Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Runyam


__ADS_3

Yang pertama kali Moana temukan ketika ia membuka mata adalah Juan yang tengah duduk di kursi persis di sebelah ranjang pasien. Lelaki itu duduk bersandar dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada, sementara matanya menatap lurus ke arah Moana.


"Ju," panggil Moana pelan. Teramat pelan hingga nyaris seperti berbisik. Moana sendiri agak terkejut mendapati suaranya hanya bisa keluar sebatas itu. Sebab, kali ini bukan pura-pura. Dia betulan merasa lemah tak bertenaga. Jangankan untuk mereog apalagi membuat rencana selanjutnya untuk menahan Juan lebih lama, untuk sekadar membetulkan posisi tidurnya yang tidak nyaman saja, ia kesulitan.


Hal terakhir yang ada di dalam ingatan Moana adalah dia sedang berjalan ke kamar mandi, hendak membasuh mukanya yang sepucat mayat dan menggosok gigi sebelum turun ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan. Obat pencahar sialan yang dia tenggak kemarin rupanya masih memberikan efek yang lumayan hingga membuat perutnya melilit tak keruan dan dia tidak bisa memasukkan apa pun ke dalam mulut karena hanya akan berakhir dia keluarkan lagi. Lalu, dia tidak ingat apa pun lagi. Mungkin dia pingsan setelahnya, Moana tidak benar-benar tahu.


"Ju, kok gue bisa ada di sini?" tanyanya, masih dengan suara yang teramat pelan.


Juan beringsut, menegakkan posisi duduknya dan mulai menatap Moana jauh lebih serius. "Gue sama Reno tadi pagi ke rumah lo buat balikin mobil, tapi lo sama sekali nggak bukain pintu padahal gue udah pencet bel berkali-kali." Ia menjelaskan.


"Terus?"


"Ya gue khawatir, lah. Makanya gue nekat manjat pager terus nerobos masuk ke dalam rumah. Terus gue malah nemuin lo tergeletak di lantai kamar mandi, basah kuyup."


Untuk beberapa lama, Moana tidak mengatakan apa-apa. Ada perasaan senang yang menyelinap masuk ke dalam hatinya saat mengetahui bahwa Juan khawatir kepadanya. Meski setelah itu dia tahu, apa yang Juan lakukan hanya sebatas karena lelaki itu memang kawan yang baik, Moana tetap tidak bisa menepis rasa senang itu dengan begitu saja. Bukankah itu tetap merupakan awal yang bagus? Setidaknya, Moana tahu posisi dirinya tidak terlalu jauh dari Juan sekarang. Dia hanya perlu berjalan sedikit demi sedikit, untuk benar-benar sampai pada lelaki itu, bukan?


"Gimana keadaan lo? Udah ngerasa baikan?" Juan bertanya.


Moana kembali menoleh, lalu terdiam sebentar untuk merasakan kondisi tubuhnya sendiri. Tidak ada yang terlalu terasa sakit, hanya tenggorokannya saja yang terasa sangat kering.


"Haus." Adunya kemudian.


Juan mengangguk cepat, buru-buru meraih gelas berisi air yang telah tersedia di atas nakas dan langsung menyodorkannya kepada Moana. Namun, bukannya langsung diterima, gelas itu malah berakhir menggantung di udara dan Moana hanya terus memandanginya.


"Kenapa?" tanya Juan heran.


"Gue nggak bisa bangun, Ju, badan gue lemes." Moana merengek, seperti bayi.


Dan walaupun Juan memulai dengan sebuah hela napas panjang yang terkesan berat, lelaki itu tetap bergerak mendekat, membantu Moana berpindah ke posisi duduk lalu menegangkan gelas selagi perempuan itu minum.


Tetesan air yang masuk sedikit demi sedikit ke tenggorokan berhasil membuat Moana tersenyum di sela kegiatannya. Ini seperti dia baru saja bertemu dengan sumber mata air yang begitu jernih dan menyegarkan setelah berhari-hari terdampar di tempat asing yang jauh dari jangkauan semua orang. Hanya ada dia sendiri. Tersesat, tidak tahu ke arah mana harus berjalan untuk sekadar menemukan air agar tetap bisa bertahan hidup. Dan saat ini, Juan tampak seperti malaikat baik hati yang sengaja Tuhan turunkan untuk menuntun langkahnya ke jalan yang benar.


"Ha...." Moana menghela napas lega setelah menandaskan seluruh air di dalam gelas. Senyumnya merekah bagai kelopak bunga mawar yang baru saja mekar. Sementara di tempatnya duduk, Juan ikut-ikutan mengulum senyum. Lega. Dia bersyukur keadaan Moana membaik.


