Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Si Bagong


__ADS_3

"Si Adnan Bagong itu sering main ke sini, Za?"


Zahira menggelengkan kepala pelan mendengar Juan memanggil Adnan dengan sebutan Adnan Bagong. Dia tahu kekasihnya itu memang menganggap Adnan sebagai musuh bebuyutan, tapi ya nggak harus sampai segitunya juga mengganti nama orang, kan?


"Namanya Adnan Surya, Ju, jangan suka ganti-ganti nama orang sembarangan." Ia menegur setelah duduk di kursi seberang.


"Nggak, enakan dipanggil Adnan Bagong." Juan berkeras kepala. Sepotong tempe mendoan hangat yang barusan diletakkan oleh Zahira di meja teras langsung dia sambar, dimasukkan ke dalam mulut dan dia kunyah dengan semangat.


Tadinya, Juan berniat untuk segera pulang setelah adzan maghrib selesai berkumandang dan Zahira sekeluarga selesai menunaikan sholat. Tapi berkat adanya Si Adnan Bagong itu, Juan jadi mengurungkan niat. Ia akan stay di sini, sampai lelaki menyebalkan itu pamit undur diri.


"Kamu tuh kenapa nggak suka banget gitu sama Mas Adnan?" tanya Zahira keheranan. Juan memang pencemburu. Wajar sih, untuk bisa mendapatkan hatinya dulu, lelaki itu harus berjuang mati-matian dan mengorbankan banyak hal. Tapi selama ini kadar cemburu yang Juan miliki tidak sampai membuatnya membenci orang lain kok, tidak seperti yang sekarang dia lakukan kepada Adnan. "Padahal dia nggak pernah kelihatan macam-macam ataupun kayak mau nyari gara-gara sama kamu."


Potongan tempe mendoan yang sejatinya masih bisa digigit dua kali malah Juan lahap sekaligus, membuat mulutnya penuh dan pipinya menggembung parah sehingga dia harus selesai mengunyah dulu baru bisa menjawab pertanyaan Zahira. "Justru karena dia diam-diam aja makanya aku kesel." Jawabnya setelah berhasil menelan. Gelas berisi air putih yang sudah Zahira sediakan dia ambil dan isinya dia tenggak sampai tandas. "Dia tuh tipikal yang diam-diam menghanyutkan, tahu nggak? Modusnya ke sini sih buat ngajakin Abi kajian, padahal aslinya sekalian mau curi-curi pandang."


"Tahu dari mana? Ingat, nggak boleh suudzon sama orang, Ju." Zahira mengingatkan. Tak pernah lelah dia untuk selalu mengingatkan Juan agar menjadi pribadi yang lebih baik. "Kalau niat dia beneran cuma mau ngajakin Abi kajian, gimana? Dosa loh kamu udah berburuk sangka sama dia, itu jatuhnya fitnah."


Sambil berdecak sebal, Juan bergerak mencomot satu mendoan lagi dan mengigitnya dengan kasar. "Aku ini cowok, Za, dan si Adnan Bagong itu juga cowok. Jadi kurang lebihnya aku tahu lah, aku bisa bedain mana yang tulus, mana yang modus."


Menyerah sudah. Zahira tidak sanggup lagi membujuk Juan untuk berhenti memasang sikap antipati terhadap Adnan. Sudah, biarkan saja, biarkan lelaki itu melakukan apa yang dia mau, nanti juga lelah sendiri.


"Tapi, Za," Juan menghentikan kunyahannya, begitu juga Zahira yang seketika menggantungkan sepotong tempe mendoan di depan mulutnya. "Kamu nggak ada niatan buat tertarik sama si Adnan Bagong, kan?"


"Ju, please, lah. Mana ada sih mau tertarik sama orang harus direncanain dulu?" Zahira geleng-geleng kepala lagi. Makin ke sini, dia merasa Juan kok malah semakin aneh saja.


