Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Hama


__ADS_3

Di mana ada sesuatu yang tumbuh subur, di situlah ada hama yang akan menyerang dan mengacaukan semuanya. Kira-kira seperti itulah Juan akan menggambarkan kedatangan Moana ke Rumah Besar kali ini. Berbekal tentengan yang seabrek sebagai bahan pencitraan, perempuan itu berhasil menyita seluruh perhatian Mama.


Sejak kedatangan Moana, Mama menjadi fokus hanya kepada perempuan itu. Sementara Juan merasa, kehadiran dirinya dan Zahira hanya seperti properti pemanis yang tidak masalah jika tidak diajak bicara. Moana mengacaukan semua rencana, membuat antusiasme yang begitu tinggi melambung di dalam dada seketika surut tak bersisa.


“Cobain cookies buatan aku, Ju. Itu aku sendiri yang bikin, udah nggak dibantuin sama Mbak aku.” Seperti tidak bisa membaca bahwa Juan sedang kesal, Moana malah menyodorkan setoples cookies yang dia klaim sebagai hasil tangannya sendiri.


Juan yang dasarnya sudah kesal sekali sontak menggeleng, “Lagi sakit gigi.” Alasannya. Amit-amit juga kalau itu betulan diijabah oleh Tuhan. Yang ada dia nanti tidak bia menikmati cheesecake buatan Umi.


“Oh, ya? Udah minum obat? Mau aku anterin konsul ke dokter gigi?” dengan hebohnya, Moana meletakkan kembali toples cookies dan malah mendekatkan posisi duduknya hingga mepet sekali dengan Juan. Benar-benar, keberadaan Zahira yang duduk di sisi tubuh Juan yang lain seolah tidak terlihat di mata Moana.


“No, thanks. Gue bisa pergi sendiri.” Seperti yang seharusnya sudah terjadi, Juan menggeser duduknya, yang otomatis membuat Zahira juga mau tidak mau ikut bergeser sampai ke ujung sofa.


“Nggak boleh gitu, Ju, Moana niatnya baik loh.” Mama tiba-tiba menimpali.


Juan berdecak kesal. Sungguh, dia sudah tidak tahan lagi berada dalam situasi ini. Dia harus segera membawa Zahira pergi, atau mereka akan berakhir menjadi gila karena ulah Moana yang ada-ada saja.


“Kita ke belakang aja, yuk?” ajaknya kepada Zahira yang terlihat sangat tidak nyaman.


Juan tahu, dia peka sekali kalau interaksi yang terlampau akrab antara Mama dengan Moana telah membuat Zahira kembali merasa kecil. Jika tujuan Moana melakukan itu semua untuk menunjukkan kepada Zahira bahwa ia lebih bisa diterima oleh Mama, maka Juan rasa perempuan licik itu telah berhasil.


“Di sini aja, nggak apa-apa.” Zahira menolak secara halus. Merasa tidak enak kalau dia kabur bersama Juan, padahal tujuan awal mereka datang ke sini yang untuk bersilaturahmi dengan ibunya.

__ADS_1


Namun, Juan yang sudah kadung muak pun tetap memaksa. Dia menarik lengan Zahira, membantunya bangkit dari sofa panas yang menjadi saksi betapa tidak dihargainya mereka hari ini.


Melihat Juan dan Zahira bangkit, barulah Chyntia kembali menaruh atensi. “Mau ke mana?” tanyanya, ikut-ikutan berdiri.


Juan menoleh sekilas, “Ke halaman belakang. Di sini panas.” Sindirnya, sengaja menekankan kata panas sambil melirik sinis ke arah Moana. Setelah itu, dia membawa Zahira pergi bersamanya. Tidak menggubris lagi suara ibunya yang bertanya beberapa hal lain.


Di dalam gandengannya, Zahira bergerak gelisah. Juan mendapati perempuan itu berkali-kali menoleh ke belakang karena suara Mama masih terus terdengar.


“Cuekin aja.” Bisiknya. Tak ingin Zahira semakin terpengaruh, dia juga sampai berpindah ke belakang tubuh Zahira, memegang kedua bahu perempuan itu lalu menuntunnya untuk terus melanjutkan langkah.


