Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
The Day


__ADS_3

Jam demi jam yang bergulir membawa hari yang ditunggu dalam harap-harap cemas akhirnya tiba juga. Pagi-pagi, sekitar pukul 9, Juan sudah berpakaian rapi, berdiri di depan pintu rumah Zahira, menunggu sang pujaan hati keluar dari rumah dan mereka akan pergi ke Rumah Besar demi menemui Mama.


Semalam, dia sudah menelepon Mama lebih dulu, memperingatkan ibunya itu untuk menjaga sikap karena dia tidak ingin Zahira merasa tidak nyaman di pertemuan pertama mereka. Melalui sambungan telepon, Mama mengiyakan permintaannya. Namun kendati demikian, masih ada sedikit perasaan was-was yang menghantui, takut kalau-kalau kata iya yang Mama ucapkan semalam hanya sebatas formalitas semata.


“Nope. Stay positive, Juan. Semuanya bakal oke, jangan khawatir.” Ujarnya menguatkan diri sendiri. Karena kalau dia goyah, siapa yang akan meyakinkan Zahira bahwa mereka bisa melewati segalanya?


Lima belas menit menunggu, Zahira akhirnya muncul juga dari dalam rumah. Perempuan itu mengenakan gamis berwarna biru tua dengan motif renda di bagian pinggang yang membuat pinggangnya terlihat kecil. Kerudung warna senada yang membalut kepalanya ditata dengan sedikit lebih rapi ketimbang biasanya. Sementara di tangan kiri perempuan itu, terdapat paper bag yang entah apa isinya.


“Ready?” tanya Juan seraya mengulurkan tangan.


Zahira menyambutnya dengan gugup, lalu menggenggamnya erat demi mendapatkan energi tambahan.


“Ju,” panggil Zahira ketika mereka berjalan menuju taksi online yang sudah menunggu di depan pagar.


Juan menghentikan langkahnya, karena Zahira pun melakukan hal yang sama terlebih dahulu. “Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan senyum manis yang terkembang.


Bukannya balas tersenyum seperti biasa, Zahira malah kelihatan semakin gusar. Ia bergerak tidak nyaman, berkali-kali menunduk menatapi penampilannya sendiri.


“Hei, kenapa?” tanya Juan. Dagu lancip milik kekasihnya itu Juan angkat, agar dia bisa bertatapan langsung dengan manik cantik yang dia puja-puja. “Ada apa, hmm?”


“Aku udah cantik belum, sih? Maksudnya, udah rapi belum dandanan aku? Make up aku ada yang kurang nggak? Baju aku nggak lecek, kan?” tanya Zahira berentetan.


Juan tersenyum tipis mendengar kekhawatiran kekasihnya. Lalu dengan mantap, dia menggelengkan kepala. “Nggak ada yang kurang. Kamu perfect, just the way you are. Oh, wait, kamu selalu perfect di mata aku, Za.” Ucapnya meyakinkan.


“Aku serius, Ju.”


“Aku juga serius, Zahira, Sayangku, Cintaku, Kasihku.” Ujar Juan dengan gemasnya. Dia sampai mencubit hidung bangir Zahira saking gemasnya. “Nggak ada yang kurang sama sekali, percaya sama aku.”


“Yakin?”


“Yakin.”


Seakan masih tidak puas, Zahira malah menghela napas.


“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Juan ketika Zahira kembali menundukkan kepala.


“Aku nggak percaya sama diriku sendiri.” Cicit Zahira.


Hal itu sontak membuat Juan tidak terima. Hei, tidak ada yang boleh meragukan seorang Zahira Cassanova, bahkan jika itu adalah dirinya sendiri!


“Stop!” sergah Juan. Dia kembali menarik dagu Zahira. Kali ini, dia menatap kekasihnya itu lebih lekat. “You’re beautiful. Fix, no debate. Pokoknya, kala kata aku kamu cantik, itu berarti kamu cantik. Kamu harus percaya, nggak boleh enggak.”


