Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 56. GARA-GARA SHANDY


__ADS_3

Tiba di rumah, Abimana langsung masuk kedalam kamar sehingga membuat Rani dan Shehzad bertanya-tanya. Entah apa yang terjadi dengan menantunya yang tiba-tiba irit bicara.


"Nak Abi kenapa ?" Tanya Rani penasaran.


"Entahlah ma, mungkin sakit kepala memikirkan pekerjaan." Jawab Sheila asal.


Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya. Apa kata mereka nantinya jika hanya karena perkataan dokter Desi membuat pria itu tampak putus asa.


"Apa kata dokter ?"


"Usia kandunganku memasuki minggu ketiga dan alhamdulillah tak ada masalah. " Jawab Sheila apa adanya.


Setelah duduk dan berbincang-bincang beberapa saat dengan sang mama, Sheila pun akhirnya masuk ke dalam kamar menyusul Abimana. Seperti biasa jika Sheila keluar rumah walaupun hanya sebentar maka ia akan membersihkan diri dan berganti baju agar kuman tak menempel di badannya. Tak ingin membuat masalah dengan sang suami, Sheila keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap. Abimana masih pada posisi yang sama, berbaring sambil memelototi langit-langit kamar.


"Mas, mandi dulu. Kuman rumah sakit nempel semua di seperti, lho." Ucap Sheila pelan.


"Hmmm ,,," Balas Abimana tanpa merubah posisinya.


"Terserah !! Kalau mas sakit yang rasa adalah mas sendiri dan aku gak mau tanggung jawab." Emosi Sheila kali ini terpancing melihat kelakuan pria itu.


Dokter Desi hanya ingin agar anak dalam kandungannya aman hingga lahiran namun pria itu seolah-olah akan mati jika tak terpenuhi kebutuhan batinnya. Lagian bukan tidak boleh sama sekali hanya dikurangi. Dasar pria !


Mendengar nada bicara sang istri yang tidak biasa, membuat Abimana bergegas bangun dan ngirim ke kamar mandi. Namun saat akan melewati sang istri, tak lupa ia mencuri kec**an dari wanitanya tak lupa pula tangannya mere**s pelan benda favoritnya.


"Maaf Yang ,,, seharusnya kan main dibawah dan wilayah atas adalah bagian teraman."


Sheila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku suaminya yang tak pernah bisa berhenti memanfaatkan kesempatan. Ada-ada saja idenya berhubungan dengan yang satu itu.


Karena merasa lelah, Sheila meluruskan badannya sejenak. Sejak tiga minggu terakhir, ia memang gampang lelah dan ternyata karena kehamilannya.


Suara gemericik air yang beradu dengan ubin kamar mandi bagaikan sebuah irama pada indera pendengaran Sheila sehingga ia tak dapat menahan rasa kantuk yang menyerang netranya. Hingga Abimana keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri tertidur pulas. Maksud hati ingin tidur sambil memeluk sang istri namun ponselnya berbunyi dan mau tak mau Abimana langsung menjawabnya karena melihat nama asisten tak berakhlaknya.


"Hmmm ,,, apaan." Ucap Abimana tanpa basa basi.


"Yaelah bos, sensitif amat. Gak dapat jatah ya, hmm ??!" Ledek Shandy terkekeh.

__ADS_1


Abimana kadang heran dengan asistennya itu, tebakannya selalu saja benar. Apa Shandy keturunan cenayang ?


"Ck, bukan urusanmu. Sekarang katakan ada apa ?"


Shandy adalah sahabat dan orang kepercayaannya, pria itu tak pernah menghubungkan dijamin kerja kecuali jika ada sesuatu yang mendesak.


"Astaga, benar-benar gak dapat jatah, ya ? Bukannya aku disuruh bawa pekerjaan ke rumah ? Nah sekarang aku didepan pintu bos." Balas Shandy tak menyembunyikan kekesalannya.


"Hehehe ,,, sorry, aku keluar sekarang." Abimana memutuskan sepihak panggilan. Salah satu kebiasaan yang dibenci oleh sahabatnya sekaligus asistennya itu.


Perlahan Abimana membuka pintu kamar lalu kembali menutupnya. Ia tak ingin mengusik tidur istri tercintanya.


