
Menemukan wanita yang dia cintai berada persis di sampingnya ketika ia membuka mata di pagi hari adalah impian yang sudah Juan simpan di dalam kepalanya sejak lama. Wajah polos tanpa make up, helaian rambut yang menyebar ke seluruh permukaan bantal, semuanya menjadi pemandangan yang serta-merta mampu membuat senyum Juan terkembang sempurna.
“Kamu lebih cantik kalau lagi tidur.” Gumam Juan. Jemari panjangnya bergerak nakal, membelai setiap sisi wajah Zahira dengan lembut dan penuh perasaan.
Dahi, alis, kelopak mata, hidung, pipi, hingga belah bibir yang terlihat sehat nan kenyal itu dia raba-raba sesuka hati. Makin turun gerakan tangannya, makin senyumnya melebar.
“Ini nih, bibir yang kalau udah kumat cerewetnya bisa bikin kuping aku pengang seharian.” Ledeknya, lalu meloloskan tawa pelan kala jemari panjangnya bersentuhan lagi dengan bibir kenyal Zahira.
Juan bisa saja mengecup bibir itu sepuasnya, membabi-buta seperti tidak ada hari esok untuk menyalurkan hasratnya. Akan tetapi, dia tidak melakukannya. Bibir itu hanya boleh dia jamah ketika sang empunya sedang dalam keadaan sadar. Supaya dia tahu, apakah sang empunya keberatan menerima kehadiran bibir Juan atau tidak.
Semalam, sekembalinya dia dari dapur membawa segelas susu cokelat untuk dipersembahkan kepada Zahira, mereka sempat mengobrol tentang beberapa hal. Tentang rencana Zahira ke depannya dengan karir kedokteran. Tentang Juan dan segala visi misi yang dia tumpahkan ke cafe yang dia kelola. Tentang mini playground yang akan dibangun satu atau dua tahun ke depan—jika mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan momongan lebih cepat. Juga tentang berapa banyak anak yang ingin mereka miliki.
“Kamu mau punya anak berapa?” tanya Zahira tadi malam.
“Terserah kamu.” Dan itu adalah jawaban yang Juan berikan.
Tentu akan menyenangkan jika mereka bisa memiliki dua atau tiga anak untuk meramaikan suasana di rumah. Anak pertama laki-laki, yang mirip dengannya agar bisa menjaga sang ibu. Anak kedua perempuan, yang persis Zahira agar istrinya itu punya teman mengobrol ketika dia mulai sibuk dengan kegiatannya mencari nafkah. Lalu anak ketiga, tidak masalah apakah itu laki-laki atau perempuan. Mereka akan tetap mencurahkan kasih sayang kepadanya. Deras deras-derasnya hingga mereka tidak perlu lagi mencari kasih sayang dari orang lain yang akan mereka temui ketika mereka beranjak dewasa nanti.
Akan tetapi, Juan lebih memilih untuk menyerahkan keputusan itu kenapa Zahira sepenuhnya. Terlepas dari fakta bahwa manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang tetap menentukan semuanya, Juan juga paham sekali kalau itu adalah tubuh Zahira. Perempuan itu yang akan mengandung dan melahirkan, merelakan bobot tubuhnya naik drastis selama masa-masa kehamilan dan harus bertaruh nyawa ketika melahirkan. Maka rasanya, sama sekali tidak bijak jika dia harus memaksa Zahira untuk mengandung dan melahirkan anak-anak untuknya, jika perempuan itu tidak menghendakinya.
Bahkan, Juan juga tidak keberatan jika sampai akhir pun mereka tidak akan memiliki anak. Dengan santainya, dia berkata pada Zahira bahwa mereka bisa mengadopsi anak-anak lucu dari panti asuhan. Itu tidak ada bedanya. Menjadi orang tua tidak selalu hanya soal mengandung dan melahirkan.
Juan bukan orang bijak. Dia masih bajingan juga seperti dulu sebelum bertemu Zahira. Egonya masih tinggi, keras kepalanya apa lagi. Namun demi Zahira dan kehidupan yang lebih baik untuk mereka berdua, dia akan selalu berusaha untuk menggeser sisi-sisi negatif itu akan tidak muncul ke permukaan terlalu banyak.