Halaman belakang yang luas dan lebih banyak didominasi dengan tumbuhan hijau menjadi pilihan terbaik untuk melarikan diri. Di sana, Juan menuntun Zahira untuk duduk di tepian kolam renang yang airnya begitu tenang.


Sementara Juan membiarkan kakinya terendam air kolam sampai sebatas lutut (dia sudah lebih dulu menggulung celananya), Zahira memilih untuk berjongkok di sisinya. Ia mengulurkan tangan, bermain-main dengan air kolam yang di dalam sentuhannya tidak terasa sedingin itu. Dia merasa, Juan saja yang terlalu berlebihan. Atau mungkin, memang hanya sesederhana bahwa respons tubuh mereka berbeda.


Untuk beberapa lama, mereka tidak saling bicara. Riak air yang berasal dari pergerakan kaki Juan dan tangan Zahira menjadi musik latar yang menemani keheningan yang tercipta di antara dua anak manusia yang tengah sibuk dengan isi kepala masing-masing.


Hingga pada akhirnya, Juan menoleh, menumpahkan perhatian pada Zahira yang masih asyik bermain air seraya menumpukan dagunya ke atas lutut. Memang tidak terlihat kesedihan atau kekecewaan dari raut wajahnya. Namun, sebagai seseorang yang telah membersamai Zahira untuk waktu yang cukup lama, Juan tahu di dalam kepala perempuan itu pasti sedang ribut sekali sekarang.


Keinginan untuk diterima dan dihargai baru saja dipatahkan oleh kehadiran satu hama yang merugikan. Dan meskipun dia tahu masih ada kesempatan kedua dan seterusnya, Juan juga sadar bahwa percobaan pertama adalah sesuatu yang penting.


“Pelan-pelan, ya, Za.” Juan bersuara setelah puas menyelami wajah ayu kekasihnya.

__ADS_1


Yang diajak bicara praktis mengangkat kepala, lalu senyum tipis yang menenangkan ia persembahkan sebagai isyarat bahwa dia baik-baik saja.


“Mama aku bukan orang yang jahat, kok. Beliau nggak bermaksud buat bikin kamu merasa kecil. Kamu tahu, kan, peribahasa tak kenal maka tak sayang? Nah, Mama aku juga gitu. Beliau perlu lebih banyak waktu buat kenal sama kamu, supaya bisa sayang sama kamu kayak gimana yang aku rasain.”


Hanya perkataan sederhana yang bisa Zahira dengar dari mulut sisa saja, namun karena itu dikatakan pada saat yang tepat, kalimat itu berhasil membuat senyum Zahira terbit lebih banyak.


“Iya.” Ujarnya. Dia sadar, perjalanan mereka memang tidak akan mudah. Kabar baiknya, dia juga tidak diperlakukan seburuk itu oleh ibunda Juan, kan? Dia masih disambut, meski dengan senyum yang tidak seberapa tulus. “Iya, Ju, pelan-pelan.”


Dan bagi Juan, kesediaan Zahira untuk tetap berjalan bersamanya adalah sebuah berkah yang dia tahu tidak bisa disandingkan dengan hal-hal yang lainnya. Maka siang itu, di bawah terik matahari yang hangat, Juan meriah tangan Zahira, mengusapnya berkali-kali sebagai jurus andalan untuk mentransfer kekuatan.


“You know right, how much I love you?”


“I know. As much as I love you.”


Sementara di ambang pintu belakang, Moana lagi-lagi harus gigit jari karena tak-tik yang dia buat tetap tidak bisa membuat Juan meliriknya barang sedikit. Dia sudah berusaha bergerak pelan-pelan, tapi tidak digubris juga. Kembali menjadi bar-bar pun, masih sama saja. Lantas, dia harus bagaimana lagi?


“Jawabannya adalah menyerah.” Dan usulan yang datang dari mulut sampah Adrian Lukas justru menjadi sesuatu yang paling sering Moana dengar.


Apakah itu artinya, dia benar-benar harus menyerah?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2