
Zahira dan Juan hanya bisa tertunduk di tempat mereka duduk, tak berani beradu tatap dengan Abi Hamzah yang berdiri sambil berkacak pinggang.
Jarum pendek di jam dinding telah menunjuk angka 1 ketika lelaki paruh baya itu keluar dari kamar untuk mengambil minum di dapur. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah saat menyadari bahwa lampu di ruang tamu telah menyala dan ketika didekati, pintu rumah pun dalam keadaan terbuka lebar.
Panik. Abi Hamzah pikir rumahnya baru saja dimasuki maling. Tapi bukan memikirkan apa saja yang sudah hilang, lelaki itu justru berlarian naik ke lantai atas untuk memeriksa kondisi putri semata wayangnya. Sebab bagi Abi Hamzah, tidak peduli seberapa banyak harta yang hilang, ia bisa mencarinya lagi. Sedangkan kalau Zahira yang hilang, tidak akan pernah ada gantinya. Perjuangannya untuk mendapatkan Zahira lahir ke dunia tidak mudah, maka menjadi hal yang wajar jika ia meletakkan putrinya itu di atas segala-galanya.
Kepanikan Abi Hamzah semakin menjadi-jadi saat tidak bisa menemukan keberadaan Zahira di dalam kamarnya yang pintunya juga terbuka lebar. Setengah gila dia berlari ke kamarnya sendiri, dengan panik membangunkan istrinya yang masih terlelap dan mengabarkan bahwa putri mereka telah hilang. Sepasang suami istri itu lantas bergegas turun, hanya untuk disambut oleh sang putri dan kekasihnya yang berdiri di ambang pintu rumah dalam keadaan basah kuyup.
“Kamu hampir bikin Abi jantungan, Za.” Ujar lelaki yang beberapa helai rambutnya telah berubah menjadi warna putih itu. Di belakang tubuhnya, Umi Maryam hanya bisa berdiri pasrah, tidak punya daya untuk membela putrinya karena apa yang dilakukan memang sudah kelewatan.
“Maaf, Bi.” Zahira melirih. Kepalanya tertunduk semakin dalam, sementara di sebelahnya Juan pun turut melakukan hal yang sama.
“Kenapa harus keluar diam-diam sih, Za? Dan kenapa juga harus hujan-hujanan? Emangnya kalau kamu bangunin Abi dan minta izin buat ketemu sama Juan, Abi nggak akan kasih izin?” Abi Hamzah bukan tipikal yang suka mengomel, tapi ketika ia melakukannya, itu akan menjadi serentetan kalimat panjang yang seakan tidak memiliki ujung.
“Kamu juga, Ju. Kenapa harus malam-malam datang ke sini? Emangnya nggak bisa besok pagi aja? Besok hari Minggu, kamu sama Zahira sama-sama free. Seenggak bisa itu kamu nahan diri sampai besok pagi?”
Masalahnya, kalau tunggu besok pagi, keberanian itu belum tentu akan datang lagi, Bi. Juan ingin bicara begitu, tapi kenyataannya dia malah menunduk semakin dalam. Jemari panjangnya saling bertaut, bergerak gusar dengan pola berantakan.
__ADS_1
“Ini Abi ngomong sama kalian, bukan sama tembok. Jawab.” Titah Abi Hamzah. Nadanya sama sekali tidak tinggi, masih terbilang normal untuk ukuran orang yang sedang marah.
“Bi,” setelah sekian lama diam, Umi Maryam mendekati suaminya. Sebuah usapan ia berikan di bahu tegap Abi Hamzah dalam upaya untuk menenangkan. “Sabar, jangan kebawa emosi.”
“Abi nggak emosi. Abi cuma mau mereka jelasin, kenapa harus ketemu malam-malam begini.” Abi Hamzah menoleh sebentar ke arah istrinya, sekadar memberi asuransi bahwa dia memang tidak sedang dikuasai emosi. “Abi cuma mau tahu alasannya, itu aja.”
“Cuz she’s still my number one, Bi.” Tahu-tahu, suara Juan terdengar menyela.
Abi Hamzah dan Umi Maryam serempak menoleh, pun Zahira yang akhirnya berani mengangkat kepala.
“Zahira mungkin nggak cerita, tapi kami habis berantem hebat sampai saya diemin dia selama tiga hari.” Tutur Juan. Meski masih takut, dia tetap berusaha memaku tatap dengan calon mertuanya itu. “Saya nggak bisa nunggu besok karena takut masalahnya semakin berlarut-larut. Saya salah, Bi, saya tahu. Saya minta maaf.”
“Kalian berantem karena apa?”
