Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Terjebak


__ADS_3

Niat baik memang tidak selalu berakhir dengan sesuatu yang baik pula. Hari ini, Juan belajar akan hal itu. Sebab, yang sedari awal dia hanya berniat mengantarkan Moana pulang, lalu berlanjut mengantar perempuan itu sampai masuk ke dalam kamar, kini dia malah terjebak dan terpaksa menunggui Moana yang terlelap di atas pembaringan karena khawatir akan terjadi apa-apa jika dia pulang sebelum memastikan kondisi Moana sudah baikan.


Kabar buruknya adalah, Juan tidak membawa serta ponselnya sehingga kini dia kelabakan sendiri, sulit menghubungi pihak kantor untuk mengonfirmasi perihal keterlambatannya kembali ke kantor karena kondisi Moana tidak kunjung membaik. Padahal kalau ada ponsel, setidaknya dia bisa menghubungi Reno atau Galih untuk meminta dicarikan solusi.


“Makanya, nggak usah sok mau jadi manusia yang beradab kalau ujung-ujungnya nyusahin diri sendiri.” Juan mengatakan itu dengan suara normal, tidak berbisik-bisik karena toh dia yakin Moana sudah benar-benar terlelap dan tidak akan bisa mendengar ucapannya.


Di atas ranjang, Moana berbaring dengan selimut yang membalut sampai ke bagian bawah dada. Kedua tangan perempuan itu saling bertaut di atas perut dan Juan masih sesekali menemukan titik keringat menyebar di wajahnya. Ingin menyeka, tapi dia tidak sebaik itu. Maka ia biarkan saja titik-titik keringat itu bertambah seiring dengan kerutan di dahi Moana yang mulai muncul semakin sering. Sepertinya, perempuan itu sedang bermimpi di dalam lelapnya.


Kalau bicara berdasarkan hati nurani, dengan mengesampingkan segala perasaan pribadi yang Moana miliki terhadapnya, Juan harus mengakui bahwa ada banyak sekali sisi baik dari perempuan yang kini terbaring tak berdaya itu.


Mereka sudah mengenal jauh sebelum masuk ke perusahaan yang sama, berteman cukup lama sebelum akhirnya dia menarik garis batas yang lumayan jauh setelah ia berhasil mendapatkan hati Zahira. Bisa dibilang, pertemanannya dengan Moana sudah lebih dulu dimulai ketimbang kisah cintanya dengan gadis pujaan hatinya. Memang bukan tipikal pertemanan yang erat. Mereka hanya sesekali nongkrong di tempat yang sama, saling bertegur sapa selayaknya kenalan pada umumnya. Tapi tetap saja, hubungan mereka masih baik-baik saja sebelumnya.


Dulu sekali, keberadaan Moana sama sekali tidak terasa mengganggu. Tapi sekarang, ketika Juan menyadari perempuan itu memiliki perasaan terhadap dirinya, Juan mulai merasa tidak nyaman.


Juan sadar, perasaan seseorang tidak pernah bisa dipaksakan. Sama seperti dirinya yang tidak bisa memaksa untuk menerima perasaan Moana, Juan pun sadar bahwa perasaan yang perempuan itu miliki untuknya juga tidak bisa dipaksa untuk hilang begitu saja. Tetap butuh waktu. Tetap butuh kelapangan hati yang luas untuk menerima bahwa mereka hanya bisa berjalan beriringan sebagai seorang teman dan rekan kerja semata, tidak lebih.


“Lo tuh cantik, Mo. Udah gitu juga baik dan pintar. Kalau lo mau buka hati lo sedikit aja, udah pasti banyak cowok yang ngantri buat dapetin lo.” Kalimat itu pernah ingin Juan katakan secara langsung, namun urung karena dia tidak ingin kelihatan peka. Moana tidak pernah secara langsung menyatakan perasaannya, maka Juan memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu agar mereka tetap bisa berteman seperti biasa.


Juan menarik napas dalam-dalam setelah keheningan menelannya selama beberapa detik. Lalu bersama dengan embusan napas yang dia keluarkan pelan-pelan, Juan menggolekkan kepala di tepian ranjang. Kantuk mulai menyerang, membuatnya berhenti berpikir karena sejauh mana ia memaksa otaknya berlari, tidak ada solusi apa pun yang bisa dia temui.

__ADS_1


“Tunggu sampai jam pulang kerja nggak apa-apa kali, ya.” Gumamnya seorang diri. Itu dia katakan dengan kondisi mata yang sudah terpejam dan hampir setengah sadar. Dan, tidak butuh waktu lama sampai dia betulan terlelap. Melupakan keresahan yang padahal sudah mendera sejak tadi.


Lelapnya Juan menghasilkan senyum puas yang terkembang luas menghiasi wajah pucat Moana. Hanya sesaat setelah dia sadar bahwa Juan telah tertidur, ia membuka mata. Dalam hati bersorak bangga karena dia telah berhasil menjalankan rencananya yang terbilang agak nekat.