“Tapi, kan—“


“No tapi-tapian. Udah, ayo kita berangkat sekarang. Kasihan itu pak sopir udah nungguin dari tadi.” Kemudian, Juan menarik Zahira mendekat. Memastikan lengan perempuan itu berdempetan dengan miliknya agar dia bisa menggenggam tangannya lebih erat.


“Percaya sama aku, semuanya akan oke.” Bisiknya untuk terakhir kali, sebelum mereka masuk ke dalam taksi.


...🍁🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


“Terima kasih.” Juan menyunggingkan senyum pada sopir taksi yang sudah mengantarkan mereka dengan selamat sampai ke Rumah Besar.


“Sama-sama, Mas.” Si sopir balas tersenyum, kemudian kembali menginjak pedal gas, meninggalkan area perumahan elit dengan penjagaan yang super ketat itu.


“Ayo,” Juan kembali meraih tangan Zahira, menyimpannya di sisi tubuh selagi mereka berjalan beriringan mendekati pagar rumah yang tinggi menjulang. Warnanya yang hitam legam kontras sekali dengan bangunan di belakangnya yang kali ini dicat warna putih gading.


“Aku gugup, Ju.” Bisik Zahira. Jemari lentiknya yang terlihat kecil di dalam genggaman Juan bergerak gelisah, pun dengan bola matanya yang tidak bisa diam menjelajah keadaan rumah Juan yang megah bak istana.


“Tenang, ada aku.” Juan kembali berusaha meyakinkan. Stok senyumnya seakan tidak pernah habis, terus dia bagi secara cuma-cuma kepada Zahira.


Sebelum Zahira mengungkapkan kegugupannya lebih lanjut, gerbang di depan mereka terbuka. Seorang wanita paruh baya yang tampil dalam balutan daster batik warna cokelat tua, mengenakan sandal jepit berwarna putih biru dan menggelung rambutnya muncul dari balik gerbang, menyambut kedatangan mereka selayaknya Nyonya dan Tuan.


“Ibu udah nunggu, Den.” Ujar si wanita.


“Thank you, Baby.” Celetuk Juan yang sempat membuat Zahira melongo selama beberapa saat. Namun, keheranannya itu tidak berlangsung lama karena Juan kembali menuntunnya berjalan melewati halaman yang luasnya seperti lapangan bola.


Pintu besar bercat putih gading dengan handle yang kelihatan mewah terbuka tepat ketika mereka berjarak 3 meter dari sana. Seorang perempuan berusia akhir 40-an tampak berlarian dari dalam rumah, tersenyum sumringah seraya merentangkan tangannya lebar-lebar.


Sampai di hadapan mereka, wanita yang mengenakan dress warna merah marun itu langsung saja menyergap tubuh Juan dan memeluknya erat sekali. Luapan rindu tak terbendung. Chyntia berkali-kali mengecupi kedua belah pipi Juan, mengusak rambut lebatnya yang legam, sampai sesekali mencubit hidung mancung yang persis seperti miliknya.


“Mama kangen banget sama kamu, Ju.” Adunya setelah puas menjamah setiap sisi tubuh putranya yang dia rindukan.


Juan tidak banyak bereaksi, dia hanya tersenyum lalu menarik Zahira untuk mendekat. “Zahira.” Ucapnya memperkenalkan.


Yang tadinya sumringah, Chyntia tiba-tiba berubah muram ketika mendapati keberadaan Zahira. Bahkan, dia hanya bisa membiarkan tangannya disambut dan dicium oleh Zahira tanpa dia tahu mengapa perempuan berkerudung itu melakukannya. Di keluarga mereka, tidak ada yang namanya adegan cium tangan seperti itu. Yang ada hanya cipika-cipiki dan berpelukan singkat.


Dari situ saja, bukankah sudah terlihat jelas bahwa mereka sangat berbeda?


Sebenarnya, Chyntia enggan sekali menerima pemberian Zahira. Tapi berhubung dia harus bersikap baik agar Juan tidak murka, Chyntia pun mau tidak mau menerima paper bag itu seraya tersenyum dengan terpaksa.


“Terima kasih.” Ucapnya.


