Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Biang Kerok


__ADS_3

Lima belas menit berlalu, Juan masih tidak henti-hentinya melayangkan tatapan tajam pada dua sosok laknat yang sudah menyeretnya ke sebuah tempat yang asing. Mereka adalah Albert dan Reno. Yeah, Juan juga tidak tahu bagaimana bisa dia cecunguk itu memiliki relasi. Karena alasan dia memilih Albert sebagai orang kepercayaan untuk mengelola cafe adalah tidak adanya hubungan antara lelaki itu dengan Reno, atau pun teman-teman satu circle mereka yang lain.


“Badan lo kurusan, udah kayak kena gizi buruk.” Bukannya minta maaf, Reno malah menyuarakan cibiran itu dengan santainya. Sontak saja, emosi Juan semakin tersulut.


“Lo pikir gue nggak mampu beli makan, hah?!” sewotnya. Sedetik menatap tajam ke arah Reno, dia beralih kepada Albert. “Lo juga! Gue bayar lo buat kelola cafe, bukan buat jual informasi tentang gue ke orang lain!”


Namun sama seperti Reno, Albert juga tampak tidak peduli. “Ya gimana, ya, duit yang ditawarin sama sepupu lo ke gue jauh lebih banyak sih. Enam kali lipat dari gaji gue sebulan.”


“Sialan!” Juan menggeram.


Belum selesai dia dengan dua cecunguk itu, muncul lagi satu orang yang lebih membuatnya tidak bisa berkata-kata.


Zahira. Iya, Zahira. Pacarnya yang dia puja-puja dan dia pikir bisa menjaga rahasia dengan baik itu, datang menyusul ke ruangan di mana dia didudukkan dengan kedua tangan yang diikat erat di belakang tubuh. Dari bagaimana perempuan itu berusaha menghindari kontak mata, Juan tahu Zahira merasa bersalah. Tapi tetap saja, dia tidak menyangka perempuan itu ikut terlibat.


“Itu ... bisa nggak, kalau ikatannya dilepas? Kasihan Juan.” Pinta Zahira kepada Reno dengan suara yang pelan, takut-takut melirik ke arah Juan yang memasang wajah garang.


“Nggak bisa.” Reno menggeleng keras. “Laki lo lagi emosi, jadi emang paling benar diikat aja kayak gitu. Soalnya kalau gue lapas sekarang, dia bisa matahin leher gue sama Albertus.”


Juan berharap Zahira akan mendesak Reno lebih banyak. Akan tetapi, harapannya sia-sia saja karena Zahira memang semudah itu untuk menyerah jika hal-hal yang dia minta berkaitan dengan orang lain. Kebanyakan mengalah, jadinya tidak punya gereget untuk memaksakan kehendak.


“Lo tinggal di mana?” pertanyaan itu Reno lontarkan lagi. Dia masih tidak menyerah untuk mencari tahu, karena selama satu minggu ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan nasib Juan yang tidak jelas.


“Planet Mars.” Sudah jengah, Juan akhirnya menjawab asal. Dia masih memaku tatap pada Zahira, meski perempuan itu malah menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan ponselnya.


“Pulang kek, itu Mama kangen sama lo.” Pinta Reno lagi. Selain karena memang khawatir dengan keadaan Juan, dia juga tidak tahan mendengar ibunya Juan yang terus meratap, menginginkan anak semata wayangnya untuk pulang.


Bukan hanya sekadar meratap, perempuan itu juga sampai meminta kepada suaminya untuk mengerahkan orang demi bisa membawa pulang Juan secara paksa. Namun, Reno mencegahnya. Dia tahu Juan itu keras kepala. Kalau sampai orang tuanya betulan membawa pulang lelaki itu secara paksa, yang ada Juan malah akan semakin mereog dan bisa saja melakukan tindakan yang lebih nekat.


Sebagai gantinya, Reno menawarkan solusi lain. Dia meminta ayah Juan mengerahkan orang untuk sekadar mencari tahu saja di mana keberadaan Juan, sedangkan untuk urusan membujuk Juan pulang, Reno akan melakukannya dengan pendekatan yang lebih pelan dan baik-baik. Katanya, sekeras apa pun batu, lama-kelamaan tetap bisa lapuk kalau terus-terusan ditetesi air, kan? Siapa tahu saja, keras kepalanya Juan juga bisa luluh kalau dia berusaha pelan-pelan.

