Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Tapi, Semuanya Belum Usai


__ADS_3

Alih-alih menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’ untuk kesempatan kedua yang Juan minta, Zahira malah menarik tangannya dari genggaman lelaki itu. Meninggalkan kekecewaan yang tersirat jelas dari air muka Juan yang seketika berubah.


Namun, hal selanjutnya yang Zahira lakukan justru mampu membuat air mata Juan kembali mengalir deras bagai hujan yang turun lepas setelah sekian lama dilanda kemarau panjang. Dengan hati-hati, seolah Juan adalah benda rapuh yang bisa hancur kapan saja, Zahira menarik tubuh lelaki itu masuk ke dalam pelukannya. Telapak tangannya yang kecil nan halus menepuk-nepuk punggung lebar Juan, sembari bibirnya terus mengucapkan kalimat penghiburan yang semakin membuat air mata Juan terjun bebas.


“You’re enough. Aku nggak akan melangkah sejauh ini dengan segala perbedaan yang ada di antara kita kalau orangnya bukan kamu, Ju.” Kata Zahira seraya mengusap helaian rambut Juan yang panjangnya sudah mencapai leher. Nanti, dia harus menemani kekasihnya itu ke salon untuk memangkas rambutnya. Nanti, setelah keadaan mereka membaik, dia harus menyediakan lebih banyak waktu dan mencurahkan lebih banyak kasih sayang agar kekasihnya ini tidak lagi perlu merasa kecil.


“Kamu tahu? Ada beberapa kesempatan di mana aku juga ngerasain hal yang sama. Aku juga kadang-kadang ngerasa kecil kalau dibandingkan sama Moana yang cantik, pintar dan dari kalangan keluarga berada—yang paling enggak setara sama keluarga kamu. Tapi karena aku percaya bahwa aku cukup buat kamu, maka segala rasa kecil hati itu aku singkirkan jauh-jauh.” Tanpa berniat untuk meninggalkan Juan dalam kehampaan, Zahira menarik diri pelan-pelan. Hanya untuk menciptakan sedikit jarak agar mata mereka bisa saling tatap.


“Kamu cukup, Juananda. Mau orang-orang bilang kamu bajingan sekalipun, kalau terhadap aku kamu bisa berlaku baik, maka penilaian mereka sama sekali enggak penting. Mas Adnan, Mas Zayyan, atau siapa pun itu. Mereka nggak akan bisa ambil posisi kamu, karena mereka bukan kamu.” Kali ini, Zahira gantian meraih tangan Juan, mengusap punggung tangan lelaki itu pelan demi menyalurkan keyakinan. “Aku bertahan karena orangnya adalah kamu. Jadi, tolong jangan ngerasa kecil lagi, ya, Ju. You know it hurts me so much.”


Juan masih belum mampu mengatakan apa-apa, masih sibuk menangis seperti bocah yang baru saja kehilangan mainan favoritnya. Otot besarnya, image sebagai laki-laki tangguh yang dia bangun sejak masa kuliah, dan hal-hal lain yang orang-orang pikir adalah jati diri Juan yang sebenarnya seketika hilang tak bersisa. Di depan Zahira, Juan tak ubahnya bocah yang hanya ingin keberadaannya dianggap. Yang ingin dikasihi, yang ingin dihargai.


“Maaf kalau aku nggak cukup ngasih lihat ke kamu seberapa besar rasa sayang aku ke kamu, Ju. Maaf karena selama kita sama-sama, kamu lebih banyak jadi orang yang berusaha dan aku lebih banyak diam menunggu. Aku nggak pernah larang kamu dekat sama siapa pun, nggak pernah nunjukin kalau aku cemburu, itu bukan karena aku nggak sayang. Tapi itu adalah cara aku untuk kasih lihat ke kamu bahwa aku percaya sama kamu. Bahwa aku percaya, sejauh apa pun kamu pergi, sama siapa pun kamu berteman, kamu akan tetap pulang ke aku karena kamu tahu memang akulah rumah kamu.”


Zahira mengambil jeda yang cukup panjang untuk mengambil napas dalam-dalam. Kemudian, setelah menarik satu tangan Juan dan melabuhkan kecupan di punggung tangan lelaki itu, dia melanjutkan. “Tapi kalau itu bikin kamu jadi ngerasa kayak nggak disayang, maka mulai sekarang, aku bakal berusaha buat lebih jujur sama perasaan aku sendiri. Aku akan berusaha untuk nunjukin kalau aku lagi cemburu. Aku akan coba untuk lebih cerewet lagi sama kamu. Aku ak—“


Ucapan Zahira tidak selesai seperti yang seharusnya, karena tahu-tahu, Juan kembali meraih tubuhnya, memeluknya lebih erat.


“Maafin aku karena terlalu kekanakan, Za. Maaf.” Juan melirih.


Di dalam pelukan Juan, Zahira mengangguk. “Maafin aku juga karena belum bisa sepenuhnya mengerti kamu, padahal kamu selalu berusaha memahami aku.”


Awan-awan kelabu yang bergerak menjauh malam itu menjadi saksi. Bahwa sekali lagi, tak peduli seberapa hebat mereka berseteru, akan selalu ada jalan untuk kembali bersatu. Hanya dengan bicara. Hanya dengan mengungkapkan apa yang ada di dalam kepala dengan sejujur-jujurnya. Tapi yang lebih penting dari itu semua, mereka masih akan kembali berjalan menuju satu sama lain karena tujuan akhir mereka masih sama. Karena mereka masih ingin bersama. Karena setidaknya, mereka masih ingin berusaha untuk memperjuangkan cinta mereka.


