
Juan harus mengakui kalau Moana itu memang gigih. Bagaimana tidak? Ketika malam sudah menjelang dan di luar hujan turun begitu derasnya, ia masih menemukan mobil perempuan itu terparkir di halaman rumahnya. Padahal dia sudah sengaja menunda kepulangan demi berjaga-jaga, memastikan Moana dan ibunya sudah pulang karena demi Tuhan, ia malas sekali untuk bertemu dengan perempuan itu.
Sekarang, berhubung ia sudah kadung menyetir mobilnya sampai ke depan gerbang, Juan sudah tidak bisa putar balik. Mau tidak mau, dia melanjutkan sisa perjalanan dengan menginjak pedal gas lumayan dalam, membuat mobilnya meluncur bebas menuju garasi dan segera ia parkirkan.
Deru suara mobil dan berisiknya suara gerbang yang ditarik berpadu dengan derasnya air hujan membuat penghuni rumah yang ada berhamburan keluar. Reno menjadi yang pertama. Lelaki itu berlarian dari dalam rumah, menuruni tiga buah anak tangga untuk sampai di isi mobil Juan tepat ketika sepupunya itu baru saja membuka pintu dan hendak turun.
Tiga detik setelahnya, Mama dan Moana menyusul. Dua wanita beda usia itu turut berjalan mendekat dengan ekspresi yang berbeda. Satunya terlihat kesal, satunya lagi malah tersenyum cerah—kontras dengan warna langit yang gelap.
“Ngapain balik?” Reno berbisik pelan. “Harusnya lebih lama lagi di rumah Zahira.”
Juan membuang napas keras-keras di depan wajah Reno. Nasib baik sepupunya itu sedang dalam kondisi mood yang oke. Kalau tidak, ia pasti sudah ditempeleng. “Gue juga maunya di sana aja sampe kiamat. Tapi gimana, dong, Abi Hamzah sama Umi Maryam kan manusia beradab, jadi gue harus mengimbangi adab mereka dengan tahu diri sebagai seorang tamu.” Juan berhenti sebentar, melirik malas ke arah Moana yang berdiri bersama Mama di ambang pintu. “Nggak kayak manusia itu, bertamu nggak tahu waktu.” Lalu ia berjalan ke arah pintu meninggalkan Reno yang turut prihatin.
“Hai, Ju.”
__ADS_1
“Hmmm.” Juan hanya berdeham sebagai balasan atas sapaan ramah Moana. Hal itu membuat Mama mendelik, sedangkan Juan tidak cukup peduli untuk memperbaiki sikapnya. Ia sudah kadung gondok, tidak bisa lagi berpura-pura untuk bersikap ramah pada Moana yang mulai terlalu jauh melewati batas.
Mengabaikan keberadaan Moana dan Mama, Juan berjalan cepat memasuki rumah. Ia tidak peduli sekalipun harus menerima omelan atau bahkan hukuman sekalipun nantinya. Baginya, yang terpenting sekarang adalah naik ke kamar agar tidak perlu berinteraksi dengan Moana.
Ketidakadaan sosok ibu Moana di ruang tamu juga semakin membuat Juan kesal. Apakah perempuan itu berbohong soal datang bersama ibunya, atau dia sengaja membiarkan ibunya pulang sendiri demi bisa berkeras kepala menunggu Juan pulang? Yang mana pun kemungkinannya, tidak satu pun yang membuat Juan senang.
“Ju,” suara Mama memanggil pelan. Juan tidak peduli, dia tetap melanjutkan langkahnya menapaki satu persatu anak tangga.
Sayup-sayup terdengar obrolan antara Mama dengan Moana. Di mana Mama berusaha meminta maaf atas sikap acuh Juan sementara Moana mendalami peran sebagai malaikat baik hati dengan berkata bahwa itu tidak apa-apa.
Baru saja tangan Juan terulur hendak membuka kenop pintu kamar, tangan lain datang menyusul, menahan pergerakannya hingga membuatnya mau tak mau membalikkan badan dalam sekali sentakan.
“Apa lagi?” tanyanya malas pada sang ibu. Hilang sudah sopan santunnya terhadap orang tua. Well, kepada orang tuanya, dia memang tidak pernah bersikap sopan. Sebab kesopanan itu tidak dia pelajari dari mereka. “Juan capek, mau istirahat. Besok ada jadwal meeting sama klien pagi-pagi. Mama mau Juan telat ke kantor dan dapat penalti?”
__ADS_1
“Temuin Moana dulu, dia udah nungguin kamu dari siang.”
“Nggak ada yang nyuruh dia nunggu Juan pulang.” Kasar, tangan ibunya ia sentak.
“Kamu kenapa jadi nggak sopan gini sama Mama semenjak pacaran sama cewek itu?”
“Namanya Zahira. Biasain panggil dia pakai namanya, jangan cuma nyebut cewek itu cewek itu terus. Dan lagi, sikap Juan yang kayak gini nggak ada hubungannya sama Zahira. Justru kalau bukan karena dia, Juan mungkin udah angkat kaki dari rumah ini dan ninggalin Mama.” Unek-unek itu sesungguhnya sudah Juan pendam sejak lama. Setelah mengetahui kedua temannya—Fabian dan Baskara—mengambil langkah berani untuk kabur dari keluarga mereka, ia pun sempat memikirkan hal yang sama. Namun Zahira mencegahnya. Perempuan itu yang meyakinkan ia bahwa seburuk-buruknya orang tua, Juan harus tetap menghormati dan mengasihi mereka.
“Juan tahu Mama nggak suka sama Zahira karena mikir dia nggak selevel sama kita, kan? Padahal Mama harusnya ambil kaca, karena kalau Mama tahu, kita yang sebenernya nggak selevel sama keluarganya Zahira yang serba baik dari berbagai sisi. Keluarga mereka harmonis, nggak kayak punya kita yang bertahan cuma demi hubungan bisnis.” Ada lebih banyak pikiran yang ingin Juan muntahkan saat itu juga, namun ia mengurungkan niatnya dan menelan kembali semuanya sebelum rem di dalam dirinya blong. Lagipula dia benar-benar lelah. Bertahan di rumah Zahira dengan adanya Adnan yang juga tak kunjung pulang telah menguras lebih dari separuh energinya.
“Suruh Moana pulang. Mau sampai dia pingsan di sini sekalipun, Juan nggak akan turun lagi buat nemuin dia.” Lalu Juan membuka pintu kamarnya, masuk ke dalamnya kemudian menutup pintu kayu itu dengan kasar sehingga menimbulkan dedaman yang keras. Ia yakin suaranya akan terdengar sampai ke lantai satu. Sengaja, supaya Moana mendengarnya dan tahu diri untuk segera pulang. Sebagai tamu, jika sudah tidak disambut baik oleh sang Tuan rumah, bukankah sebaiknya segera pergi?
Sementara itu, Juan tidak pernah tahu kalau tumpahan kemarahannya itu justru membuat ketidaksukaan sang ibu terhadap Zahira dan hubungan mereka malah semakin menjadi-jadi. Semakin besar, semakin berkobar seperti kepulan api yang tak mudah padam.
__ADS_1
Bersambung