
Serangkaian acara resepsi yang melelahkan akhirnya usai juga. Baskara dan Biru juga masih turut ada di sana, menemani kedua mempelai menyelesaikan semuanya hingga kini mereka bersiap untuk pulang.
Sebelum pulang, Juan menarik Baskara menepi. Seakan belum puas dia berbincang dengan lelaki itu, seakan jika mereka berpisah setelah ini, waktu untuk bertemu kembali tidak akan bisa sebanyak ketika dulu.
“Foto dulu.” Kata Juan seraya menggamit lengan Baskara menuju area yang dia rasa cocok untuk mengambil foto.
Baskara menurut saja. Jas hitam yang sebelumnya dia tenteng dia titipkan kepada Sabiru, sementara lengan kemejanya yang semua masih utuh kini dua-duanya digulung sampai ke batas siku. Tadinya, dasi berwarna hitam yang mengalung di kerah kemejanya itu sudah longsor, namun Baskara dengan cepat memasangnya kembali karena dia ingin kelihatan rapi saat difoto.
Berhubung fotografer profesional yang Juan sewa untuk mengabadikan momen pernikahannya dengan Zahira sudah pulang, Juan pun berinisiatif menjadi fotografer dadakan. Skill fotografinya memang tidak sebagus Fabian, tapi bisalah kalau cuma mengambil foto untuk kenangan-kenangan.
“Ren! Buruan!” teriaknya, pada Reno yang lelet sekali berjalan ke arah mereka.
“Sabar!” Reno balik mengomel. Lelaki mungil itu berjalan terburu sambil memasang kembali jas yang melekat pas di tubuhnya. “Nah, ayo.” Ujarnya ketika dia sampai, dan langsung merangkul pundak Baskara.
“Lo kayak mau foto wisuda, anjir, rapi bener!” Juan mencibir. Padahal alangkah lebih bagus kalau Reno tidak melekatkan jas hitam itu ke tubuhnya. Biar kesannya tidak terlalu formal.
Tapi protes dan cibiran itu tidak lantas membuat Reno peduli. Dia bodo amat, tetap berpose seperti apa yang dia inginkan. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara sudut-sudut bibirnya hanya tertarik sedikit membentuk senyuman tipis yang terkesan irit.
“Senyumnya agak lebar dikir coba, jangan kayak tekanan batin gitu.” Komentar Juan lagi. Sebagai fotografer, dia tentu ingin hasil fotonya memuaskan, benar?
“Bacot, buruan!” Reno menyahut begitu dengan bibir yang nyaris terkatup rapat. Sementara Baskara yang sudah berpose dengan gaya yang persis sama pun hanya bisa terkekeh mendengar perdebatan antara sepasang sepupu itu.
Waktu boleh saja berlalu, banyak hal juga telah berubah selama mereka tidak saling bertemu. Tapi satu hal yang Baskara sadari adalah, yang berubah hanya suasana dan beberapa hal yang sifatnya eksternal. Sementara teman-temannya ini, masih persis sama seperti yang dia kenal bertahun-tahun silam. Cerewet, berisik, kekanakan. Tetapi, Baskara tetap sayang.
“Siap? Satu, dua, tiga!”
Cekrek!
__ADS_1
Satu foto berhasil diambil. Juan mengeluarkan jempolnya pertanda hasil fotonya sudah oke dan mereka bisa pergi. Ya gantian lah, dia juga mau berfoto bersama Baskara.
Akan tetapi, si tengik Reno malah berulah. Alih-alih menyingkir, lelaki itu malah semakin mepet ke arah Baskara, lalu mulai membuat pose-pose lain yang lebih absurd dan bervariasi ketimbang sebelumnya.
Juan geram sekali, dia ingin menyeret Reno pergi. Namun, itu hanya dia lakukan di dalam kepala karena kenyataannya dia tetap menurut. Beberapa foto lagi dia ambil, sesuai dengan keinginan Reno. Baskara hanya iya-iya saja. Meski semakin lama pose yang Reno buat semakin absurd, dia tetap meladeninya. Hitung-hitung sebagai penebusan dosa atas kepergiannya yang tanpa pamit beberapa tahun sebelumnya.
Merasa sudah puas, barulah Reno menyingkir, bertukar posisi dengan Juan di mana dia kini yang bertugas menjadi fotografer dadakan.
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai total sebelas kali Reno mengeklik tombol shutter, dan terkumpul sudah beberapa foto yang tidak semuanya cukup layak untuk dipajang. Beberapa terlihat blur, satu di antaranya menampakkan Juan yang matanya merem, satu lagi Juan sedang mangap, dan sisanya cukup layak untuk disimpan meski kualitasnya seperti diambil menggunakan ponsel keluaran lama yang kameranya masih ala kadarnya.
Reno memang tidak ahli mengambil gambar, Juan seharusnya tahu itu. Jadi nanti kalau Juan protes, dia hanya harus melawan lelaki itu dengan argumen-argumen yang akan membuat Juan kicep. Yah, tipikal Reno sekali.
