Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Good Person Deserve a Good Life


__ADS_3

Berhubung rencana pendekatan pada percobaan pertama sudah gagal, dan Moana juga tidak kunjung pulang, Juan akhirnya mengalah. Dia memutuskan untuk mengajak Zahira pergi meninggalkan Rumah Besar meskipun harus diwarnai dengan adegan drama di mana Mama masih tidak rela Juan pergi sebelum rindunya tuntas.


“Nanti Juan main lagi ke sini, kalau suasananya udah nggak panas.” Lagi-lagi Juan menyelipkan sindiran. Sudah tidak secara halus lagi, sudah terang-terangan karena dia mengatakan itu seraya menatap tajam sosok Moana yang berdiri di samping Mama.


“Tapi Mama masih kangen kamu.” Rengek Chyntia. Sayangnya, Juan tidak terlalu menggubris. Anak itu tetap pamit undur diri. Dibawanya Zahira berjalan menjauh demi menjaga kewarasan semua belah pihak.


“Kamu yakin nggak apa-apa kalau kita pergi kayak gini? Kalau mamamu makin nggak suka sama aku gimana?” tanya Zahira khawatir setelah mereka berjalan melewati gerbang.


“Mama itu bukannya nggak suka sama kamu. Ini semua terjadi karena ada Moana, karena dia yang emang terlalu pintar aja buat cari muka. Kamu kalau mau ngikutin jejak dia juga aku yakin kamu bisa menang.” Tutur Juan, lalu dia membuka pintu taksi yang memang sudah dia pesan sebelumnya. “Tapi kamu nggak mau kayak gitu, kan?”


Zahira menggeleng. Sekalipun dia bisa, dia tidak akan melakukan cara itu untuk menggaet simpati dari calon mertua. Sebab dia percaya, segala kepalsuan dan kepura-puraan hanya akan mengantarkannya pada titik fana yang penuh bencana. Semuanya akan sirna ketika kepura-puraannya usai, dan dia hanya akan berakhir tidak mendapatkan apa-apa.


“Nah, ya udah. Sabar-sabar dulu, oke? Biar aku cari cara buat nendang itu si Moana sampai ke Mars, biar dia nggak punya kesempatan buat ngerusak agenda pendekatan kamu sama Mama lagi.” Ujar Juan diakhiri kekehan ringan untuk mencairkan suasana.


Zahira tidak menyahut. Dia pasrah saja saat Juan mendorong pelan tubuhnya agar masuk ke dalam taksi.


“Kita nggak pulang, ya, aku mau bawa kamu ke cafe aku.” Kata Juan setelah mereka berdua masuk ke dalam taksi dan si sopir mulai melajukan kendaraan.


Zahira manggut-manggut saja. Selagi dalam perjalanan, dia sibuk sekali memainkan jemari panjang Juan yang dia sita ke atas pangkuan. Mulai dari diraba-raba, ditekuk-tekuk, sampai tarik ujung-ujungnya—entah dengan maksud apa.


Juan sendiri pasrah saja diperlakukan begitu. Asalkan bisa membuat Zahira tenang dan anteng, dia juga tidak keberatan meski perempuan itu akan mencabuti seluruh bulu yang ada di tubuhnya.


Sekitar 45 menit berkendara, taksi yang mereka tumpangi menepi di pelataran sebuah cafe kekinian yang letaknya strategis. Dominasi kaca yang membingkai bagian bangunan membuat Zahira bisa melihat dengan jelas bahwa kursi-kursi di dalam cafe itu sudah terisi penuh oleh muda-mudi yang asyik bercengkerama bersama teman seraya menyerupai milkshake dan menggigit potongan kue.


“Selalu seramai ini?” tanya Zahira selagi mereka berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk.


“Sejauh ini, yes. Alhamdulillah, dong? Kalau ramai gini, kan, bisa lebih cepat buat aku nambahin nominal di buku tabungan. Jadi pas waktu kita nikah nanti, kamu nggak perlu khawatir soal masa depan. Walaupun bukan lagi pekerja kantoran yang pakai seragam rapi, aku tetap bisa kasih kamu sama anak-anak kita makan dan tempat tinggal yang layak. Keren, kan, aku?”


Zahira tahu, Juan tidak bermaksud pamer. Keantusiasan yang muncul dari nada suaranya itu adalah bentuk rasa bangganya kepada diri sendiri, sekaligus cara meyakinkan dirinya bahwa ia mampu menjadi imam dan kepala rumah tangga yang baik untuk keluarga kecil mereka kelak.


