
Keberadaan satu unit Honda HR-V berwarna silver yang parkir di halaman depan rumah besar membuat Juan terheran-heran. Pasalnya, ia yakin mengenal betul itu mobil milik siapa dan tidak ada alasan sama sekali untuk orang itu ada di sini sekarang.
Meski masih dalam keadaan bingung, usai memarkirkan mobilnya di garasi, Juan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia lalu disambut dengan keberadaan sosok yang sudah dia duga, tengah duduk di atas sofa ruang tamu bersama ibunya. Keduanya semula tampak mengobrol asyik, lalu obrolan itu terhenti kala eksistensinya disadari.
“Kamu dari mana aja sih, Ju? Ini Moana nungguin kamu dari tadi loh.” Cerosos Chintya, ibu Juan.
Juan melirik ke arah Moana yang tersenyum tipis ke arahnya. “Kenapa Mo?” tanyanya, berusaha mempertahankan keramahan di dalam nada suaramya meski sejujurnya dia merasa tidak nyaman. Sebagai bentuk sopan santun, dia juga menurut kala ibunya menyuruhnya untuk ikut duduk di sofa.
“Oh, enggak, ini tadi gue habis iseng belajar bikin cookies sama mbak di rumah, terus gue antar ke sini biar bisa dicobain sama Tante Chintya.” Moana menjelaskan secara rinci maksud kedatangannya. Yeah, itu hanya alasan. Seperti kata Galih, perempuan itu sudah lama menaruh hati kepada Juan dan ini adalah salah satu upaya untuk menggaet hati laki-laki itu, yaitu dengan mendekati ibunya.
Kabar baiknya (untuk Moana) adalah, ibunya dan ibu Juan ternyata teman arisan. Jadilah dia memiliki lebih banyak peluang untuk memepet calon mertuanya itu dengan memanfaatkan koneksi di antara dua wanita berkelas itu.
“Lo juga cobain deh, terus nanti kasih tahu gue apa yang kurang.” Moana mendorong toples berisi cookies ke arah Juan, namun si lelaki hanya melirik sekilas tanpa berminat untuk menyentuhnya.
“Thanks sebelumnya, tapi gue hari ini udah banyak makan makanan manis. Besok-besok deh gue cobain.” Juan beralasan. Padahal dia aslinya memang tidak mau saja menyentuh makanan apa pun jika itu diklaim sebagai buatan Moana. Bukannya tidak menghargai, dia justru tidak ingin membuat Moana malah merasa diberi harapan. Nanti ujung-ujungnya, dia juga yang kena kesalahan, dituduh memberikan harapan palsu padahal sejak awal dia sudah dengan tegas mengatakan bahwa hanya ada Zahira seorang di hatinya, tidak ada yang lain.
“Nggak boleh gitu, Ju. Cobain deh, satu aja.” Bujuk Chintya, namun Juan tetap menolak.
“Udah, Tante, nggak apa-apa.” Moana memainkan perannya sebagai perempuan lemah lembut penuh pengertian. “Tapi besok beneran dicoba ya, Ju?” lanjutnya seraya menatap penuh harap ke arah Juan.
“Kalau nggak lupa.” Juan menjawab sekenanya. Kebetulan ponselnya berdenting, jadi dia punya alasan untuk menyibukkan diri supaya tidak dilibatkan lebih banyak ke dalam obrolan ini.
Dari pop up notifikasi, muncul nama Zahira dengan foto profil gambar kucing oyen gendut nan lucu. Senyum Juan serta-merta terkembang begitu saja, bahkan ketika isi pesan yang perempuan itu kirimkan hanya sesederhana: Juju, udah sampai rumah???
Namanya juga orang sudah terlanjur cinta, apa pun yang dilakukan sang pujaan hati ya sudah pasti akan terlihat indah. Lain lagi kalau dasarnya tidak suka, mau yang ditampakkan segala hal indah sekalipun, hanya akan dianggap tidak berarti.
Juan hendak menuliskan balasan untuk Zahira, namun gerakannya terpaksa berhenti sejenak karena ibunya menegur.
“Ju, ini ada Moana loh, kok kamu malah sibuk sendiri mainan hape. Taruh dulu hapenya, ajak Moana ngobrol.” Begitu kata ibunya.
Juan mendengus sebal, tapi diam-diam, karena dia tidak ingin Moana tersinggung. “Mo, sorry banget nih, bukannya gue nggak menghargai lo sebagai tamu, tapi gue harus balas chat ini, penting soalnya. Nggak apa-apa, kan?” Ya harus nggak apa-apa, sih. Kan, lo juga nggak ada hak buat ngelarang gue balas chat. Ia melanjutkan dalam hati.
