
Juan berlarian tunggang-langgang, menerobos apa saja untuk bisa sampai ke ruangan yang disediakan khusus oleh pihak wedding organizer untuk menerima tamu penting, seperti kerabat jauh ataupun teman-teman yang level dekatnya sudah seperti urat dengan nadi. Sarung yang masih melilit di pinggangnya pun seakan tidak menghalangi ayunan langkahnya untuk sampai ke ruangan itu secepat mungkin.
Pintu ruangan berwarna putih gading dengan ornamen ukiran di bagian tepi itu masih tertutup rapat kala dia sampai di depannya. Dengan tangan yang bergetar, dia meraih handle lalu membuka pintu itu secara perlahan.
Perasaannya kembali mengharu biru saat matanya menemukan sosok kawan lama yang begitu dia rindukan tengah duduk di salah satu kursi, khidmat menatapi foto prewedding yang tertempel di dinding.
“Bas,” panggilnya pelan.
Tangisnya pun tak lagi mampu terbendung kala Baskara menolehkan kepala, dan tatapan mereka bertemu. Sambil terisak-isak, Juan berjalan cepat menghampiri Baskara yang juga sedang bergerak bangkit dari kursi. Tubuh Baskara yang lebih kecil darinya pun dia rengkuh, dia peluk erat sekali sampai dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu.
“I miss you so much, bajingan!” cicitnya. Air matanya sudah tumpah ruah, membasahi bahu Baskara yang terbalut kemeja putih.
“You’re still a cry baby.” Ucap Baskara seraya membalas pelukan Juan tidak kalah eratnya. Kekehan ringan lolos begitu saja, tak sempat ditahan meski suasana baru masih kental terasa.
Kalau di hari-hari lalu di masa silam, Juan akan langsung mengamuk ketika salah satu di antara anggota Pain Killer menyebutnya ‘Cry Baby’. Apalagi jika orangnya ada Pramudya Baskara, si biang onar yang selalu membuat tensinya naik hingga level paling maksimal. Tapi untuk kali ini, bahkan jika Baskara mengatakannya sebanyak jutaan kali, Juan tidak akan protes. Dia akan menerimanya dengan lapang dada, karena kenyataannya, dia memang cengeng untuk hal-hal yang berkaitan dengan orang-orang tersayang.
“Congratulations, bro.” Ucap Baskara lagi. Dia tidak keberatan meski tubuh Juan yang berat kini terasa seperti bersandar kepadanya. Luapan rindu yang menggebu-gebu itu akan dia terima, dengan senang hati.
Juan tidak merespons ucapan selamat itu karena dia masih sibuk menangis. Suara Reno yang mengomel dari arah belakang pun tidak dia gubris sama sekali. Kerinduannya yang dia pendam sendiri telah bertumpuk menjadi banyak, memenuhi satu ruang di hatinya yang kemudian menjadikannya amat sesak. Kini, ketika dia memiliki kesempatan untuk mengeluarkan semua tumpukan rindu itu, dia tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun yang dia miliki.
“Ju, gue kehabisan napas!” dan protes itulah yang pada akhirnya baru mampu membuat Juan melepaskan pelukan.
__ADS_1
Sambil menyeka air mata yang membuat wajahnya sepenuhnya memerah, Juan menatap Baskara dengan mata sembabnya yang masih punya banyak sekali stok air mata. Dia mungkin akan menghabiskannya untuk hari ini.
“Gue datang buat ikut merayakan pernikahan lo sama Zahira, Ju. Bukan buat bikin lo nangis kayak gini.” Seraya menyunggingkan senyum lembut, Baskara membantu mengusap air mata Juan menggunakan lengan kemejanya. Tidak masalah jika menjadi basah, atau sisa-sisa bedak dari wajah Juan menempel di sana. Kemeja itu ada banyak di pasaran, Baskara akan selalu bisa membeli yang baru. Tetapi teman seperti Juan yang kelihatan cuek padahal aslinya care parah, tidak akan bisa dia temui di sembarang tempat.
“Lo...” Juan menjeda dengan cepat. Selain karena napasnya yang tersengal karena habis menangis, dia juga tiba-tiba salah fokus pada bobot tubuh Baskara yang turun drastis. Pipi gembil yang dulu selalu menjadi sasaran cubitannya kini sirna, tergantikan degan pipi kelewat tirus yang sama sekali tidak cocok dengan dirinya. Lalu rambut undercut dengan poni lempar ala artis Korea yang khas Baskara sekali juga sudah menghilang, tergantikan dengan rambut hitam legam bertekstur kasar yang panjangnya sampai menyentuh leher. Dan yang lebih membuat Juan merasa miris adalah penampakan tulang selangka yang sangat menonjol, membuat Baskara nyaris terlihat seperti anak-anak kurang gizi.
“Biru nggak ngasih makan lo dengan benar, ya? Lo kurusan.” Ditahan-tahan, pertanyaan itu akhirnya tetap keluar.
“Yang kurus begini memang lagi tren, gimana sih?! Nangis mulu sih kerjaan lo, jadinya nggak melek sama tren masa kini!” itu bukan suara Baskara, tentu saja. Melainkan suara Reno yang sedang dalam mode waspada. Ia hanya tidak ingin pertanyaan soal bobot tubuh Baskara yang turun drastis akan merembet ke mana-mana dan merusak momen pertemuan mereka setelah sekian lama.