"Mo," Juan memanggil setelah meletakkan gelas kosong kembali ke atas nakas. Yang dipanggil berdeham pelan, menunggu Juan melanjutkan ucapan.

__ADS_1


"Lo nggak mau hubungin orang tua lo biar mereka pulang?" tanya Juan. Karena meskipun kondisi Moana sudah terlihat membaik dan dokter juga bilang mereka hanya perlu memastikan Moana mendapatkan asupan cairan yang cukup untuk menggantikan cairannya yang terkuras habis sebelumnya, Juan merasa kedua orang tua Moana tetap harus tahu. Setidaknya, agar mereka bisa pulang dan merawat anak gadis satu-satunya yang mereka miliki.


Namun, tanpa menunggu lama, Moana malah menggelengkan kepala. Tidak terselip keraguan sedikit pun ketika perempuan itu mengggerakkan kepalanya. Bukan karena dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Oh, seluruh jagad raya juga tahu kalau Eclessia Moana ini anak yang manja di depan kedua orang tuanya. Akan tetapi, Moana hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat perhatian dari Juan lebih banyak. Dia telah mengorbankan banyak hal, bahkan nyaris menyerahkan nyawanya sendiri kepada malaikat kematian untuk sekadar membuat Juan tetap tinggal. Maka sudah seharusnya dia mendapatkan bayaran yang setimpal.


"Gue udah oke." Tutur Moana. Untuk mendukung pernyataannya, perempuan itu mengembangkan senyum sampai ke telinga. "Nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi, Ju." Imbuhnya.


Kalau mau, Juan bisa saja memaksa Moana untuk tetap menghubungi kedua orang tuanya. Atau jika perempuan itu masih bersikeras menolak, ia masih bisa meminta bantuan ibunya untuk menghubungi mereka. Namun, Juan enggan melakukannya. Ia hanya merasa tidak memiliki hak untuk ikut campur terlalu banyak.


Pada akhirnya, yang Juan lakukan hanya menganggukkan kepala, tidak berusaha mendebat karena jujur saja dia juga sedang tidak bertenaga.


Kemudian, suara nyaring yang datang dari perut Moana membuat dua anak manusia yang masih terpisah jarak itu saling pandang, sebelum akhirnya tawa renyah terloloskan begitu saja tanpa penghalang apa-apa. Seperti mereka adalah kawan dekat yang selalu menghabiskan waktu berdua, pergi ke tempat-tempat nongkrong paling hits di tengah kota dan berakhir pulang membawa banyak sekali jepretan dari kamera ponsel dengan merek ternama.


"Laper?" tanya Juan setelah tawanya mereda lebih dulu.


Moana mengangguk. Ada semburat merah yang terlihat muncul di kedua belah pipinya, hasil dari perpaduan rasa malu dan hawa panas yang timbul setelah puas tertawa lepas.


"Mau makan apa?"


"Pengin soto Banjar, Ju."


"Boleh. Mau apa lagi?"


"Nggak usah gila!"


Moana terbahak-bahak lagi, "Kenapa, sih? Kan bir pakai es baru enak, Ju, seger."


"Bocah gendheng."


Percakapan absurd itu masih berlangsung hingga beberapa babak. Jika ada orang asing yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan itu, bukan tidak mungkin mereka akan salah paham, mengira Juan dan Moana adalah sepasang kekasih yang saling jatuh cinta dan sedang berdebat ingin makan apa. Tidak akan ada yang menyangka kalau mereka hanya dua orang asing. Yang satu jatuh cinta sendirian, yang satu lagi mati-matian menjaga hati untuk kekasih beda agama.


...🍁🍁🍁...


Zahira mengangkat kepala cepat saat satu kotak makan siang dan satu cup caramel machiato diletakkan ke atas meja di hadapannya secara tiba-tiba. Pelakunya ternyata adalah Zayyan, dokter muda yang tadi pagi ajakan untuk sarapan bersamanya dia tolak hanya demi mengejar Juan meski berakhir tidak mendapatkan apa-apa.


"Tadi pagi kamu nggak sarapan, makan siang juga kamu lewat jauh banget. Nih, makan sekarang mumpung masih ada waktu." Ujar Zayyan.

