
Dengan telaten, Juan menyuapkan sendok demi sendok bubur yang dia buat sendiri ke dalam mulut ibunya. Sesekali ia akan menyeka sudut bibir ibunya yang terkena lelehan bubur, sesekali ia akan menawarkan air minum, dan sesekali pula ia akan mengusap bulir-bulir keringat yang masih terus menetes membasahi wajah pucat ibunya.
“Gerd-nya kambuh, udah pasti itu karena stres yang berlebihan, ditambah mamamu yang nggak makan dengan baik sehingga nutrisi yang diperlukan oleh tubuhnya nggak terpenuhi. Tapi nggak perlu cemas, saya udah resepkan vitamin dan suplemen untuk bantu memenuhi nutrisi yang nggak didapat sama mamamu selama beberapa hari ini. Sekarang tugas kamu adalah memastikan mamamu nggak lagi stres dan mau mulai makan dengan teratur lagi.”
Begitu yang disampaikan oleh Dokter Yohanes sebelum pria berusia akhir 50-an itu pamit undur diri. Resep yang diberikan olehnya bahkan masih Juan sakui di dalam celananya hingga sekarang, lengkap bersama rasa perih yang dia timbun rapat di dalam hati.
Tidak perlu diperjelas. Juan juga tahu kalau stres yang menumpuk di kepala ibunya itu sebagian besar memang berasal dari dirinya. Dari keputusannya untuk keluar dari rumah. Dari absennya ia dalam berbagai peristiwa yang terjadi di Rumah Besar setelahnya. Juga dari acuhnya dia kepada sang ibu selama beberapa hari terakhir karena terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
“Habis makan langsung istirahat, ya. Besok Juan baru bisa ke apotek buat ambil vitamin sama suplemen yang Dokter Yohanes resepkan.” Sembari berkata begitu, Juan mulai membereskan mangkuk bekas makan yang sudah kosong. Ia lega, setidaknya bubur yang dia buatkan untuk sang ibu bisa dihabiskan meski membutuhkan waktu yang cukup lama.
Di atas tempat tidur, di mana dia hanya bisa duduk bersandar tak berdaya, Chyntia tidak merespons ucapan sang putra. Dia malah sibuk memandangi Juan yang tampak cekatan mengumpulkan bulir-bulir lembek bubur yang tak sengaja terjatuh di lantai dekat ranjang, mengelapnya degan tisu lantas membuang semuanya ke dalam tong sampah dekat nakas.
Sampai kemudian Juan berbalik lagi membawakan gelas berisi air untuk membilas mulutnya yang bekas bubur, Chyntia masih tidak mengalihkan pandangannya.
“Pelan-pelan aja.” Ucap Juan seraya membantu ibunya untuk minum. Dia memastikan tidak ada tetes yang jatuh, lalu mengusap bibir ibunya yang basah menggunakan jempolnya yang halus.
“Nah, udah. Sekarang Mama tidur.” Usai meletakkan kembali gelas ke atas nakas, Juan membantu membaringkan tubuh ibunya, menarik selimut hingga sebatas pinggang lalu melabuhkan usapan lembut di kening wanita yang telah melahirkannya itu.
“Ju,” panggil Chyntia lemah kala Juan hendak bergerak dari kursinya.
Juan urung berpindah, beralih menatap ibunya dengan lembut. “Mama butuh sesuatu?” tanyanya.
“Mama mau tidur sama kamu malam ini. Boleh?”
“Boleh.” Jawab Juan tanpa ragu. Juan balikin mangkuk sama gelas dulu ke dapur, sekalian cuci tangan, habis itu Juan temenin Mama tidur.
Chyntia hanya mengangguk. Kemudian dia membiarkan putranya berlalu membawa perabotan kotor hingga tubuh tegapnya tak lagi nampak terhalang pintu.
Selagi menunggu Juan kembali, fokus Chyntia teralihkan pada keberadaan paper bag yang tadi anaknya itu tinggalkan di dekat nakas. Sekarang posisinya sudah berubah, tergeser cukup jauh hingga ke sisi satunya—di mana dia tidak lagi bisa mengintip apa isi di dalamnya.
Sekilas tadi—sebelum air matanya tumpah ruah bagai keran yang rusak—Chyntia sempat melirik ke arah paper bag tersebut, dan dia menemukan logo dari salah satu luxury bag pada bagian luar paper bag.
“Apa mungkin beliin buat pacarnya?” ia menduga-duga. Timbul lagi rasa tidak suka terhadap kekasih putranya ketika dia berpikir kalau ternyata Juan memang membelinya untuk diberikan kepada kekasihnya yang tidak seberapa kaya. Terlahir dari keluarga yang serba memiliki semuanya, Chyntia terbiasa mencium aroma-aroma busuk dari orang-orang yang datang mendekat hanya untuk mencari keuntungan. Agar mereka bisa ikut mencecap harta yang dia miliki dengan memanfaatkan status pertemanan atau pacaran.
