
Berkali-kali Juan memencet bel di pagar rumah Moana, namun tak kunjung mendapatkan sambutan dari sang empunya. Teriknya matahari telah membuat Juan bermandikan keringat, belum lagi Reno yang bawel sekali memencet klakson dengan brutal hingga suaranya menggaung lantang seperti genderang perang yang ditabuh penuh semangat juang.
“Moana ke mana, sih?” tanyanya entah kepada siapa. Mungkin kepada pagar tinggi menjulang yang dingin. Mungkin kepada angin yang berembus menerbangkan helaian rambutnya yang mulai memanjang. Mungkin juga pada semut-semut hitam yang berbaris teratur di sisi tembok dekat gerbang. Yang jelas, ia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari pertanyaan itu.
Selagi Juan berusaha mendapatkan sahutan dari Moana, di dalam mobilnya, Reno mulai bergerak gelisah. Klakson yang dia bunyikan berkali-kali agaknya tidak cukup untuk membuat Juan segera menghampiri, maka ia mengambil langkah nekat dengan melompat turun dari dalam mobil, berjalan tergesa menghampiri Juan yang berdiri bagai orang bodoh di depan pagar rumah orang.
“Lama amat, sih?!” tanyanya, disusul pukulan keras yang mendarat begitu saja di bahu kekar Juan. “Kalau orangnya emang nggak ada, tinggalin aja mobilnya di sini!” usulnya kemudian, seakan tidak memberi waktu bagi Juan untuk melontarkan pembelaan.
Juan mendesah panjang, susah payah dia menyingkirkan tubuh kecil Reno dari sisinya, sebagai upaya untuk menghindari tindak kekerasan lain yang mungkin saja akan datang menyusul.
“Kita udah kesiangan, Ju!” Reno berseru lagi. Si sepupu bongsornya itu menulikan telinga dan malah kembali memencet bel.
Dua kali. Tiga kali. Sampai delapan kali Juan memencet bel, masih juga tidak ada sahutan. Di titik itu, Juan sudah tidak bisa berpikir positif lagi. Bahkan ketika protes yang Reno layangkan semakin banyak dan berisik, Juan tidak lagi peduli. Dia kini sibuk memikirkan cara untuk mengecek kondisi Moana di dalam sana. Jujur, Juan takut telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap Moana mengingat betapa lemah kondisi perempuan itu kemarin.
Berpikir selama beberapa saat, Juan akhirnya memilih satu jalan yang cukup ekstrem. Sebelum mengeksekusi rencana, ia mendorong Reno menjauh, cukup jauh agar lelaki itu tidak punya kesempatan untuk mencegahnya.
“Lo apa-apan, sih?!” Reno memprotes, namun Juan tidak mendengarkan. Buru-buru dia berderap mendekat ke arah pagar, mengerahkan seluruh tenaga yang dia miliki untuk memanjat pagar tinggi itu meski di bawahnya, Reno masih terus berteriak kesetanan.
Usaha yang Juan lakukan dengan susah payah berhasil membawanya mendarat mulus di halaman rumah Moana yang ditumbuhi rerumputan hijau. Tanpa berpikir panjang, ia pun berlari menuju pintu utama.
“Mo!” teriaknya seraya menggedor pintu itu.
“Moana!” teriaknya lagi. Nadanya semakin tinggi dan gedoran yang dia buat juga semakin brutal. Tapi tetap saja, tidak ada sahutan dari dalam sana. Seakan apa yang Reno katakan sebelumnya adalah benar, bahwa Moana memang tidak ada di rumahnya.
“Mo! Gue yakin lo ada di dalam! Jawab gue, please?!”
“Moana!”
Nihil. Sampai sakit tenggorokannya, Juan tetap tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, sebagai langkah terakhir yang juga ekstrem, Juan bersiap untuk mendobrak pintu di hadapannya meski dia tahu itu tidak akan mudah.
Namun, ketika dia betulan menabrakkan bahunya ke pintu kayu yang kokoh itu, Juan malah terhuyung ke depan karena ternyata pintu itu tidak terkunci sejak awal. Separuh sisi lega, separuh sisi lagi semakin khawatir karena takut betulan terjadi apa-apa pada Moana.
