
“Wow, so sexy.” Juan menaikturunkan alisnya untuk menggoda Zahira yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
Jangan pikir kalau Zahira sedang benar-benar tampil dalam busana minim ala-ala anak kekinian yang doyan nongkrong di kelab malam, tidak sama sekali. Perempuan itu mengenakan baju tidur lengan panjang dan celana tidur yang juga panjang. Semua kancingnya juga dipasang dengan benar, tidak ada celah pula untuk melihat lekuk tubuhnya karena setelan yang dia kenakan ukurannya besar—tidak pas badan.
Hanya sedikit yang berbeda, yaitu tanggalnya kerudung yang biasa menutupi mahkota di kepalanya Kini, helaian rambut berwarna hitam mengilap yang panjangnya hampir menyentuh pinggang itu terurai begitu indah. Barangkali itulah yang Juan sebut sebagai ‘so sexy’.
“Sini, sini. Aku mau peluk istri aku yang seksi.” Kata Juan seraya menepuk-nepuk ruang kosong di ranjang. Sama seperti Zahira, dia juga sudah mengenakan setelan tidurnya.
Zahira geleng-geleng kepala, berjalan pelan menghampiri sang suami lalu duduk di tepian ranjang. “Kamu lapar, nggak? Mau makan dulu?” tanya Zahira, terdengar seperti sedang mengalihkan pembicaraan.
“Nope, nope.” Juan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, seirama dengan gelengan kepalanya. “Aku mau makan kamu aja.”
“Aku bukan makanan.”
“You are.” Juan kekeuh. “Kamu itu asupan bergizi buat jiwa-jiwa yang hampir mati kayak aku ini.”
Zahira memutar bola mata malas. Dia lupa kalau selain cengeng, Juan itu juga absurd bin ajaib.
“Aku tuh lagi serius, Ju. Aku lapar, mau makan.”
“Makan aku, nih.” Ujar Juan seraya mengulurkan lengannya. Sok-sokan menantang agar lengan berotot itu digigit oleh Zahira.
Merasa tertantang dan juga agak jengah dengan aksi Juan yang di luar nalar, Zahira pun akhirnya mengabulkan permintaan suaminya. Dia tarik lengan berotot itu, lalu dia gigit sekuat tenaga, membuat sang empunya menjerit heboh sambil berusaha melepaskan gigitannya.
Bekas gigitan langsung terlihat begitu Juan berhasil menarik tangannya. Bergidik ngeri dia melihat bekas gigitan yang memerah, dibarengi rasa perih yang lumayan. Memang tidak sampai berdarah, tapi demi Tuhan, itu sakit sekali!
“Kamu sengaja mau bunuh aku, ya?!” sungutnya.
Si pelaku penggigitan tampak tidak peduli. “Kamu yang nyuruh.” Balasnya.
“Kan bercanda! Masa iya kamu mau beneran makan aku, sih?!”
__ADS_1
“Orang lapar tuh nggak boleh dibercandain, Juananda. Masa gitu aja kamu nggak ngerti, sih?”
Makin-makin Juan merengut. Diusap-usapnya bekas gigitan, sambil dia tiup-tiup untuk mengurangi rasa perih. Ya memang, sih, dia lupa kalau perempuan itu paling tidak bisa dibiarkan menjadi kelaparan. Akibatnya bisa fatal! Tapi masalahnya, kan, dia tidak tahu kalau Zahira benar-benar lapar.
“Sini, aku obatin.” Sekonyong-konyong, Zahira menarik lengan Juan yang habis dia serang. Lalu, dengan lemah lembut seperti ibu peri baik hati yang datang untuk memberikan pertolongan, dia mengecup bekas gigitannya sendiri sebanyak enam kali. Dia memastikan tidak ada bekas gigitan yang terlewat dari kecupannya. Dan dengan begitu saja, Juan kembali luluh.
Yah, dasarnya Juan itu memang bucin akut kalau soal Zahira. Jangankan cuma digigit, dianiaya sekalipun, dia juga tetap akan luluh kalau Zahira sudah memberikan obat penawar untuk dirinya.
“Udah sembuh, kan?” tanya Zahira dengan muka polosnya. Seolah bukan dia dalang dari datangnya rasa sakit yang diderita oleh suaminya.
Gobloknya, Juan manggut-manggut saja.
Zahira tersenyum senang, lalu bangkit dari posisi duduknya. “Kalau gitu, ayo kita ke dapur. Temenin aku makan.” Ajaknya seraya mengulurkan tangan dengan girang.
“Aku belum sempat isi kulkas, tahu. Kita delivery order aja, nanti makan di kamar.” Juan tak menyambut uluran tangan Zahira untuk ikut bangkit, melainkan malah menarik lengan istrinya hingga perempuan itu kembali duduk. “Lumayan, waktu tunggunya bisa dipakai buat yang lain.”
“Mesum!” Zahira menyentil dahi Juan kala lelaki itu mendekatkan wajahnya sambil memasang wajah menggoda. Alisnya naik turun, senyum anehnya menyebar ke mana-mana.
