
Pagi-pagi sekali, Reno sudah menemukan Juan terlihat gelisah. Lelaki itu bergerak mondar-mandir di dalam kamarnya, masih dengan mengenakan setelan tidur yang kusut dan rambut gondrongnya yang acak-acakan. Seperti biasa, ketika sedang gelisah, lelaki itu juga menggigiti kuku jarinya—yang entah dalam keadaan bersih atau tidak.
“Ngapain lo? Lagi mikirin gimana caranya mindahin manusia ke Mars?” tanya Reno, akhirnya menyusup masuk ke dalam kamar Juan setelah sebelumnya hanya menyaksikan dari ambang pintu.
Juan menoleh cepat, berhenti dari gerakan mondar-mandirnya hanya untuk menyuguhkan tatapan yang terlalu sulit untuk Reno terjemahkan. Oh, dia baru bangun tidur. Jangan suruh dia untuk menerka-nerka karena itu butuh banyak sekali tenaga.
“Ren,” panggil Juan pelan setelah sekian lama terdiam. Kemudian, dia berjalan mendekati Reno, mengikis jarak yang ada di antara mereka hingga hanya tersisa satu langkah saja yang terbentang.
“Apa, sih? Kenapa?” Reno mulai agak sewot. Laki-laki yang baru memangkas rambutnya dan mengubahnya kembali menjadi warna hitam legam lantas menarik langkah mundur, ogah berada dalam jarak yang terlalu dekat dengan Juan.
“Ren...” panggil Juan lagi. Kali ini lebih terdengar seperti sedang merengek sehingga membuat Reno tak kuasa menahan diri untuk tidak menatap tajam.
“Apa, sih, anjing?! Buruan ngomong! Itu muka juga nggak usah kayak gitu, jiik!” Reno mengomel dengan suara yang naik beberapa oktaf. Tangannya sudah gatal sekali sebenarnya, ingin menjitak kepala Juan agar sepupu bongsornya itu berhenti merengek seperti bayi. Karena meskipun ini hari Sabtu dan mereka punya banyak waktu untuk bicara, Reno tetap tidak ingin waktunya terbuang sia-sia.
Sembari menunggu Juan bicara, Reno berjalan menuju ranjang. Dengan santainya dia rebahan di atas ranjang yang empuk, sambil iseng memainkan tab milik Juan—memakainya untuk bermain angry bird.
“Gue mau ngelamar Zahira.”
“Oh,” hanya itu respons yang pertama kali Reno berikan. Eits, tapi tunggu dulu. Respons itu Reno berikan karena dia tidak benar-benar mendengarkan apa yang barusan Juan katakan. Karena setelah otaknya mencerna ulang, lelaki mungil itu praktis memekik heboh. Ia terlonjak, membuat tab di tangan terlempar dan mendarat mengenaskan di atas lantai.
“Lo bilang apa barusan?!” teriaknya lagi. Sudah tidak peduli lagi dia pada kondisi tab yang teronggok tak berdaya. Tak peduli juga berapa banyak uang yang harus dia keluarkan untuk mengganti kerusakannya. Lelaki itu malah berjalan cepat menghampiri Juan, menatap serius seperti mereka sedang dalam pembahasan serius mengenai bagaimana caranya memindahkan umat manusia ke planet Mars.
__ADS_1
“Gue mau ngelamar Zahira.” Dengan intonasi dan nada suara yang masih sama, Juan mengulangi kalimatnya. Tidak ada waktu untuk merasa kesal karena Reno telah merusakkan tab yang harus dia beli pekan lalu, sebab saat ini dia memiliki hal yang jauh lebih penting untuk didiskusikan dengan Reno.
Melamar Zahira. Juan tidak sedang membual ketika mengatakan itu. Dia juga tidak dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan apa pun yang bisa membuatnya jadi melantur. Juan seratus persen sadar, dan dia akhirnya sampai pada keputusan ini setelah melewati banyak sekali malam dengan begitu banyak pertimbangan.
Hari ini, hampir sebulan sejak dia dan Zahira kembali berbaikan. Dalam kurun waktu itu, banyak hal yang kembali terjadi. Mereka sesekali masih cek-cok kecil karena miskomunikasi. Tak jarang dia juga masih sering merasa cemburu pada Adnan dan Zayyan meskipun sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak membahas soal orang lain di dalam hubungan mereka lagi.
Tapi, yang lebih penting daripada itu semua, Juan tahu menikah dengan Zahira adalah satu-satunya cara agar Moana berhenti terobsesi dengan dirinya.
Juan tidak bodoh. Meskipun Moana sudah tidak lagi mendekatinya secara agresif, namun Juan tahu perempuan itu masih memiliki niat untuk masuk ke dalam hubungannya dengan Zahira, dan itu sangat mengganggu. Jika mengadu pada Zahira soal itu, dia hanya akan berakhir diceramahi untuk tetap berpikir positif terhadap orang lain.