__ADS_1


“Nanti.” Juan mengulangi jawaban yang sudah dia berikan berpuluh-puluh kali. “Gue udah bilang sama lo kalau gue bakal tetap pulang, tapi nanti.”


“Nantinya itu kapan?” karena Reno juga butuh kepastian. Setidaknya untuk meyakinkan ayah dan ibu Juan untuk tidak menyeret paksa anaknya kembali ke rumah.


“Ya nanti. Gue butuh waktu buat persiapin ini dan itu. Gara-gara lo nyulik gue begini, gue jadi buang-buang waktu! Padahal seharusnya gue bisa persiapin lebih banyak hal.”


Dengan berat sekali, Reno menarik napas. “Kalau nggak begini, lo nggak akan mau diajak ngomong. Telepon gue aja udah beberapa kali lo skip.”


“Gue sibuk.”


“Klasik.” Sergah Reno. “Sibuk itu alasan paling nggak masuk akal, lo tahu?”


Malas meladeni, Juan kembali menaruh atensi kepada Zahira. “Aku di sini, kenapa kamu malah sibuk mainin hape?” tanyanya. Meski kasih kedengaran lembut, tapi ada sedikit ketidakramahan yang terselip dari suaranya.


Gugup, Zahira memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Lalu dengan takut-takut dia menatap Juan.


“Gue yang maksa dia.” Reno menyela. Sontak, Juan mendelik tidak suka ke arahnya.


“Gue nanya sama Zahira, bukan sama lo.” Ketusnya.


“Kalau Zahira yang minta, dia pasti bakal belain gue. Mau lo begitu?” Reno berkilah. Dengan begitu saja, Juan tidak lagi memperpanjang masalah.


“Lepasin, gue pegal.” Pintanya seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya.


“Nggak. Kasih gua kepastian dulu, lo kapan bisa pulang, baru nanti gue lepasin.”


Juan mendengus kasar. Dia pikir, dia sudah paling keras kepala. Tapi rupanya Reno jauh lebih keras kepala daripada yang dia duga.


Akhirnya, mau tak mau, Juan pun memberikan satu waktu yang pasti, meski sebenarnya dia belum siap-siap amat untuk membawa Zahira pergi menemui Mama.

__ADS_1


“Minggu depan gue pulang, puas lo? Sekarang buruan lepasin gue.”


“Beneran minggu depan, ya? Nggak bohong?”


“Iya.”


Reno tidak lantas bergerak mendekat. Dia menoleh dulu ke arah Albert, memberi kode agar lelaki itu segera keluar dari ruangan dengan membawa serta Zahira. Ceritanya, dia ingin menjadi pahlawan ceunah. Biar dia saja yang digebuk oleh Juan, Albert dan Zahira jangan.


Seperti sudah biasa menerima kode-kode melalui gerakan mata, Albert segera mengangguk mengiyakan. Digiringnya Zahira keluar cepat-cepat.


Heh! Mau lo bawa ke mana cewek gue, hah?! Juan ingin berteriak seperti itu, namun urung karena dia tidak ingin Reno merasa ragu untuk melepaskan ikatan di tangannya. Kalau itu terjadi, dia tidak akan bisa menjitak kepala Reno sampai puas seperti yang sudah dia rencanakan sejak tadi.


“Buruan.” Juan memberikan perintah lain sebagai gantinya.


Pada dasarnya, Reno tidak suka diperintah. Tapi demi melihat Juan pulang ke rumah, dia menuruti keinginan lelaki itu meski masih dengan menggerutu.


Tidak butuh waktu lama sejak tali mulai dilonggarkan, Reno sudah mulai mendapatkan serangan yang agresif dari Juan. Tubuh kecilnya diapit, lehernya dipiting dan kepalanya berkali-kali dijitak oleh Juan dengan begitu brutalnya.


“Makan nih! Berani-beraninya lo nyulik gue dan jadiin cewek gue sebagai sekutu, hah?! Dasar!”


“Sakit, anjing!”


“Nggak peduli! Lo harusnya dapat yang lebih daripada ini karena udah melanggar privasi gue!”


“Aw! Stop! Sakit!”


“NGGAK AKAN. GUE NGGAK AKAN STOP SAMPAI GUE PUAS.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2