Keluarga kecil. Zahira tidak kuasa menahan diri dari kekehan ringan saat kalimat itu mampir di kepalanya. Membayangkan dia dan Juan akan tinggal di satu rumah yang sama, membesarkan anak-anak mereka yang jumlahnya 2 orang dengan selisih usia yang tidak banyak, telah berhasil menimbulkan semburat merah di belah pipinya. Untuk pertama kalinya sejak berpacaran, dia berani membayangkan hal-hal semacam ini. Entah apakah itu merupakan sebuah kemajuan, atau justru sebaliknya.


Juan yang menyadari Zahira sedang senyum-senyum sendiri pun tidak berani menginterupsi. Dia biarkan saja kekasihnya tetap tenggelam dalam pikirannya sendiri selagi langkah mereka sudah semakin jauh menjelajah ke dalam bangunan cafe.


Ingar bingar di sekitar mereka lupakan. Alunan musik yang mengalun dari speaker berkualitas tinggi menjadi peredam untuk kebisingan yang datang dari bangku-bangku pengunjung yang ramai.


“Biasa ada live music juga?” tanya Zahira seraya menunjuk panggung kecil di bagian pojok kiri dekat kasir.


Juang mengangguk, “Setiap Jumat dan Sabtu malam. Yang ngisi sih ganti-ganti. Kadang ada anak-anak dari kampus kita yang freelance buat jadi pengisi. Kadang kalau lagi ada budget lebih dan penjualan lagi tinggi, aku suka minta Albert buat undang musisi-musisi lokal buat nyanyi.”


“Oh, ya?” Zahira kelihatan antusias. “Kamu udah undang siapa aja sejauh ini?”


“Belum terlalu banyak, sih. Kalau kamu mau lihat daftarnya, nanti minta aja sama Albert.” Karena kalimat belum terlalu banyak itu hanyalah sebuah cara bagi Juan untuk tidak terlalu pamer. Aslinya, dia sudah mengundang cukup banyak musisi yang namanya tidak main-main di kancah permusikan. Mulai dari duo Endah N Resha, Sal Priadi, sampai penyanyi yang lagunya menjadi favorit bagi Juan sepanjang masa, Raim Laode.


“Kalau Nadin Amizah, udah pernah belum?” tanya Zahira lagi.

__ADS_1


“Belum.”


“Boleh tuh nanti kapan-kapan undang dia. Suaranya cantik, Ju, secantik orangnya.” Sorot mata penuh binar bahagia itu berhasil membuat Juan tersenyum.


“Kalau kamu emang sesuka itu sama dia, gimana kalau kita undang dia buat ngisi di acara resepsi kita nanti? Daripada aku cuma undang dia ke sini dan belum tentu kamu bisa nonton dia nyanyi live?”


Seketika itu, pipi Zahira kembali memerah. Kalau di hari-hari sebelumnya, dia akan langsung menepuk lengan Juan agar berhenti bicara omong kosong, kali ini Zahira merasa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia malah sibuk menenangkan degup jantungnya yang menggila. Rasanya, seperti dia kembali ke masa di mana dia pertama kali jatuh cinta pada Juan bertahun-tahun yang lalu.


Di tengah euforia yang memeluk dua insan manusia itu, Albert tahu-tahu muncul dari arah dapur. Dengan gayanya yang khas, lelaki itu berjalan mendekat, serta-merta menepuk bahu Juan hingga membuat lelaki yang notabene adalah bosnya itu membalikkan badan cepat.


“Wassup, man? Kok nggak kasih kabar dulu kalau mau mampir?” sapanya heboh.


Juan yang masih menyimpan dendam atas keterlibatan Albert pada peristiwa penculikan dirinya justru mendecih tidak suka mendengar sapaan itu. “Ini cafe punya gue, sejak kapan gue harus ngabarin lo dulu kalau mau datang?” ujarnya sengak.


Alih-alih tersinggung, Albert malah terbahak-bahak. “Lo masih marah sama gue soal tempo hari?”


“Masih berani nanya?” balas Juan masih dengan sewotnya.


Albert meredakan tawa, menggantinya dengan senyum yang lebih tenang. “Oke, gue minta maaf.” Ujarnya. Harus dia akui, dia memang salah. “Tapi, man, kalau gue nggak bantuin sepupu lo buat nyulik lo hari itu, lo pasti nggak akan punya keberanian buat bawa cewek lo ke sini hari ini. Am I right?” terdengar seperti sebuah pembelaan, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Albert sengaja membantu Reno agar Juan menjadi lebih berani menunjukkan diri. Pusing juga dia lama-kelamaan melihat Juan yang ragu-ragu setiap hendak membocorkan perihal keberadaan cafe ini kepada kekasih yang hendak dilamarnya itu.


