
Sudah sekian lama tak tandang, hujan akhirnya turun juga malam ini. Rintiknya yang syahdu membuat suasana semakin terasa menghanyutkan, membawa siapa saja untuk tenggelam lebih dalam pada perasaan yang paling dominan.
Sama seperti rintik yang jatuh perlahan-lahan ke atas atap mobil, Juan pun bergerak sama pelannya, mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya setelah mereka terpaku cukup lama dengan adegan saling pandang tanpa bicara. Kedua tangan Juan terulur, satu menyasar tangan Zahira yang bertaut gugup di atas pangkuan, satunya lagi mendarat mulus di pipi kemerahan kekasihnya.
“Boleh?” tanyanya.
Mungkin akan kedengaran lucu di telinga kalian, tapi malam ini, untuk pertama kalinya setelah lima tahun berpacaran, Juan berani bertanya demikian. Hanya dengan Zahira saja, Juan tidak pernah berani menyentuh lebih jauh dari sekadar menggenggam tangan atau berpelukan. Padahal sebelum menjadi kekasih Zahira, dia sudah menjamah banyak sekali tubuh wanita.
Tatapan Juan kembali jatuh pada belah bibir Zahira yang sedikit terbuka. Warnanya yang merah muda tanpa pulasan lipstik seakan memiliki daya tarik tersendiri, membuat Juan ingin sekali meraupnya, memilikinya untuk dirinya sendiri.
Tanpa sadar, tangan Juan yang berada di pipi Zahira juga bergeser sedikit demi sedikit hingga jempolnya bisa menyentuh bibir bawah Zahira. Dibelainya lembut bibir itu, menyalurkan segenap keinginan yang membuncah malam ini.
“Ju,” sekian lama dibuat bungkam, Zahira akhirnya bersuara.
Tanpa mengalihkan tatapan dari bibir Zahira yang tampak menggoda, Juan menganggukkan kepala. “I know, belum waktunya.” Ucapnya. Lalu setelah puas membelai bibir lembut nan kenyal itu, barulah Juan kembali melakukan kontak mata. “So sorry, I’ve lost my mind for a while.”
Tidak ada gurat kecewa yang terlihat di wajah Juan ketika dia menarik kedua tangannya seraya tersenyum tipis. “Don’t be sorry, kamu emang harus selalu bilang jangan kalau aku nanya kayak gitu.” Ujarnya, tak ingin membuat kekasihnya merasa bersalah hanya karena sebuah ciuman yang tidak bisa dia dapatkan.
“Cuz once you let me to touch you there, aku pasti bakal minta yang lebih.” Susulnya setelah beberapa lama hanya hening yang berkuasa.
“It’s hard for you, right?”
Juan kembali mengulas senyum tipis. “It is.” Akunya seraya mengangguk. Tidak mudah untuk menahan diri. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, apalagi dia sudah pernah melakukan aktivitas seksual secara aktif selama beberapa tahun sebelumnya. Hanya dengan berbekal pemikiran bahwa dia harus menjaga Zahira sebaik mungkin agar tidak membuat Abi Hamzah kecewa, Juan bisa bertahan sejauh ini.
“But you’ll get the best when the time comes.”
“I know.” Juan mengangguk lagi. “It’s hard, Za. Tapi karena orangnya adalah kamu, aku nggak masalah buat nunggu.”
Zahira bisa merasakan ketulusan itu. Yang bukan hanya sampai ke telinganya melalui suara lembut Juan, tetapi juga berhasil menyentuh hatinya melalui sorot mata teduh lelaki itu.
“You know, Ju? Kamu adalah orang paling hebat yang pernah aku temui sepanjang hidup aku. Nggak mudah buat bisa menahan diri. Nggak mudah buat meninggalkan hal-hal yang udah akrab sama kamu selama bertahun-tahun lamanya, but you did. Kamu hebat.”
“Sekali lagi, karena partner aku adalah kamu. Kalau ini orang lain, aku nggak yakin bisa menahan diri.”
__ADS_1
“Kalau gitu, tolong sabar sebentar lagi.” Kata Zahira, penuh makna.
Juan clueless, jadi dia hanya bisa plonga-plongo, berusaha mencerna perkataan Zahira dengan kinerja otaknya yang sedang dalam mode lambat.