“Moana!” seraya berlarian menyusuri ruang tamu, Juan kembali meneriakkan nama Moana.
“Mo, lo di mana?!”
“Moana, you okay?!”
“Fxck! Can you answer me?!” masih terus saja Juan berteriak sampai kini dia tiba di lantai dua. Agak sangsi ketika dia berhadapan dengan pintu kamar Moana. Antara yakin dan tidak untuk menerobos masuk karena itu merupakan area privat milik perempuan itu.
__ADS_1
“****!” mengumpat sudah seperti menjadi kebiasaan ketika dia dilanda situasi yang sulit. Mondar-mandir Juan di depan pintu Moana. Kuku jemari yang tak berdosa menjadi sasaran gigitan selagi ia berpikir apa yang sebaiknya harus dia lakukan.
Terobos? Jangan? Terobos? Jangan? Terobos? Jangan?
Pertanyaan itu dia ulang-ulang di dalam kepala. Hingga hasil akhirnya, dia memutuskan untuk menerobos kamar Moana, entah apa pun konsekuensi yang harus dia hadapi nantinya.
“Mo?” panggilnya dengan suara yang lebih pelan ketika pintu di hadapannya ia buka perlahan. Mula-mula, ia hanya menyembulkan kepala, lalu badannya bergerak pelan ikut masuk selagi matanya berkeliling mencari keberadaan sang empunya kamar yang tidak ada di atas ranjangnya.
“Moana? Ini gue, Juan.”
Berjalan semakin dalam, masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Moana.
“Halo? Moana?”
“Mo—“ sampai tiba di momen ketika Juan tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya. Sebab di depan matanya, tepat di lantai kamar mandi yang basah karena air terus mengucur dari shower, Moana tergeletak tak berdaya masih dengan baju tidurnya.
Kepala Juan terasa kosong seketika. Dia tidak lagi berpikir apa pun dan hanya bergerak secara impulsif, menggotong tubuh Moana yang lemas lalu berlarian keluar dari dalam kamar mandi. Ia bahkan tidak berpikir untuk mematikan shower, mengambilkan selimut untuk lebih dulu menghangatkan tubuh Moana, atau apa pun itu. Yang terakhir kali terpikir olehnya sebelum kepalanya benar-benar menjadi kosong adalah segera membawa Moana ke rumah sakit agar bisa mendapatkan pertolongan secepat mungkin.
Napasnya mulai kepayahan, namun Juan sama sekali tidak mengendurkan ayunan langkahnya yang juga sudah terseok-seok menahan bobot tubuhnya dan bobot tubuh Moana sekaligus.
Sedangkan di depan gerbang, Reno terkejut bukan main saat mendapati Juan berlarian dari dalam rumah dengan raut wajah panik yang kentara.
Juan tidak menjawab, malah sibuk membuka pintu mobil dengan serabutan, hanya untuk membuat kunci yang dia genggam jatuh dan masuk ke kolong mobil.
“Anjing!” Juan mengumpat. Lebih kesal lagi saat Reno tidak kunjung berbuat sesuatu dan malah berdiri bagai orang bodoh di sisi mobil.
Setelah beberapa detik berlalu, barulah Reno seakan bisa mengembalikan fungsi otaknya lagi. Terburu-buru, lelaki itu berjongkok, bersusah payah merogoh kolong mobil untuk mencari kunci yang jatuh.
“Buruan!” Juan mulai ngegas. Pasalnya, wajah Moana semakin terlihat pucat dan embusan napasnya mulai terlihat lemah.
“Sabar!” Reno balik ngegas. Lalu tak lama kemudian, dia berhasil mendapatkan kunci mobil.
Tanpa membuang waktu, ia segera membuka kunci mobil, sukarela menawarkan diri untuk menyetir. “Naik!” titahnya.
Juan segera masuk dan duduk di kursi penumpang, membaringkan Moana dengan membiarkan kepala perempuan itu beristirahat di atas pangkuannya.
