Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Menantu


__ADS_3

Pasar tradisional adalah tempat yang asing bagi Juan. Orang tuanya memang bukan yang terkaya nomor satu di Indonesia, tetapi sejak kecil, ia dan keluarga telah terbiasa hidup nyaman dengan segala fasilitas yang memadai. Jangankan ke pasar tradisional, ke supermarket untuk membeli barang kebutuhan bulanan sendiri saja mereka tidak pernah. Sudah ada yang melakukannya. Mereka sudah membayar orang untuk mengurus segala keperluan rumah tangga.


Kendati demikian, Juan sama sekali tidak mendapatkan kesulitan ketika harus menemani Umi Maryam pergi ke pasar tradisional untuk membeli berbagi macam sayur dan bahan masakan yang lain. Ia juga tidak protes kala Umi Maryam meminta untuk diantarkan naik motor matic milik Zahira, alih-alih naik mobil agar tidak kepanasan. Kata calon ibu mertuanya itu, datang ke pasar tradisional dengan baik mobil itu hanya akan menyusahkan. Bukan untuk mereka, melainkan untuk tukang parkir di sana karena harus putar otak mencarikan lahan parkir untuk mobil yang body-nya jelas makan tempat.


Berbagai kios sudah Juan datangi bersama Umi Maryam. Di kedua tangannya saat ini juga sudah terdapat empat kantong belanja berisi berbagai jenis sayuran, daging dan bumbu-bumbu dapur yang lain. Tapi yang namanya menemani ibu-ibu belanja memang tidak akan secepat itu berakhir. Meski sepertinya sudah menghabiskan hampir 300 ribu, Umi Maryam masih terus melangkahkan kaki menyambangi kios-kios lain.


Kali ini kios yang Umi Maryam tuju berada di bagian paling luar, dekat dengan akses menuju parkiran. Kios itu menjual berbagai macam makanan laut yang dikeringkan seperti cumi dan beberapa jenis ikan asin. Umi Maryam menunjuk beberapa, lalu si pedagang dengan sigap membungkus pesanannya.


“Anaknya ganteng, Bu, masih jomblo nggak?” celetuk si penjual yang merupakan ibu-ibu setengah baya berambut keriting sebahu. “Kalau masih, bisa kali dikenalin ke anak saya. Kebetulan saya punya anak perempuan, masih jomblo, umurnya juga kayaknya nggak beda jauh sama anaknya ibu.”


Umi Maryam tersenyum lembut kala beralih menatap Juan yang berdiri menjulang di belakangnya. Sedangkan Juan hanya bisa bungkam sebab tidak tahu harus meladeni basa-basi si ibu penjual itu dengan reaksi semacam apa. Ahh... Juan juga tidak yakin apakah itu termasuk ke dalam jenis basa-basi atau si ibu itu memang berniat menjodohkan ia dengan putrinya.


Yang mengejutkan adalah, respons Umi Maryam setelah kembali menatap si pedagang seraya mengulurkan lembaran uang seratus ribu. “Ini mantu saya, Bu. Anak saya cuma satu, perempuan.”


Seketika itu juga, Juan merasa kakinya mulai tidak lagi menapak di atas tanah. Rasanya dia sedang melayang, begitu bebas dan tinggi sampai hampir menyentuh susunan langit paling atas.


Mantu. MANTU?! Oh, bahkan untuk menyebut dirinya sendiri sebagai calon mantunya orang tua Zahira saja, Juan masih takut-takut. Tapi saat ini, dia justru mendengar Umi Maryam menyebutnya sebagai mantu? Sumpah, rasanya seperti mimpi, dan Juan tidak ingin terbangun lagi!


“Yah, mantunya toh. Saya pikir anaknya. Soalnya agak mirip juga sama ibu.” Si pedagang melenguh kecewa, namun Juan tidak peduli. Dia malah senyum-senyum sendiri, persis orang gila yang harus bergabung ke rumah sakit jiwa.


“Ganteng ya, Bu?”


“Ganteng banget, Bu. Anaknya ibu juga pasti cantik banget, ya, sampai bisa dapat mantu seganteng ini?”


Umi Maryam hanya tersenyum simpul. Sesekali ia melirik ke arah Juan selagi menunggu si pedagang memberinya uang kembalian. Kalau Juan... sudah tidak usah ditanya lagi, dia sudah terbang tinggi sekali, sampai lupa bagaimana caranya turun dan kembali menapak di atas bumi.


“Itu ada teman atau saudaranya yang ganteng juga nggak, Bu? Mau dong kenalin ke anak saya.” Si ibu pedagang masih tidak menyerah mencarikan jodoh untuk anaknya.

__ADS_1


Umi Maryam terkekeh seraya menerima uang kembalian. “Nggak punya saudara, Bu, anak tunggal juga. Kalau teman-temannya sih saya nggak tahu, ya, anaknya jarang keluyuran soalnya, jadi saya nggak tahu dia punya teman atau nggak.”


“Wah, menantu idaman banget sih itu, Bu. Beruntung banget Ibu sama anak Ibu.”


“Alhamdulillah, Bu. Kalau gitu, saya permisi, ya, kasihan mantu saya berat bawa-bawa kantong belanja.”


“Oh, iya, silakan, Bu. Hati-hati di jalan.”


“Mari.” Lalu Umi Maryam berjalan lebih dulu dan Juan mengekor di belakang. Full senyum sudah dia di pagi hari yang cerah ini.


...****************...


