Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
My Baby


__ADS_3

Tujuh hari menunggu, mobil yang Juan pesan akhirnya tiba. Namun, karena Zahira merasa dia masih tidak berhak untuk menyentuhnya, dia pun membiarkan benda itu tetap terparkir di halaman rumahnya (sebab garasinya hanya muat untuk satu mobil dan satu sepeda motor milik Abi) sampai nanti si empunya datang menjemput.


Beberapa hari terakhir, sejak Juan resmi menjadi seorang muslim, lelaki itu lebih sering datang ke rumah. Tujuannya adalah untuk pergi ke masjid bersama Abi, sesekali juga pergi kajian menggantikan posisi Andan yang sebelumnya menjadi partner in crime Abi. Sejauh ini, apa yang Zahira lihat dari Juan hanya perubahan-perubahan positif, dan tentu saja dia senang.


“Tuh anaknya.” Tunjuk Umi Maryam yang mendampingi Zahira duduk di teras depan menyaksikan matahari perlahan-lahan tenggelam.


Zahira menaikkan pandangan, menyambut Juan yang muncul dari gerbang depan dengan senyum lebar yang sampai membuat matanya menghilang. Lelaki itu datang dalam balutan kaus pas badan warna putih yang dibalut lagi menggunakan outer kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu tua, celana kolor pendek berwarna hitam selutut dan sandal rumahan berwarna hitam juga. Di kedua tangannya, ada kantong belanja berukuran besar yang entah apa isinya.


“Assalamualaikum!!!” sapa lelaki itu riang.


“Walaikumssalam.” Umi dan Zahira menjawab serempak. Keduanya lantas bangkit sebelum Juan sampai di hadapan.


“Tolongin, Yang.” Kata Juan seraya mengulurkan satu kantong di tangan kanannya kepada Zahira. Yang perempuan pun refleks menerima. Sesudah itu, Juan menggunakan tangannya yang bebas untuk menjabat tangan Umi Maryam dan melabuhkan kecupan di punggung tangan perempuan itu.


“Ini isinya apa? Berat.” Rengek Zahira setelah prosesi cium tangan itu selesai.


Juan yang tidak kuasa menahan gemas hampir saja mencubit belahan pipi Zahira, namun urung karena ada Umi Maryam di sampingnya. Akhirnya, tangan yang sudah terulur dia alihkan untuk meminta kembali kantong plastik yang dia titipkan kepada kekasihnya itu.


“Buah-buahan. Ada semangka satu biji, jeruk, apel, jambu kristal, melon.” Juan menjelaskan. Lalu, dia mengangkat satu lagi kantong yang ada di tangan kiri. “Kalau ini isinya camilan, roti tawar, roti manis, susu, teh, sama kopi.”


“Banyak amat? Mau buat apaan?” itu suara Umi Maryam. Khas ibu-ibu sekali, tidak suka jika ada sesuatu yang mubazir.


Juan beralih menatap calon ibu mertuanya, lantas menyengir lebar. “Sebagai sogokan, soalnya Juan mau izin ajak Zahira malam mingguan pakai mobil baru.”


“Dasar.” Umi Maryam membalas. Namun tak urung juga ikut tersenyum. “Udah salat asar belum kamu?”


“Loh, jelas udah, dong, Umi. Udah ganteng gini, masa belum salat.” Tutur Juan seraya membusungkan dadanya. Ah, sombong sekali mualaf satu ini.


Umi Maryam geleng-geleng kepala, namun senyum di bibirnya masih tidak luntur juga. Dia hanya bisa menyelipkan doa, semoga semangat Juan untuk taat beribadah akan terus membara sebesar ini nantinya. Jangan hanya diawal-awal saja, lalu di tengah-tengah menjadi kuyu.


“Ya udah, masuk dulu gih. Jalan habis isya aja sekalian, biar enggak ada salat yang tertunda.”


“Siap!” sahut Juan dengan begitu semangatnya. Kali ini, Zahira yang dibuat geleng-geleng kepala.


Mereka bertiga pun berjalan masuk, meninggalkan senja yang datang sempurna dengan perpaduan warna oranye dan merah muda.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Sesuai rencana, setelah selesai menunaikan salat isya berjamaah di masjid bersama Abi Hamzah, Juan memanaskan mobil untuk bersiap-siap melewati malam minggu yang penuh dengan warna-warna cinta.


