Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 30. MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

Perasaan Abimana tak enak, fix istrinya telah salah paham. Ia merasa bersalah mengingat tak sempat memberikan penjelasan saat pertama kali makan siang bersama Arumi dan bertemu dengan Sheila. Hari ini ia harus menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.


“Rumi, kamu pulang dengan Shandy. Dan Shandy tunggu aku di kantor, jangan pulang sebelum aku datang.” Titah Abimana tak ingin dibantah.


“Ada apa sih, bos ,,,” Balas Shandy bingung.


“Jangan banyak tanya, aku pergi dulu.” Abimana segera melesat keluar meninggalkan kedua bawahannya yang hanya bisa menatap punggung sang bos hingga menghilang.


Tanpa berkata-kata, Arumi mengikuti langkah kaki Shandy keluar restoran. Makan siang Arumi tak sesuai dengan ekspektasinya. Kali ini ia salah memilih restoran, ingatkan dirinya untuk mencari restoran lain yang tidak akan bertemu dengan Shandy dan Sheila. Gara-gara kedua anak manusia itu, makan siangnya terganggu.


“Apa kira-kira pak bos kita jatuh hati pada bu Sheila ?” Tanya Arumi saat mereka berada di atas mobil dan menuju ke kantor.


“Pak bos sangat mencintai seorang gadis dan itu pula yang menjadi alasan utamanya kembali ke tanah air, akan tetapi jika memang benar pak bos kita pada akhirnya memilih bu Sheila, aku rasa wajar-wajar saja karena bu Sheila memang adalah wanita istimewa dengan paket lengkap. Kaya, cantik, pintar dan ramah pada semua orang. Aku pun jika memiliki kesempatan akan berusaha agar bu Sheila bisa menjadi milikku. Bu Sheila wanita yang pantas untuk diperjuangkan.” Ucap Shandy panjang lebar.


Arumi terdiam mendengar penuturan Shandy. Semua yang dikatakan oleh Shandy adalah benar adanya akan tetapi tidak semua pria memiliki selera yang sama, bukan ? Arumi kembali tersenyum dan bersemangat.


Sementara itu di tempat lain tepatnya di perusahaan PT. Garda Utama, Abimana memburu Sheila yang telah dibawa oleh kotak persegi itu. Terpaksa Abimana menggunakan lift khusus karyawan, beberapa pasang mata melihatnya ia abaikan begitu saja. Tujuannya hanya satu yaitu Sheila. Istri yang untuk saat ini hanya sekedar status itu harus diberi penjelasan. Abimana tak ingin terkena imbas salah paham bisa-bisa ia akan menjadi suami perjaka karena tak mendapatkan haknya.


“Mbak Nia sudah makan siang ?” Tanya Sheila menatap sekretarisnya yang sepertinya melewatkan makan siangnya lagi.


“Hehehe ,,, lupa bu.” Balas Nia cengengesan.


“Ke kantin dulu makan, aku gak mau jika mbak Nia sakit gegara lupa makan.”


“Iya bu. Eh bu, ada CEO PT. Bhi_Lha berkunjung.”


“Mbak Nia makan aja, nanti aku yang urus.”


“Baik bu ,,,”


Sekretaris Nia kemudian menghilang untuk mencari asupan gizi untuk perutnya. Keasyikan kerja membuatnya lupa makan.


“Yang ,,, jangan salah paham.” Ucap Abimana dengan wajah serius

__ADS_1


Tanpa permisi, Abimana langsung masuk di ruang kerja Sheila kemudian duduk di depan meja kerja wanita cantik itu.


“Apa aku terlihat seperti orang salah paham ?” Sinis Sheila menatap tajam Abimana.


“Yang, kita suami istri. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Sama halnya apa yang aku pikirkan saat melihatmu makan siang bersama Shandy tanpa memberitahukan padaku.”


“Ck, jangan samakan pikiranku dengan pikiranmu, kak ,,,” Balas Sheila mencebikkan bibirnya.


“Yang !! Aku sudah cukup sabar menghadapimu !! Jangan sampai aku hilang kendali !!” Suara Abimana naik setengah oktaf.


“Kakak kira aku takut ?! Aku bukan gadis lemah yang bisa diancam-ancam seenaknya. Jadi mau kakak apa ? Mau ngajak berkelahi ? Ayo ,,, aku gak takut.” Bukannya takut, Sheila justru menantang Abimana untuk adu jotos.


Sudah sebulan ia tak pernah latihan bela diri. Jika ada yang mengajaknya berkelahi maka Sheila akan meladeninya dan menganggapnya sebagai sebuah latihan.