Melihat kekasihnya kebingungan, Zahira hanya tersenyum. Dia tidak berniat menjelaskan lebih jauh arti kata sebentar lagi yang dia ucapkan. Membiarkan Juan menerka-nerka sendiri dengan raut wajah bingung yang menggemaskan.
“Udah malam, kamu harus pulang.” Kata Zahira setelah dia puas menyelami wajah kebingungan kekasihnya.
“Tunggu, jelasin dulu.” Tagih Juan pada akhirnya. Dia mencekal lengan Zahira yang hendak membuka pintu.
“Jelasin apa?” Zahira balik bertanya, pura-pura bodoh.
“Maksudnya tunggu sebentar lagi tuh apa?”
“Bukan apa-apa.” Tandas Zahira. Pintu mobil tetap dia buka, tapi sebelum dia berlarian keluar menerobos hujan, Zahira berbalik cepat, mengecup singkat pipi Juan hingga membuat kekasihnya itu membeku di tempat. “Hati-hati di jalan, I love you.”
Lalu layaknya penjahat yang enggan tertangkap basah, Zahira langsung kabur. Dia berlarian menerobos titik hujan, langsung masuk ke dalam rumah sebelum Juan sadar dari keterkejutan yang dia timbulkan.
Enam menit lamanya, Juan cosplay menjadi patung. Hingga ketika kesadarannya terkumpul sedikit demi sedikit, yang bisa dia lakukan hanya menyentuh pipinya yang terasa panas, lalu beralih menyentuh dadanya yang bergemuruh keras.
Semakin lama, hujan yang turun semakin deras. Sederas itu pula perasaan Juan jatuh untuk Zahira kemudian. Tidak bisa ditunda, pikirnya. Tidak boleh membiarkan perempuan itu menunggu lebih lama. Dia harus mengubah strateginya yang semula bergerak pelan-pelan untuk mendekatkan Zahira dengan Mama, menjadi lebih ngegas dan penuh niat.
“Oke,” ujarnya, lalu dia menengok ke arah jok penumpang belakang di mana dia telah meletakkan sebuah paper bag berisi salah satu brand luxury bag yang baru saja mengeluarkan seri terbarunya. Paper bag itu dia selundupkan ke sana diam-diam selagi menunggu Zahira berganti pakaian sebelum mereka pergi tadi, di mana paper bag itu sendiri juga lebih dulu dia titipkan kepada Umi untuk dijaga jangan sampai Zahira atau Abi tahu keberadaannya.
Itu kado ulang tahun untuk Mama, dia beli atas nama Zahira. Rencana awalnya, tas itu akan dia berikan kepada Zahira terlebih dahulu agar kekasihnya itu yang menyerahkan langsung kepada Mama pada perayaan ulang tahunnya 3 minggu yang akan datang. Namun setelah satu hadiah yang dia terima dari Zahira malam ini, Juan tidak lagi berpikir tas untuk Mama itu bisa dia simpan lebih lama.
Maka, seluruh rencananya berubah. Yang tadinya dia ingin segera pulang, kini dengan cepat dia memutar kemudi ke arah berlawanan. Dia harus pergi ke rumah Mama, mungkin perlu sampai menginap juga demi bisa menyampaikan hadiah ini kepada ibunya.
Di sepanjang perjalanan di mana rintik hujan menjadi backsound yang menemani dirinya tanpa lelah, Juan memupuk harapan hingga membumbung tinggi menembus langit malam yang suram. Semoga, keadaan akan terus berjalan lebih baik mulai sekarang.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Rumah Besar memang cenderung sudah sepi sebelum jam 9. Orang-orang sibuk yang tinggal di dalamnya cenderung memilih untuk bergelung di dalam selimut tebal mereka masing-masing ketimbang harus duduk di ruang keluarga untuk bersenda gurau, berbagi cerita tentang apa yang telah mereka lalui selama seharian di luar rumah.
__ADS_1
Disambut oleh asisten rumah tangga yang tergopoh membukakan pintu sebab dia bertandang cukup malam, Juan melangkah ke dalam Rumah Besar dengan degup jantung yang tidak beraturan.
“Mama udah tidur?” tanya Juan ketika langkahnya mencapai ruang tengah. Dia mendongak, dilihatnya lampu di ujung tangga lantai dua masih menyala, pertanda siapa pun masih bisa berkeliaran turun kapan saja.