Dewi Fortuna sepertinya sedang berbaik hati pagi itu, hingga jalanan yang biasanya padat ketika jam berangkat kerja seketika lengang dan Reno bisa berkendara bagai orang gila dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit.
“Bertahan.” Itu Juan bisikkan di dalam hati selagi tatapannya tidak beralih dari wajah pucat Moana. Jemari panjangnya tidak ragu mengusap pipi perempuan itu, berharap gerakannya itu bisa sedikit membantu menghangatkan tubuh Moana yang basah kuyup.
__ADS_1
...****************...
Satu tarikan napas dalam Zahira ambil setelah dia mengecek ponselnya sekali lagi. Rentetan pesan yang dia kirimkan kepada Juan subuh tadi belum juga terkirim, membuat lebam di hatinya semakin terasa parah karena dia paham sekali Juan tidak akan sampai mematikan ponselnya kalau kemarahannya tidak masuk ke dalam level yang maksimal. Paling banter, seperti yang kemarin, lelaki itu hanya tidak akan membaca dan membalas pesan.
“Za,”
“Ya?” Zahira berbalik untuk menyapa balik Zayyan yang barusan memanggilnya. Dokter muda yang digandrungi hampir seluruh pegawai perempuan di rumah sakit itu berjalan ke arahnya dengan senyum khas yang terpatri sempurna di wajah tampannya.
“Udah sarapan?” tanya si laki-laki.
Sarapan? Jangankan sarapan, Zahira bahkan tidak sempat minum air dengan benar karena sibuk memikirkan Juan dan apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu. Dan lagi, Zahira tidak pandai berbohong, jadi dia menggeleng jujur sebagai jawaban.
“Kok belum? Kamu ada maag, kan? Kalau kambuh gimana coba?”
“Saya tadi buru-buru ke sini, Mas, jadi nggak sempat sarapan.” Sahut Zahira.
Zayyan menggeleng pelan, “Nggak boleh gitu, Za. Mau seburu-buru apa pun, kamu tetap harus sempatkan sarapan. Ingat, kamu itu calon dokter, tugas kamu merawat pasien. Tapi, gimana kamu mau rawat pasien kamu kalau ke diri sendiri aja kamu abai?”
Sejenak, Zahira merenung. Apa yang Zayyan katakan memang benar. Akhir-akhir ini, dia sering abai kepada dirinya sendiri, dan itu berakhir buruk karena dia juga jadi tidak bisa menangani pasien dengan maksimal.
Tapi masalahnya, memasukkan makanan ke dalam mulut di saat kondisi hati dan pikirannya sedang kacau tidak akan sederhana itu. Kalau terlalu dipaksa, dia hanya akan berakhir membuat makanan yang dia kunyah susah payah keluar kembali, dan itu sangat tidak menyenangkan.
“Ke kantin dulu, yuk? Saya temenin kamu sarapan.” Ajak Zayyan.
Zahira terdiam cukup lama, terpaku pada netra kecokelatan milik Zayyan yang kata rekan-rekan sejawatnya serupa bentuk surga paling nyata yang bisa ditemukan di dunia.
“Za?”
Zahira membuang napas pelan, lalu mengangguk. “Ya udah, Mas, ayo.”
Senyum Zayyan terkembang mendengar jawaban Zahira. Mereka pun berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit yang letaknya di bagian belakang. Tapi baru beberapa langkah terayun, Zahira seketika berhenti kala matanya menangkap satu sosok yang tidak asing tengah berlarian turun dari dalam mobil dan... tengah menggotong seseorang dengan raut wajah panik. Di belakangnya, menyusul satu orang lagi yang juga tidak asing.
“Za?” Zayyan menepuk pelan bahu Zahira, merasa heran mengapa perempuan itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Mas, saya nggak jadi ke kantin, maaf.” Dan tanpa penjelasan lanjutan, Zahira berlari menyusul dua sosok yang dia lihat sebelumnya, meninggalkan Zayyan sendirian dalam kebingungan.
“Kamu bawa siapa, Ju?” tanya Zahira kepada dirinya sendiri selagi kaki kecilnya masih melangkah mencari keberadaan kekasih hati yang sudah menarik diri dari jangkauannya.
Bersambung
__ADS_1