Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 21. NASIHAT RANI


__ADS_3

“Kita berangkat bareng, sayang ,,,” Ucap Shehzad lembut saat melihat Sheila sudah menyelesaikan sarapannya.


“Aku bawa mobil sendiri, pa ,,, ada janji sama teman.” Balas Sheila datar.


Shehzad hanya bisa menarik napas panjang seraya menatap sang istri sendu. Ia tak pernah menyangka putri sulungnya akan marah berkepanjangan. Sheila kemudian berdiri lalu meraih tangan papa dan mamanya kemudian mencium punggung tangan mereka secara bergantian. Semarah-marahnya Sheila, ia tetap berlaku sopan pada kedua orang tuanya. Sheila hanya marah dan kecewa dengan keputusan mereka yang tak mendengarkan penjelasannya.


Terdengar suara mesin mobil Sheila keluar halaman rumah. Shehzad pun segera berpamitan pada sang istri ke kantor untuk yang terakhir kalinya sebagai pimpinan perusahaan.


“Jangan berbicara dengan suara lantang pada Sheila, biarkan dia untuk sementara waktu agar rasa marahnya tak menumpuk, jangan sampai dia membenci kita.” NaxehatnRani mengingatkan suaminya yang keras kepala dan terkadang lepas kendali.


“Semoga aku bisa menahan diri, ma.” Balas Shehzad tak yakin dengan dirinya sendiri.


“Kalau begitu panggil nak Abi.”


“Tidak perlu, biarkan nak Abi membenahi perusahaannya lagian setelah mengumumkan dan memperkenalkan pimpinan perusahaan yang baru, papa langsung pulang.”


Untuk menghindari penilaian jelek orang-orang pada Sheila yang sejak peristiwa malam itu selalu berwajah datar tanpa ekspresi, maka Shehzad berencana lqngsung pulang setelah urusannya selesai. Putri sulungnya itu merupakan gadis yang ramah dan murah senyum, Shehzad tak ingin putrinya berubah makanya ia memilih untuk menghindar hingga kemarahan Sheila reda.


Secara beriringan mobil yang disupiri oleh pak Usman dengan Shehzad duduk dikursi belakang dan mobil yang kendaraan oleh Sheila melewati gerbang perusahaan. Mobil yang ditumpangi oleh Shehzad menuju lobby perusahaan sedangkan mobil Sheila menuju ke parkiran perusahaan.


Sheila sengaja membiarkan sang papa masuk terlebih dahulu, setelah papanya menghilang dari pandangan barulah ia ikut masuk. Karyawan yang berpapasan dengannya sebagian bersikap ramah dan sebagiannya lagi tak perduli dengan kehadiran Sheila.


Tiba dilantai teratas gedung perusahaan PT. Garda Utama, Sheila langsung menuju ruangan direktur. Walaupun ia tidak pernah mengunjungi perusahaan tersebut namun ia sama sekali tak menemui kesulitan untuk menemukan ruangan papanya.

__ADS_1


“Duduk dulu sayang, pukul 9 kita ke ruang meeting.” Ucap Shehzad lembut.


“Pa, aku belum siap untuk berhenti total dan mengundurkan diri dari rumah sakit.”


Shehzad menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya menatap wajah cantik putrinya.


“Sayang, pikirkan kesehatan juga. Menjadi direktur perusahaan sebesar ini akan menyita waktumu, papa takut kamu gak bisa bagi waktu.”


“Insya Allah bisa kok, pa. Aku meminta shift malam jadi gak akan mengganggu pekerjaanku yang lain.”


Pria paruh baya itu menatap lekat-lekat sang putri. Ia tahu alasan dibalik semua ini. Sheila hanya ingin menghindari mereka karena jika Sheila shift malam maka tak ada waktu baginya untuk pulang ke rumah.


“Nanti aja kita bahas ya, sebaiknya kita ke ruang meeting. “


Keduanya berjalan bersisian menuju sebuah ruangan dimana tampak para petinggi perusahaan berkumpul. Tanpa membuang-buang waktu Shehzad segera mengumumkan peralihan pimpinan perusahaan.


