk yang kesembilan kali.
“Ha—“
“Bangsat!” nah, belum apa-apa, dia sudah dimaki-maki. “Gue nyuruh lo buat minta restu ke Mama, bukan malah kabur dari rumah!”
“Udah apanya?! Ini Mama lagi nangis, ya, Juan! Lo jangan jadi anak durhaka!”
Mendengar ibunya menangis, hati Juan sedikit terasa tercubit. Tapi kemudian, dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa itu tidak apa-apa. Toh, meskipun bukan sekarang, dia tetap akan keluar dari rumah dalam waktu dekat.
“Gue tadi udah ngomong sama Mama, tapi ya gitu, Mama nggak mau kasih izin.”
“Terus lo malah kabur?! Sinting!”
“Gue nggak kabur, Ren—“
__ADS_1
“Apanya yang nggak kabur?! Lo pergi nggak bawa apa-apa, Juananda! Itu apa namanya kalau bukan kabur?!”
Tenang. Kunci untuk menghadapi Reno Irvansyah adalah ketenangan. Karena kalau tersulut emosi sedikit saja, peperangan hebat akan terjadi sebagai gantinya.
Maka sebelum melanjutkan bicara, Juan kembali menarik napas dalam-dalam. “Gini,” ucapnya mengawali. Karena situasinya sudah serius, dia pun menegakkan tubuhnya agar otaknya pun bisa bekerja dengan lebih baik. “Gue nggak kabur, Reno. Itu yang pertama. You have to know that I already had a plan. Jadi meskipun bukan malam ini waktunya, gue tetap akan keluar dari rumah.”
“Plan apa? Lo nggak pernah cerita apa-apa sama gue?!” Reno di seberang masih begitu ngototnya. Sayang saja mereka sedang terpisah jarak. Kalau tidak, Juan akan menggunakan ototnya untuk memiting leher lelaki itu agar mau diam sebentar, menunggu sampai ia selesai berbicara.
“Plan buat masa depan gue, lah. Gue nggak cerita ke siapa pun, even ke Zahira karena gue mau plan ini berjalan dengan mulus. Intinya gue udah pikirin ini dari lama, jadi meskipun bukan karena Zahira, gue tetap bakal keluar dari rumah kayak yang udah gue bilang sebelumnya.”
“Terus lo tinggal di mana, anjing?! Kolong jembatan?! Ini masalahnya lo nggak bawa apa pun, Juan!”
“Kata siapa gue nggak bawa apa-apa? Gue bawa sesuatu yang bahkan jauh lebih penting daripada segala-galanya.”
“Apa?!”
“Cinta.” Celetuk Juan diakhiri kekehan panjang.
“Bajingan! Ini bukan waktunya buat bercanda! Lo di mana? Shareloc sekarang!”
Juan berhenti terkekeh. Garis-garis senyum yang timbul perlahan kembali lurus, lalu ia kembali dalam mode serius. Sekali lagi, dia mengambil napas begitu dalam. “Gue aman, di suatu tempat. Jadi lo nggak perlu khawatir.” Itu yang dia katakan, meski ujung-ujungnya yang dia terima hanyalah dengusan kasar dibumbui berbagai kata umpatan.
Di seberang telepon, Reno masih mengumpat sesuka hati. Sementara Juan tidak punya keinginan untuk membuat sepupunya itu berhenti. Biarkan saja. Dia akan mendengarkan umpatan itu dengan telinga yang terbuka lebar dan hati yang lapang karena bisa jadi hal-hal seperti ini akan sangat dia rindukan. Nanti, ketika dia berhasil meminang Zahira, dia mungkin harus meninggalkan lebih banyak kenangan di belakang.
“Lo kayak anjing!”
“Ya, ya, I love you too, Sayangku.” Sahutnya. Lalu gara-gara itu, telepon dimatikan. Dan setelah dicek, Juan menemukan nomornya sudah diblokir oleh Reno. Hah... betapa kekanakannya lelaki itu.
__ADS_1
“Yang kayak gini mau berjuang dapetin Clarissa lagi? Weleh weleh, berat sekali.” Ejeknya. Namun sedetik kemudian, dia mulai merapalkan doa di dalam hati. Semoga sama seperti dirinya yang berani mengambil langkah untuk menjadi lebih dekat dengan Zahira, Reno pun akan segera menemukan jalan untuk kembali menuju Clarissa.
Bersambung