Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 61. AKU CAPEK, MAS


__ADS_3

Tiba di restoran, mereka lalu duduk dikursi yang sedikit terpisah dengan pengunjung yang lain. Mama Kalisha memesan berbagai jenis makanan yang tertera pada buku menu. Karena pelayanan restoran tersebut terkenal dengan kecekatan para kokinya maka mereka dan para pengunjung tak harus menunggu lama.


Dengan bersemangat Sheila menikmati makan siangnya. Pun sama halnya dengan mama Kalisha. Sedangkan mbak Nia terlihat agak canggung berada di tengah-tengah mereka.


"Aku pingin kalian berdua menikah." Ucap Sheila tanpa basa basi.


Uhuk uhuk uhuk


Mbak Nia tersedak dengan makanan yang baru saja beralih ke tenggorokannya. Meskipun ia tahu maksud dan tujuan bos dan keluarga mengajaknya makan siang bersama namun permintaan wanita hamil itu tak urung membuatnya kaget dan tersedak.


Shandy pun sama kagetnya dengan mbak Nia. Walaupun bahagia mendengar kata-kata Sheila namun ia tak menyangka akan secepat ini.


"Terima kasih atas perhatiannya, tapi maaf aku gak bisa. Bukan karena pak Shandy tak layak akan tetapi aku sudah memiliki pasangan dan sedang persiapan." Balas mbak Nia hati-hati.


Mbak Nia adalah salah satu gadis terhalus dan tak pernah menyinggung perasaan orang lain namun kali ini, ia tak punya cara lain. Jika saja ia bisa menghindar maka sudah pasti akan dilakukannya.


Jleeebbbb


Hati Shandy seolah jatuh ke tanah mendengar kenyataan tentang gadis pujaannya. Untung ia masih menyimak sehingga bisa berkelit agar harga dirinya tidak jatuh semakin dalam.


Abimana yang tahu perasaan Shandy pada mbak Nia merasa sangat prihatin dengan nasib sahabatnya itu. Bagaimanapun Shandy bagaikan saudara baginya bahkan mama serta papanya pun menganggap Shandy putranya.


"Gak perlu merasa sungkan atau tak enak hati, mbak ,,, itu hanya keinginan sesaat wanita hamil." Ucap Shandy setelah berhasil menguasai perasaannya.


"Ya sudah, berarti kalian gak berjodoh. Sebaiknya kita lanjutkan makan siangnya, gak enak kalau makanannya dingin." Timpal mama Kalisha.


"Maafkan aku mbak Nia dan Shandy." Ucap Sheila merasa bersalah pada keduanya.


"Gak apa-apa, jangan dipikirkan." Balas Shandy dan diangguki oleh mbak Nia.

__ADS_1


Mereka berlima kembali menikmati makan siangnya. Tak ada pembicaraan diantara mereka, semua tenggelam dengan pikiran masing-masing. Hingga hidangan diatas meja bersih. Entah mama Kalisha yang memesan makan dxlam jumlah sedikit atau Sheila yang makan dengan porsi yang banyak sehingga hidangan diatas meja tak bersisa.


Setelah selesai makan dan Abimana menyelesaikan pembayaran, mereka kemudian keluar dan menuju mobil masing-masing. Sheila dan mama Kalisha langsung pulang ke rumah diantar oleh Abimana sedangkan Shandy mengantar mbak Nia ke kantor perusahaan PT. Garda Utama terlebih dahulu sebelum kembali ke kantornya sendiri.


Tak ada pembicaraan antara Shandy dan mbak Nia. berbeda dengan Sheila dan mama Kalisha diambil yang berbeda, ada-ada saja yang dibicarakan oleh kedua wanita itu.


"Mama sama Sheila kok lebih kelihatan seperti ibu dan anak dibanding dengan aku yang anak kandung ?" Celetuk Abimana karena merasa diacuhkan.


"Salahkan dirimu yang terlahir sebagai laki-laki." Balas mama Kalisha sinis.


"Astaga ma, bukan maupun juga kan lahir sebagai laki-laki."Balas Abimana sengit.


Abimana tak terima dengan ucapan mamanya tersayang. Seolah mamanya menyesali kelahirannya padahal karena dirinya juga sehingga mamanya mendapatkan menantu perempuan untuknya.


"Maksud mama gak seperti itu, Bi. Mama sangat bersyukur bisa memiliki putra sebaik kamu hanya saja mama sangat gembira dan bahagia bisa memiliki anak perempuan."


