
Persoalan cookies dan ratu lebah sudah sepenuhnya Juan lupakan ketika dia kembali memulai aktifitasnya di kantor. Cara ia memandang Moana pun serta-merta berubah, murni seperti ia melihat rekan-rekan kerjanya yang lain. Tidak ada kejengkelan yang tersisa atas kelancangan perempuan itu bertamu ke rumahnya malam minggu kemarin, hanya ada profesionalitas ketika kini mereka sedang duduk bersama di kantin perusahaan, menikmati makan siang.
“Cewek lo kan masih sibuk koas ya, Ju?” Galih bertanya setelah menyuapkan nasi ke dalam mulut.
Juan mengangguk, tak berniat menjawab melalui kalimat karena dia sedang sibuk mengunyah. Lagipula, Zahira baru saja mengiriminya pesan, jadi membalas pesan dari kecintaannya itu jelas lebih penting ketimbang harus meladeni Galih yang entah akan ke mana arah pembicaraannya.
“Sibuk, dong? Komunikasinya gimana? Susah pasti, ya?”
Cerewet. Juan ingin nyeletuk begitu, tapi dia tahan mati-matian. Akhirnya, setelah selesai membalas pesan yang Zahira kirimkan dan dia tahu perempuan itu tidak akan membalas dalam waktu dekat, barulah Juan bersedia menatap Galih yang duduk di seberang.
“Komunikasi aman, kok. Di mana-mana, yang namanya sibuk itu cuma alasan, kalau gue penting, Zahira bakal selalu cari waktu buat kasih gue kabar. Dan yeah, dia barusan banget chat gue sekadar ngingetin buat makan siang karena dia tahu gue punya maag.” Tidak berniat pamer kemesraan kepada Galih yang jomblo akut, tapi berhubung ditanya, ya sudah sekalian saja Juan katakan apa adanya.
Dipameri begitu, Galih mencebik. Padahal kan dia sendiri yang memancing obrolan itu sampai ke sana. Yah, memang begitulah teman. Kadang bangsat, kadang bajingan. “Iya, iya, si paling couple goals.” Ia mengatakannya dengan sedikit sewot.
Ajaib kalau sampai Juan peduli. Sebab yang selanjutnya lelaki itu lakukan adalah menenggak air minumnya, lalu buru-buru bangkit seperti sedang dikejar deadline. Tentu tidak, jam istirahat masih tersisa banyak dan mereka tidak sedang diburu deadline apap pun. Malahan, mereka baru saja merayakan keberhasilan atas suksenya proyek terakhir yang mereka garap. Juan hanya tidak ingin berlama-lama berada di kantin yang mulai terasa sesak.
“Gue mau ke divisi sebelah, tidur siang.” Pamitnya.
“Enak banget ya hidup lo, bisa tidur siang.” Lagi-lagi Galih mencibir.
Juan terkekeh, “Lo juga bisa kalau mau. Udah ah, gue cabut.” Sebuah tepukan berlabuh di pundak Galih, lalu Juan melesat pergi setelah memberikan kode kepada Moana menggunakan tatapan mata.
Bukan kode aneh-aneh, hanya semacam kalimat pamit yang terlalu malas untuk dia ucapkan.
__ADS_1
“Kayaknya, udah waktunya lo nyerah deh, Mo.” Saran tak diminta itu tahu-tahu melesat keluar dari bibir galih, tanpa sopan santun.
Moana yang sedang memperhatikan Juan yang berjalan menjauh pun akhirnya menoleh. Dengan tatapan datar, perempuan itu lantas berkata. “Selagi janur kuning belum melengkung, masih bisa ditikung.” Lalu dia menyuapkan lagi nasi ke dalam mulutnya, sepenuhnya abai pada gelengan kepala dan segala cerocosan yang keluar dari bibir Galih Setelahnya.
Eclessia Moana adalah manusia keras kepala. Dia selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau, entah dengan cuma-cuma atau bahkan harus mengeluarkan usaha ekstra. Yang jelas, dia adalah penganut prinsip ‘I want it, I get it’. Maka seperti yang dia bilang, sebelum Juan dan pacarnya yang beda agama itu resmi menikah, dia tidak akan menyerah.
...****************...
