
“Kamu ngomong apa tadi?” Chintya meletakkan cangkir teh ke atas meja, lalu beralih menatap Juan serius.
“Juan mau ngelamar Zahira.” Juan menjawab tanpa ragu. Seharian merenung di dalam kamar, dia akhirnya keluar ketika matahari sudah sepenuhnya terbenam. Kebetulan sekali rumah sedang dalam keadaan sepi karena anggota keluarga yang lain sedang pergi, hanya menyisakan dirinya dan sang ibu saja.
“Nggak ada.” Seraya memijit pelipisnya untuk meredakan pusing yang seketika mendera, Chintya memberikan keputusan. “Kalian beda segala-galanya, Juan. Mama nggak akan kasih izin kamu menikah sama perempuan itu.”
“Zahira. Namanya Zahira.” Juan mengoreksi. Muak sudah dia mendengar ibunya hanya terus memanggil Zahira dengan sebutan perempuan itu.
“Whatever.” Chintya mengibaskan tangannya tak peduli. “Pokoknya Mama nggak setuju.”
Tadinya, Juan berniat untuk minta izin baik-baik seperti apa yang sudah Reno arahkan kepadanya tadi pagi. Akan tetapi, melihat sikap ibunya yang terkesan sama sekali tidak menghargai Zahira, Juan merasa tidak ada cara lain selain bersikap keras kepala.
Maka dengan angkuhnya, kemudian dia berkata, “Juan cuma ngasih tahu, bukan buat minta restu. Dengan atau tanpa restu Mama, Juan akan tetap menikahi Zahira.”
Mendengar hal itu, Chintya makin sakit kepala. Suara denging terdengar begitu melengking hingga rasa-rasanya dia ingin memukul kepalanya menggunakan sesuatu yang keras agar suara itu berhenti berputar di sekitarnya.
“Jangan keras kepala.” Chintya mencoba memperingatkan. Gigi-giginya terkatup rapat, sekuat tenaga menahan emosi agar tidak meledak-ledak. “Masih banyak perempuan yang lebih baik buat kamu nikahi.”
“Nggak ada yang lebih baik daripada Zahira.”
“Ju!” Chintya berseru. Sampai-sampai, wanita berbaju hitam itu bangkit dari duduknya, menatap tajam ke arah Juan.
Akan tetapi, tatapan tajam itu tidak berarti apa-apa bagi Juan yang sudah kadung membulatkan tekadnya. Di pikirannya saat ini hanya ada nama Zahira, tidak ada yang lainnya.
“Juan akan tetap menikahi Zahira, Mama.” Tegas Juan sekali lagi. Dia ingin memberi tahu kepada ibunya—dan seluruh dunia—bahwa tidak akan ada manusia mana pun yang bisa menghalangi niatnya. “Pilihan Mama cuma satu; kasih restu."
__ADS_1
Tapi bagi Chintya, tidak ada yang menguntungkan dari pilihan yang Juan berikan kepadanya. Sebagai seorang ibu, Chintya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ia ingin Juan menikah dengan seseorang yang sepadan dengan mereka, demi menghindari adanya kesulitan di masa yang akan datang. Sementara gadis yang saat ini sedang diperjuangkan oleh Juan jelas jauh sekali dari standar yang dia harapkan. Sudahlah hanya anak seorang guru, beda agama pula. Lantas, apa yang bisa dia nantikan dari pernikahan itu?
“Mama tetap nggak kasih izin.” Chintya yang sama keras kepalanya.
Juan tahu, meminta izin kepada ibunya memang tidak akan pernah mudah. Itu sebabnya, dia tidak benar-benar berniat melakukannya sejak awal. Pokoknya, yang terpenting adalah dia sudah berusaha. Urusan ibunya memberi izin atau tidak, dia tidak peduli lagi. Apa pun yang terjadi, rencananya untuk melamar Zahira tetap akan dilaksanakan. Dia bahkan sudah memesan cincin, jadi tidak ada hal apa pun yang boleh menggagalkan rencananya.