“Mau foto bertiga?” tanya Baskara.
“Of course,” Juan mengangguk. Dia lalu menggeret Reno, menempatkan lelaki itu di posisi kanan tubuh Baskara sementara dia ada di sisi kiri. Dengan Baskara sebagai center, mereka mengambil gambar.
Senyum ketiganya merekah, lebar sekali sampai-sampai membuat Biru, Albert dan juga Zahira yang menyaksikan dari kejauhan turut menyunggingkan senyum senang.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Juan menolak untuk diantarkan oleh sopir. Dia memilih menyetir mobilnya sendiri ke rumah yang kini tidak dia tinggali sendirian. Untungnya, kedua pihak keluarga bukan tipikal yang ribet dan terlalu percaya pada yang namanya pamali, sehingga mereka diizinkan untung berkendara sendiri dari gedung resepsi.
“Kamu masuk aja, koper kamu biar aku yang bawa.” Ucap Juan pada Zahira yang barusan dia bukakan pintu mobil. “Nih, kuncinya.” Sambungnya seraya menyerahkan kunci rumah dengan gantungan berbentuk boneka beruang kecil yang lucu.
“Sejak kapan kamu suka beruang-beruang gemes kayak gini?” tanya Zahira yang malah salah fokus pada gantungan kuncinya. Ya wajar, sih, Juan memang bukan tipikal yang menyukai hal-hal kiyowo seperti itu. Otot dan mukanya yang sangar juga sudah menunjukkan bahwa dia lebih suka adu panco ketimbang mengoleksi mainan-mainan lucu.
“Oh,” Juan berhenti sejenak dari kegiatannya membongkar bagasi, hanya untuk menilik kembali gantungan kunci yang Zahira maksud. “Itu Baskara.” Jawabnya.
__ADS_1
“Baskara? Maksudnya? Dikasih sama Baskara? Dia suka koleksi gantungan kunci gemoy kayak gini?”
“Bukan.” Jawab Juan. Koper dia turunkan, lalu dia tutup kembali pintu bagasi. “Beruang itu adalah Baskara. Dia dulu gembul dan gemesin, kayak beruang itu. Tapi sekarang ... yeah, kamu lihat sendiri kan dia udah nggak kiyowo lagi.”
“Masih.” Sahut Zahira, sontak Juan mengerutkan keningnya. Apa istrinya itu baru saja mengakui bahwa Baskara kiyowo? Hmm... Tidak bisa dibiarkan.
“Kamu lagi muji cowok lain di depan aku?” tanyanya, sok-sokan memasang tampang galak yang ujung-ujungnya malah membuat Zahira tergelak. “Heh! Malah ketawa!”
“Baskara emang kiyowo, kamu juga tahu itu. Ini bukan soal aku muji cowok lain, ya, tapi aku lagi memvalidasi omongan kamu yang sebelumnya.”
“Alesan.” Juan masih merengut. “Bilang aja kalau kamu gemes sama Baskara. Iya, kan?”
“Iya.” Zahira sambil manggut-manggut dan tersenyum senang. Juan makin meradang, sudah pasti. Bibir bawahnya sudah maju beberapa senti, sampai rasa-rasanya Zahira ingin sekali mengikatnya menggunakan ikat rambut.
“Istri macam apa yang terang-terangan ngomong kayak gitu di depan suaminya, hah?” omelnya.
Menanggapi itu, Zahira hanya tersenyum. Sepertinya, sudah cukup mengerjai Juan kali ini. Mereka sama-sama lelah karena serangkaian acara yang mereka lewati seharian ini. Belum lagi beberapa malam sebelumnya mereka juga sama-sama kekurangan tidur karena dilanda grogi yang tak tertahankan. Kondisi hati mereka bisa jadi jauh lebih sensitif ketimbang biasanya, bahaya jika bercanda terlalu kelewatan. Zahira tentu tidak ingin hari pertama menjadi suami istri malah mereka lewatkan dengan pertengkaran karena sebuah candaan yang kelewat batas.
Untuk itu, Zahira segera menarik diri. Kemudian, tanpa aba-aba, perempuan itu mendekatkan wajahnya, lantas mengecup singkat bibir suaminya yang manyun abis. Efektif. Cara itu ampuh sekali untuk membuat Juan meleleh, seperti es di kutub yang mencair karena terkena hangat sinar matahari.
“Baskara emang cute, tapi nggak ada yang lebih cute dari kamu di mata aku. You’re the only one, Juananda Saputra.” Bisik Zahira masih dalam posisi wajah yang cukup dekat dengan Juan.
Juan gemas berat. Kalau saja mereka tidak sedang ada di depan rumah, di mana bisa saja ada yang melihat, Juan mungkin akan langsung menerkam Zahira, membuat perempuan itu berteriak menyerukan namanya berkali-kali sampai suaranya habis tak bersisa.
“Za,”
“Hmm?”
__ADS_1
“Jangan salahin aku, ya, kalau malam ini kita nggak akan tidur sampai pagi.”
Bersambung