
Rapat berakhir dengan sedikit perbedaan pendapat, pasalnya Sheila sengaja menggantung perusahaan PT.Bhi_Lha setelah mengetahui jika perusahaan tersebut adalah milik Abimana apalagi melihat sekretaris pria itu ternyata yang pernah ia lihat makan siang bersama Abimana. Hingga saat ini pria itu belum memberikan penjelasan mengenai hubungan mereka.
“Mbak Nia, tolong bawa ini ke ruanganku.” Sheila memberikan proposal PT. Bhi_Lha pada sekretarisnya.
“Karena meetingnya selesai dan keputusan akhir ada padamu maka om pamit dulu, dipanggil sama papamu.” Pamit pak Roy pada Sheila.
Sheila pun berdiri dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya keluar namun sebelum mencapai pintu, Shandy menghentikan langkahnya.
“Tunggu dokter cantik !” Teriak Shandy membuat Abimana menatapnya kesal.
Shandy yang tidak mengetahui hubungan Abimana dan Sheila mengabaikan tatapan kesal sang bos. Ia mengira jika Abimana kesal padanya karena suaranya terlalu kencang.
“Ada apa, pak ,,,” Ucap Sheila sambil tersenyum ramah.
Seorang dokter seperti Sheila yang tulus saat menghadapi pasien-pasiennya senantiasa memberikan senyum ramah tanpa membedakan status sosial mereka. Bagi Sheila semua manusia sama dihadapan Sang Pencipta.
“Aku ingin mentraktir bu dokter sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongku.”
“Sudah menjadi tugasku pak Shandy. Tapi jika memang niat pak Shandy tulus maka silahkan atur aja jadwalnya.” Balas Sheila masih dengan senyum ramahnya.
Sheila sengaja menerima ajakan Shandy agar pria yang sedang menatapnya dengan tajam itu merasa kesal. Ia merasa dipermainkan oleh Abimana karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Sheila bukannya mempermainkan Shandy akan tetapi pria tampan itu memang tulus padanya setidaknya untuk saat ini.
Mendengar pembicaraan keduanya membuat wajah Abimana memerah. Ia benar-benar marah dan kesal pada kedua anak manusia dihadapannya. Apalagi melihat senyuman Sheila pada Shandy membuatnya semakin meradang. Dirinya saja sebagai suami tidak pernah mendapatkan senyuman sang istri. Arumi menatap Abimana penasaran melihat ekspresi wajah sang bos yang tak biasa.
‘Apa yang salah ? Bukankah wajar jika pak Shandy memiliki ketertarikan pada direktur perusahaan PT. Reksa Utama yang memang sangat cantik ?’ Batin Arumi semakin penasaran.
“Kalian berdua pulanglah lebih dulu, aku masih ada urusan dengan ibu direktur .”
“Butuh teman, bos ?” Tanya Shandy mengabaikan perubahan wajah sahabatnya.
“Gak perlu ! Ini urusan pribadi !”
Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, akhirnya Shandy mengajak Arumi pulang lebih dulu. Lagipula Abimana bawa mobil sendiri. Setelah Shandy dan Arumi masuk ke dalam lift, Abimana pun menyusul namun ia harus menunggu karena lift tersebut sedang membawa sang empunya perusahaan. Tak lama kemudian lift itupun kembali dimana Abimana berada, bergegas pria tampan itu masuk ke dalam kotak besi tersebut.
Ting
Lift itupun berhenti. Abimana berjalan dengan tenang menuju ruangan direktur. Tanpa menemui kesulitan Abimana sudah berada di dalam ruang kerja sang istri Abimana memanfaatkan kesempatan ketika sekretaris Nia membelakang karena mengambil air minum pada dispenser.
“Ada apa ? Bukannya sudah kukatakan jika akan mengkaji ulang ?” Ucap Sheila berusaha meredam emosinya.
“Santai Yang, jangan marah-marah terus nanti cepat tua lho.” Abimana duduk dengan santai disofa yang menghadap ke meja Sheila.
__ADS_1
“Kenapa gak pulang sih ,,, aku gak bisa diajak bicara. Pekerjaanku banyak.” Tukas Sheila tanpa ekspresi.
“Aku gak ingin bicara, Yang ,,, hanya ingin bertanya sesuatu hal.”
Abimana berubah terdengar sangat serius sehingga mau tidak mau Sheila menghentikan pekerjaannya. Sejenak ia menatap wajah tampan Abimana dengan ekspresi bingung.
“Tentang pak Shandy ?” Sheila menebak begitu saja.
“Bukan, aku tahu kalian akan janjian makan bersama jadi aku gak perlu bertanya lagi.”
“Cepat katakan, aku gak ada waktu main tebak-tebakan.” Ucap Sheila datar.
“Tapi kamu harus jujur, Yang ,,,”
“Iya, cepat katakan bapak Abimana.”
Kekesalan Sheila sudah sampai pada ubun-ubun. Tatapannya menajam dengan gigi gemeretak. Melihat wajah Sheila yang sudah berubah sedemikian rupa, bukannya takut Abimana malah terkekeh.
“Kamu semakin menggemaskan, Yang ,,,”
Bukkkk
Sebuah pulpen mendarat sempurna mengenai kepala Abimana. Pria itu hanya meringis tanpa menghentikan kekehannya.
"Makanya cepat katakan." Sheila mulai putus asa menghadapi Abimana.
“Ok. Aku akan serius sebelum sesuatu yang lebih besar menimpa kepalaku.”
