Mengapa Berbeda?

Mengapa Berbeda?
Mengharu Biru


__ADS_3

“Kamu serius?” Abi Hamzah menurunkan kembali cangkir kopi yang hendak dia sesap. Matanya menatap Juan serius, mencoba mencari keragu-raguan di netra calon mantu kebanggaannya itu.


Berbanding terbalik dengan Abi Hamzah yang terlihat terkejut dan setengah tidak percaya, Juan menganggukkan kepala dengan begitu entengnya. “Serius, Abi.” Ucapnya setelah menyesap teh hangat miliknya.


Abi Hamzah masih tidak mengeluarkan suara lagi setelah beberapa lama. Pria paruh baya itu masih saja menatap Juan dengan saksama sampai kemudian istrinya, Umi Maryam, datang dan bergabung dengan obrolan mereka.


“Kenapa, Abi?” tanya perempuan berkerudung ungu itu lembut. Dari kejauhan tadi, dia melihat suaminya sedang berbicara serius dengan calon mantu mereka, dan setelah didekati, suaminya malah kelihatan syok—seperti baru saja mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan.


Abi Hamzah menoleh ke arah istrinya, lalu menghela napas rendah. “Juan minta diajari agama Islam.” Tuturnya.


Mendengar itu, reaksi yang Umi Maryam berikan justru berbeda dengan suaminya. Ujung-ujung bibir perempuan itu tertarik ke atas, ia tersenyum begitu lembut dengan binar teduh di matanya yang tengah menatap Juan.


“Kamu serius?” tanya Umi Maryam.


Sama seperti jawaban yang dia berikan kepada Abi Hamzah, Juan pun menganggukkan kepala disusul ucapan “Serius.” Dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.


“Alhamdulillah.” Umi Maryam menghela napas lega. Namun, ketika dia menoleh ke arah Abi Hamzah, ia malah menemukan suaminya itu tampak gusar. “Kenapa? Kok Abi kelihatannya nggak senang?” tanyanya.


Abi Hamzah menghela napas lagi, “Bukannya nggak senang, Umi,” ucapnya pelan. Lalu, dia beralih menatap Juan yang duduk di samping kirinya. “Abi cuma nggak mau kalau Juan minta diajari tentang Islam semata-mata karena Zahira.”


“Abi,” Umi Maryam menyentuh bahu suaminya lembut, membuat pria itu kembali menoleh ke arahnya. Dengan tatapan yang teduh, ia kembali melanjutkan. “Hidayah itu datangnya dari mana aja. Kalau untuk Juan memang harus datangnya melalui Zahira, ya kenapa enggak?”


“Bukan gitu,” kembali, Abi Hamzah menatap Juan. “Abi senang kalau kamu akhirnya tertarik untuk belajar Islam. Tapi, Ju, kalau satu-satunya alasan dari niat kamu itu cuma karena Zahira, supaya kalian bisa terus sama-sama, Abi khawatir kamu akan kecewa nantinya.”


Penuturan Abi Hamzah itu membuat alis Juan bertaut bingung. “Kenapa harus kecewa?” tanyanya.


“Begini,” Abi Hamzah menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Juan. Tatapannya masih saja tidak berubah, masih seserius yang sebelumnya. “Kalau kamu udah meluangkan waktu untuk belajar, bahkan sampai nanti bersedia untuk memeluk Islam, tapi ujung-ujungnya kamu nggak berjodoh sama Zahira, gimana? Abi nggak mau kamu kecewa dan lantas menyalahkan Yang Maha Kuasa atas takdir yang nggak kamu kehendaki itu, Ju.”

__ADS_1


Tapi tidak seperti kekhawatiran Abi Hamzah yang terasa sampai mencekik di tenggorokan, Juan masih menanggapinya dengan santai. Lelaki itu bahkan tersenyum sebelum menimpali.


“Saya nggak akan kecewa.” Tuturnya, penuh keyakinan. “Kayak yang Umi bilang, hidayah itu datangnya dari mana aja, Abi. Buat saya, hidayahnya datang melalui Zahira, maka saya anggap itu sebagai sebuah berkah yang patut disyukuri. Kalau nanti pada akhirnya saya sama Zahira nggak berjodoh, ya nggak apa-apa. Toh, saya nggak rugi apa pun. Malahan, saya untung dong, karena bisa lebih banyak belajar mengenal Tuhan Yang Maha Kuasa?”


Di titik itu, Abi Hamzah sepenuhnya terdiam. Kesungguhan yang terpancar dari sorot mata Juan sama sekali tidak bisa diragukan. Anak itu benar-benar tulus. Apa yang dia ucapkan sama persis dengan tekad yang terpancar kuat dari seri-seri di wajahnya.


Melihat kesungguhan itu, Abi Hamzah tidak bisa lagi menolak. Dia hanya berharap, Juan akan tetap teguh pada niatnya, seandainya kemungkinan paling buruk memang terjadi.


“Ya udah,” kata Abi Hamzah pada akhirnya. “Abi ajari kamu pelan-pelan.”


