Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 64. KITA NIKAH YUK


__ADS_3

Tiba di pavillium yang sengaja di ambil oleh Abimana dan keluarganya. Mereka ingin membuat ibu dan bayinya merasa nyaman selama masa pemulihan. Suster lalu mendekatkan boks bayi ke brangkar ibunya.


Perlahan mama Kalisha meletakkan cucunya dan menatapnya wajah mungil itu sejenak. Mama Rani serta Shehzad dan papa Kuncoro pun tak ingin ketinggalan. Kehadiran cucu pertama melengkapi kebahagiaan mereka.


Abimana tak melepaskan genggaman tangannya pada sang istri. Ia menatap penuh cinta pada ibu putranya.


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk cucu kami ?" Tanya mama Kalisha mengalihkan tatapan Abimana.


"Untuk sementara panggil Arsheno aja, ma ,,, kami belum menemukan nama belakangnya yang pas."


"Astaga, selama sembilan bulan ini kalian ngapain aja, kok belum menyiapkan nama untuk anak sendiri." Mama Kalisha sedang mode on ngomel.


"Gimana mau nyiapin nama, tante ,,, selama tiga bulan gak bisa dekat-dekat dengan kakak nah pas sudah dibolehin udah deh, ngebajak sawah terus dia ,,, nengok baby Arshen setiap ada kesempatan." Timpal Alisha santai.


Abimana dan Sheila hanya bisa tersipu malu, mereka bungkam karena memang demikianlah adanya. Hanya saja Abimana tak ingin di bully begitu saja setidaknya ada pembenaran atas kelakuannya.


"Kakak hanya mengikuti saran dokter Desi, agar Sheila segera kontraksi memang dianjurkan sering-sering menjenguk si baby." Balas Abimana tak mau kalah.


"Astaga kalian berdua gak ada bosannya bahas gituan, telinga cucuku jadi ternoda. Awas aja kalau besar nanti cucuku aneh-aneh." Omelan mama Kalisha membuat semua orang tertawa sehingga baby Arsheno menangis.


Dengan sigap mama Kalisha menggendong si baby kemudian meletakkan disisi Sheila.


"Berikan asi pertamamu, sayang ,,," Ucap mama Kalisha lembut.


Sheila memiringkan tubuhnya sehingga posisinya membelakangi semua orang. Pelan-pelan ia mencoba meny**ui baby Arshen. Dengan lahap si baby mengisap sumber kehidupannya.


Abimana menatap nanar mulut mungil baby Arsheno. Mulai saat ini miliknya akan dikuasai oleh bayi mungil itu. Abimana menarik napas panjang, demi darah dagingnya ia harus mengalah, toh tidak selamanya bayi mungil itu menguasai miliknya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Perlahan pintu tertutup dan menampakkan wajah tampan Shandy. Bersamaan dengan berhentinya baby Arsheno meny***. Setelah menerima pesan dari Abimana, pria itu langsung ke rumah sakit.


"Kami pulang dulu, Alisha temani dulu kakakmu. Nanti kami bawakan baju ganti." Pamit papa Shehzad mewakili yang lain.


Kedua pasangan itu memang belum sempat mandi karena subuh-subuh Sheila merasakan kontraksi yang hebat. Pun demikian halnya dengan Alisha. Namun Alisha tak mempermasalahkan itu karena ia bisa meminjam baju kakaknya.


"Hati-hati ma, pa ,,," Balas Sheila tersenyum manis.


Pintu kemudian tertutup dan kedua pasangan paruh baya itupun menghilang dan langkah kakinya semakin menjauh hingga tak terdengar lagi.


Tinggallah kini dua pasangan muda, yang satunya pasangan halal dan yang lainnya hanya kenal sepintas. Alisha memilih sibuk dengan ponselnya sedangkan Shandy dan Abimana terlihat serius dengan beberapa map yang berisi berkas. Rupanya Shandy selain datang menjenguk baby boy juga membawa pekerjaan untuk sahabat sekaligus bosnya.


"Iyalah, mama cantik dan papanya tampan, tentu saja keturunannya tampan." Balas Abimana tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas dihadapannya.


"Eh, aunty serta oma-omanya juga cantik dong." Celetuk Alisha tak terima dirinya tak dimasukkan sebagai orang yang turut berperan pada paras baby boy.


"Apa sih dek, gimana ceritanya aunty ikut berperan pada ketampanan bayi kami. Gak ada saham sama sekali." Ucap Abimana menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar adik iparnya.


"Kenapa kalian ribut sekali sih, rasanya aku baru aja tertidur dan harus terbangun gegara perdebatan kalian." Omel Sheila seraya berusaha bangun untuk menyandarkan tubuhnya.


"Ini lho, Yang ,,, Alisha ngotot mengklaim ketampanan bayi kita karena pengaruh kecantikannya sebagai aunty."


"Enak aja ! Mending kalian menikah dan punya anak sendiri daripada mengganggu anak kami."


"Diiihhh ,,, kakak, sombong banget baru juga punya bayi." Mata Alisha mendelik tajam ke arah kakak dan kakak iparnya.

__ADS_1


"Kita nikah yuk, aku juga malas pacaran. Buang-buang waktu." Ucap Shandy tanpa mengalihkan tatapannya pada bayi mungil yang menggemaskan.


Lagi-lagi Alisha mendelik tajam namun kali ini delikannya ia tujukan pada Shandy yang terlihat santai dan tanpa beban saat mengajaknya menikah. Ferdy saja yang melamarnya baik-baik berujung pada perceraian apalagi yang spontan seperti ini.


"Aku setuju."


"Aku juga setuju." Timpal Abimana tersenyum lebar.


"Tapi aku enggak !" Sarkas Alisha.


Saat ini ia belum memikirkan untuk mencari calon pendamping hidup apalagi tiba-tiba menikah. Sangat diluar nalarnya. Walaupun tak urung jantungnya berdetak kencang mendengar ajakan menikah oleh asisten kakak iparnya. Sepintas Alisha menatap wajah tampan Shandy dan jantungnya semakin tak bersahabat. Secepat kilat ia mengalihkan tatapannya agar jantungnya kembali normal.


'Dasar jamtung gak ada akhlak. ' Batin Alisha merutuki jantungnya.


"Sepertinya kamu harus berjuang, bro." Ledek Abimana sambil terkekeh.


"Pasti ada jalan untuk sebuah niat baik." Ucap Sheila mengedipkan sebelah matanya pada Shandy.


Sheila mengingat perkataan mama mertuanya yang sepertinya memiliki ide cemerlang untuk pasangan muda yang tak saling mencintai. Sheila yakin jika adik dan asisten suaminya akan berjodoh.


Shandy kembali pada mode on dingin. Ia hanya spontan mengajak Alisha menikah tak ada maksud lain. Shandy hanya ingin menggoda Alisha yang terlihat serius dengan ponselnya.


Suasana kamar kembali sunyi. Perlahan Shandy kembali ke tempat duduknya dengan posisi berhadapan dengan Alisha.


'Cantik tapi sombong.' Batin Shandy menatap dalam wajah cantik Alisha.


Siapapun yang melihat Alisha pasti akan mengakui kecantikannya. Meskipun sedikit juta pada orang yang baru ia kenal namun sikapnya akan berbanding terbalik jika sudah akrab dengannya. Bicara ceplas ceplos dan tanpa berpikir jika mengatakan sesuatu.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2