Abimana mendekati meja kerja Sheila lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan sang istri. Ia lalu menatap dalam-dalam wajah cantik penghuni hatinya.
“Bagaimana pendapatmu tentang CEO PT Bhi_Lha ? Apa kamu jatuh cinta padanya ? Aku akan menepati janjiku jika kamu benar-benar mencintainya, Yang ,,, aku ikhlas.” Lanjut Abimana setelah terdiam beberapa saat.
Wajah Sheila memerah mendengar penuturan Abimana. Bagaimana bisa ia memilih jika CEO yang dimaksud oleh Abimana adalah orang yang sama. Sheila mendengus kasar.
“Gimana kalau aku meralat kata-kataku pagi tadi dan memilih pak Shandy.”
“Gak konsisten banget jadi orang.” Ucap Abimana tak suka.
“Jika menyangkut kebahagiaan kenapa enggak ? Semua yang terjadi dalam hidup kita adalah pilihan jadi selagi bisa memilih maka kita harus memanfaatkannya, kan ?”
“Aku gak mau berdebat, Yang ,,, maka pilihlah salah satunya. Jika memilih suamimu maka kita akan bersama selamanya akan tetapi jika kamu memilih CEO itu maka dia akan melamarmu dan menikahimu. Aku akan mengalah demi dia.” Ucap Abimana serius.
__ADS_1
“Sinting !! Bagaimana aku bisa memilih orang yang sama ?! Ujung-ujungnya kita akan tetap bersama. Coba masukkan pak Shandy pada pilihan ketiga.”
"Sejak awal Shandy gak ada dalam pilihanmu, Yang ,,, hanya ada aku dan CEO PT. Bhi_Lha. " Tegas Abimana.
Lagi-lagi Sheila mengusap wajahnya frustasi. Ia menyesali kata-katanya, kini ia bagaikan makan buah simalakama. Sheila terjebak dengan kata-katanya sendiri.
“Jangan frustasi kayak gitu, Yang ,,,” Ucap Abimana tersenyum lembut.
“Bukan maksudku membuatmu kayak gini, Yang ,,, tapi masa depan kita harus dipikirkan. Beberapa hari lagi Alisha akan pulang dan sementara waktu pasti akan tinggal di rumah papa. Coba pikirkan tanggapan mereka saat melihat kita tinggal bersama sementara mereka belum tahu tentang pernikahan kita. “
“Makanya pulang dan tinggallah di rumah keluarga kakak. Gampang kan ?”
“Itu bukan jalan keluarnya, Yang ,,, coba beri aku pilihan yang bisa menjamin kehidupan rumah tangga kita ke depannya.”
Sheila terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan oleh pria yang telah menikahinya dengan cara yang sangat berbeda dari pernikahan pada umumnya. Dalam hati ia membenarkan ucapan Abimana. Namun rasa kecewa itu masih menguasai hatinya sehingga ia tak bisa memberi kesempatan begitu saja pada pria itu.
“Baiklah dalam keluarga, kita akan mengakui dan mengumumkan hubungan kita akan tetapi di luar sana tak boleh ada yang tahu tentang pernikahan kita. Tapi ingat hanya di depan keluarga kita saja.” Ucap Sheila tanpa berpikir panjang.
Sesungguhnya Sheila sudah tak mampu lagi berpikir dengan jernih. Otaknya yang setiap hari berpikir tentang pekerjaan tak lagi bisa menemukan jalan keluar untuk masalah dalam hidupnya yang terlalu rumit. Abimana hanya memerlukan persetujuannya saja maka ia harus menyetujuinya. Tak ada jalan lain bagi Sheila. Kedepannya biarlah waktu yang berbicara.
“Ok, deal ,,,” Abimana tersenyum dan langsung berdiri mengukurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan.
‘Terima kasih ya Tuhan ,,, semua ini adalah langkah awal menggapai sebuah rasa yang masih tersisa.’ Batin Abimana optimis.
“Kita makan siang bareng, Yang ,,, sebagai awal kesepakatan kita.”
“Lain kali aja, kak ,,, aku sibuk.” Tolak Sheila halus.
“Kalau gitu, kita makan disini saja. Biar aku yang pesan makanan.” Ucap Abimana tak kehabisan akal.
Sheila hanya diam tak menanggapi pria itu. Abimana terlalu keras kepala. Pekerjaan hari ini tak boleh ditunda karena ia tak mungkin lembur seperti papanya jika pekerjaannya menumpuk. Malam hari pun Sheila masih harus melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
Pandangan mata Sheila sedikit teralihkan kala pintu ruangannya diketuk dan Abimana berdiri dan membuka pintu kemudian pria itu kembali dengan kresek ditangannya. Sheila kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Yang, makan dulu yuk ,,,”
Tak ada tanggapan dari Sheila. Pria itu mendengus halus ajakannya tak direspon. Abimana berdiri didepan meja kerja Sheila.
“Yang, makan siang dulu ,,, kalau sakit siapa yang akan mengurus perusahaan ?”
“Iya, bawel !! Selesai makan kakak langsung pulang, ya ,,, aku gak bisa fokus kalau kakak ngomong terus.”
__ADS_1
Abimana menatap datar sang istri mendengar pengusiran atas dirinya yang tak berprikemanusiaan menurutnya. Ia membiarkan Sheila terus mengomel. Merasa kata-katanya tak berpengaruh pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu, Sheila pun akhirnya diam menikmati makan siangnya. Menghadapi Abimana menguras seluruh energinya.
🌷🌷🌷🌷