Abimana menyuruh Shandy langsung masuk dan mulai bekerja. Seorang ART membawakan minuman dan cemilan saat mengetahui menantu majikannya kedatangan seorang tamu.


"Silahkan dinikmati, pak."


"Terima kasih ya, Bi ,,," Balas Abimana ramah.


Selesai dengan urusannya si bibi kembali ke dapur meninggalkan kedua pria dewasa itu bekerja. Saking seriusnya mereka bekerja tak menyadari jika Sheila sudah bangun dan sedang duduk diruang keluarga yang tak jauh dari Abimana dan Shandy duduk. Kedua pria itu kompak mengangkat kepalanya ketika Alisha menggoda sang kakak.


"He'eh ,,, akhir-akhir ini kakak gampang lelah. Kalau gini terus kerjaan pasti akan menumpuk dan yang jadi korbannya pasti mbak Nia." Balas Sheila lebih menyerupai keluhan.


"Bos, adik iparmu cantik juga, tapi sayang sudah milik orang." Bisik Shandy pelan agar tak terdengar oleh kakak berada itu.


"Dia sedang masa iddah, kamu jangan sembarangan." Balas Abimana pun dengan pelan.


Shandy hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Seandainya saja mereka bertemu lebih cepat mungkin ia akan menikah wanita itu. Sesungguhnya Alisha adalah tipe wanita impiannya hanya saja Shandy tak menyukai bekas orang. Jika masih ada yang ting ting kenapa harus memilih yang sudah jebol.


"Kalau kamu menyukainya tunggu masa iddahnya berakhir, aku akan mengaturnya."


"Enggaklah, aku lebih memilih asisten bu bos." Balas Shandy serius.


Abimana melongo menatap asistennya tak percaya. Selama ini ternyata diam-diam asisten sekaligus sahabatnya itu memperhatikan asisten istrinya yang memang cantik dan lembut. Mata Shandy benar-benar jeli.


"Setelah istriku lahiran, kalian menikah."

__ADS_1


"Kelamaan bos, keburu karatan penghasil kecebongku."


"Jangan sembarangan nyosor, ntar kecewa. Selidiki dulu kehidupannya jangan sampai dia sudah memilih pendamping hidupnya, kan berabe." Ucap Abimana masuk akal.


Mereka memang hanya mengenal Nia sebagai asisten Sheila selebihnya tak ada diantara mereka yang mengetahui kehidupan wanita cantik itu. Nia pun sepertinya tidak terbuka masalah kehidupan pribadinya.


"Kalian sudah selesai kan ?" Tanya Sheila sambil berjalan ke arah mereka.


"Sudah Yang ,,, ayo gabung. Alisha mana ?" Abimana menolehkan kepalanya kesana kemari mencari keberadaan adik iparnya.


"Biasa, dia di ruang kerja papa." Balas Sheila mendudukkan dirinya di sebelah sang suami.


"Selamat ya Bu bos akhirnya hamil juga tapi gak ngidam kan ?"


"Jangan sebut-sebut kata itu, Shandy." Tukas Abimana sedikit berteriak.


Sejujurnya hal yang paling ditakuti oleh Abimana adalah ngidamnyq ibu hamil. Ia sering membaca artikel kelakuan dan permintaan aneh-aneh wanita hamil yang sedang ngidam.


"Semoga tidak tapi kalaupun ngidam semoga gak yang aneh-aneh, kasihan mas Abi." Ucap Sheila apa adanya.


Sheila sangat mencintai suaminya sehingga tak tega jika ia membuat prianya itu menderita karena ngidamnya. Harapannya benar-benar keluar dari hati yang paling dalam.


"Makasih Yang, kamu memang istri yang pengertian." Ucap Abimana memeluk sang istri.


Hoek hoek


"Mas jangan dekat-dekat." Ucap Sheila berlari ke kamar mandi khusus untuk tamu yang berada dekat tangga.


Abimana menatap punggung Sheila tak percaya. Tiba-tiba istrinya mual jika berdekatan dengannya padahal saat mereka dikamar tak seperti itu bahkan ia masih berlaku mesra dengan istrinya. Shandy sekuat tenaga menahan tawa melihat ekspresi bosnya.


"Semua ini gara-gara kamu." Desis Abimana tajam.


"Lho kok aku sih, bos." Balas Shandy tak terima tuduhan sahabatnya.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2