“Ada sedikit kesalahpahaman, Bi. Saya keras kepala dan egois, makanya kesalahpahaman itu jadi besar dan berakhir runyam. Makanya, selagi kewarasan saya masih ada, saya langsung lari ke sini buat ngelurusin semuanya.” Juan berhenti sebentar, hanya untuk menoleh ke arah Zahira yang menatapnya dengan mata berkabut. “Saya sayang banget sama Zahira, Bi, nggak mau saya kalau harus kehilangan dia karena kesalahpahaman yang sebenernya bisa cepat-cepat diluruskan.” Lalu kembali ia menatap Abi Hamzah.
“Zahira yang salah, Bi.” Mulut Abi Hamzah yang sudah terbuka kembali terkatup karena Zahira menyela. “Zahira udah ngomong sesuatu yang menyinggung perasaannya Juan, makanya Juan bisa sampai semarah itu. Zahira tahu apa yang Zahira lakuin salah, Zahira minta maaf, Bi. Zahira cuma nggak bisa mikir apa-apa lagi pas Juan telepon dan ngasih tahu kalau dia lagi ada di depan rumah kita. Juan nggak minta Zahira buat keluar nemuin dia, Zahira sendiri yang mau.”
__ADS_1
Kalau mau, Abi Hamzah bisa saja meneruskan omelannya. Ia bisa mencecar Zahira dan Juan untuk menceritakan dengan lebih rinci soal masalah apa yang menimpa mereka sampai jadi begini. Namun, lelaki itu tidak melakukannya. Privasi. Sekuat apa pun hubungan keluarga, Abi Hamzah tahu ada ranah yang tetap tidak boleh dicampuri. Toh, sekarang mereka berdua sudah kelihatan baik-baik saja. Itu artinya, mereka sudah berhasil menyelesaikan masalah mereka, kan? Seharusnya itu cukup, tidak perlu diperpanjang lagi.
Maka setelah menurunkan kedua tangan yang masih berdiam di pinggang, Abi Hamzah mengembuskan napas pelan.
“Kali ini Abi maafkan, tapi jangan sampai kalian kepikiran buat ngulangin lagi. Kalau nggak, Abi beneran bakal marah besar.”
Serempak, sepasang muda mudi itu menganggukkan kepala. Kelegaan menjalar dengan cepat di dada masing-masing. Setidaknya, satu masalah lagi sudah terlampaui dan mereka bisa bergerak untuk memikirkan yang lain.
“Ya udah, sana kalian naik dan tidur. Kamu jangan lupa kabarin orang tua kamu, Ju, Abi nggak mau mereka khawatir.”
“Siap, Bi.” Juan dengan sigap menyambar ponselnya dari atas meja. Mengetikkan serentetan kalimat pemberitahuan bahwa dia akan menginap di rumah Zahira. Tapi, pesan itu tidak dia kirimkan kepada Mama atau Papa, melainkan kepada Reno yang ia yakin masih stand by menunggu kabar darinya. “Udah, Bi.” Tidak sepenuhnya bohong, kan? Yang penting dia sudah berkabar. Urusan siapa yang menerima kabar itu, tidak terlalu penting, kan?
Abi Hamzah tidak menyahut lagi, hanya memberikan isyarat agar anak dan calon mantunya itu segera naik dan beristirahat. Sudah jam 2 lewat, kasihan kalau para anak muda itu harus dia biarkan terjaga sampai pagi.
Kemudian, mereka semua yang ada di ruang tengah pun beranjak. Abi Hamzah dan Umi Maryam naik ke kamar mereka, sementara Zahira pergi ke kamarnya dan Juan melangkah masuk ke dalam kamar tamu di lantai satu.
“Za,” sebelum menutup pintu, Juan memanggil Zahira yang langkahnya sudah setengah jalan di tangga menuju lantai dua. “I love you.” Lalu ia menutup pintu, membiarkan ungkapan cinta itu tak terbalas melalui lisan karena dia sudah cukup tahu bahwa Zahira juga mencintainya. Dari sikap perempuan itu, dari pelukan yang diberikan kepadanya, juga dari tatapan matanya yang tidak pernah berubah.
__ADS_1
“Tuhan, kalau jodoh, tolong beri jalan. Kalau nggak jodoh ... nggak ah, pasti jodoh.” Celetukan bodoh yang asal. Diucapkan ketika kewarasannya belum benar-benar kembali dan otaknya belum bisa diajak bekerja dengan maksimal. Jadi saat sudah kembali stabil, Juan meralat doanya yang tadi menjadi; “Tuhan, kalau jodoh, tolong beri jalan. Tapi kalau memang harus berakhir, tolong jangan dengan cara yang menyakitkan. Tolong biarkan kami tetap menjadi saudara, menjadi teman, menjadi sesama manusia yang saling mengasihi.” Kemudian doa itu menjadi penutup sebelum ia memejamkan mata dengan perasaan yang lebih ringan.
Bersambung