Sudah lelah berdebat, Juan pun memutuskan untuk tidak lagi menyahuti perkataan ibunya. Dia berbalik, hendak kembali ke dalam kamarnya ketika suara sang ibu membuatnya terpaksa untuk kembali berhenti.
“Kalau kamu tetap nekat menikahi perempuan itu, maka kamu harus siap kehilangan semuanya. Rumah, mobil, pekerjaan. Kembalikan semuanya karena itu semua kamu dapat dari Mama dan Papa.” Chintya pikir, dia akan bisa membuat Juan mengurungkan niat Juan dengan ancaman tersebut.
Ayolah, seluruh dunia juga tahu bahwa seorang Juananda Saputra sudah terbiasa hidup dalam gelimang harta. Mana bisa anak itu jika tiba-tiba disuruh untuk hidup menggelandang, apalagi hanya demi seorang perempuan yang tidak seberapa?
Chintya sudah menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika Juan tidak kunjung menjawab dan hanya terus menatapnya. Namun, senyum itu seketika sirna ketika Juan justru mengangguk mantap dan berlalu dari hadapannya setelah berkata “Oke.” tanpa sedikit pun keraguan.
Tubuh Chintya membeku. Dia sepenuhnya kehilangan kata-kata dan yang bisa dia lakukan hanya menatapi punggung lebar putranya yang berderap menjauh tanpa sedikit pun kesempatan untuk dia bisa melihatnya berbalik barang sedikit. Sampai pada akhirnya, tubuh Chintya merosot ke bawah. Ia terduduk tak berdaya di lantai teras yang dingin, pas ketika hujan turun mengguyur tanpa ampun.
...
Dengan tenang, Juan memasukkan satu persatu pakaian ke dalam koper besar berwarna biru tua. Baju-baju itu dia pilih dengan hati-hati dari dalam lemari, memastikan semua yang dia masukkan ke koper hanyalah baju-baju yang dia beli menggunakan uang gajinya selama bekerja di perusahaan milik keluarga. Semua yang dia beli menggunakan kartu kredit pemberian orang tuanya dia tinggalkan, tak berniat sama sekali untuk dia bawa serta.
Selain pakaian, Juan juga hanya membawa barang-barang lain yang dia beli dengan uang gajinya. Tab yang tadi pagi Reno jatuhkan itu termasuk, jadi dia memungut benda itu dari atas nakas lalu memasukkannya ke dalam ransel.
Tidak butuh banyak waktu bagi Juan untuk selesai berkemas karena memang hanya sedikit barang yang sudah dia beli menggunakan uangnya sendiri. Meskipun begitu, dia bersyukur karena setidaknya masih ada barang-barang yang bisa dia bawa sehingga dia tidak benar-benar pergi hanya dengan tangan kosong.
Usai berkemas, Juan beralih merogoh saku jaket untuk mengambil dompetnya. Dari dalam dompet kulit itu, dia mengeluarkan 3 buah kartu kredit dan 2 kartu debit dari bank swasta yang berbeda. Benda-benda itu kemudian dia letakkan ke atas nakas, dia tinggalkan bersama kunci mobil dan kunci motor yang sudah lebih dulu dia letakkan di sana.
__ADS_1
Sudah beres. Dia sudah siap pergi dari rumah yang telah dia huni selama beberapa tahun terakhir ini. Meski berat karena itu artinya dia harus berpisah dengan Reno, namun Juan tetap mengayunkan langkahnya. Dia yakin ini yang terbaik. Karena untuk membayangkan hidupnya akan berakhir tanpa Zahira, dia masih tidak sanggup.
Juan meraih tas punggung miliknya, menyampirkannya hanya di satu sisi bahu lalu tangannya yang lain meraih pegangan koper dan dia siap memulai perjalanan panjangnya.