“Kamu mau jalan cuma pakai kolor begitu?” tanya Zahira seraya bersedekap. Tidak seperti Juan yang masih dengan outfit gembelnya, Zahira sudah rapi dengan gamis dan kerudungnya yang klimis.


Juan tersenyum. Ia lalu mematikan mesin dan berjalan mendekati Zahira yang berdiri di dekat pintu masuk. “Emang kenapa kalau cuma pakai kolor? Kamu malu jalan sama aku kalau aku kayak gembel gini?” tanyanya iseng. Dia tahu, sebentar lagi Zahira akan mencak-mencak.


Benar saja, Zahira langsung mendelik dengan bibir yang merengut full. “Yang bilang gembel tuh siapa? Aku nanya karena itu paha kamu bakal ke mana-mana kalau dipakai duduk. Nggak risi emang kalau nanti dilihatin sama orang?”


“Oh... ceritanya cemburu? Takut paha mulus aku dilirik sama cewek lain, ya, Yang?” semakin Zahira memberengut, semakin semangat pula Juan menggoda.


“Nggak.” Zahira menjawab singkat. Perempuan berkerudung merah itu kemudian menyambar tas tangan miliknya, lalu ngeloyor begitu saja masuk ke dalam mobil padahal belum dipersilakan oleh si empunya.


Tahu bahwa level pundungnya Zahira sudah mulai gawat, Juan pun berhenti bermain-main. Dengan membiarkan Zahira ngadem sendirian di mobil, dia masuk lagi ke dalam rumah. Untuk kembali beberapa menit setelahnya dengan setelan yang lebih manusiawi.


Celana pendek yang kata Zahira membuat pahanya ke mana-mana itu dia ganti dengan celana jeans sobek-sobek warna biru muda. Kaus pas badan yang sebelumnya juga dia ganti menggunakan kaus pas badan lain yang lebih layak (kaus yang sebelumnya itu tanpa lengan, itulah mengapa dia masih memakai outer untuk melindungi otot lengannya terekspos ke mana-mana).


“Tok... Tok....” ucapnya, mengetuk kaca mobil beberapa kali.

__ADS_1


Masih dengan wajah yang cemberut, Zahira menurunkan kaca mobil.


“Nih, aku udah ganteng.” Juan membanggakan diri.


Zahira hanya bisa menghela napas pasrah, lalu meminta Juan segera masuk agar mereka tidak kemalaman.


Seperti mendapatkan titah dari Kanjeng Ratu penguasa alam, Juan segera berjalan memutar, membuka pintu mobil dengan semangat lalu duduk di belakang kemudi. “Siap?” tanyanya seraya memasang seatbelt.


Zahira tidak menjawab, malah melengos saja menatap lurus ke depan. Sontak saja, hal itu membuat Juan keheranan. Senyumnya pudar, dan dia mulai bertanya-tanya; salah apa lagi nih gue?


“Yang?”


“Baju kamu ketat.” Hanya itu, tapi sudah cukup untuk membuat Juan mengembuskan napas dengan begitu dramatisnya.


“Ini doang yang ada di rumah kamu, Yang. Masa iya aku harus pulang dulu? Kemalaman dong nanti kita?” Ia berusaha memberikan penjelasan.


Lagi-lagi, Zahira tidak menyahut. Masih saja cemberut dan sekarang ditambah dengan gestur membalikkan badan yang membuat Juan hanya bisa menatapi punggungnya saja.


Menikah itu soal menerima. Juan mengulangi kalimat itu lagi. Ada kalanya, dalam beberapa kali kesempatan, Zahira memang akan berubah menjadi semenyebalkan ini. Hal-hal kecil yang padahal menurut Juan tidak penting untuk diributkan pun kadang-kadang bisa mengusik Zahira jauh lebih banyak. Tak jarang, hal itu membuat Juan gerah. Rasa-rasanya, ingin dia makan kekasihnya itu hidup-hidup.


Akan tetapi, sekali lagi, jika dilihat-lihat secara keseluruhan, sikap menyebalkan itu hanya datang beberapa kali. Jika dibandingkan dengan sikap dewasanya yang tiada dua dan sabarnya yang seluas samudra, rasanya tidak adil jika Juan merasa marah begitu saja. Karena bukankah manusia memang tempatnya salah dan segala hal-hal yang menyebalkan? Jika menilik ke dalam dirinya sendiri pun, kurangnya ia juga masih lebih banyak.