“Sama-sama, Tante. Semoga suka.” Sahut Zahira.


Zahira sadar senyum yang disunggingkan oleh ibunda Juan sama sekali tidak tulus, pun dengan ucapan terima kasih yang barusan dia dengar. Namun, Zahira masih berusaha menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa mereka hanya butuh waktu.


“Reno mana?” suara Juan memecahkan kecanggungan yang terjadi antara calon mantu dan calon mertua itu.


“Lagi pergi. Mami sama Papi juga, papamu juga. Di rumah Cuma ada Mama sama ART.”


Juan manggut-manggut. Ada untungnya juga kalau benar hanya ada Mama di rumah. Jadi, dia bisa membuat Mama dan Zahira lebih banyak berinteraksi. Kalah semua anggota keluarga lengkap, yang ada Mama akan sok sibuk sendiri demi menghindari Zahira.


“By the way,” Juan melirik ke arah ibunya. “Ini kita nggak disuruh masuk? Panas, loh, di luar.”


“Ah, iya. Sampai lupa.” Chyntia terkekeh pelan. Digamitnya lengan Juan menggunakan satu tangan yang bebas, lalu dituntunnya tubuh bongsor putranya masuk ke dalam rumah. Sementara Zahira dia biarkan tertinggal di belakang dan malah sang ART lah yang mempersilakan perempuan itu untuk turut masuk ke dalam kediaman mereka yang megah.


“Kamu tunggu di sini, Mama ada sesuatu yang spesial buat kamu.” Ujar Chyntia seraya mendudukkan tubuh Juan ke atas sofa. Perempuan itu kemudian berlarian menuju dapur, membawa serta paper bag pemberian Zahira.


Juan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ibunya. Sampai punggung perempuan itu menghilang tertelan belokan, ia menoleh kepada Zahira yang ternyata masih betah berdiri.

__ADS_1


“Kamu ngapain berdiri di situ? Sini, duduk.” Titahnya seraya menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Zahira tampak ragu-ragu, namun pada akhirnya tetap menurut dan duduk di sebelahnya dengan memberikan jarak beberapa jengkal.


Tidak mau LDR-an, Juan menarik pinggang Zahira, membawa tubuh perempuan itu agar benar-benar duduk persis di sebelahnya.


“Ih! Jangan dekat-dekat, nggak enak sama mamamu.” Zahira menggeplak pelan punggung tangan Juan, namun kekasihnya itu hanya menyengir bagai manusia tak berdosa.


Ujung-ujungnya, Zahira harus merelakan dirinya dimonopoli oleh Juan. Tidak bisa berontak karena tangan Juan menahan pinggangnya agar ia tidak ke mana-mana.


Setelah berkutat entah dengan apa, Chyntia akhirnya kembali ke ruang tamu dengan membawa piring berisi puding mangga berwarna oranye. Tekstur puding yang lembut membuat penganan itu terlihat bergoyang-goyang mengikuti irama langkah yang Chyntia ayunkan.


“Mama bikin sendiri, khusus buat kamu.” Puding tadi lalu Chyntia letakkan di meja kaca, persis di hadapan Juan. “Cobain.”


Juan menatap ibunya sekilas, lalu mencomot satu potong puding menggunakan sendok garpu yang telah disediakan dan langsung melahapnya. “Enak.” Pujinya, bahkan sebelum dia mulai mengunyah.


Pujian itu membuat senyum Chyntia merekah. Sebagai seorang wanita karir yang hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, jarang-jarang dia mau berkutat dengan hal-hal yang dekat kaitannya dengan peran seorang ibu. Selama 20 tahun lebih, jumlah ia memasak untuk Juan bisa dihitung jari, dan hari ini termasuk ke dalamnya.


“Makan lagi.” Chyntia mendorong piring mendekat ke arah Juan. Senyumnya yang terlampau lebar membuat deretan giginya yang rapi terpampang nyata tanpa penghalang apa pun. “Habisin.”