Satu demi satu langkahnya terayun. Tidak ada keraguan sama sekali. Dia sudah sangat mantap untuk memulai hidup baru tanpa bayang-bayang keluarganya.
“Ju,” bahkan panggilan yang terdengar sendu itu, sama sekali tidak menggoyahkan hati Juan. Dia hanya berhenti sebentar di ruang tengah, melepaskan koper dari genggaman untuk sekadar meraih tubuh ibunya dan memeluknya sebentar sebagai salam perpisahan.
“Jaga diri baik-baik,” bisiknya pada sang ibu. Alih-alih pergi dengan perasaan marah, Juan hanya ingin ibunya tahu bahwa ini adalah keputusan yang akan dia buat meski ibunya tidak pernah menawarkan pilihan.
“Jangan pergi.” Tapi, sudah terlambat. Seharusnya, Chintya tidak mengatakan kepada Juan untuk angkat kaki karena anak itu tidak pernah menganggap sesuatu—apa pun itu—sebagai sebuah lelucon. Sekali dia mendengar seseorang berkata A, maka dia akan menganggapnya begitu. Jadi tidak peduli sehebat apa bujuk rayu itu, dia tidak akan kembali untuk membongkar isi di dalam koper yang sudah dia tata sedemikian rupa—sama seperti bagaimana dia menata masa depannya.
“Kalau Juan tetap di sini, nggak akan ada jaminan kalau Mama bakal restuin Juan menikah sama Zahira.” Ucap Juan setelah menarik diri dari pelukan. Tidak ada kebencian yang terpancar dari sorot matanya ketika menatap sang ibu. “Sekalipun bukan karena hal ini, Juan emang udah punya niat untuk pergi. Untuk hidup lebih mandiri supaya nggak terus-terusan nyusahin Mama dan Papa sampai nanti Juan mati.” Sambungnya.
Chintya tidak bisa mengatakan apa-apa, lidahnya kelu. Menyesal pun sudah tidak berguna karena dia sendiri yang paling tahu betapa keras kepalanya seorang Juananda Saputra.
“Juan cuma pergi buat hidup lebih mandiri, bukan buat berhenti jadi anak Mama. Jadi nggak usah sedih.” Setelah mengatakan itu, Juan memeluk ibunya sekali lagi. Bonus sebuah kecupan yang dia labuhkan ke puncak kepala perempuan itu.
“Nanti kalau Reno pulang, bilang aja Mama nggak tahu kalau Juan pergi. Biarin aja, biarin dia ngamuk.” Sambil cengengesan, Juan meraih kembali kopernya. “Nanti tiap weekend Juan main ke sini, itu juga kalau Mama bolehin.” Sambungnya. Lalu tanpa membuang lebih banyak waktu, Juan melanjutkan kembali langkahnya setelah menyempatkan diri berkata “See you, Mama.” Dengan senyum yang terkembang sempurna.
Berat. Juan harus mengakui keputusan ini memang berat untuk dia ambil. Tapi setidaknya, dia merasa lega karena hari ini dia tidak pergi dengan emosi yang menguasai diri. Dia pergi sambil mengucapkan kalimat pamit baik-baik, bahkan memberikan pelukan dan kecupan perpisahan untuk ibunya.
Dan, kalian tahu apa? Itu semua berkat Zahira dan kedua orang tuanya. Karena kalau Juan tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang level sabarnya setinggi mereka, Juan tidak akan pernah sampai pada tahap di mana dia bisa menanggapi kemarahan ibunya dengan cara yang setenang ini.
Kalau ini adalah Juan dari bertahun-tahun lalu, sebelum dia bertemu dengan Zahira, Juan pasti sedang berjalan dengan langkah yang mengentak-entak dan emosi yang meluap.
__ADS_1
Maka di titik ini, semakin besar keyakinan Juan untuk mengatakan bahwa; memang Zahira lah orangnya.
Bersambung