
Sudah menyebalkan, tidak tahu diri pula. Juan hanya bisa menggerutu diam-diam menyaksikan Lukas yang dengan senang hati menguras isi dompetnya dengan memesan begitu banyak menu makanan. Padahal kalau dilihat-lihat, perut lelaki itu sama sekali tidak buncit, tapi kok ya muat saja semua makanan itu masuk ke dalam sana? Apakah ada semacam tempat rahasia di mana Lukas bisa menyimpan stok makanan, sama seperti seekor unta yang menyimpan cadangan air di dalam punuknya?
“Ini namanya gragas,” Galih berkomentar. Kebetulan, lelaki itu duduk persis di sebelahnya sehingga Juan bisa menjadikannya teman gibah.
“Gue yakin dia sengaja.” Juan menuduh. Bukan tuduhan tanpa alasan yang jelas, sebab dari awal dimasukkan ke dalam perusahaan oleh Papi, si Lukas komodo itu memang gemar sekali mencari gara-gara dengan dirinya dan Reno. Kalau untuk Reno, gerakan Lukas mungkin masih terbatas karena biar bagaimanapun jabatan Reno masih lebih tinggi. Tapi untuk Juan, Lukas sepertinya sudah menyimpan 1001 rencana cadangan untuk terus mengusik hidupnya yang tenang.
“Ada dendam pribadi dia kayaknya sama lo.” Galih menebak.
Juan tersenyum miring, “Bukan dendam, emang manusianya aja yang nggak punya adab.” Ia lalu menoleh ke arah Galih. “Katanya kan manusia diciptakan dari tanah. Nah, si manusia itu diciptakannya pasti kalau nggak dari tanah longsor ya tanah sengketa. Hobinya bikin dosa mulu soalnya.”
“Lebih tepatnya tanah kuburan sih kayaknya,” Galih menimpali. Dengan gerakan serempak, mereka kembali melayangkan pandangan ke arah Lukas yang baru selesai menghabiskan makanannya. Selain menyebalkan dan tidak tahu diri, Lukas juga budek, jadi tidak heran kalau lelaki itu masih bisa makan dengan tenang padahal sedang digunjingkan oleh rekannya yang lain.
“Bajingan emang,” umpatan itu menjadi sentuhan terakhir. Juan tidak ingin mengotori mulutnya lebih banyak untuk mengatai Lukas karena ujungnya akan percuma. Tidak akan ada yang berubah dari sikap manusia tidak ada adab satu itu.
“Omong-omong, Ju,”
Juan menoleh lagi ke arah Galih. “Kenapa?”
“Si Moana mana, ya? Ke toilet kok lama bener.” Galih sambil celingukan. Mungkin sudah 20 menit lamanya Moana pamit pergi ke toilet, namun sampai sekarang perempuan itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sebelum pergi, Moana juga tidak menghabiskan makanannya dan perempuan itu memang kelihatan lebih pendiam daripada sebelumnya. “Khawatir, euy. Susulin apa ya?”
__ADS_1
Untuk beberapa lama, Juan terdiam, tampak berpikir. Kalau dia membiarkan Galih yang menyusul Moana, itu artinya dia akan ditinggalkan di sini bersama Lukas. Ugh! Tidak, terima kasih. Lebih baik dia yang pergi mengecek kondisi Moana daripada harus berlama-lama berinteraksi dengan si monyet Lukas. Nah, kan, sudah bertambah lagi saja sebutan untuk Lukas.
“Gue aja yang susulin, sekalian gue juga mau ke toilet.” Selepas itu, Juan pergi. Celingukan ia mencari keberadaan toilet yang letaknya di bagian paling ujung belakang bangunan restoran tempat mereka makan.
Sudah ketemu pun, ia masih tetap celingukan di depan toilet wanita, melongokkan kepala sedikit untuk mencari keberadaan Moana. Tapi yang namanya dia adalah laki-laki dan sedang celingukan di depan toilet wanita, jelas saja tatapan curiga berkali-kali dilayangkan kepadanya, berasal dari para perempuan yang keluar masuk toilet wanita. Mereka pasti berpikir Juan hendak berbuat yang tidak-tidak. Entah hendak mengintip, atau sedang mengincar salah satu perempuan yang ada di dalam bilik toilet untuk dia seret pergi seperti di film-film kriminal.
