
“Kamu tadi kenapa, Za? Pulang-pulang langsung meluk aku, terus nangis kayak gitu? Lagi ada masalah? Di rumah sakit ada yang gangguin kamu?” Juan mencecar. Setelah selesai makan malam, ia membawa Zahira untuk berbicara berdua di teras rumah selagi Abi Hamzah dan Umi Maryam menunaikan salat isya berjamaah. Zahira sedang datang bulan, jadi perempuan itu tidak turut serta.
“Aku juga nggak tahu kenapa.” Setelah mengatakan itu, Zahira menghela napas. Kalau ditanya kenapa dia menangis, Zahira juga tidak tahu apa alasannya. Ketika mendapati Juan bisa tertawa begitu lepas bersama Abi di saat ia tahu keadaan lelaki itu tidak benar-benar baik, Zahira merasa ada yang terasa sesak di dadanya sehingga air matanya pun tak tertahankan.
“Kok gitu? Segala sesuatu yang kamu rasakan itu pasti ada penyebabnya, Za. Nggak mungkin cuma karena kamu lagi haid dan jadi lebih sensitif, kan? Nggak, deh, kayaknya. Sesensitif apa pun kamu kalau lagi haid, biasanya nggak sampai kayak gini.” Tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Zahira, Juan menarik lengan perempuan itu agar duduk di sebelahnya. Sedari tadi Zahira memang lebih memilih untuk berdiri di sisi pintu seraya memainkan jemarinya. “Ayo, kasih tahu aku. Kamu kenapa sebenarnya?”
“Aku nggak tahu, Juan.” Zahira masih dengan jawaban yang sama. “Waktu ngelihat kamu lagi bercanda sama Abi, nggak tahu kenapa rasanya sesak banget di sini.” Ia menyambung seraya menyentuh dadanya sendiri.
“Pasti karena kamu masih mikirin soal aku yang pergi dari rumah.” Semena-mena, Juan menyuarakan analisanya sendiri.
Melihat tidak adanya sangkalan dari Zahira, Juan tahu tebakannya pasti benar. Memang selembut itu hari Zahira. Walaupun dia sudah berkali-kali meyakinkan perempuan itu bahwa dia baik-baik saja, dan kepergiannya juga tidak diiringi dengan perkelahian rumit dengan Mama, Zahira memang tidak akan semudah itu untuk percaya.
Lantas, apa yang harus Juan lakukan? Haruskah dia membawa Zahira pergi ke tempat di mana dia tinggal sekarang, lalu membawanya berkunjung ke Rumah Besar untuk bertemu dengan Mama agar kekasihnya itu yakin bahwa keadaan masih baik-baik saja?
Tapi, dia tidak bisa melakukan itu secara terburu-buru. Pertama, dia tahu Zahira bukan tipikal yang bisa berbohong. Jadi, dia tahu, cepat atau lambat setelah dia memberitahu Zahira di mana tempat tinggalnya yang sekarang, perempuan itu pasti akan membagikan informasi tersebut kepada Reno. Juan tidak ingin itu terjadi. Dia masih ingin menyembunyikan diri, setidaknya sampai dia berhasil membawa Zahira berkunjung ke Rumah Besar dan memastikan kehadirannya akan diterima dengan baik oleh Mama.
Tentu, itu bukan hal yang mudah. Ibarat berusaha membawa anak kucing kecil nan lucu ke dalam kandang anjing pemburu yang ganas. Juan harus lebih dulu menjinakkan anjingnya, agar si kucing kecil bisa masuk perlahan-lahan dan mereka bisa mulai berteman.
“I’m okay, Za. Totally fine.” Ucap Juan, berusaha meyakinkan. “Aku tinggal di rumah yang nyaman, dan sampai pagi tadi, aku masih hubungin Mama untuk kasih tahu kalau aku baik-baik aja. Nggak ada yang perlu kamu khawatirin.”
“Aku tahu, Ju.” Zahira menyela. “Aku tahu kamu nggak akan gegabah dalam mengambil keputusan. Tapi aku masih nggak bisa tenang sebelum kamu kasih tahu aku di mana sekarang kamu tinggal. Kamu bisa aja bilang tempat tinggal kamu yang sekarang layak, tapi layak menurut versi kamu yang sekarang itu yang seperti apa? Aku perlu tahu.”
__ADS_1
“Rumah yang aku tinggali sekarang nggak lebih kecil dari rumah ini.” Akhirnya, hanya sebatas itu Juan bisa memberikan informasi. “Udah, cukup?”
“Nggak.” Zahira menggeleng keras. “Kamu bisa aja ngarang.”
Juan menghela napas frustrasi. Kenapa Zahira tidak percaya? Apa tampangnya terlalu terlihat seperti orang miskin yang tidak mampu membeli rumah untuk dia tinggali setelah kabur?
“Ajak aku ke sana, baru aku percaya.” Desak Zahira lagi.
“Aku pasti bakal ajak kamu ke sana, tapi nggak sekarang.”
“Kenapa nggak? Nunggu apa?”
“Nunggu keadaannya lebih baik. Aku lagi berusaha untuk bikin semuanya berjalan lebih baik, jadi tolong percaya aja sama aku dan tunggu hasilnya.” Pungkas Juan. Dia tidak ingin berlama-lama membahas perihal ini. Karena kalau terus-terusan disuguhi tatapan melas dari Zahira seperti sekarang ini, dia mungkin akan berakhir menyerah dan membeberkan semuanya. Oh, tidak. Tidak boleh begitu.