Pengalamannya yang itu membuat Chyntia jadi berpikir bahwa orang-orang kaya seperti mereka memang seharusnya bergaul dengan yang selevel. Karena kalau berteman dengan orang yang juga berkecukupan secara materi, mereka lebih tidak akan mungkin untuk memanfaatkan situasi, kan?
__ADS_1
“Di antara banyaknya perempuan, kenapa Juan harus ketemu sama yang jauh banget di bawah dia?” Chyntia meratap dengan begitu nelangsanya. Ia hanya tidak ingin anak laki-lakinya yang kelihatan tulus sekali dalam mencintai kekasihnya itu akan berakhir kecewa ketika tahu bahwa kekasih yang dia bangga-banggakan tidak pernah memiliki niat lebih selain untuk menguasai hartanya.
“Udah siap tidur sekarang?”
Chyntia menarik lagi pandangannya, lalu mengangguk di detik matanya bertemu dengan milik Juan. “Sini.” Suruhnya, seraya menepuk ruang kosong di ranjang setelah dia bergeser ke kanan.
Juan menurut. Memastikan pintu kamar ibunya sudah terkunci, ia berjalan menuju ranjang. Seperti bayi yang hendak menyusu, dia menyusup masuk ke dalam selimut, meraih tubuh ibunya yang hangat (karena masih demam) lalu memeluknya erat sekali.
Mama pasti udah lama banget nggak dipeluk kayak gini sama Papa. Di dalam hati, Juan meringis. Kadang kala, dia suka bertanya-tanya, apa tujuan dari kedua orang tuanya menikah dulu? Apakah mereka menikah karena benar-benar saling cinta, lalu cinta itu pudar seiring berjalannya waktu, atau mereka justru tidak pernah tahu apa itu cinta, dan pernikahan mereka ini hanya sekadar cara legal untuk mendapatkan keturunan?
Karena, dia miris sekali melihat kondisi ibunya yang sekarang. Di mana seharusnya, ayahnya ada di sini untuk menemani ibunya kala sakit. Bukan malah kelayapan entah ke mana dan menghabiskan uang untuk hal-hal tak berguna.
“Ju,” dari dalam pelukan Juan, Chyntia berbisik pelan.
“Tidur, udah malam. Juan juga udah ngantuk.”
“Tunggu,” Chyntia berusaha melonggarkan pelukan Juan, hanya agar dia bisa menatap wajah tampan putranya yang selama berhari-hari ini dia rindukan. “Mama mau nanya sesuatu sama kamu.”
Juan mengernyit, namun lelaki itu tetap bertanya, “Mau nanya apa?” seraya menciptakan jarak yang ideal agar mereka bisa mengobrol dengan lebih nyaman.
Juan mengikuti arah telunjuk Chyntia, lalu tanpa lebih dulu menjawab pertanyaannya, lelaki itu malah turun dari ranjang, mengambil paper bag yang sempat terlupakan lantas menyerahkannya kepada Chyntia.
Kini giliran Chyntia yang mengernyit tidak mengerti. Apa itu artinya, Juan membeli tas itu untuk dirinya?
“Ini buat Mama, tapi bukan Juan yang beliin.”
Jawaban itu membuat Chyntia semakin kebingungan. Alih-alih menerima paper bag yang masih diulurkan oleh putranya, perempuan itu malah terpaku menatap putranya dengan sorot bertanya-tanya.
“Ini hadiah ulang tahun buat Mama. Early birthday gift, spesial dari Zahira.”
Munculnya nama itu kembali membuat Chyntia menghela napas rendah. Tatapannya kembali turun pada paper bag di tangan Juan. Haruskah dia menerimanya? Atau dia tolak saja, karena toh dia bisa membeli yang seperti itu dengan uangnya sendiri?
“Tolong jangan lihat siapa yang kasih dan berapa nominalnya, tapi tolong lihat juga niat dan ketulusan yang ada di dalamnya.”
Kembali, Chyntia mengangkat kepala.
__ADS_1
“Zahira bela-belain nabung biar bisa beliin ini buat Mama, karena dia ngerasa di ulang tahun yang sebelumnya, dia cuma bisa kasih hadiah yang nilainya nggak seberapa—menurut dia. Juan udah minta dia buat kasih langsung ke Mama, biar Mama tahu gimana sayang dan tulusnya dia sama Mama, tapi anaknya nggak mau. Dia nggak siap kalau hadiah yang dia beli dengan effort yang nggak main-main ini Mama tolak gitu aja persis di depan mata dia, makanya dia nitipin ini ke Juan buat dikasih ke Mama.”
Tidak akan ada yang menyangka jika apa yang Juan katakan barusan berisi sedikit kebohongan. Iya, hanya sedikit. Karena Juan tahu Zahira memang sedang menabung demi bisa membelikan hadiah ulang tahun yang lebih mewah untuk Mama. Sebagai pacar yang baik, Juan hanya membantu Zahira merealisasikan niat baiknya, dengan caranya sendiri.