__ADS_1


"Makasih," Zahira mengulaskan senyum tipis. Dari sekian banyak orang baik yang ia temui di rumah sakit ini, Zayyan memang menjadi salah satu yang paling banyak membantunya. Bukan hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan urusan pekerjaan, lelaki itu juga sering membantu mengurusi masalah makan. Perbedaan usia dan perbedaan status jabatan mereka di rumah sakit tidak berpengaruh banyak, sebab Zayyan selalu memperlakukan dirinya seperti seorang teman.


"Hari ini nggak nginep, kan?" tanya Zayyan usai menggeret satu buah kursi dan duduk di sebelah Zahira. Mereka sedang berada di ruang istirahat. Tidak hanya berdua, ada beberapa dokter lain yang juga sedang menggunakan waktu istirahat mereka untuk rebahan di kasur sederhana yang telah disediakan.


"Enggak, saya pulang." tutur Zahira. Lagipula, mana bisa dia berlama-lama di rumah sakit ini kalau dia tahu kekasihnya malah sedang menunggui perempuan lain di salah satu kamar rawat yang ada di sini? Malah kalau boleh, Zahira ingin pulang lebih cepat.


"Mau pulang sama saya?"


Ide buruk. Kalau Juan tahu, kondisi hubungan mereka akan semakin sekarat. Zahira tidak mau itu terjadi. Tidak peduli sedang seberapa kesal dan sakit hatinya ia kepada Juan, Zahira masih ingin mempertahankan hubungan mereka sedemikian rupa. Juan juga masih berhutang penjelasan kepada dirinya tentang alasan mengapa lelaki itu bersikap aneh sejak semalam. Dan meski dia tidak akan mencecar lelaki itu untuk segera bicara, Zahira masih berharap kekasihnya itu akan segera buka mulut hari ini juga.


Maka dengan senyum tipis yang sudah menjadi setelan alami, Zahira menggelengkan kepala. "Makasih sebelumnya, Mas. Tapi saya mau mampir dulu ke suatu tempat, jadi saya pulang sendiri aja." Ia beralasan.


Zayyan bukan tipikal yang suka memaksakan kehendak, jadi penolakan yang datang dari Zahira dia terima dengan lapang dada. Tak lupa menyunggingkan senyum kepada perempuan itu untuk memberi jaminan bahwa ia tidak apa-apa, tidak sakit hati sama sekali atas penolakan tersebut.


"It's okay. Kamu makan dulu gih,"


"Mas Zayyan udah makan siang?" tanya Zahira seraya membuka kotak makan siang.


"Udah. Saya temenin kamu aja."


"Ya udah," lalu Zahira mulai menyendok nasi. Dikunyahnya perlahan bulir-bulir nasi yang agak keras itu, dia telan dengan susah payah.


Di sela kunyahan, obrolan-obrolan ringan terjadi. Beberapa berakhir membuat mereka tertawa pelan, beberapa yang lain berujung pada pembahasan yang lebih serius dan membuat mereka sesekali melemparkan argumen.


Asyik sekali. Itu dari sudut pandang orang lain. Tapi dari sudut pandang Juan yang kini sedang berdiri di balik pintu ruang istirahat, pemandangan itu membuat dadanya kian terasa sesak. Pandangannya lantas turun, meratapi kantong berisi makan siang yang niatnya hendak dia berikan kepada Zahira. Mati-matian dia mengumpulkan niat. Makanan itu juga sudah sempat berdiam di kamar rawat Moana karena niat yang dia inginkan belum terkumpul banyak. Tapi begitu sudah dapat, dia malah menemukan kekasihnya sedang memakan makanan yang dibelikan oleh laki-laki lain.


"Sialan." Ia mengumpat pelan. Entah kepada siapa pastinya umpatan itu dia berikan. Bisa jadi malah untuk dirinya sendiri yang kalah cepat melawan emosi.


"Mas, nyari siapa ya?"


Suara asing itu menginterupsi. Juan menoleh cepat, menemukan seorang laki-laki seusianya berdiri dengan tatapan kebingungan. Dari outfit yang dikenakan, lelaki itu jelas merupakan seorang dokter.


"Saya salah ruangan." Sahut Juan dingin, lalu ia berbalik. Namun, baru satu kali langkahnya terayun, dia berhenti lagi. Dipandanginya sekali lagi kantong di tangan, bingung hendak diapakan.


Kemudian, tanpa berpikir lebih lama, dia menyerahkan kantong itu kepada dokter laki-laki tadi. "Buat Mas aja, saya udah kenyang." Ucapnya, kemudian berlalu dengan langkah yang terayun lebar.

__ADS_1


Bersambung


BODO AMAT LAH, CAPEK NGELIAT DUA ANAK MANUSIA INI, ENTAH MAUNYA APA!!!


__ADS_2