Satu hal yang membuat Juan patut melayangkan tepuk tangan meriah untuk seorang Reno Irvansyah adalah dedikasi lelaki itu terhadap pekerjaannya yang tidak main-main. Meski bermula dari keterpaksaan sebab perusaahan sedang goyah dan dia mau tidak mau harus rela ditunjuk menjadi salah satu petinggi yang memegang peran penting, lelaki itu tetap mampu membuktikan bahwa ada alasan kuat mengapa ialah yang dipilih. Bukan sekadar karena dia adalah anak pemilik perusahaan, tapi benar-benar karena dia memiliki kompetensi.
Di saat para karyawan di bawah pimpinannya sedang asyik menikmati makan siang sambil bergosip soal ini itu, Juan malah menemukan Reno masih ada di ruang kerjanya, berkutat dengan berbagai macam berkas kontrak yang setiap hari jumlahnya semakin bertambah banyak.
Tidak ada kotak makan siang di sekitar mejanya. Hanya ada satu cup Amerino yang tinggal menyisakan beberapa potong es batu saja. Cairan pekat itu sudah tandas, berpindah ke dalam perut Reno yang padahal belum diisi makanan apa-apa. Pagi tadi, lelaki itu juga tidak sarapan.
“Makan dulu bisa kali, bestie.” Juan berujar dengan nada jenaka.
Reno tidak mengangkat kepala, dia hanya mengeluarkan dua jari yang dia buat membentuk huruf O sebagai tanda bahwa dia mendengar ucapan Juan dan akan melakukan apa yang lelaki itu bilang, nanti.
Karena cukup penasaran dengan berkas kontrak yang terlihat membuat Reno sakit kepala itu, Juan pun bergerak mendekat. Ia bergeser ke sisi kursi kerja Reno, sedikit membungkuk untuk turut mengintip kontrak kerja tersebut. “La Belleza?” Juan bergumam. “Perusahaan tempat Clarissa kerja, bukan?” sambungnya seraya melirik ke arah Reno.
Yang ditanya mengangguk, masih tampak fokus membaca deretan kalimat yang tertera di berkas kontrak.
“Kita ada kerja sama lagi?” tanya Juan lagi.
__ADS_1
“Ada. Buat produk make up yang baru. Kita ada pakai model dari perusahaan dia.”
Jadi, begitulah titik permasalahannya. Lagi-lagi permasalahan yang selalu bisa membuat Reno sakit kepala tidak pernah jauh-jauh dari yang namanya Clarissa. Bahkan sampai urusan pekerjaan pun, perempuan itu masih menjadi pemenangnya.
“Ada problem?” tanya Juan. Barangkali dia bisa membantu sepupunya yang terlihat kepusingan itu.
“Budget kita agak nggak masuk buat ambil model yang dikasih sama Clarissa. Ada satu lagi sih opsi model yang lain, tapi kriterianya nggak masuk sama konsep kita.” Reno menjelaskan.
Juan tidak terlalu mengerti soal budget proyek karena dia dan timnya bertanggung jawab di bagian digital marketing. Urusan rekrut model dan bayarannya memang di handle langsung oleh Reno dan tim terkait di bawah naungannya.
“Kalau pakai duit pri—“
“Nope.” Reno menyela. Berkas kontrak yang sedari tadi dia tekuri akhirnya ditutup juga, kembali dia letakkan di atas meja. “Kayak nggak tahu aja gimana Clarissa. Kalau tuh anak tahu ada duit pribadi kita yang keluar buat bayar model, yang ada dia bakal mencak-mencak."
“Ya iya juga, sih. Terus gimana?”
“Paling nanti gue sama tim coba diskusi lagi sih sama pihak manajemen mereka. Harusnya masih bisa dicari jalan tengahnya, sih. Launching produknya juga masih sebulan lagi, masih ada waktu.”
Juan manggut-manggut saja, sebab ternyata dia tidak bisa banyak membantu. Kabar baiknya sih, baik Reno maupun Clarissa sama-sama bisa bersikap profesional kalau itu urusannya pekerjaan. Kalau tidak, entah sudah berapa banyak luka yang akan diderita oleh Clarissa setiap kali mereka terlibat perdebatan soal proyek yang sedang ditangani bersama-sama.
"Ya udah, lo makan dulu gih, nanti baru pikirin lagi. Gue sekalian mau numpang tidur di sini ya, bentar." Ucap Juan, lalu berjalan kembali dan langsung merebahkan diri di sofa panjang tanpa menunggu persetujuan dari sang empunya ruangan.
Bersambung
__ADS_1