“Juan tahu kok apa yang Mama khawatirin.” Seakan tidak mau memberikan jeda untuk ibunya, Juan kembali bersuara. Paper bag tadi dia letakkan di atas ranjang, persis di hadapan ibunya. “Tapi Mama nggak perlu khawatir, Zahira nggak kayak gitu kok. Dia nggak matre. Lima tahun pacaran, Juan bahkan nyaris nggak pernah beliin dia apa pun, karena dia emang nggak mau. Dan Mama juga seharusnya tahu, kalau itu juga yang jadi alasan kenapa Juan bisa sesayang dan secinta itu sama Zahira.”
“Juan nggak akan maksa Mama buat bisa langsung kasih restu. Nggak apa-apa, pelan-pelan aja. Juan juga yang salah karena terlalu lama nyari waktu buat bisa mendekatkan kalian. Karena kalau Mama kenal dia lebih awal, Mama mungkin nggak akan punya pikiran kalau ada perempuan yang lebih baik daripada Zahira buat Juan.”
Chyntia masih membisu. Dia memang tidak pernah melihat Zahira sebagai individunya sendiri. Selama ini, dia hanya melihat perempuan itu sebagai golongan dari orang-orang yang gemar memanfaatkan keadaan dan cinta yang ditawarkan oleh orang-orang kaya yang kesepian seperti dirinya dan Juan. Tapi, apakah orang-orang tulus seperti yang Juan bilang itu memang benar-benar masih ada di dunia yang penuh tipu daya ini?
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Saking parah rindunya kepada Juan, Chyntia sampai bergerak kesetanan kala tidak bisa menemukan keberadaan Juan di ranjangnya sewaktu dia terbangun di jam 5 subuh. Panik, Chyntia pikir putranya itu sudah diam-diam meninggalkannya ketika dia masih lelap tertidur.
Namun, kepanikan itu berangsur-angsur mereda ketika dia menemukan masih ada dompet, kunci mobil dan ponsel Juan yang tertinggal di atas nakas.
Chyntia mengusap dadanya, menghela napas lega. Kemudian, dia turun pelan-pelan dari ranjang. Paper bag yang semalam kembali menyita perhatian ketika dia hampir sampai di depan pintu. Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri selama beberapa lama, ia akhirnya memutuskan untuk menerima hadiah dari Zahira dan menyimpannya di tempat di mana benda itu terakhir kali ditinggalkan.
Menarik napas dalam-dalam, Chyntia melanjutkan langkah. Sebelum menjelajah ke sudut rumah yang lain, dia lebih dulu memeriksa ke dalam kamar Juan. Karena barangkali saja anak itu merasa tidak nyaman dan diam-diam pindah ke dalam kamarnya sendiri setelah menunggu ia terlelap.
Pintu kamar Juan ternyata tidak tertutup sempurna. Ada celah cukup lebar di mana Chyntia bisa mengintip keadaan di dalam sana tanpa harus membuka pintu itu lebih lebar. Dan seketika itu juga, Chyntia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia tidak tahu bahwa Juan akan bertindak sejauh ini untuk memperjuangkan cintanya kepada Zahira.
Di dalam kamarnya yang redup, hanya disinari lampu tidur berwarna kemuning, Juan tampak sedang melaksanakan ibadah salat subuh. Chyntia tahu karena dia juga sering melihat asisten rumah tangganya melakukan hal itu sebelum mulai beraktivitas setiap harinya. Mungkin, Juan juga mendapatkan sajadah yang dia pakai sekarang ini dari asisten rumah tangga mereka.
Enggan mengganggu ibadah Juan yang terlihat khusyuk itu, Chyntia pun memutuskan untuk menunggu di depan pintu. Hingga kemudian, Juan sampai pada rakaat terakhir dan tatapan mereka bertemu ketika lelaki itu selesai mengucapkan salam.
Juan tampak terkejut atas kehadirannya, namun tidak butuh waktu lama, keterkejutan itu sudah sirna. Juan bergegas membereskan sajadah, melipatnya rapi kemudian memasukkannya ke dalam lemari. Lalu, anak itu berjalan menghampirinya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya.
Seakan enggan membahas lebih lanjut soal ibadah salat subuh yang dia lakukan, Juan tidak mengatakan apa-apa ketika sampai di depan Chyntia. Anak itu malah menggamit lengan ibunya, mengajak ibunya berjalan keluar dari kamar.
Chyntia sendiri juga tidak ingin banyak berkomentar. Dia juga bukan tipikal yang mabuk agama dan berprinsip hanya ada satu agama yang paling benar di dunia. Selama anak-anaknya masih percaya pada adanya Tuhan, Chyntia rasa dia tidak akan keberatan meskipun kini cara mereka berkomunikasi dengan Tuhan itu sendiri telah berbeda. Dia hanya berharap, Juan tidak semata-mata melakukan ini hanya demi kekasihnya
“Masih pagi banget, kita lanjut tidur aja, yuk?” ajak Juan.
Dan karena rindunya masih tersisa banyak, dan belum tentu akan datang kesempatan di mana dia bisa memeluk Juan selagi terlelap, Chyntia pun mengiyakan. Mereka kembali ke kamar, kembali mengarungi alam mimpi meski tidak sepanjang malam tadi.
__ADS_1
Bersambung