Para manajer masng-masing divisi yang sudah hadir lengkap pun tak ada yang bersuara manakala Shehzad berdiri di samping Sheila. Sebuah layar lebar disambungkan agar semua karyawan bisa melihat pimpinan perusahaan yang baru. Pak Roy selaku asisten Shehzad tak ingin terjadi kesalahan karena ia sangat mengenal tabiat putri sulung bosnya itu. Roy salah satu orang yang berperan dalam membimbing Sheila mengenai perusahaan. Termasuk mencarikannya pelatih bela diri terbaik agar bisa menjaga diri mengingat dunia bisnis yang keras dan persaingan terkadang menghalalkan segala cara.


“Perkenalkan putri sulung saya yang mulai detik ini akan mengambil alih semua tugas sebagai penentu kebijakan pada perusahaan PT. Garda Utama ini.” Ucap Shehzad lantang dan berwibawa.


“Perkenalkan dirimu, sayang.” Lanjut Shehzad tersenyum lembut khas seorang ayah pada putrinya.


“Tak ada yang istimewa pada diri saya selain karena putri sulung seorang Shehzad Zahid Arzaqi.” Ucap Sheila menatap papanya kemudian menatap para petinggi perusahaan dengan tersenyum manis.

__ADS_1


“Perkenalkan nama saya Sheila Kamila Arzaqi, cukup memanggilku Sheila dan mohon kerjasamanya.” Lanjut Sheila masih dengan senyumnya.


Tepukan tangan para petinggi perusahaan menandakan mereka menyambut baik kehadiran Sheila sebagai direktur baru perusahaan. Satu per satu para manajer menyalami Sheila dan mengucapkan selamat bergabung dan Sheila pun menyambut mereka dengan antusias.


Setelah perkenalan singkat selesai, mereka lalu kembali ke ruangan masing-masing. Kebiasaan para karyawan yang selalu bekerja dengan serius pada jam dimana memang seharusnya mereka bekerja, demikian pula halnya jika jam istirahat, mereka akan memanfaatkan waktu istirahat dengan baik.


“Sayang, tugas papa sudah selesai dan ini adalah berkas beberapa perusahaan yang baru pertama kalinya menjalin kerjasama dengan kita.” Shehzad menyodorkan beberapa map yang memang sengaja ia pisahkan.


“Om Roy gak ikut-ikutan pensiun kan, pa ?” Sheila justru menanyakan keberadaan pria yang selama ini membimbingnya.


“Untuk saat ini belum, mungkin dua bulan ke depan beliau akan mengundurkan diri, jadi manfaatkan kesempatan untuk banyak belajar dari om Roy.”


“Makasih pa.” Balas Sheila lembut.


Dalam hati Shehzad bahagia karena putrinya sama sekali tak menampakkan wajah kesalnya. Sebagai orang tua yang sangat menyayangi putrinya, Shehzad merasa sedih jika putrinya itu marah padanya karena selama ini Sheila tak menikmati kemewahan yang seharusnya bahkan terkesan hanya numpang tidur di rumah itu. Uang yang diberikan perbulan hampir tak pernah ia gunakan.


“Sayang, papa minta maaf ya atas kesalahan yang papa lakukan.” Ucap Shehzad dengan wajah bersalah.


“Jangan dibahas lagi pa, Sheila mohon. Jangan paksa Sheila menerima pernikahan ini. Biarkan saja seperti ini hingga waktu menjawabnya.” Wajah Sheila berubah murung dengan sorot mata kecewa.


Melihat perubahan wajah putrinya, diam-diam Shehzad menarik napas panjang. Ia akan berusaha mempersatukan pasangan itu bagaimanapun caranya. Menikahkan mereka saja yang bisa dilakukan dengan baik apalagi jika hanya untuk melihat mereka bersama dan melahirkan anak-anak yang lucu-lucu. Kini Shehzad tak lagi memiliki pekerjaan, ia punya banyak waktu untuk membicarakan kehidupan pernikahan Sheila dan Abimana pada orang yang paling bertanggung jawab atas pernikahan putrinya.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2