Meski sudah tidak nyaman ditatap begitu oleh orang-orang, Juan tetap bertahan. Tidak hanya berdiam diri menunggu, dia juga berusaha untuk menelepon Moana kok, hanya saja memang perempuan itu tidak kunjung menjawab panggilannya sehingga ia hanya bisa dengan sabar berdiri di depan pintu masuk toilet wanita seraya sesekali melongokkan kepalanya lagi.
Lima belas menit berlalu, Juan sudah hampir menyerah. Dia berpikir untuk memanggil Galih saja agar lelaki itu membantu mencari solusi. Namun, belum juga tangannya selesai mengetikkan nomor Galih yang telah dia hafal di luar kepala, Moana muncul dari balik pintu dalam keadaan yang—kacau. Rambutnya yang digerai acak-acakan, kemejanya kusut, wajahnya pucat dan bulir-bulir keringat yang sebesar biji jagung tampak menyebar memenuhi wajah dan area lehernya yang terbuka.
Terlepas dari seberapa menyebalkannya sikap Moana di luar jam kerja, ia tetaplah manusia. Jadi melihat Moana yang begitu tetap saja membuat Juan panik. Buru-buru dia berjalan mendekati Moana yang seperti tidak punya daya bahkan untuk sekadar menyapa dirinya.
“I’m oke, Ju.” Moana menjawab dengan suara lirih. Pegangan Juan berusaha dia lepaskan, namun Juan bersikeras untuk menahannya.
“Apanya yang oke? Lo sakit, Mo, badan lo dingin banget. Kita ke rumah sakit, ya?”
“Nggak usah, Ju.” Moana masih bersikeras.
“Nggak, kita ke rumah sakit sekarang.” Juan menarik lengan Moana, hendak betulan menyeret perempuan itu ke rumah sakit. Namun, Moana menolaknya lagi.
__ADS_1
“Nggak mau, Ju. Gue nggak suka rumah sakit.” Sebisanya, dengan sisa tenaga yang tidak seberapa, Moana menahan tangan Juan. “Kita balik aja ke kantor,” sambungnya.
Juan bisa saja tetap memaksa Moana, namun itu bukanlah kebiasaannya. Dia tidak pernah memaksa siapa pun, apalagi jika kata ‘tidak’ sudah terlontar lebih dari satu kali dari lawan bicaranya. Untuk itu, Juan mengalah. Bersama helaan napas rendah, ia menganggukkan kepala.
“Ya udah, kita balik ke kantor.” Pungkasnya. Kemudian, ia menuntun Moana, memastikan tubuh ringkih itu masih bisa menjejak di lantai dan tidak rubuh secara tiba-tiba.
Sampai di meja tempat mereka makan siang tadi, Galih berdiri cepat, berderap mendekat dengan kepanikan yang tidak dibuat-buat. Penampilan Moana yang begitu adalah pemandangan yang baru, karena semua juga tahu seberapa tangguh dan tidak terkalahkannya seorang Eclessia Moana.
“Mo, lo kenapa?”
“Sakit.” Juan yang menjawab. “Balik yuk ke kantor,” ajaknya kemudian. Si Lukas tidak dipedulikan sama sekali. Karena tidak seperti Galih yang panik, bocah tengik itu malah kelihatan santai saja. Malahan, ada senyum samar yang bisa Juan tangkap di wajahnya yang menyebalkan.
Meninggalkan Lukas, mereka bertiga akhirnya berjalan kembali ke kantor. Juan dan Galih bekerja sama, mendadak berubah menjadi Guardian Angel yang siap siaga menjaga di sisi kanan dan kiri tubuh Moana untuk memastikan perempuan itu sampai di kantor dengan selamat.
Sementara itu, Lukas yang tertinggal di belakang masih menikmati pemandangan yang tersuguh di depan matanya dengan senyum yang terkulum. Bukan apa-apa. Dia bukannya tidak bersimpati pada kondisi Moana yang terlihat lemah. Hanya saja, dia tahu bahwa itu adalah pura-pura. Kalaupun Moana betulan sakit, itu pasti hasil dari ulahnya sendiri yang disengaja untuk menarik perhatian Juan. Sama seperti ia yang pandai memanfaatkan situasi demi bisa bekerja di perusahaan elit milik ayahnya Reno, Lukas tahu Moana pun sama liciknya.
“Mo, Mo, nekat juga lo kalau gue lihat-lihat.” Gumam lelaki itu seraya menggelengkan kepala pelan.
Bersambung
__ADS_1