“Udah masuk kamar dari jam 7, Den.”
Juan menoleh dengan kedua alis yang bertaut, “Tumben?” tanyanya.
“Iya, lagi nggak enak badan kayaknya. Pucat banget mukanya, terus dari pagi juga cuma makan sedikit.” Terang asisten rumah tangganya.
“Sakit? Udah panggil dokter?”
Si asisten rumah tangga menggeleng, “Belum, Den. Ibu nggak mau, Bapak juga belum pulang dari kemarin, jadinya nggak ada yang bawa ke rumah sakit juga.”
Prihatin. Juan merasa nasib ibunya begitu sial karena harus menikah dengan laki-laki yang lebih senang menghabiskan waktu di meja judi, membuang-buang uang yang dikumpulkan dengan susah payah untuk memberi makan para bandar berotak licik. Meskipun tidak pernah ketahuan selingkuh atau pun berbuat kasar seperti apa yang kerap ayahnya Reno lakukan, Juan tetap merasa kelakuan ayahnya tidak kalah biadab. Pasalnya, lelaki itu tega membiarkan istrinya terkungkung kesepian, membiarkan kesendirian memeluk istrinya hingga nyaris tak tertolong lagi.
“Makasih infonya, biar saya yang urus Mama sekarang.” Kemudian, Juan berjalan menuju kamar ibunya. Degup-degup manja di dadanya sudah tidak tersisa, tergantikan dengan perasaan iba yang sulit sekali untuk bisa dia redam begitu saja.
Sampai di depan pintu kamar yang ditutup rapat, Juan mengetuk sebanyak empat kali. Tidak perlu bersuara, karena bagaimana cara dia mengetuk sudah khas dirinya dan tidak ada satu pun orang di rumah ini yang bisa menirunya. Ibunya hafal, jadi tidak lama setelah ketukan keempat selesai terlabuh, pintu itu terbuka.
Juan tidak bisa menahan sesak di dada tatkala menemukan ibunya muncul dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sama seperti yang asisten rumah tangganya sampaikan, wajah ibunya kelihatan pucat. Kalau diperhatikan dengan lebih baik, tubuh perempuan itu juga cenderung lebih kurus ketimbang terakhir kali mereka bertemu. Padahal itu hanya sekitar seminggu yang lalu.
“Ju,”
“Masuk kamar, biar Juan panggil Dokter Yohanes.” Titah Juan. Dia tuntun ibunya masuk ke dalam kamar, lalu tubuh ringkih itu dia dudukkan di tepian ranjang.
Paper bag yang menjadi tokoh utama sejenak Juan singkirkan, dia taruh di dekat kaki ranjang selagi dia memeriksa suhu tubuh ibunya menggunakan punggung tangan.
“Sedikit demam.” Gumamnya. Lalu tanpa banyak bicara lagi, dia merogoh ponsel dan segera menelepon dokter pribadi yang bertanggung jawab atas kesehatan keluarga mereka.
Sementara itu, Chyntia tidak banyak berbuat apa-apa. Dia hanya bisa terdiam melihat anaknya yang tengah berbincang dengan dokter melalui sambungan telepon. Lalu, tanpa disadari, air matanya leleh begitu saja. Chyntia menangis, dengan dada yang terasa sesak karena teramat merindukan putranya.
“Nggak usah nangis, Juan udah di sini sekarang.” Terkesan dingin, namun apa yang Juan lakukan melalui tindakan sudah menjadi bukti bahwa dia tetap peduli dan sayang kepada ibunya meski hubungan mereka tidak terlalu baik akhir-akhir ini. Lelehan air mata yang membasahi pipi pucat ibunya itu Juan seka menggunakan telapak tangan besarnya. Pelan, lembut, sebab dia tahu ibunya sedang sangat rapuh.
__ADS_1
Isak tangis masih terdengar sampai bermenit-menit lamanya. Dan meskipun dia tidak suka mendengar suara tangis yang menyayat hati itu, Juan tetap membiarkan ibunya menangis di dalam pelukannya. Pinggangnya yang menjadi sasaran remasan sang ibu pun tidak terlalu membuatnya terusik. Dia hanya dengan sabar menunggu sampai keadaan ibunya membaik.
Bersambung