Akhirnya perjalanan mereka sampai pada tujuan. Abimana menghentikan mobilnya di halaman yang tak jauh dari pintu utama rumah mewah tersebut.


"Assalamualaikum ,,," Kompak ketiganya mengucap salam.


"Waalaikumsalam ,,,, kalian sudah pulang ?" Balas Mama Rani yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Aku mandi dulu ya, ma ,,, gerah nih." Kebiasaan Sheila yang selalu mandi setiap kali selesai beraktifitas diluar rumah.


Walaupun kehamilannya baru memasuki bulan ke empat namun setiap selesai melakukan aktifitas Sheila selalu merasa berat dan lengket sehingga kini lebih sering mandi. Kadang ia mandi 4 sampai 5 kali sehari.


Melihat sang istri masuk ke dalam kamar, Abimana mengikutinya dan tak memperdulikan tatapan aneh mama Rani. Wajar saja jika mama Rani terlihat bingung karena pagi tadi Sheila masih enggan berdekatan dengan Abimana akan tetapi siang ini ia melihat pemandangan yang menakjubkan.


"Wah, kemajuan besar nih ,,, Sheila gak lagi mual ketika dekat dengan nak Abi."Seru mama Rani bahagia tapi juga bingung.

__ADS_1


"Mudah-mudahan saja masa ngidamnya sudah lewat dan Abimana lebih bersemangat bekerja."


Sejak kedatangannya, mama Kalisha diam-diam memperhatikan putra kesayangannya yang tak bergairah karena istrinya tak ingin di dekati. Mama Kalisha sebenarnya tak tega melihat putranya diperlakukan seperti itu namun kondisi menantunya yang sedang hamil dan ngidam membuatnya tak busa berbuat apa-apa selain hanya pasrah dan berharap masa ngidam Sheila segera berakhir.


"Yang ,,, boleh peluk ? Mas kangen pake banget." Pinta Abimana dengan wajah memelas.


"Tentu saja boleh, mas. Aku juga kangen pelukan mas." Balas Sheila sumringah.


Keduanya melepaskan kerinduan yang selama ini tak pernah tersalurkan. Abimana tak membuang-buang kesempatan dengan percuma. Ia mengekspresikan bentuk kerinduannya yang beberapa bulan ini tertunda.


"Yang, usia kandunganmu saat ini empat bulan, kan ?" Tanya Abimana tanpa mengurai pelukannya.


"Iya mas, memangnya kenapa ?" Sheila balik bertanya dengan wajah bingung. Ia mendorong pelan tubuh Abimana namun pelukan pria itu semakin erat.


Abimana melebarkan senyumnya. Pelan tapi pasti bibir dan tangannya mulai beraksi. Ia tak bisa lagi menunggu hingga malam untuk melakukan aksi petualangannya. Sebuah petualangan menuju puncak dengan melewati lembah dan memasuki goa yang selama beberapa bulan ini tak ia kunjungi. Abimana harus memeriksa setiap jengkal jalan menuju goa tersebut agar ia tak kesasar.


Perlahan tubuh Sheila berbaring dengan pasrah menerima setiap sentuhan yang dilakukan oleh sang suami. Lembut tapi mampu membuat aliran darah dan detak jantung semakin tak terkendali. Hingga ronde pertama berakhir dengan sukses. Merasa belum cukup, Abimana kembali beraksi kali ini menggapai gunung hanya sekilas lalu ia melanjutkan menyusuri padang rumput dan lembah yang terjadi dan licin sebelum akhirnya kembali memasuki goa kesukaannya. Walaupun gelap namun ia tak takut lqgi kesasar karena jalannya sudah ia lalui beberapa saat yang lalu.


Semangat membara Abimana ternyata diimbangi dengan sangat baik oleh Sheila. Hingga sesaat Abimana menatap lekat-lekat sang istri tak percaya dengan aksi liar wanita hamil itu. Rupanya kehamilan Sheila membuatnya berbeda mungkinmkarena hormonnya yang tak stabil.


"Thanks Yang ,,, " Ucap Abimana tersenyum puas.


"Aku capek mas ,,," Balas Sheila membalas ci**an Abimana.


"Jangan memancingku, Yang ,,, istirahat yang cukup, ya ?!" Abimana memeluk sang istri kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang full naked.


Karena kelelahan keduanya tertidur pulas. Abimana tertidur dengan senyum bahagia sedangkan Sheila tertidur karena rasa ngantuk dan lelah dengan petualangan yang kali ini terasa sangat berbeda.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2