“Benar.” Sahut Juan. “Tapi, gue tetap marah sama lo karena apa yang lo lakuin ke gue adalah sebuah bentuk pengkhianatan. Yang kemarin oke aja, karena efeknya positif. Tapi bisa jadi lo lakuin pengkhianatan lain yang merugikan gue suatu hari nanti, kan?”


Sekali lagi, Albert dibuat terbahak-bahak atas analisa Juan yang di luar batas. Terlalu bar-bar. Terlalu jauh menembus awan.


“Lo kebanyakan nonton drama.”


Untuk yang itu, Albert mengangguk setuju. “Ada benarnya.”


Selagi obrolan soal pengkhianatan berlanjut, Zahira hanya bisa menyaksikan semuanya dalam diam. Kekaguman terpancar jelas dari sorot matanya ketika dia melihat ada banyak sekali sisi dalam diri Juan yang berbeda jauh dari diri lelaki itu bertahun-tahun sebelumnya. Juan berubah banyak. Menjadi lebih dewasa.


“Tahu alasan kenapa Abi bisa nerima Juan padahal udah jelas-jelas keyakinan kita berbeda? Karena Abi yakin, dia bisa menjadi imam yang baik ketika dia nanti akhirnya menemukan hidayah-Nya. Dia anak baik, Za. Meskipun orang-orang banyak yang bilang dia berandalan lah, inilah, itulah. Bagi Abi, dia baik, dan itu udah cukup buat bikin Abi yakin untuk mempercayakan kamu di tangannya.”


Kalimat itu Abi ucapkan di tahun pertama dia dan Juan berpacaran. Dia iseng bertanya kepada Abi mengapa restu untuk hubungan mereka mengalir lancar sekali, padahal banyak perbedaan di antara mereka yang nyaris mustahil untuk disatukan. Dan sekarang ini, hari ini, Zahira membuktikan sendiri bahwa apa yang Abi katakan adalah benar. Juan baik. Lelaki itu juga bertanggung jawab dan senantiasa mengusahakan yang terbaik untuk mereka.


Maka, ragu macam apa lagi yang harus dia pupuk di dalam hati, untuk sosok yang sehebat ini?


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Agenda pendekatan yang tidak berjalan lancar tidak serta-merta membuat hari mereka berantakan. Mereka malah bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Selama di cafe, Zahira membantu Juan untuk memeriksa ulang konsep dan mengusulkan beberapa perubahan demi menyesuaikan dengan tren yang sedang berkembang. Karena dari awal Juan memang menerapkan konsep yang dinamis tanpa menghilangkan esensi asli dari cafe miliknya, perubahan-perubahan kecil yang menyesuaikan dengan perkembangan di sekitar masih bisa masuk dan diterima dengan baik.


Tak selesai sampai pada urusan cafe, mereka berdua juga kemudian merancang beberapa hal. Usai menyerahkan rencana modifikasi kepada Albert yang lebih tahu bagaimana seharusnya perubahan itu dimulai, Juan menyerahkan denah rumah yang sekarang dia tempati untuk Zahira periksa, agar perempuan itu bisa memberikan usul mana-mana saja dari bagian rumah itu yang harus ditambah atau dikurang.


“Area belakang masih kosong, ya, Ju?” tanya Zahira. Malah lebih fokus pada area di halaman belakang ketimbang mengomentari isi di dalam rumah.


“Iya. Aku bingung mau dibikin apaan.” Jelas Juan. Yang dia pikirkan hanya sebatas rumah itu bisa ditinggali dulu, perkara halaman depan dan belakang, dia akan pikirkan nanti.

__ADS_1


“Kalau gitu, gimana kalau kita bikin jadi semacam mini playground?”


“Mini playground?” tanya Juan dengan sebelah alis yang naik. “Mau buat main siapa?”


“Anak kamu, lah.” Jawab Zahira.


“Anak aku?” Juan menunjuk dirinya sendiri, Zahira mengangguk mengiyakan. “Kapan mau bikinnya? Nanti malam?” sambungnya asal. Alhasil, Zahira menggeplak punggung tangannya cukup keras.


“Galak bener.” Juan menggerutu.