Berbekal pemikiran itu, Juan dengan lembut menyentuh bahu Zahira. “Mau kita pulang dulu ke rumah aku?” tawarnya sebagai solusi pertama. “Atau aku ambil outer aku yang tadi aja, ya? Nggak apa-apa, deh, nggak nyambung, yang penting lekuk badan aku nggak kelihatan, kan?” dan itu adalah opsi yang kedua.


Untuk beberapa lama, Zahira tidak mengatakan apa-apa. Sepasang netranya berlarian mengejar manik Juan yang terpaku padanya.


“Mau yang mana, hmm?”


“Nggak usah, kita jalan aja.” Putus Zahira pada akhirnya.


Zahira mengangguk. “Nanti kemalaman.”


“Ya udah, pastiin seatbelt kamu udah kepasang dengan benar. Kita jalan sekarang.” Tepukan lembut Juan labuhkan beberapa kali ke kepala Zahira. Yang perempuan tidak menjawab, hanya mengangguk singkat dan mereka pun memulai perjalanan.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Sejauh yang Juan tahu, hanya ada dua kemungkinan kenapa sikap menyebalkan Zahira bisa muncul. Pertama, jika siklus bulanannya sudah dekat dan perasaan perempuan itu menjadi lebih sensitif. Kedua, karena lapar.


Karena siklus bulanan Zahira sudah lewat jauh, maka yang malam ini berlaku berarti adalah kemungkinan yang kedua. Jadi tanpa banyak bertanya ini itu, Juan langsung melipir ke sebuah tenda pecel ayam terdekat yang pertama kali mereka lewati.


Zahira bukan tipikal perempuan yang akan menjawab terserah jika ditanya ingin makan apa, dan Juan sendiri bukan seseorang yang ingin repot memikirkan mereka hendak makan apa. Asal tidak beracun, dia akan makan apa saja. Jadi bukan hal aneh jika dia bisa dengan mudah memutuskan untuk makan di tenda pecel ayam seperti malam ini.


“Ayam dua ya, Mas, dada. Nasinya yang biasa aja, jangan yang uduk. Satu es teh manis, satu teh tawar hangat.” Tanpa bertanya juga, Juan langsung menyebutkan pesanan. Zahira ngapain? Dia pasrah saja mengambil posisi duduk yang paling dekat dengan jalan. Sibuk menatapi lalu-lalang kendaraan. Mungkin, di dalam kepalanya saat ini juga perempuan itu sedang iseng menghitung berapa banyak motor yang melintas di depannya.


“Udah, itu aja?”


“Iya, itu aja.”


“Oke, ditunggu, ya, Mas.”


“Makasih.” Juan pun berjalan menghampiri Zahira.


Melihat kekasihnya yang melamun dengan mood yang sepertinya belum kunjung membaik, Juan memutuskan untuk tidak cerewet bertanya. Tapi bukan berarti dia juga diam saja dan membiarkan mereka hanya duduk bersebelahan tanpa melakukan apa-apa. Juan mengeluarkan hand sanitizer berbentuk spray dari dalam kantong celana, menarik kedua tangan Zahira lalu menyemprotkan benda beraroma jeruk nipis itu ke telapak tangan kekasihnya.


Meski masih enggan bicara, Zahira tidak menolak perlakukan Juan. Dia biarkan kekasihnya itu membantu mensterilkan tangannya.

__ADS_1


Karena pelanggan yang datang cukup banyak, Juan sempat khawatir kalau pesanan mereka akan datang cukup lama. Masalahnya, kalau dibiarkan terlalu lama kelaparan, Zahira yang kalem lemah lembut seperti putri raja ini bisa saja berubah menjadi zombie pemburu otak. Seram, anarkis.


Tapi untungnya, itu tidak terjadi. Tak sampai sepuluh menit sejak mereka duduk, pesanannya sudah datang dan diantarkan oleh seorang remaja laki-laki. Setelah sebelumnya es teh manis dan teh tawar hangat pesanannya diantarkan oleh pelayan yang lain.