"Tuh, kan, berarti ada memungkinkan kalau kamu bakal tertarik sama Adnan Bagong, kan? Nggak suka deh aku." Juan pura-pura merajuk. Tempe mendoan yang dia pegang masih sisa setengah, namun dia sudah tidak berminat untuk menghabiskannya sehingga potongan yang tersisa itu dia kembalikan ke atas piring. Agak jorok dan tidak sopan, memang. "Bete ah, sama kamu." Lalu ia menyilangkan lengan di depan dada.


Seketika, selera Zahira untuk turut mencicipi mendoan buatan Umi sirna begitu saja. Dia ikut-ikutan meletakkan mendoan ke atas piring. Kemudian, tanpa bicara apa-apa, ia merentangkan lengannya lebar-lebar. "Sini." Ucapnya.


Juan menoleh, masih dengan bibir yang cemberut. "Apa?" tanyanya, pura-pura tidak tahu.


"Mau peluk, nggak? Kamu kalau lagi kangen biasanya suka aneh-aneh pikirannya, kan? Sini, aku peluk biar pikiran jeleknya hilang."


Mendengar itu, Juan tidak kuasa menahan senyum. Benar, kan, soal dia yang mengatakan Zahira itu anaknya peka? Tidak perlu dia banyak bicara pun perempuan itu sudah tahu harus melakukan apa untuk membuatnya berhenti merajuk.


"Sekarang banget? Di depan rumah? Kalau ada yang lihat gimana? Kamu nggak malu? Nggak takut dijulidin sama tetangga? Nanti kamu digosipin lagi. 'Ih, itu anaknya Abi Hamzah peluk-pelukan sama pacarnya di depan rumah, nggak sopan.' gitu."


"Oh, jadi nggak mau dipeluk? Ya udah kalau nggak mau." Zahira sudah hendak menurunkan kembali kedua lengannya, namun secepat kilat Juan bergerak mendekat, langsung saja masuk ke dalam dekapan Zahira yang hangat.

__ADS_1


"Dikasih pelukan sama perempuan yang paling aku sayang, masa iya nolak sih, Za?" gumamnya. Itu sampai di telinga Zahira, membuat perempuan itu tersenyum.


Pelukan itu berlangsung hanya selama beberapa detik saja, sebab Juan tidak ingin sampai ada yang melihat mereka dan Zahira betulan dinyinyiri oleh tetangga. Tidak lucu juga kalau tiba-tiba Abi Hamzah dan Adnan yang sedang sholat berjamaah di masjid pulang dan memergoki mereka sedang berpelukan. Pasti akan sangat awkward, dan Juan tidak mau itu terjadi.


Meski hanya beberapa detik, pelukan itu nyatanya tetap mampu membuat perasaan Juan lebih baik. Ya memang tidak bisa serta-merta menghilangkan perasaan tidak sukanya terhadap Adnan, sih. Tapi paling tidak, melalui pelukan itu Juan jadi punya lebih banyak alasan untuk tidak merasa takut. Setidaknya dia tahu, sampai detik ini, hati Zahira masihlah miliknya.


"Gitu dong senyum, orang kok hobi banget cemberut."


"Habisnya kamu cantik banget sih, Za, jadi akunya kan was-was terus takut kamu ditikung sama yang lain."


"Kamu nggak percaya sama aku?"


Juan menggeleng. "Aku percaya sama kamu, tapi aku nggak percaya sama cowok-cowok yang deketin kamu, terutama si Adnan Bagong itu."


"Udah, deh, jangan diterusin ngomongin soal itu. Mending kamu makan lagi nih mendoannya, habisin." Zahira sekonyong-konyong menyodorkan mendoan ke dalam mulut Juan, membuat lelaki itu mau tak mau harus menerimanya.


Sambil menggerutu kecil, Juan tetap memakan mendoan itu. Lalu detik berikutnya, ia tersenyum kala mendengar gelak tawa halus meluncur dari bibir Zahira. Membuat perempuan itu senang memang bukan perkara sulit. Hanya dengan hal-hal sederhana dan tingkah-tingkah itu random yang kadang di luar nalar saja sudah bisa membuat senyum Zahira terbit begitu cantiknya.


Di saat mereka sedang menikmati momen berdua yang bahagia, tahu-tahu saja terdengar ucapan salam dari arah gerbang. Sontak keduanya pun menghentikan tawa dan menoleh ke arah gerbang secara bersamaan. Rupanya, Abi Hamzah dan Adnan sudah kembali dari masjid.