Zahira tidak memedulikan gerutuan itu, malah lanjut menuangkan idenya. “Zaman sekarang susah buat bikin anak-anak nggak addict sama yang namanya gadget, makanya aku usulin buat bikin mini playground biar anak-anak bisa gunain waktunya buat main dan explore dunia luar, tapi masih dalam jangkauan pandang kita.”


“Iya, tapi anaknya juga belum ada. Terus siapa yang mau pakai buat main? Yang ada, itu area bakal jadi sarang buat Mbak Kunti. Mau kamu, rumah kita jadi angker?”


“Bikin buat nyenengin anak tetangga!” Zahira kesal. “Nggak harus dibikin sekarang juga, Juananda. Aku nggak ada bilang harus dibikinnya sekarang.” Sungutnya.


Sudah begitu, Juan hanya ber—ohh ria. Menyebalkan sekali.


“Ah, udah, ah. Kamu nyebelin.” Zahira mengembalikan tab milik Juan yang digunakan untuk melihat denah.


Melihat kekasihnya ngambek, Juan malah tergelak. Masalahnya, marahnya Zahira itu lucu, dan malah terlihat seperti sebuah hiburan untuk Juan.


“Iya, iya, maaf.” Bujuknya setelah tawa laknatnya mereda. “Nanti kita bikin jadi mini playground sesuai sama mau kamu, oke? Udah, jangan ngambek lagi. Sini, peluk.” Lanjutnya seraya merentangkan tangan.


“Mau aku pukul?” ancam Zahira, sudah mengepalkan tangan di depan wajah Juan.


“Wow! So scary!” Juan berlagak ketakutan, lalu detik kemudian kembali tergelak. “Jangan galak-galak kamu sama calon suami.”


“Jingin gilik-gilik kimi simi cilin siimi.” Tak biasanya Zahira meledek Juan. Caranya persis sekali seperti yang Juan biasa lakukan. Sontak saja, hal itu membuat Juan melongo tak percaya.


Beberapa detik dia terdiam, hingga akhirnya dia menyadari bahwa diledek seperti itu ternyata sangat menyebalkan.


“Wah, calon istri aku ternyata iseng juga, ya?” ujarnya, kemudian tanpa aba-aba, dia memiting tubuh Zahira, menenggelamkan kepala perempuan itu ke dalam keteknya yang wangi semerbak.


“Nih, kamu hirup nih aroma ketek calon suami kamu yang wangi aduhay. Hirup dalam-dalam, biar kenyang.” Ujarnya. Dia berani begitu karena tahu ketiaknya tidak bau asam. Pada dasarnya, keringat Juan memang tidak berbau. Kalau kata si kunyuk Baskara, sih, Juan itu sebenarnya bukan manusia karena keringatnya sama sekali tidak memiliki aroma. Hambar saja, seperti sayur yang tanpa garam.


Kendati tidak bau, tindakan itu tetap membuat Zahira bergerak tidak keruan demi melepaskan diri. Untung saja kerudungnya ditata sedemikian rupa, jadi tidak tiba-tiba melorot ketika dia sedang berusaha meloloskan diri.


Zahira tahu, dia tidak akan bisa lepas dari pitingan Juan meski dia mengerahkan seluruh tenaga yang dia miliki sampai nanti dia pingsan. Maka dari itu, dia memilih untuk bekerja dengan lebih cerdas. Dia berhenti meronta, pura-pura lemas agar Juan mau berbaik hati melepaskan dirinya dan menilik kondisinya.


Dan, yah, berhasil. Tentu saja. Juan langsung menjauhkan diri, setengah panik mendapati keadaan Zahira yang tiba-tiba diam kehilangan tenaga. Hanya untuk dibuat berteriak kesetanan saat Zahira melakukan serangan balik dengan menggelitiki pinggangnya.


“AMPUN! AMPUN, SAYANG! SO SORRY!” teriaknya, namun sia-sia karena Zahira enggan berhenti.


Teriakan demi teriakan yang terlontar mengundang Albert yang semula berdiam di meja kasir untuk melongok ke ruangan pribadi Juan. Hanya untuk dibuat mengulum senyum kala menemukan teman sekaligus bosnya sedang berinteraksi dengan kekasihnya.

__ADS_1


“Good person deserve a good life.” Gumam Albert. Sebab tidak peduli seberapa banyak orang melabeli Juan dengan kata bajingan, bagi Albert pribadi, Juan adalah malaikat yang membantunya keluar dari neraka yang mengungkung sepanjang hidupnya sebelum ini.


Bersambung


__ADS_2