Meski tidak sebesar rumah yang dia tinggali, rumah Zahira tetap bisa menawarkan kenyamanan yang tidak akan dia temukan di tempat lain. Bukan hanya karena dia merasa diterima dengan baik, tetapi juga karena ada banyak sekali hal-hal positif yang bisa dia pelajari selama berada di rumah ini.


Bersosialisasi dengan tetangga sekitar, mengajak main bocil-bocil kematian yang berlarian di depan gerbang dan tak jarang menendang bola mereka hingga melewati gerbang dan jatuh di halaman, juga memberhentikan tukang roti tawar dan membeli dagangannya meski hanya satu bungkus. Juan belajar banyak dari kehidupan sederhana Zahira dan keluarganya, sesuatu yang jelas-jelas tidak dia dapatkan di keluarganya sendiri.


“Tadi kamu pakai motor aku, ya, Ju?” Zahira muncul dari balik pintu seraya membawa satu botol air mineral yang sebelumnya memang Juan minta. Lelaki itu baru kembali dari pasar, memutuskan untuk ngadem di teras depan setelah membantu Umi Maryam memasukkan semua belanjaan ke dalam rumah.


“Udah 3 bulanan nggak aku pakai.” Tutur Zahira.


“Pantes. Oli dan segala macamnya juga pasti belum diganti dan dicek, kan?”


Zahira mengangguk. Berhubung masih ada sisa cukup banyak di dalam botol air mineral milik Juan, ia pun turut menenggaknya. Sebenarnya ia tidak terlalu haus, makanya dari dapur hanya membawa satu botol. Tetapi setelah melihat Juan minum, tiba-tiba saja tenggorokannya ikut terasa kering.


“Sayang loh itu, Za, masih bagus tapi nggak terawat.”


“Ya gimana, orang akunya sibuk. Abi juga nggak sesantai itu buat bisa bawa motor aku ke bengkel. Dari pagi sampai sore dia di sekolah, malamnya kadang ngajar ngaji bocah-bocah kompleks. Kalau Umi ... mana ngerti soal beginian.”

__ADS_1


“Kan, ada aku.” Juan menunjuk dirinya sendiri. “Mumpung masih ada aku, kamu tuh harus manfaatin dengan baik, Za. Apa? Kamu butuh minta tolong apa? Benerin keran yang bocor? Aku bisa. Masang lampu? Aku bisa. Gas di dapur bocor? Aku tahu solusinya. Komputer punya Abi eror? Aku bisa benerin. Nyabutin rumput di halaman? Aku bisa juga. Apa lagi? Semuanya deh, semua yang kamu butuhin, aku bisa.”


“Tiba-tiba banget?” Zahira keheranan. Juan memang kerap memintanya untuk jangan sungkan meminta bantuan. Tapi kalau sampai menawarkan diri untuk melakukan segala macam pekerjaan rumahan seperti itu, Juan tidak pernah. “Mendadak mau cosplay jadi Hong Banjang kamu, yang bisa lakuin semua hal sendiri?”


Hong Banjang adalah nama dari salah satu karakter di dalam drama Korea yang Zahira tonton. Di drama itu, karakter tersebut memang digambarkan sebagai seorang laki-laki yang memiliki banyak sekali keahlian. Mulai dari meracik kopi sampai memperbaiki kapal. Semuanya dia bisa. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan memiliki lisensi untuk melakukan semua pekerjaan tersebut.


Melihat Juan yang tiba-tiba saja mau menjadi rajin mengingatkan Zahira pada Hong Banjang yang dramanya sudah selesai dia tonton minggu lalu.


“Ini bukan soal mau cosplay jadi Hong Banjang,” Juan mengatakan itu setelah berdecak pelan.


“Terus?”


“Sebagai mantunya Umi, aku emang harus serbabisa, Za. Ganteng aja nggak cukup soalnya. Aku juga harus pintar benerin banyak hal, harus mau disuruh anterin ke pasar, harus siap sedia menyayangi dan mencintai kamu sampai akhir. Oh, jangan lupa, aku juga harus pintar cari uang biar kamu sama Umi nggak perlu mikir kalau mau belanja bulanan.”


Semangat Juan yang menggebu-gebu saat mengatakan itu semua membuat Zahira ternganga. Apa kiranya yang sudah dikatakan oleh Umi selama mereka pergi ke pasar, hingga membuat Juan bicara omong kosong seperti sekarang? Bukan omong kosong, sih. Hanya sedikit di luar konteks dan terlalu tiba-tiba saja.


“Kamu kesambet apa, Ju?” sekonyong-konyong Zahira menempelkan punggung tangan di dahi Juan. “Atau lagi sakit?”


“Ih, kamu! Orang lagi ngomong serius malah dibilang kesambet.” Juan memberengut.


“Ya habisnya kamu aneh. Apa coba tiba-tiba ngomongin soal mantu?”


“Lah, kamu nggak suka? Kamu nggak mau kalau aku jadi mantunya Umi? Ohhhh ... kamu maunya si Andan Bagong ya yang jadi mantunya Umi? Iya?”


“Kok jadi bawa-bawa Mas Adnan lagi, sih? Kamu nih aneh.”


“Tuh, kan, dibelain. Beneran nih kamu maunya si Adnan Bagong nih yang jadi mantunya Umi. Jahat.”

__ADS_1


Baru juga akur, sudah berdebat lagi saja mereka. Barangkali, kalimat itu yang coba disampaikan oleh Abi Hamzah kepada Umi Maryam ketika mereka saling pandang menyaksikan perdebatan antara anak dan calon mantu mereka dari balik pintu.


Bersambung


__ADS_2