"Kok di luar sih, Za? Nggak dingin?" tanya Abi Hamzah.


"Bohong, deh, Bi." Agak panik, Juan mengatakan itu kepada Abi Hamzah. Lalu ia kembali menoleh ke arah Zahira. "Enak aja kamu kalau ngomong! Yang ada kamu nih kayaknya yang sengaja ngajak aku duduk di sini biar bisa ngeliat mas-mas pulang pergi dari masjid. Iya, kan? Ngaku kamu."


"Dih, kok malah betah playing victim?"


"Ya kamu yang mulai duluan."


"Ngeselin."


"Ya kamu juga."


"Juan jelek."


"Zahira je—" Juan langsung mengerem mendadak. Tidak jadi, dia tidak akan mengatakan Zahira jelek karena perempuan itu selalu terlihat cantik di matanya.


"Apa? Zahira apa?"

__ADS_1


Ditantang begitu, Juan malah menyengir. "Zahira cantik, baik, sopan, rajin menabung, penyayang, uhhhhhhhh itu perfect."


Jawaban menggelikan itu bukan cuma membuat Zahira saja yang terkekeh, melainkan juga Abi Hamzah yang bahkan sampai geleng-geleng kepala melihat interaksi dua anak muda yang sedang jatuh cinta itu.


Satu-satunya yang tidak ikut menertawakan celetukan Juan adalah Adnan. Lelaki itu malah terlihat tidak nyaman.


"Bi, saya pamit pulang, ya." Ucap Adnan di tengah gelak tawa yang belum mereda. Otomatis, perhatian semua orang langsung tertuju padanya.


"Oh, iya, hati-hati di jalan ya, Nak Adnan." Abi menyodorkan tangannya untuk dicium oleh Adnan. Setelahnya, mereka bertiga membiarkan Adnan berlalu meninggalkan rumah Zahira dengan mengendarai sepeda motornya.


"Hu, dasar Bagong." Gerutu Juan dengan suara pelan setelah Adnan dan motornya menghilang dari jangkauan pandang.


Zahira yang mendengar itu lantas menyikut perut Juan, membuat sang empunya mengaduh kesakitan. "Udah, Juananda, jangan kayak gitu terus." Tegur perempuan itu.


Namun, seperti sudah memiliki dendam kesumat, Juan lagi-lagi membuka mulutnya. "Bagong. Dasar Bagong." Kali ini dengan suara yang lebih keras sehingga membuat Abi Hamzah menoleh dengan kening yang berkerut.


"Hah? Siapa yang Bagong?" tanya lelaki itu heran.


Ditanya begitu, Juan cengengesan, berbanding terbalik dengan Zahira yang sudah memasang muka was-was. "Enggak, Bi, itu tadi kita lagi ngomongin teman kantor saya, dipanggilnya Bagong soalnya anaknya lebih suka sama yang haram-haram."


Wah... Zahira tidak menyangka alasan itu akan keluar dari mulut Juan. Memang, ya, kalau dasarnya pandai bersilat lidah ya begitu, ada saja kepikiran untuk menjawab.


"Astaghfirullah...." Abi Hamzah beristighfar.


Sudah begitu, Juan malah ikut-ikutan. "Astaghfirullah. Emang harus segera diruqyah kan, Bi?"


"Emangnya dia muslim?"


"Atheis, Bi." Celetuk Juan sambil cengengesan.


Kalau sudah mulai terjadi percakapan random semacam itu antara Juan dan Abu, maka Zahira paham waktunya untuk bersama dengan Juan telah habis. Sesudah ini, Juan adalah milik Abi. Mereka berdua akan mengobrol lebih banyak hal, mulai dari yang random sampai yang serius seperti harga saham dan isu pemanasan global.


Untuk itu, Zahira pun pamit undur diri, memberikan ruang bagi sepasang calon mertua dan menantu itu untuk saling mengakrabkan diri.


"Nanti aku chat kalau udah mau pulang."


Zahira mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2