
Sekretaris Nia lalu keluar ruangan Sheila dan mengabari Shandy jika direkturnya menyetujui undangan makan siangnya.
Membaca pesan sekretaris Nia membuat Shandy tersenyum lebar. Abimana yang secara kebetulan melihatnya mengerutkan dahinya. Bersamaan dengan Arumi masuk dengan kopi dan cemilan diatas nampan yang dibawanya.
“Kenapa senyum-senyum kayak orang kurang waras ?” Tanya Abimana menatap sahabatnya.
“Siang nanti aku ada acara.” Jawab Shandy singkat dan padat.
“Oh ya, bos, kita makan siang di restoran itu lagi ya ? kali ini aku yang traktir.” Timpal Arumi mengajak Abimana.
“Kalian saban hari makan siang bareng, apa gak takut orang akan salah paham ?” Shandy menatap Abimana dan Arumi bergantian.
Walaupun Shandy tahu jika Abimana hanya menganggap Arumi sebagai teman namun Shandy bukan anak balita yang tidak mengerti makna yang tersirat pada tatapan Arumi. Abimana pria tampan dan CEO sebuah perusahaan yang kini sedang berkembang meskipun belum sebesar PT. Garda Utama.
“Jangan khawatir, aku sudah memiliki pasangan dan Arumi adalah temanku. Jadi hubungan kami jelas. Adapun sangkaan orang di luar sana gak masalah bagiku asalkan jangan pasanganku yang salah paham.” Pungkas Abimana santai.
Arumi menundukkan wajahnya mendengar kata-kata Abimana. Ada rasa sakit mendengar pria yang selama ini ia cintai ternyata hanya menganggapnya sebagai teman.
‘Siapa gadis yang berhasil merebut hati Abimana.’ Batin Arumi bertanya-tanya.
“Aku sudah memperingatkanmu jadi jangan pernah menyalahkanku.” Balas Shandy dengan tatapan sinis pada Arumi.
Sebagai seorang sahabat, Shandy tak ingin Abimana gagal dalam merebut hati gadisnya. Meskipun Abimana tak menyebutkan nama gadis itu tapi Shandy bisa menebak jika gadis tersebut sangatlah istimewa. Terbukti hingga kini Abimana masih mencintainya.
Tak ingin melanjutkan perbincangan, Abimana kembali menekuni pekerjaannya pun sama halnya dengan Shandy sehingga mau tak mau Arumi pun kembali ke meja kerjanya yang terletak di depan ruangan Abimana dan Shandy.
Shandy sengaja mengatur sedemikian rupa agar ia berada dalam satu ruangan dengan Abimana. Sejak awal ia tak mempercayai perasaan Arumi pada Abimana sebagai seorang teman.
Sebelum jam istirahat siang, Shandy sudah ngacir duluan. Siang ini ia tak ingin diganggu oleh siapapun sehingga makan siangnya bersama dokter cantik berantakan. Sebagai seorang pria tentu saja Shandy menyukai Sheila yang ramah, cantik dan baik hati. Paket komplit untuk dijadikan sebagai kandidat calon istri. Pun begitu, Shandy tak ingin gegabah.
Sheila sudah menentukan restorannya dan Shandy pun tahu dari sekretaris Nia. Kini keduanya menuju restoran Jepang yang merupakan tempat favorit Sheila dan sahabat-sahabatnya. Sama halnya dengan Sheila dan Shandy, Arumi dan Abimana pun sedang bersama untuk makan siang.
“Lho, Shandy ?! Kamu makan disini juga ?!” Kaget Abimana melihat sahabat sekaligus asistennya duduk diseberang mejanya.
“Hehehe ,,, ternyata kita satu selera.” Balas Shandy cengengesan.
“Teman makan siangnya belum datang ?”
“Tuh, baru aja masuk.” Balas Shandy melihat kearah Sheila yang berjalan kearahnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tanpa memperhatikan sekelilingnya, Sheila langsung duduk di depan Shandy. Wajah Abimana seketika berubah melihat ternyata orang yang dimaksud Shandy ternyata adalah istrinya.