Masalahnya, Zahira terlalu lugu. Dia tidak akan tahu kalau Moana bisa saja bertindak nekat untuk mendapatkan apa yang dia mau. Jadi, pikir Juan, sebelum Moana melangkah semakin jauh, kenapa tidak dia dan Zahira saja yang menetapkan batas garis keras agar perempuan itu mau tidak mau berhenti mendekat?
Juan mengangguk mantap. “Yakin. Gue udah pertimbangin semuanya.”
“Soal itu, gimana?”
“Udah gue pikirin juga. Gue bakal ikut ke Zahira.” Memang tidak mudah, tapi Juan yakin dia bisa. Karena, bukankah pada intinya Tuhan itu tetap satu, dan hanya cara kita berkomunikasi dengan-Nya saja yang berbeda?
Untuk beberapa lama, Reno menundukkan kepala. Dia memikirkan banyak sekali hal meski bukan ia yang hendak mengambil keputusan besar ini. Kalau soal keyakinan, Reno tidak pernah ambil pusing. Karena meskipun dia dan Juan pada akhirnya akan mengimani Tuhan yang berbeda, Reno tetap percaya bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka berdua tidak akan pernah berubah. Mereka tetap saudara, entah Tuhan mana yang mereka sembah di hari-hari berikutnya.
Yang menjadi kekhawatiran besar bagi Reno adalah restu dari orang tua Juan, terutama ibunya. Karena meskipun tidak pernah secara terang-terangan melarang Juan berpacaran dengan Zahira, Reno tahu ibunda Juan tidak memiliki minat pada perempuan salihah itu. Jika Juan tetap nekat menikahi Zahira, apakah semuanya akan baik-baik saja?
__ADS_1
“Ren,” dan tepukan singkat itu membuat Reno kembali mengangkat kepala. Ia menghela napas begitu panjang kala netranya bertubrukan dengan milik Juan yang menyorotkan binar penuh pengharapan.
“Menurut lo gimana? Gue harus ngomong ke siapa dulu? Abi Hamzah, atau Zahira?” tanya Juan.
Tapi daripada satu di antara dua pilihan itu, Reno malah menjawab “Mama” yang seketika membuat Juan melenguh kecewa.
“Orang pertama yang harus lo mintain izin itu Mama.” Reno melanjutkan.
“Ngapain? Cowok nggak perlu dapat restu dari siapa-siapa kok buat bisa nikah.” Juan si keras kepala.
Reno menghela napas—lagi. “Lo mungkin nggak peduli, tapi gimana sama Zahira?” tanyanya balik. “Kalau lo nekat nikah sama Zahira tanpa restu dari Mama, apa lo pikir kehidupan Zahira ke depannya bakal berjalan mudah?” sambung Reno, lalu dia menggeleng. “Enggak, Ju. Zahira pasti bakal tekanan batin karena dia tahu kehadiran dia nggak diterima.”
Mendengar itu, Juan terdiam. Kemudian, dia mengambil waktu untuk merenung cukup lama. Selama ini, yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya menjadi diterima di dalam keluarga Zahira—dan dia berhasil melakukannya. Namun, dia tidak pernah memikirkan bagaimana caranya agar Zahira juga diterima di keluarganya. Bahkan, lima tahun berpacaran, Juan sama sekali belum pernah membawa Zahira ikut serta ke dalam acara keluarga.
“Pernikahan itu bukan cuma tentang dua anak manusia yang saling jatuh cinta dan kepingin hidup berdua selamanya, Ju. Pernikahan itu menyatukan dua keluarga yang berbeda dari segala sisi, dan lo harus nemuin cara untuk match-in apa-apa aja yang berbeda supaya pernikahan kalian works.” Reno memang bukan ahlinya percintaan. Jelas tidak, ketika dia bahkan belum mampu mendapatkan cara untuk membawa Clarissa kembali ke dalam pelukannya. Tapi kalau soal yang begini, Mami sudah sering memberitahunya. Bahwa cinta saja tidak pernah cukup untuk membangun sebuah keluarga.
“Lo pikir-pikir dulu lagi deh. Cari cara dulu buat bikin Mama kasih restu, baru lo lanjutin rencana lo ini.” Akhirnya, itu menjadi kalimat pamungkas yang Reno katakan kepada Juan, sebelum akhirnya dia berlalu dengan turut membawa beban pikiran Juan bersamanya.
Sementara Juan, lelaki itu masih termenung di tempatnya dengan lebih banyak hal yang berputar silih berganti di kepala.
Bersambung
__ADS_1