Juan menuruti keinginan ibunya. Satu potong puding dia ambil lagi. Tapi kali ini, mulutnya bukanlah muara dari potongan puding yang kenyal dan menyegarkan itu. Sebagai gantinya, ia menyodorkan puding itu ke depan mulut Zahira.


“Aaa...” titahnya dengan mulut yang terbuka lebar. Persis seperti bapak-bapak kompleks yang sedang membujuk anak balitanya untuk makan.


Zahira melirik canggung ke arah Chyntia yang duduk di sofa tunggal di sebelah Juan. Kemudian, karena tidak punya pilihan lain, Zahira melahap puding yang Juan suapkan.


Berbeda dengan Juan yang langsung bicara dalam keadaan mulut masih penuh, Zahira memutuskan untuk selesai mengunyah dan menelan dulu semua puding di dalam mulut sebelum berkata, “Enak.” Sebagai sebuah pujian yang tulus. Bukan sekadar basa-basi, karena untuk hal itu, dia juga terbilang buruk.


Tidak seperti reaksi yang dia tunjukkan ketika pujian itu datang dari Juan, Chyntia cenderung biasa saja mendengar pujian dari Zahira. Malahan, dia terlihat tidak rela puding yang dia buat susah payah dimakan oleh orang lain, padahal sejatinya puding itu dia peruntukan untuk putra semata wayangnya.


Tapi, ya sudahlah. Tidak ada gunanya juga meributkan soal puding. Yang terpenting untuk saat ini, dia bisa melihat Juan lagi.


“Mama nggak mau nanya sesuatu sama Zahira?” tanya Juan tiba-tiba.


Sontak saja, Chyntia menjadi gelagapan dibuatnya. Perempuan itu menoleh cepat ke arah Zahira, tidak tahu harus bagaimana tatkala menemukan kekasih putranya itu tengah menatapnya dengan sorot mata teduh yang seolah berkata, “Saya anak baik, Tante. Tolong jangan musuhin saya.”


Demi mengusir perasaan tidak nyaman yang seenaknya sendiri tandang, Chyntia berdeham beberapa kali. Sebelum ini, dia pandai berbasa-basi. Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia bisnis, basa-basi adalah basic skill yang harus dia miliki. Namun, berhubung dia tidak tahu apa-apa tentang Zahira, Chyntia juga jadi bingung sendiri harus berbasa-basi seperti apa.


“Namanya Zahira Cassanova, umurnya 26, mau 27. Bapaknya guru SMA, ibunya ibu rumah tangga. Calon dokter, lagi koas tahun kedua.” Tahu-tahu, Juan membagikan informasi tersebut kepada dirinya tanpa diminta. “Itu informasi dasar soal Zahira. So, Mama bisa tanyain yang lain.” Imbuh lelaki itu.


Nggak membantu. Chyntia membatin dalam hati. Karena aturan dasar dalam sebuah basa-basi menurut kamus hidupnya adalah; orang itu harus memiliki nilai lebih. Gampangnya, orang yang akan dia ajak berbasa-basi harus memiliki impact untuk hidup dan bisnisnya. Seperti misalnya saja kolega, atau calon investor yang harus dia pikat hatinya demi memuluskan rencana.


Sementara Zahira, perempuan itu tidak memilih nilai lebih apa pun di mata Chyntia. Dari segi bisnis, dia menilai berbasa-basi dengan Zahira hanya akan membuang waktu dan mendatangkan kerugian.


Mau sampai mengepul kepalanya, Chyntia sadar dia tetap tidak akan bisa menemukan cara berbasa-basi yang baik dan benar dengan Zahira. Maka, dia menyerah begitu saja.


Dan beruntungnya, suara bel yang ditekan tiga kali menjadi penyelamat baginya. Dengan semangatnya yang menggebu-gebu, Chyntia bangkit dari sofa, kemudian berlarian menuju pintu depan.


“Mama tinggal buka pintu dulu sebentar.” Ujarnya sebelum berlalu.

__ADS_1


Juan hanya bisa pasrah. Dan dalam kepasrahan itu, dia kembali menggenggam tangan Zahira untuk—sekali lagi—meyakinkan kekasihnya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung


__ADS_2