Senyum Juan terkembang lebar. Tidak bisa menahan diri, dia menghambur ke dalam pelukan calon mertua kesayangannya. Rasanya hangat, lebih hangat dari pelukan ayahnya sendiri—yang entah kapan terakhir kali dia dapatkan.


Malam itu, sembari menunggu sang tokoh utama pulang ke rumah, mereka tenggelam dalam perasaan haru yang tidak bisa dijelaskan. Dalam hati masing-masing, mereka berdoa semoga segala niat baik yang mereka rajut di dalam hari senantiasa diberikan kemudahan oleh Tuhan.


...🍁🍁🍁...


“Nggak deh, Za, makasih. Gue langsung cabut aja, masih ada urusan.” Reno menjawab tanpa berpikir panjang.


Zahira mengangguk kecil, “Ya udah, kamu hati-hati di jalan, ya. Makasih udah anterin aku sampai rumah.”


“No prob. Dan, yah, kayak yang gue bilang tadi, gue titip Juan, ya. Apa pun itu update yang lo tahu, tolong bagiin ke gue, karena gua juga mau tahu soal keadaan Juan.”


“Iya, pasti. Ya udah, aku masuk ke dalam, ya.”


“Iya, salam buat nyokap bokap lo.”


Zahira hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu dia turun dari mobil Reno. Pintu ditutup pelan, dan dia berdiri di samping badan mobil, menunggu sampai Reno menginjak pedal gas.

__ADS_1


Klakson dibunyikan, pertanda perjalanan Reno akan kembali dilanjutkan. Lalu tak lama setelahnya, roda-roda mobil kembali berputar dan benda besi itu mulai melaju meninggalkan area perumahan Zahira yang sudah sepi meski baru pukul 7 malam.


Setelah memastikan mobil Reno melaju cukup jauh, barulah Zahira masuk ke dalam rumah. Gerbang rumahnya yang tidak kunci membuat kerutan samar muncul di dahi, namun dia berusaha untuk tidak mengambil pusing dan terus melanjutkan langkahnya.


Sekilas, suasana rumah terlihat biasa saja. Sama seperti malam-malam biasa ketika dia pulang dengan membawa lelah yang dia tahan seharian. Namun, ketika langkahnya sampai di ruang tamu dan dia bisa mendengar suara gelegar tawa yang membahana dari ruang tengah, Zahira praktis kebingungan.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Zahira mengayunkan langkahnya lebih lebar. Hanya untuk mematung di area pembatas ruang tamu dengan ruang tengah ketika netranya menemukan eksistensi Juan di sana. Lelaki itu sedang tertawa begitu lepas, bersama dengan Abi yang duduk di sampingnya dalam jarak yang cukup dekat. Umi tidak ada di sana, mungkin sedang sibuk menyiapkan makan malam seperti hari-hari biasanya.


Seperti seorang penonton dari sebuah panggung pertunjukan yang menarik, Zahira terdiam cukup lama. Perasaan yang merambat memenuhi dadanya saat ini terlalu sulit untuk didefinisikan. Senang, sedih, haru. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Zahira ingin menangis, tidak tahu kenapa.


Sampai tiba-tiba, gelak tawa yang semula riuh perlahan-lahan sirna. Salah seorang di antara mereka yang sedang Zahira pandangi dari kejauhan menolehkan kepala, tersenyum begitu lembutnya hingga membuat detak jantung Zahira berhenti selama beberapa saat.


Dengan tatapan lembut, Juan melebarkan senyumnya. Satu tangannya terangkat, melambai-lambai kepada Zahira sebagai undangan agar ia segera bergabung dalam pertunjukan menyenangkan yang semula hanya bisa dia lihat dari kejauhan.


“Sini.”


Dan, kaki Zahira terseret dengan sendirinya. Ujung-ujungnya bibirnya tertarik, namun kabut bening tiba-tiba muncul, menyelimuti bola matanya hingga membuat pandangannya memburam.


Lalu, seperti sudah tidak tahu malu, Zahira menyambar tubuh Juan yang sudah berdiri menyambut dirinya. Dia masuk ke dalam pelukan Juan, membaui aroma tubuh kekasihnya yang khas, untuk pertama kali di depan sang ayah.


“Loh, hei, kamu kenapa?” senyum di bibir Juan sirna tanpa sisa, berubah menjadi kekhawatiran yang memuncak ketika dia merasakan tubuh Zahira bergetar pelan.


Abi Hamzah tidak kalah paniknya. Pria paruh baya itu langsung ikut bangkit dan bergegas mendekat.


“Za?” panggil Juan, sebab Zahira masih tidak menyahuti pertanyaannya yang pertama. “Kamu kenapa?”


Namun sekali lagi, Zahira tidak memberikan jawaban apa-apa. Jadi Juan berhenti bertanya. Pun dengan Abi Hamzah yang memilih untuk menepikan diri, membiarkan putri semata wayangnya meluapkan perasaan tanpa gangguan dari dirinya—atau siapa pun juga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2