“Mesum sama bini sendiri nggak boleh? Bolehnya mesum sama cewek lain? Yakin?”
Juan pun tergelak mendengar ancaman istrinya, yang menurutnya justru kedengaran lucu. Zahira yang lemah lembut seperti bidadari turun ke bumi ini, mau memotong kepala orang? Tolong jangan bercanda!
“Kamu lupa kalau aku adalah dokter. Aku pernah bedah badan pasien, loh, Ju.”
Upsieee! Benar juga. Juan hampir lupa soal itu. Ah, tapi tetap saja, Zahira tidak akan menjadi psikopat seperti itu. Tidak akan.
“Kamu juga lupa kalau badan kamu cuma sekecil biji kacang di mata aku.” Tahu-tahu, Juan menarik tubuh Zahira, membalikkannya cepat hingga punggung istrinya itu mendarat sempurna di atas permukaan kasur yang lembut.
“See? Gimana caranya kamu mau motong kepala aku, kalau nahan aku aja kamu nggak bisa?” bisik Juan, dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi lebih berat dan dalam.
Di bawah kungkungan Juan, Zahira mendadak tak berdaya. Benar, lapar yang dia bilang sesungguhnya memang hanya alasan. Dia hanya ingin mengulur waktu, selama mungkin agar Juan lupa pada jatah yang seharusnya dia dapatkan malam ini.
__ADS_1
Zahira yakin dia bukan satu-satunya yang merasa seperti ini. Dia yakin di luaran sana ada banyak perempuan yang sama seperti dirinya, apalagi bagi mereka yang bahkan tidak pernah berpacaran. Zahira yang sudah kenyang melihat wajah Juan dalam jarak dekat selama lima tahun saja, masih tidak terbiasa dan harus ekstra mengatur detak jantungnya agar tidak semakin menggila. Bagaimana dengan mereka yang harus menghadapi hal ini untuk pertama kalinya?
“Aku tahu kamu nggak lapar.” Tembak Juan, tepat sasaran. Dia juga tidak bodoh-bodoh amat. Gelagat Zahira yang terus berusaha menjauh darinya sejak mereka masuk ke dalam kamar membuatnya mengerti kalau perempuan itu sedang ingin mengulur waktu. Mungkin terlalu malu, atau hanya sekadar ingin menguji seberapa kuat dia bisa menahan diri.
“Aku beneran lapar.”
“Kamu nggak lapar, Zahira.” Juan mengulurkan satu tangan, membelai pipi Zahira yang kemerahan. “Kamu cuma mau kabur dari aku.”
“Ng—nggak gitu,” Zahira mendadak tergagap. Tatapan Juan yang terlalu intens membuatnya juga jadi sudah bernapas. Rasanya sebentar lagi dia akan pingsan karena kekurangan oksigen. “Aku cuma ... cuma ...”
“Cuma mau kabur.” Tandas Juan.
Zahira sudah tidak berkutik lagi. Yang bisa dia lakukan hanya berusaha menghindar dari kontak mata yang Juan bangun sangat intens. Sungguh, dia akan pingsan sebentar lagi!
“Suaminya lagi ngomong tuh diliat, jangan malah buang muka.” Kata Juan.
“Kamu diem! Aku lagi deg-degan!” sahut Zahira masih enggan menatap Juan di atasnya.
“Belum diapa-apain udah deg-degan?” goda Juan. Tanpa terlihat oleh Zahira, ia cengengesan. Hobinya masih tidak berubah dari dulu, gemar sekali menggoda Zahira hanya untuk melihat munculnya rona merah di pipi perempuan itu.
“God, can you stop it?” akhirnya, Zahira menolehkan kepala lagi. Seketika itu juga dia merasa kesal karena Juan malah cengengesan. “Ini nggak lucu.”
“Lucu.” Juan menyela. “Reaksi kamu lucu, Yang. Padahal kamu tinggal bilang jujur ke aku kalau kamu belum siap, nggak perlu harus pura-pura lapar biar nggak aku serang.”
“Emang kamu mau terima alasan kayak gitu?” cicit Zahira.
“Ya kenapa enggak?” Juan balik bertanya. “Emang kamu pikir aku bakal maksa kamu, huh? Sinting kali aku kalau sampai lakuin itu.”
Beberapa lama, Zahira tak menyahut. Dia selami manik kelam suaminya, semakin dalam sampai dia seperti lupa caranya naik ke permukaan. Lalu sebuah kecupan yang mendarat di dahinya menjadi akses pemutus kontak mata itu.
“Udah malam, aku bikinin kamu susu aja ya buat ganjal perut. Habis itu kita tidur.” Kemudian, Juan menarik diri. Kungkungannya terlepas dan dia bangkit dari kasur. “Beneran tidur, aku janji.” Sambungnya sebelum berlalu keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Zahira yang ditinggalkan dengan sebuah jaminan yang pasti pun menghela napas lega. Besok. Mungkin mereka akan melakukannya besok. Atau lusa. Atau minggu depan. Pokoknya jangan sekarang, jangan malam ini!
Bersambung