Beberapa jam sebelum pergi makan siang, Moana sengaja meminum obat pencahar yang sebelumnya dia beli secara diam-diam selagi rekan satu divisi—termasuk Juan—sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Alhasil, semua isi di dalam perutnya terkuras habis. Itu sebabnya dia membutuhkan waktu yang lama di toilet, sebab dia harus mengeluarkan semuanya, untuk berakhir menjadi pucat pasi. Rasanya menyiksa, namun melihat Juan bersedia menungguinya sampai jatuh tertidur seperti sekarang, itu bukanlah sesuatu yang sia-sia.


Katanya, untuk bisa mendapatkan sesuatu, kita memang harus membayar harga yang sesuai. Maka untuk Moana, sekadar membuat dirinya sedikit dehidrasi rasanya tidak berlebihan kalau balasannya adalah mendapat perhatian dari Juan. Meski ia sebenarnya tahu, perhatian itu ia terima hanya karena rasa kemanusiaan yang tinggi yang lelaki itu miliki.


Tidak apa-apa. Moana masih percaya bahwa cinta karena terbiasa itu benar adanya. Kemarin-kemarin, Juan mungkin menolaknya mentah-mentah karena sedari awal jarak mereka memang cukup jauh dan dia terlalu memaksa untuk segera mendekat. Sekarang, dia sudah tahu solusinya. Seperti moto yang selalu dia pegang teguh, bahwa pelan-pelan lebih baik daripada terburu-buru tapi tidak sampai ke mana pun, ia akan mulai dari hal-hal kecil yang bisa membuat Juan perlahan mendekat ke arahnya.


Licik? Persetan. Bukankah selama Juan masih belum resmi menjadi suami orang, Moana masih boleh mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan cintanya?


Juan menggeliat pelan, meringis kala merasakan lehernya terasa kaku dan tulang-tulang di bagian punggung serasa habis ditimpa benda-benda tumpul. Ia mengerjap beberapa kali, hanya untuk menemukan ranjang di mana Moana semula berada telah kosong. Sang empunya tidak ada di sana, entah pergi ke mana.


Kala Juan mengedarkan pandangan ke luar jendela untuk memeriksa, rupanya langit sudah berubah gelap. Kalang kabutlah ia sebab tidak menyangka rebahnya kepala di tepian ranjang akan membawanya pada tidur yang terlalu lama. Dengan gerakan serabutan, Juan menolehkan kepala ke segala penjuru untuk mencari keberadaan jam yang bisa memberitahunya soal waktu.


Begitu ketemu, Juan mendengus kasar. Jarum pendek di jam dinding berbentuk bulat dengan warna latar hitam itu telah menunjuk angka 7, sementara jarum panjangnya bergerak pelan menuju angka 11. Sudah malam, bahkan sudah lewat jam pulang kerja kalau dia betulan kembali ke kantor untuk lembur.


Tapi, bukan itu masalah utamanya. Pagi tadi, dia sudah berjanji pada Zahira untuk menjemput perempuan itu di rumah sakit dan mereka janjian jam 8. Kalau tidak ada adegan Moana yang jatuh sakit dan dia harus mengantarkannya pulang, Juan seharusnya sudah dalam perjalanan untuk menjemput kekasihnya.

__ADS_1


“Ju, udah bangun?”


Juan menoleh cepat ke arah belakang. Moana muncul dari dalam kamar mandi, berjalan gontai menghampirinya dengan wajah yang masih pucat, namun tidak sepucat sebelumnya.


Grasah-grusuh Juan berdiri lalu berjalan cepat menghampiri Moana. Bukan untuk membantu perempuan itu berjalan kembali menuju kasur, melainkan untuk menengadahkan tangan, minta dipinjami kunci mobil karena dia tidak mungkin kembali ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil mobilnya baru pergi ke rumah sakit menjemput Zahira. Tidak bisa, itu akan memakan lebih banyak waktu.


“Ada di atas nakas,” Moana menunjuk ke arah di mana ia menyimpan kunci mobilnya. Juan mengikuti arah jari telunjuk Moana, lalu bergegas menyambar kunci mobil yang teronggok tak berdaya.


“Gue pinjam dulu, ya, besok pagi gue balikin.” Ujarnya seraya mengangkat kunci mobil milik Moana ke hadapan sang empunya.


“Iya, pakai aja.”


“Thanks,” kemudian Juan berjalan cepat menuju pintu. Tapi sebelum dia membuka pintu kamar Moana, dia berbalik lagi. “Tapi, Mo, lo udah oke, kan? Udah bisa gue tinggal, kan?” tanyanya memastikan.


“Udah kok, Ju. Thanks ya udah mau nemenin.” Moana menjawab diakhiri senyum tipis.


Di saat terburu-buru, basa-basi sangat tidak perlu. Jadi Juan hanya mengangguk singkat lalu melanjutkan langkahnya. Sambil berjalan, sambil berdoa; semoga saja waktu yang dia miliki cukup untuk menjemput Zahira tepat waktu dan tidak membuat kekasih hatinya itu terlalu lama menunggu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2