“Dua ayam, dua nasi.” Ucap si remaja yang Juan taksir baru berusia 15 atau 16 tahun itu dengan sopannya seraya menurunkan dua piring nasi dan dua potong ayam beserta sambal dan lalapan dari nampan ke atas meja.


“Makasih, ya.”


“Sama-sama, Mas. Silakan.” Kemudian, remaja itu pamit undur diri.


“Berdoa dulu gih. Ayamnya biar aku pisahin dulu, masih panas.” Lalu tanpa menunggu Zahira menjawab, Juan segera menyuwir ayam bagian dada milik Zahira, memastikan suwirannya sesuai untuk porsi suapan Zahira. Tak peduli meski jari-jari tangannya serasa melepuh karena kepanasan, Juan hanya ingin Zahira makan dengan nyaman.


“Nah, udah. Makan yang banyak.” Juan menggeser piring ke hadapan Zahira.


“Makasih, Ju.”


“No prob, Sayangku, Cintaku, Kasihku.” Jawab Juan dilebih-lebihkan.


Tidak adanya omelan balik dari Zahira membuat Juan mengulum senyum. Itu artinya, mood kekasihnya itu sudah berangsur membaik.


Kemudian, mereka makan dengan tenang. Memang tidak pernah ada percakapan apa pun yang terjadi selama prosesi makan. Abi Hamzah bilang, selain tidak sopan, berbicara saat sedang makan bisa meningkatkan risiko tersedak dan itu sangat berbahaya. Makanya, beliau selalu mewanti-wanti kepada Zahira dan Juan untuk fokus makan dan mengobrol setelahnya.


Udara Jakarta yang panas meski di malam hari, ditambah makanan mereka yang juga masih panas mengepulkan asap, ditambah lagi sambal yang pedas, membuat peluh bermunculan di wajah keduanya. Alih-alih mengurusi peluhnya sendiri agar tidak merembes ke mata, Juan malah menarik beberapa lembar tisu menggunakan tangan kirinya yang bersih lalu menyeka keringat di wajah Zahira.


Interaksi tanpa kata itu telah membuat sepasang muda-mudi di meja sebelah memandang iri. Yang perempuan mulai komplain kepada kekasihnya, bertanya mengapa ia tidak melakukan hal yang sama untuk menyeka keringatnya yang sudah menyebar ke mana-mana. Sementara yang laki-laki cuek saja dan lanjut makan karena sepertinya, itu bukan kali pertama sang kekasih merajuk untuk hal-hal apa pun yang dia lihat dari pasangan lain yang mereka temui di jalan.


Percakapan itu sampai ke telinga Zahira, membuat perempuan itu merasa tidak enak dan serta-merta meminta Juan untuk berhenti memperlakukannya seperti putri raja.


“Nggak ada.” Tolak Juan, kali ini dia malah menggunakan lembaran tisu yang lain untuk mengelap sudut bibir Zahira yang belepotan sambal. “Love language orang beda-beda, kamu nggak bisa nyuruh aku buat berhenti jadi act of service cuma supaya nggak bikin iri orang lain.”


“Bukan gitu,” Zahira berbisik seraya melirik tidak enak ke meja sebelah. “Kasihan kalau mereka jadi berantem karena ngelihat kita.”


“Bodo amat.” Sahut Juan tak acuh. “Habisin aja makananmu, nggak usah tengok kanan kiri.”


Kembali merengut, Zahira menyuapkan nasi ke dalam mulut dengan agak sewot.


“Pelan-pelan, nanti keselek.” Juan menegur. Dia sudah selesai makan lebih dulu, sudah mencuci tangannya juga dan hanya tinggal menunggu kekasihnya. “Aku nggak akan ke mana-mana.”


Berhubung sudah ditegur, Zahira pun kembali makan dalam mode normal. Tiga suapan lagi, dan dia akhirnya selesai.


“Pinter.” Juan memuji. Lagi-lagi kepala Zahira menjadi sasaran mendaratnya tepukan pelan dari tangan besar Juan. Kali ini, alih-alih seperti sepasang kekasih, Juan malah seperti sedang momong adiknya sendiri.


“I am not a baby.” Protes Zahira.


“You are.” Kekeuh Juan. “You are my Baby.”


🍁


🍁


🍁


Cuz she’s my Baby, and forever will be. –Juananda Bucin Saputra


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2