Moana yang masih mendalami peran sebagai anak-anak baik-baik pun menganggukkan kepala, masih dengan senyum manis yang sayangnya tidak sampai ke hati Juan.
__ADS_1
Dengan anggukan kepala itu saja, Chintya terdiam. Maka segeralah Juan mengetikkan balasan untuk yang tercinta Zahira sebelum pujaan hatinya itu merajuk karena ia membalas terlalu lama. Hehe, bohong. Sebenarnya Zahira tidak seperti itu. Ia adalah orang paling pengertian di muka bumi, karena itulah Juan suka.
Meski begitu, meski Zahira tidak pernah protes ataupun marah-marah kalau dia telat membalas pesan, Juan tetap ingin menjadi sosok yang fast respon untuk kecintaanya itu. Bahkan kalau bisa, detik itu diterima, detik itu juga balasan itu dia kirimkan kepada Zahira.
Udah, Zaza... Juju udah sampai rumah. Mau mandi, tapi malah ada ratu lebah.
Balasan itu Juan kirimkan sambil terkikik geli. Setelah mengatai Adnan dengan sebutan ‘Bagong’, kini dia juga membuat julukan baru untuk Moana, yaitu ‘Ratu Lebah’. Alasannya sepele sebenarnya, karena Moana cenderung agak berisik kalau di kantor. Wajar sih, satu-satunya perempuan di divisi, sudah pasti ingin mendapatkan lebih banyak perhatian dan suaranya ingin didengar lebih banyak.
Hah? Ratu lebah? Di rumah kamu ada sarang lebah? Ih, bahaya, Ju... Panggil damkar gih buat minta tolong pindahin.
Ledakan tawa tak terhindarkan. Juan terbahak-bahak setelah membaca balasan pesan yang Zahira kirimkan. Perempuan itu memang lucu, lugu, imut-imut, menggemaskan, ah, apa lagi? Ya itu, pokoknya itu, pokoknya Juan suka!
Saking kerasnya Juan tertawa, Moana dan Chintya sampai saling pandang, terheran-heran apa gerangan yang membuat lelaki bertubuh kekar itu tahu-tahu meledakkan tawa seperti baru saja mendengar sesuatu paling lucu di seluruh dunia.
“Ju, kamu kenapa, sih? Tiba-tiba ketawa begitu! Kesambet?!” Chintya menegur, tapi yang ditegur seakan tidak peduli. Lelaki itu masih saja tergelak, bahkan sampai mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata.
“Dia kalau di kantor juga suka aneh kayak gitu?” bisik Chintya kepada Moana yang sama bingungnya.
“Enggak, sih, Tante. Kalau di kantor mah dia galak, suka marah-marah.” Adu si Moana.
Tapi, tunggu dulu. Dia malas sekali kalau harus melanjutkan kegiatannya berbalas pesan dengan Zahira di sini. Maka, beberapa kata yang sudah dia ketikkan di ponsel dia hapus kembali, hanya untuk memberinya kesempatan mengucapkan pamit tanpa bisa dibantah oleh kedua orang yang masih terheran-heran di seberangnya.
“Mo, sorry lagi nih, tapi gue harus ke atas buat ketemu sama Reno. Biasalah, urusan lelaki.” Ucapnya kepada Moana. Dia tahu Moana harus menjaga image, jadi perempuan itu pasti tidak akan berusaha menahannya untuk pergi. “Boleh, kan, ya?”
Moana meringis diam-diam, hatinya terasa seperti dicubit, tidak terlalu sakit, tapi lumayan untuk membuatnya tersadar bahwa perjalanannya untuk bisa mencapai ujung hati Juan ternyata masih sangat jauh.
Dengan berat hati, Moana kembali mengangguk. Dia adalah penganut paham ‘Alon-alon waton kelakon' alias pelan-pelan aja bestie, yang penting sampai tujuan dengan selamat. Di kasusnya, sampai tujuan berarti dia sampai pada ujung hati Juan. Sedangkan kata ‘selamat’ itu berarti dia sampai dalam keadaan yang baik, tidak babak belur dihantam realita.
“Thanks cookies-nya, besok gue cobain deh, nggak pakai kalau lupa.” Lalu dengan kecepatan setara laju cahaya, Juan melesat pergi meninggalkan ibunya dan Moana.