Sementara Juan bisa berkata begitu, Zahira masih tetap saja mengandung ragu. Bagaimana jika akhirnya keadaan tidak lebih baik daripada sebelumnya? Bagaimana jika kehadirannya semakin tidak diterima, dan mereka harus mengakhiri semuanya dengan sia-sia setelah semua perjuangan yang mereka lakukan selama ini? Bagaimana jika... bagaimana jika mereka berakhir menjadi bukan apa-apa, suatu hari nanti?
Tapi pada akhirnya, yang Zahira bisa lakukan hanya mengembuskan napas seraya menganggukkan kepala pelan. Juan ingin dipercaya, maka untuk pertama-tama, biarkan ia melakukannya.
...🍁🍁🍁...
Belum usai kegusarannya karena masalah Juan yang pergi dari rumah, Zahira sudah dibuat kembali merasa serba salah ketika Abi mengatakan kepada dirinya maksud kedatangan Juan ke rumah mereka hari ini. Kata Abi, Juan datang sore-sore, setelah salat Ashar seraya membawa tiga kantong kresek berisi buah-buahan, makanan dan bernapas merek camilan.
__ADS_1
Kedatangannya yang seperti itu sudah biasa, jadi di awal pembicaraan, Zahira tidak terlalu banyak mencurahkan perhatian. Namun, ketika Abi akhirnya mengatakan bahwa tepat selepas Abi menunaikan salat Maghrib, Juan tiba-tiba saja menyampaikan keinginannya untuk diajari tentang agama Islam, Zahira praktis berhenti dari semua kegiatan yang tengah dia lakukan.
Fokusnya yang semula tercurah lebih banyak pada televisi besar di ruang tengah yang sedang menampilkan serial drama yang sedang dia tonton secara rutin setiap malam seketika beralih sepenuhnya kepada Abi. Masih setengah tidak percaya, Zahira menatap ayahnya tanpa berkedip.
“Abi juga kaget pas Juan tiba-tiba ngomong kayak gitu, Za. Abi khawatir, dia lakuin itu semua semata-mata cuma supaya dia bisa terus sama-sama sama kamu, supaya dia bisa melamar kamu.” Abi Hamzah mengambil napas susah payah saat mengingat betapa bimbangnya dia beberapa jam yang lalu. “Tapi, pas Abi nanya sama dia apa dia sungguh-sungguh, Juan jawab dia serius. Dia bahkan bisa jawab dengan yakin sewaktu Abi nanya apakah dia nggak akan menyesal kalau ternyata setelah dia lakuin semua itu, kalian tetap nggak bisa sama-sama.”
Itu juga yang selalu jadi kekhawatiran Zahira, Abi. Keluh Zahira di dalam hati. Kalau mau, sudah sedari dulu Zahira mendesak Juan untuk mulai belajar Islam. Tetapi, dia tidak pernah melakukannya karena dia tahu bahwa kepercayaan itu datangnya dari diri sendiri. Dia tidak ingin Juan mengimani apa yang memang tidak lelaki itu percaya, apalagi kalau alasannya hanya agar mereka bisa bersama-sama.
Sepanjang mereka berpacaran selama lima tahun. Juan hampir tidak pernah menyinggung soal perbedaan mereka. Lelaki itu juga tidak pernah mengutarakan niat untuk ikut memeluk Islam seperti dirinya, sehingga Zahira pikir hubungannya dengan Juan memang akan terus berjalan di dalam sebuah ketidakpastian—entah sampai kapan.
Tidak munafik. Saat mendengar Juan akhirnya bersedia untuk mulai belajar agama Islam, Zahira merasa senang. Karena itu berarti, keseriusan yang selalu lelaki itu katakan selama ini bukan sekadar bualan semata. Namun, mengingat kondisi saat ini yang sedang kisruh tidak keruan, rasa senang itu seketika tersisihkan, tergantikan dengan kekhawatiran bahwa keputusan yang Juan ambil ini akan membawa hubungan lelaki itu dengan ibunya menjadi semakin buruk.
“Abi sampai nanya berkali-kali, Za, dan jawaban Juan tetap sama. Dia yakin, dan dia nggak akan menyesal entah apa pun yang akan terjadi sama hubungan kalian nanti. Kalau udah gitu, Abi nggak bisa apa-apa lagi, dong. Akhirnya Abi iyakan aja permintaan dia.” Tutur Abi Hamzah kemudian.
Zahira masih tidak menjawab. Dia terlalu bingung untuk memberikan respons terhadap penuturan ayahnya. Untuk merayakan rasa senang yang sudah tersisih jauh pun, dia sudah tidak memiliki kesempatan.
“Yah, semoga aja ini emang keputusan yang tepat, ya, Za. Dan kalau emang harus begini jalannya, semoga perjalanan Juan menuju Islam dipermudah sama Allah, ya, Nak.”
Tapi yang lebih penting dari itu, kita seharusnya berdoa lebih banyak supaya Juan nggak berubah jadi anak durhaka, Abi. Sayangnya, Abi masih belum tahu perihal Juan yang kabur dari rumah, sehingga Zahira tidak bisa mengatakan hal itu dengan lantang.
Lagi-lagi, Zahira harus merana sendiri. Sambil masih berdoa semoga; semuanya memang berjalan dengan lebih baik. Sama seperti kata Juan, pun dengan Abi.
__ADS_1
Bersambung