Seperti yang Papa dan Reno—juga orang-orang lain—bilang, ini barulah permulaan. Karena menikah adalah ibadah yang dilakukannya seumur hidup, maka Juan juga harus siap sedia untuk terus belajar setiap hari. Belajar lebih sabar. Belajar lebih mendengarkan. Belajar lebih menekan ego agar semuanya tidak berantakan. Juga belajar agar rasa cintanya terhadap Zahira terjaga aman, agar mereka bisa mengarungi bahtera rumah tangga hingga waktunya nanti mereka untuk sandar—pulang ke pangkuan Tuhan.
Jauh sekali sebelum hari ini, atau lebih tepatnya hari di mana dia bertemu dengan Zahira, pernikahan bukanlah sesuatu yang ada di dalam rencana hidupnya. Namun kini, dia dengan segenap hati akan menjalaninya.
“Morning, Sayang.” Sapa Juan ketika merasakan tubuh Zahira menggeliat pelan di dalam pelukannya.
Tatkala kelopak mata cantik yang dia pandangi sampai sedemikian rupa itu perlahan-lahan terbuka, Juan kembali mengukir senyum yang sempurna. “Gimana tidurnya? Nyenyak?” tanyanya.
Anggukan kepala datang sebagai jawaban. Kemudian, Juan semakin tidak kuasa menahan letupan dahsyat di dada saat Zahira bergerak mendekat, menyelundupkan wajah ke dada bidangnya sementara lengan perempuan itu memeluk pinggangnya erat.
“Nyaman.” Cicit Zahira.
Juan terkekeh pelan, lalu membalas pelukan Zahira sehingga tubuh kecil itu semakin tenggelam. “Ini punyamu. Kamu boleh nemplok ke sini kapan pun kamu mau.” Kata Juan, merujuk pada dada bidangnya yang kini dijadikan tempat persembunyian.
Zahira turut tertawa, dia yang aslinya physical touch garis keras jelas senang diberikan lampu hijau seperti itu. Sebelum menikah, Umi yang selalu menjadi sasaran empuk untuk dia peluk sampai puas. Dan sekarang karena dia sudah memiliki Juan, ia sepertinya akan lebih sering ndusel seperti sekarang.
“Hari ini kita mau ngapain? Bermalas-malasan seharian?” Juan sedikit menarik diri. Tidak banyak, hanya sampai dia bisa mengintip sedikit wajah istrinya.
“Nggak boleh. Kata Abi, malas itu sifatnya setan.” Zahira juga turut menarik wajahnya dari dada Juan. Sedikit mendongak dia agar bisa membalas tatapan suaminya.
__ADS_1
“Terus, mau ngapain? Bikin baby?” goda Juan.
Kali ini, godaan itu sudah tidak terlalu mempan. Mungkin Zahira juga sudah lebih beradaptasi, sehingga alih-alih merona seperti yang sebelumnya, perempuan itu hanya menggeleng pelan seraya menepuk-nepuk pipi Juan.
“Aku mau nanam bunga di halaman belakang. Kamu mau bantu aku?” ucap perempuan itu setelah melabuhkan satu cubitan kecil juga di pipi suaminya.
“Yes.” Jawab Juan. “Tapi nggak gratis, ya. Aku minta upah.”
“Apa upahnya?”
“Cium.” Jawabnya seraya menunjuk bibirnya sendiri. “Tiga kali.”
Zahira mengulum senyum, “Boleh.” Ucapnya menyanggupi.
Sorak-sorai kegirangan tidak sempat lolos dari Juan karena Zahira segera mengabulkan permintaan lelaki itu. Tiga buah kecupan dilabuhkan ke bibirnya, bonus satu kecupan lagi yang mendarat manis di pipi.
“Aku udah bayar di depan, plus bonusnya juga, jadi kamu harus ikhlas bantuin aku.”
“Bonusnya kurang.” Lalu tanpa basa-basi, Juan menyambar bibir Zahira. Mula-mula hanya memberikan kecupan-kecupan ringan, kemudian gerakannya mulai berubah menjadi sesapan-sesapan pelan yang membuat Zahira juga turut bergerak untuk membalas.
Pertemuan dua bibir tanpa diiringi saling tuntut itu berlangsung cukup lama. Dengan tempo yang terhitung stabil, keduanya saling menyesap rasa manis dari bibir masing-masing. Sesekali mereka melepaskan pagutan, hanya untuk mengambil napas sembari saling tatap dan terkekeh pelan. Lalu saat napas mereka kembali teratur, mereka memulainya lagi.