...🍁🍁🍁...


“Sampai rumah, langsung nyalain hapenya. Jangan pernah kamu mati-matiin hape kayak gitu lagi.” Pesan Zahira ketika mengantarkan Juan menuju gerbang depan rumahnya.


Juan mengangguk patuh. Mata sembabnya menyipit saat ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


“Kalau nanti kamu ada di fase nggak mau diganggu sama siapa pun, termasuk aku, kamu boleh nggak balas pesan aku kayak yang udah-udah. Tapi, pastiin kamu kasih tahu aku dulu, ya, biar aku nggak khawatir.”


Sekali lagi, Juan mengangguk.


Melihat respons Juan yang hanya manggut-manggut, Zahira mendesah pelan. “Jangan cuma manggut-manggut, Juananda.” Protesnya.


“Iya, Sayang.... Iya. Aku janji.” Tutur Juan seraya mengeluarkan jari kelingkingnya.


Zahira menggeleng pelan, namun tak urung tetap menyambut jari kelingking itu untuk meresmikan perjanjian mereka.


“Ya udah, aku pulang, ya. Besok pagi aku jemput kamu, kita rumah sakit bareng.” Kata Juan setelah melepaskan tautan tangan mereka.


“Mau sekalian jenguk Moana?” tanya Zahira, tepat sasaran, membuat Juan cengengesan salah tingkah.


“Boleh, kan?” tanyanya.


“Ya boleh, lah. Yang nggak boleh itu, kalau kamu tiba-tiba jengukin dia tapi sambil bawa cincin lamaran.” Gurau Zahira, diakhiri kekehan ringan untuk mencairkan suasana.


“Ya nggak udah dibayangin juga!” Zahira menginterupsi.


Juan kembali menyengir. “Horor, Za.” Keluhnya.


Zahira kembali hanya menggelengkan kepala tak habis pikir.


Interaksi yang mereka tunjukkan itu tampak menarik bagi sopir taksi online yang sudah menunggu Juan sejak tadi. Pria bertubuh gempal dengan kumis melintang itu ikutan tersenyum, menatap takjub pada sepasang muda-mudi dimabuk asmara itu. Mungkin di dalam kepalanya kini, sedang terbayang kembali bagaimana perjalanan cintanya semasa muda dulu.


“Udah, sana pulang, kasihan tuh pak sopir udah nungguin dari tadi.” Ketika tahu dirinya disebut, si sopir taksi pura-pura sibuk sendiri. Salah tingkah, takut dikira menguping—padahal ya memang dia menguping sejak tadi.


“Cium dulu.” Goda Juan seraya menunjuk pipinya. Namun, yang dia dapatkan malah gebukan keras di lengan.

__ADS_1


“Nggak usah aneh-aneh! Buruan sana, pulang!” Zahira mendorong punggung Juan menjauh. Terus mendorongnya sampai ke dekat pintu taksi.


“Pak, minta tolong antar sampai rumah dengan selamat, ya.” Ucap Zahira pada si sopir taksi yang sedari tadi masih mengulum senyum.


“Siap, Mbak.” Si sopir taksi menyanggupi. “Ayo, Mas, naik.”


“Aku pulang.” Pamitnya lagi. Dan sebelum satu gebukan mendarat lagi di bagian tubuhnya yang lain, Juan buru-buru masuk ke dalam taksi dan menutup pintu.


Namun, sebelum taksi melaju, Juan menurunkan kaca mobil, untuk melambaikan tangan kepada kekasih tercinta yang masih setia menunggu.


“Bye!” ucapnya seraya melambaikan tangan dengan hebohnya.


Zahira tersenyum tipis, lalu membalas lambaian tangan Juan dengan tidak kalah semangatnya.


Kemudian, taksi melaju, meninggalkan area perumahan Zahira dan tumpahan air mata yang tak terhitung seberapa banyak sudah dikuras malam ini saja.


“Pacarnya, ya, Mas?” tanya si sopir taksi ketika mereka berjalan keluar dari gerbang perumahan.


Juan menoleh ke depan, setelah sebelumnya melemparkan pandangan ke luar jendela, lalu tersenyum. “Iya. Cantik, ya, Pak?”


“Cantik, Mas. Kelihatannya baik juga.”


Untuk hal itu, Juan tidak perlu berpikir lama untuk mengangguk mengiyakan. “Idola kampus Pak, dulu.”


“Wah, kalau gitu, buruan dilamar, Mas. Yang kayak Mbaknya itu biasanya banyak yang naksir, loh. Daripada keduluan, kan?”


Dan untuk yang itu, Juan hanya bisa tersenyum simpul. Inginnya juga begitu. Inginnya juga dia segera melamar Zahira dan menjadikan perempuan itu menjadi miliknya seutuhnya. Tapi... ah, sudahlah. Tidak ada gunanya mempertanyakan hal yang sama beratus-ratus kali. Karena jawabannya masih sama; antara berpisah, atau salah satu di antara mereka mengalah.


“Doain aja, Pak. Saya lagi siapin semuanya.” Pada akhirnya, hanya itu yang bisa Juan katakan. Lalu pada jalanan malam yang lengang, dia kembali melabuhkan pandangan dengan pikiran yang melayang-layang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2