“Maaf pak Shandy, sedikit terlambat.” Ucap Sheila basa basi.
“Kami bisa bergabung ?” Suara Abimana seketika membuat Sheila berbalik.
Semula ia merasa bersalah namun detik berikutnya rasa bersalah itu hilang melihat untuk kedua kalinya pria itu makan siang bersama dengan sekretarisnya. Dirinya saja yang memiliki sekretaris wanita tidak sedekat itu padahal ia selalu menepis perbedaannya dengan mbak Nia.
“Gimana dok ?” Tanya Shandy meminta persetujuan Sheila.
“Oh tentu saja boleh, anggap aja kita lagi double date.” Balas Sheila santai.
Shandy terkekeh mendengar ucapan Sheila. Inilah yang ia maksud di kantor tadi pagi. Orang akan mempercayai apa yang terlihat. Sementara Abimana merasa tak enak hati mendengar kata-kata sang istri walaupun terdengar santai.
Dengan antusias Arumi menggeser kursinya. Ia ingin mengakrabkan diri dengan direktur perusahaan terbesar di tanah air. Walaupun ramah pada semua orang namun Sheila tidak gampang akrab dengan semua orang. Salahkan om Roy yang membentuk karakternya selama ini. Sejak melihat perkembangan Sheila yang cepat menangkap setiap diajarkan oleh Roy maka Shehzad memutuskan agar kelak yang menggantikannya adalah Sheila. Alisha dan Sheila pada awalnya diajar secara bersama-sama oleh Roy namun hanya otak Sheila yang mampu menerima dengan baik.
Diam-diam Sheila menarik napas panjang. Ia tak nyaman dengan orang yang sok akrab. Meskipun Sheila senang berteman dengan siapa saja namun pengecualian terhadap Arumi. Untuk pertama kalinya Sheila tak pada seseorang dan itu adalah Arumi.
Pelayan restoran berdiri disamping meja untuk menunggu pesanan mereka. Sheila segera memesan beberapa menu kesukaannya. Shandy, Abimana dan Arumi melongo tak percaya mendengar pesanan gadis cantik itu. Mereka saling bertukar pandang. Abiamna merasa ada yang aneh pada sang istri.
“Ya ,,, maksudku bu Sheila mampu menghabiskan makanan sebanyak itu ?” Tanya Abimana hampir saja memanggilnya Yang seperti biasanya.
Susah payah Abimana berusaha menelan salivanya mendengar kata-kata sang istri namun tidak demikian haknya dengan Shandy yang menanggapnya sebuah lelucon.
“Dokter cantik, bisa aja bercandanya.” Ucap Shandy masih dengan sisa tawanya.
Abimana pun segera menyebutkan pesanannya untuk menghindari kata-kata ngawur wanitanya begitupula dengan Shandy.
“Kamu gak pesan, Rumi ?” Tanya Shandy melihat Arumi tak menyentuh buku menu.
“Aku samain aja dengan pak Abi.” Balas Arumi lembut.
“Wiiiihh ,,, segitunya sampai makanan pun disamain. Kenapa gak sekalian makan satu piring aja.” Sindir Shandy tajam.
“Wahhh ,,, ide bagus itu. Kan lumayan juga bayarnya bisa lebih hemat.
“Mbak untuk pasangan ini satu piring aja, ya. Kalau perlu sendoknya pun satu aja agar mereka saling suap-suapan, lumayan kan nonton adegan romantis secara live.” Lanjut Sheila tersenyum manis.
Wajah Abimana memerah menahan amarah. Ia tak tahu harus meluapkan amarahnya pada siapa. Sementara Sheila cuek bebek dengan perubahan wajah Abimana. Benar-benar wanita yang memiliki pengendalian diri yang maksimal. Walaupun hatinya sudah membara namun yang terlihat adalah wajah yang cantik dengan senyum yang manis. Benar-benar wanita elegan dan berkelas.