“Cuma turun dikit, nggak sebanyak kelihatannya kok. Nggak perlu worry.” Timpal Baskara. Tidak ingin Juan merasa bersalah hingga berakhir canggung.
Juan mengelap sisa air matanya, lalu mulai mengatur napas agar lebih stabil supaya dia bisa berbicara dengan benar. Setelah mampu, dia celingukan, mencari keberadaan satu orang lagi yang seharusnya turut hadir di sini bersama Baskara.
“Ada di depan, sama Albert.” Jawab Baskara.
Juan mengangguk-anggukkan kepala, lalu kembali menatap Baskara seolah-olah hanya lelaki itu yang bisa dia lihat di dalam dunianya.
Kenangan demi kenangan dari pertemanan mereka di masa lalu mulai berseliweran, silih berganti mengisi ruang-ruang kosong di hati dan kepalanya yang selama ini terasa hampa. Sejak kepergian Baskara dan Fabian, dia tidak lagi memiliki pertemanan yang seperti itu.
“Sialan.” Tiba-tiba Juan mengumpat lagi. Ada rasa yang tak terbendung di dadanya, membuatnya ingin kembali menangis. “Gue mau meluk lo lagi boleh nggak sih, Bas?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
Baskara tertawa renyah, kemudian dengan senang hati merentangkan tangan lebar-lebar. Kali ini bukan hanya untuk memeluk Juan, tetapi juga agar Reno pun bisa turut masuk ke dalam pelukan.
Ketiganya lantas saling merangkul, memegang erat bahu-bahu mereka yang lunglai demi menyalurkan kekuatan. Mereka tahu, masih ada ruang kosong yang harus diisi oleh satu orang lagi. Tapi untuk saat ini, biar dulu mereka bertiga yang mencoba memperbaiki semuanya. Agar ketika satu lagi bagian dari mereka kembali, semuanya sudah jauh lebih baik.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Baru beberapa jam menyandang status sebagai istri Juan, Zahira sudah tersingkirkan. Lelaki yang seharusnya menemaninya menyambut tamu di pelaminan itu malah asyik sendiri, tertawa cekikikan bersama kawan lama yang baru ditemuinya lagi setelah bertahun-tahun berpisah. Tamu undangan pun dibuat keheranan, tak sedikit yang merasa iba pada Zahira yang seperti sedang menikah dengan dirinya sendiri.
“Harap maklum,” sentuhan lembut di bahu membuat Zahira mengalihkan pandangan. Di sampingnya, berdiri Sabiru yang tampil anggun dalam balutan dress terusan berwarna biru tua dan bagian lengan yang agak terbuka. Rambut hitamnya yang sepanjang punggung dibiarkan tergerai bebas, tak diberi aksesoris apa pun untuk mempermanis tampilan. Sepasang anting kecil menempel di kedua tindik telinga, sedangkan wajahnya yang biasa polos tampak make up hari terlihat lebih segar dengan make up natural yang lebih mengutamakan riasan di bagian mata.
“Mereka bisa kayak gitu sampai berhari-hari kemudian,” sahut Albert, yang datang-datang membawa gelas berisi jus mangga. Entah didapat dari mana, yang jelas itu bukan bagian dari menu prasmanan di acara resepsi ini.
“It’s okay.” Zahira bersuara. Tatapannya kembali teralih kepada Juan yang semakin terlihat asyik bersama Reno dan Baskara. “Juan lagi nguras semua rasa rindu yang dia tabung dari lama. Dua hari, tiga hari, bahkan kalau itu butuh waktu sampai sebulan pun, aku nggak keberatan.”
“Si kunyuk itu beruntung banget bisa nikah sama perempuan sabar kayak lo.” Celetuk Biru lagi. “Karena kalau gue ada di posisi lo, udah gue seret dia biar balik ke pelaminan.” Sambungnya diakhiri kekehan.
Zahira turut menertawakan celetukan itu. Kalau dibilang sabar, dia sebenarnya tidak sesabar itu. Ada kalanya apa yang Juan lakukan juga membuat kesabarannya yang tidak seberapa banyak terkuras. Buktinya saja, mereka juga sering bertengkar, kan? Itu artinya, Zahira memang masih manusia biasa yang mampu kehilangan kesabaran.
Hanya saja, dia sudah menyisihkan lebih banyak stok sabar untuk beberapa hal yang memang memerlukan kesabaran dan pemakluman yang cukup besar. Tujuannya jelas, untuk menghindari konflik yang berkepanjangan. Itu semua juga tidak terlepas dari Juan yang kerap kali mengalah untuk mereka. Intinya, mereka hanya berusaha saling memaklumi satu sama lain agar hubungan mereka langgeng meskipun bada terus berdatangan menerpa.
Tamu-tamu masih berdatangan, bergantian menyalami Zahira dan sesekali bertanya ke mana perginya sang mempelai pria. Kemudian mereka hanya akan manggut-manggut kala diberi tunjuk posisi orang yang mereka tanyakan. Sebagian akan datang menghampiri, sebagian lagi memilih pergi karena tidak ingin menginterupsi.
__ADS_1
Hari itu, bukan hanya menjadi momen di mana sebuah pernikahan disahkan di hadapan para saksi, tapi juga sekaligus menjadi hari di mana Pain Killer yang lama bercerai, mulai menemukan jalan mereka untuk kembali.
Bersambung