“I can do this all day, really.” Bisik Juan tatkala pagutan mereka terlepas lagi.
Juan kembali tergelak. “I know, I know. Tapi sebelum nanam bunga, kita harus urusin dulu perut kamu yang dari tadi bunyi minta makan.” Jari telunjuk Juan menusuk-nusuk perut Zahira yang beberapa kali berbunyi. Tadi malam saat ia mengaku lapar, sepertinya perempuan itu tidak sepenuhnya hanya beralasan.
“Gara-gara siapa?”
“Aku.” Juan lantas menunjuk dirinya sendiri, lalu mereka tergelak bersama. “Aku akan tanggung jawab. Sana, kamu cuci muka sama sikat gigi, biar aku yang masak buat kita sarapan.” Perlahan-lahan, Juan melepaskan Zahira dari pelukannya. Meski lengannya tidak lebih empuk daripada bantal yang mereka gunakan, dia tetap berhati-hati saat mengoper kepala Zahira ke sana.
“Emang kamu bisa masak?”
“Bisa.”
“Masak apa?”
“Masak air.” Celetuk Juan sambil cengengesan.
Harusnya Zahira menyahut ‘biar mateng’ supaya guyonan itu berhasil. Namun, perempuan itu malah bersungut-sungut berkata, “Air nggak kan bikin kenyang, kembung doang yang ada.”
Juan gemas, jadi dia maju lagi, mendekati Zahira yang sudah dalam posisi duduk di atas kasur. Kemudian, dia gigit hidung mancung istrinya, membuat sang empunya mencak-mencak.
“JUJU!!!”
__ADS_1
“Jangan terlalu gemes makanya, kan aku jadinya nggak tahan buat nggak gigit kamu.”
Zahira manyun sambil mengusap-usap hidungnya. “Sakit tahu!”
“Nanti aku obatin.” Kata Juan. “Tapi sekarang aku harus ke dapur dulu buat bikin sarapan. Kamu buruan cuci muka sama gosok gigi, nanti aku panggil kalau masakan aku udah selesai.”
Sebelum pergi, Juan menghadiahkan satu kecupan lagi ke kening Zahira. Kemudian dia melesat keluar menuju dapur untuk membuatkan sesuatu.
Masih ingat semalam ketika dia mengatakan pada Zahira bahwa dia belum sempat mengisi bahan makanan di dalam kulkas? Itu sebenarnya bohong. Dia sudah menyetok bahan makanan hingga membuat kulkasnya penuh. Snack dan beberapa minuman ringan bahkan harus dia simpan di lemari penyimpanan karena ruang untuk mereka sudah Jua penuhi dengan bahan makanan yang lain.
Sambil bersiul-siul dengan riang gembira, Juan menuruni satu persatu anak tangga. Di kepalanya, sudah terencana dengan matang dia hendak memasak apa. Berbekal ilmu yang dia dapatkan dari internet dan beberapa kali uji coba, dia sudah percaya diri untuk menyuguhkan makanan itu kepada Zahira.
“Masak buat isrti, cek.” Celotenya, menirukan gaya bicara para konten kreator saat hendak memulai aksinya.
Pagi itu, suasana hati Juan baik sekali. Cerah senyumnya bahkan menyaingi terang matahari yang bekerja keras sendirian menyinari bumi.
Sekali lagi, dia tahu ini bukanlah akhir. Ini hanya chapter awal yang akan terus dia revisi untuk sampai pada bab terbaik menurut versinya sebelum ia memutuskan untuk menutup buku dan mengakhiri kisah mereka dalam keadaan paling sempurna.
...—Tamat—...
Hah??? Tamat???
Iya, udah tamat. Mau liat apa lagi kalian emangnya???
But first of all, aku mau bilang makasih untuk kalian yang udah mau meluangkan waktu membaca karya yang jauh dari kata sempurna ini.
Semoga sehat dan bahagia selalu.
I love you guys, to the moon and back ❤️❤️
Udah, ya, aku mau pergi healing biar nggak sinting wkwkwk
Sampai ketemu lagi di karya yang lain, bye bye!!!
🍁
🍁
🍁
Nitip Baskara sama Reno dulu di sini bentar wkwk
__ADS_1