__ADS_1
“Oh ya dok, sambil menunggu makanan disajikan, boleh aku bertanya sesuatu ?” Tanya Shandy tiba-tiba.
“Tentu saja boleh, tapi jangan memanggilku dokter karena saat ini kita tidak sedang di rumah sakit. Cukup panggil saja Sheila seperti teman yang lain.” Balas Sheila masih dengan senyum manisnya.
Abimana mendengus kasar mendengar pasangan di depannya mulai mengakrabkan diri. Ingatkan ia menghukum sahabatnya setelah ini. Berani-beraninya asistennya itu berusaha mendekati istrinya. Ingin rasanya Abimana berteriak jika wanita cantik itu adalah istri sahnya. Tapi semua kata-katanya kembali ia telan karena mengingat perjanjian mereka. Abimana kini menyesal telah menyetujui persyaratan gila sang istri.
“Sudah punya kekasih atau pacar ?” Tanya Shandy antusias.
Sheila tertawa pelan mendengar pertanyaan tak bermutu pria itu. Bukan Sheila namanya jika tak bisa meladeni laki-laki macam Shandy. Bukan kali pertama Sheila menghadapi pria seperti ini.
“Gak ada, memangnya kenapa ?”
“Atau suami mungkin ? Siapa tau aja kan direktur PT. Garda Utama sudah menikah diam-diam yang artinya Shandy gak punya kesempatan.” Timpal Abimana tersenyum lebar menyembunyikan emosinya.
“Suami ?! Itu sih masih dipertanyakan dan di pertimbangkan. Karena terkadang pria yang mengaku suami seseorang tapi sukanya jalan dengan wanita lain.” Balas Sheila tersenyum sangat manis.
“Bu Sheila sedang mempertimbangkan seseorang untuk dijadikan suami ?” Arumi ikut angkat bicara. Ia sangat tertarik dengan kehidupan pribadi direktur cantik itu.
“Kenapa kalian sangat kepo dengan kehidupan pribadiku ? Kita kesini untuk makan siang, kan ?” Ucap Sheila mengalihkan pembicaraan.
“Maaf bu.” Ucap Arumi menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah berharap perhatian dari Abimana.
Sheila yang sudah terlatih membaca bahas tubuh seseorang tersenyum licik. Ia tahu maksud Arumi memperlihatkan wajah bersalahnya.
“Pak Abi, tolong dibujuk pacarnya agar tidak merasa bersalah padaku.”
“Dia bukan pacarku. Hanya teman yang ku jadikan sekretaris sama dengan Shandy yang seorang sahabat kujadikan asistenku.” Tegas Abimana.
Sheila hanya mengangkat bahunya acuh kemudian menikmati makan siangnya yang sudah tertata rapi di depannya. Sheila dan Shandy makan dengan lahap sedangkan Arumi kehilangan nafsu makan mendengar ucapan Abimana.
“Kapan bu Sheila ada waktu, aku ingin berkunjung ke kantor.” Tanya Abimana setelah menyelesaikan makannya.
“Sepertinya gak ada waktu pak Abi, pekerjaanku banyak daniaku mengambil shift malam karena pagi sampai sore jatahnya perusahaan.”
“Bu Sheila gak takut sakit karena kecapean kerja ?” Timpal Arumi.
“Gaklah mbak, karena aku menikmati kedua pekerjaanku itu. Perusahaan merupakan kewajibanku sebagai anak untuk memelihara dan membuatnya berkembang sedangkan dokter merupakan cita-citaku sejak dulu. Seberat Apapun pekerjaan jika dinikmati maka kita tidak akan pernah merasa terbebani.” Pungkas Sheila.
Tak ada lagi yang bersuara. Keempat anak manusia itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sheila pun merasa sudah cukup lama terlibat pembicaraan yang tak bermanfaat. Melirik jam tangannya Sheila kemudian pamit undur diri dan langsung meninggalkan ketiganya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