Pemberhentian yang dia tuju betulan adalah kamar Reno. Demi kamuflase, demi mendukung alibinya soal agenda obrolan laki-laki bersama sepupunya itu. Akan sedikit berisiko kalau dia pergi ke kamarnya sendiri dan ibunya tahu kalau dia berbohong. Runyam. Pokoknya urusannya bisa panjang kalau itu betulan terjadi.
Di dalam kamarnya, ternyata Reno sedang rebahan dengan bertelanjang dada. Celana jeans yang dikenakan untuk bertemu Clarissa siang tadi masih melekat, pertanda bahwa lelaki itu belum mandi.
__ADS_1
“Apa?” tanya si yang tubuhnya lebih kecil. Dari nada suaranya yang tidak terlalu sewot, Juan menduga agenda pulang bersama Clarissa sore tadi sepertinya berjalan lancar.
“Numpang. Gue mau chatting-an sama Zahira.” Jawab Juan seraya cengengesan. Ia lalu merangkak naik ke atas kasur, membuat Reno mau tidak mau harus menggeser posisi tubuhnya agar mereka berdua bisa muat. “Itu pintu gue kunci nggak apa-apa, kan? Gue takut Mama tiba-tiba nyelonong masuk.”
“Lah, lo kabur dari Mama?”
Juan mengangguk jujur. “Males gue.”
“Terus, itu si Moana gimana?”
“Ya nggak gimana-gimana, masih ada di sana. Ya biarin lah, kan yang dia samperin ke sini tuh Mama, bukan gue. Dia tamunya Mama, biarin Mama yang urus.”
Reno menggeleng pelan. Dari dulu sejak masih zaman bocah, Juan memang sudah begitu. Dia tidak akan mau bergaul dengan siapa pun yang bukan atas keinginannya sendiri. Beranjak remaja, sewaktu sudah tahu apa itu cinta, Juan juga menolak untuk jatuh cinta pada para gadis yang menyukainya lebih dulu. Nggak seru, nggak ada tantangannya, katanya. Makanya sewaktu bertemu dengan Zahira yang mulanya tidak terlihat tertarik sama sekali dengannya, Juan malah jatuh cinta sampai setengah gila.
“By the way,” Juan mengalihkan perhatian dari ponselnya menuju ke arah Reno. “Tadi gimana sama Clarissa? Aman, nggak?”
Gerakan tangan Reno yang tengah sibuk scroll Instagram langsung terhenti begitu mendengar nama Clarissa disebut. Ia lalu merubah posisinya dari telentang menjadi tengkurap. “Not bad, lah. Gue dikasih izin anterin dia sampai depan rumah. Tadinya gue pikir juga dia nggak akan mau pulang sama gue.”
“Nah, kan, ujung-ujungnya mau juga kan pulang sama lo? Tapi tuh dia tadi ngeselin banget, maki-maki gue lewat telepon, mana didengerin lagi sama Zahira.” Juan mengadu.
“Menurut lo, dia tuh sebenernya masih mau nggak sih sama gue?” tanya Reno, mendadak galau lagi.
Juan menyemburkan napas hangat begitu keras, lalu dalam sekali sentakan merubah posisinya menjadi duduk. “Masih. Aslinya masih cinta mati sama lo. Cuma, ya, gitu, gengsinya aja yang segede alam semesta dan seluruh isinya.”
“Gitu, ya?”
Juan mengangguk semangat. “Pokoknya lo tenang aja, gue sama Zahira bakal kawal terus sampai kalian bisa balikan lagi. Jangan nyerah, man, lo juga lihat sendiri kan gimana gue nggak pernah nyerah buat dapetin hatinya Zahira dulu? Nah, lo juga harus pantang menyerah kayak gitu.”
Baru saja Reno hendak membuka mulutnya, Juan tahu-tahu menyela. “Ssstttt, diam dulu. Zahira cantikku, manisku, sayangku, cintaku, kasihku udah balas pesan gue. Nanti, ya, Ren, nanti kita bahas lagi soal Clarissa.” Lalu dengan begitu saja, Juan sudah kembali asyik melanjutkan pembahasan soal Ratu Lebah bersama Zahira.
Reno hanya bisa menghela napas pasrah. Mau mengatai bucin, tapi dirinya pun sama. Akhirnya, dia kembali scroll Instagram saja, menilik kembali foto-foto lawas di akun milik Clarissa, berharap ada keajaiban di mana tahu-tahu fotonya terpampang di sana dengan caption; ‘Yang tercinta.’
Yah, halu saja dulu, siapa tahu nanti betulan kesampaian.
__ADS_1
Bersambung