“Berkelahi ditempat tidur aja, Yang ,,,” Balas Abimana tersenyum penuh arti.


“Sinting !!” Desis Sheila dengan wajah memerah.


“Kalau bicaranya sudah selesai, silahkan kembali ke kantornya. Pekerjaanku masih banyak dan aku akan lanjut ke rumah sakit.” Ucap Sheila setelah hawa panas di wajahnya menghilang.


“Resign aja dari rumah sakit, Yang ,,, aku gak tega lihat kamu kelelahan. Kalau begini terus bagaimana masa depan pernikahan kita ?” Wajah Abimana berubah keruh memikirkan istrinya yang gila kerja.


“Seharusnya kakak memikirkan hal itu dan menolak dinikahkan malam itu.” Balas Sheila tak mau kalah.


“Tak ada yang harus disalahkan, Yang ,,, takdir kita memang untuk bersama.”


“Sudahlah kak ,,,” Sheila tak tertarik lagi melanjutkan pembicaraan.


“Gak bisa, Yang ,,, setelah ini kita gak punya kesempatan lagi. Kamu sibuk akupun begitu. Sekarang kita harus membicarakan semua hal dengan baik dan terbuka agar ke depannya gak ada lagi kesalahpahaman.” Tegas Abimana menempatkan dirinya sebagai seorang suami.


“Maksudnya ?!”


“Hari ini kita harus memiliki batasan tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tak boleh dilakukan agar kelak tidak ada kesalahpahaman lagi. Dan yang terpenting adalah komunikasi. Apapun yang mengganjal dalam hatimu bicarakan denganku. Satu hal yang harus kamu tahu, Yang ,,, sejak dulu hingga nanti ajal menjemput, hanya kamu yang ada dalam hatiku. Aku gak tahu bagaimana caranya agar kamu percaya akan tetapi itulah kenyataannya.” Abimana menatap lembut wajah istrinya yang tetap diam tak bereaksi.

__ADS_1


“Sekarang giliranmu, Yang ,,, apa batasan yang kamu berikan padaku. Satu yang aku minta, jangan memberikan harapan pada Shandy, dia sahabatku.” Lanjut Abimana tak ingin sahabatnya terluka.


Terlepas Shandy adalah sahabatnya, sebagai seorang pria, ia tahu jika Shandy memiliki ketertarikan pada Sheila. Sejak keluar dari rumah sakit, Shandy selalu membicarakan dokter cantik itu yang ternyata adalah gadis yang sangat dicintai oleh Abimana bahkan kini telah menjadi istrinya.


“Aku gak memberikan harapan pada pak Shandy. Dia mengundang makan siang sebagai ucapan terima kasihnya padaku.” Sheila tak terima dengan perkataan Abimana.


“Ok, untuk kali ini anggaplah seperti itu. Tapi berikutnya tolong beritahu aku jika akan meninggalkan kantor.”


“Perasaan awalnya kakak ingin membicarakan batasan kita diluar sana, tapi kok sejak tadi hanya kakak yang selalu memberikan batasan padaku.” Sinis Sheila tajam.


“Hehehe ,,, maaf, Yang, aku terlalu mencintaimu.” Abimana menampilkan senyum manisnya namun terlihat menjengkelkan dimata Sheila.


“Sudahlah ,,, lebih baik kakak pulang sana.”


“Aku gak akan pulang sebelum mendengar batasan untukku.” Abimana malah memperbaiki duduknya menunggu Sheila mengatakan balasannya.


“Baiklah, jika itu maunya kakak.”


Abimana bagaikan penduduk yang sedang antri pembagian sembako menunggu kata-kata yang akan diucapkan oleh sang istri.


“Pada dasarnya semua batasanku sama aja dengan keinginan kakak hanya saja aku tambahkan satu hal. Ganti sekretarisnya dalam dua hari.” Tegas Sheila.


“Yang, kamu bercanda kan ? Arumi hanya teman bagiku selain itu aku membutuhkan sekretaris yang bisa mengerti diriku.” Ucap Abimana frustasi.


“Terserah !! Yang penting aku sudah mengatakannya.” Balas Sheila mode on cuek.


Kali ini Sheila bertindak sebagai pebisnis. Ia tak mungkin melakukan semua batasan Abimana jika pria itu pun tak memenuhi permintaannya. Sheila tak ingin dirugikan.


"Yang, ada jalan lain gak ?" Abimana mencoba bernegosiasi.


"Ada ! Jika kakak gak mau memecatn sekretaris itu karena membutuhkannya maka nikahi dia dan belasan aku." Sarkas Sheila tak memberi celah pada Abimana untuk mempertahankan Arumi sebagai sekretarisnya.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2