
Tak terasa waktu sebulan telah berlalu sejak pembicaraan pernikahan Alisha dan Shandy, hubungan keduanya pun membaik. Alisha lebih ekspresif sementara Shandy masih berhati-hati dan lebih menahan diri. Pria itu masih memikirkan banyak hal sebelum melangkah lebih jauh. Kesiapan materi bukan hal yang harus dipersoalkan, namun perasaannya yang belum bisa diajak berdamai. Nama Alisha belum mampu menguasai hatinya sepenuhnya.
"Gimana usulan mama ?!" Tanya mama Kalisha saat mereka sedang sarapan.
Kebetulan mama Rani dan papa Shehzad pulang ke rumah mereka karena sudah ditinggalkan beberapa hari.
"Aku masih ragu, ma ,,," Balas Shandy jujur.
"Padahal aku lihat Alisha memiliki rasa yang lebih padamu." Timpal Sheila apa adanya.
Ia mengenal dengan baik adik satu-satunya. Bagi Sheila, adiknya itu sudah seperti sebuah buku yang bisa ia baca kapan saja. Walaupun saat masih sama-sama gadis mereka memiliki kesibukan sendiri namun mereka tetaplah saudara kandung yang akan saling bercerita di kala ada waktu setingkat apapun.
"Yang penting salah satu dari kalian memiliki rasa, maka akan lebih mudah, suatu saat cinta itu akan muncul dengan sendirinya." Abimana ikut angkat suara.
Abimana berkata dengan sangat yakin karena ia sendiri mengalami hal itu. Walaupun pada awalnya ia berjuang sendiri tanpa lelah dan pada akhirnya Sheila kembali mencintainya. Dan Abimana percaya Alisha bisa membuat Shandy jatuh cinta padanya.
"Bener tuh, cinta akan timbul sejalan dengan waktu. Asalkan kalian berusaha membuka hati untuk menerima kehadiran pasangan." Papa Kuncoro akhirnya ikut berbicara dan mendukung sepenuhnya pernikahan Shandy dan Alisha.
"Untuk pertama kalinya kalian satu bahasa dan terdengar damai. " Ledek Shandy terkekeh.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Shandy. Tak pernah sekali mereka berbicara dengan damai seperti saat ini. Dimanapun mereka berada hanya lima menit pertama Abimana dan mama Kalisha damai dan menit keenam pasti mereka silang pendapat dan berujung perdebatan.
"Karena semua untuk kebaikanmu, Shandy Utomo !!!" Kompak ketiganya.
Sheila terkekeh mendengar ketiganya mengucapkan kata-kata dengan kompak. Sedangkan Shandy menganga tak percaya. Suatu keajaiban baginya mendengar papa Kuncoro yang berwibawa dan irit bicara kini berubah. Apakah karena beliau sudah pensiun sehingga sedikit stres ? Hal yang biasa bagi para pejabat yang tiba-tiba tak ada pekerjaan.
"Jika kamu setuju, Alisha juga pasti tak akan menolak. Percaya deh." Sheila berusaha meyakinkan Shandy.
"Bener tuh, jangan terlalu lama berpikir nanti diambil orang. Jangan sampai menyesal." Timpal Abimana.
__ADS_1
"Bismillah. Baiklah aku setuju." Ucapan Shandy dan disambut baik oleh semuanya.
Mama Kalisha segera menyelesaikan sarapannya kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi mama Rani dan Shehzad. Mama Kalisha melakukan panggilan grup dan menyalakan loudspeakernya sehingga semua orang mendengarnya.
"Halo, kami baru semalam menghilang tapi kamu sudah rindu aja." Terdengar suara mama Rani terkikik geli meledek besannya.
"Ck, aku bukannya merindukanmu tapi ada berita baik untuk keluarga kita." Balas mama Kalisha jengah mendengar bagaimana narsisnya nenek baby Arsheno.
"Berita baik ?! Bukan karena Sheila hamil lagi kan ?!"
"Mama !!! masih nifas juga, gimana bisa hamil lagi ,,," Timpal Sheila tak terima.
Sekuat-kuatnya Sheila mengandung tak mungkin ia akan hamil secepat itu. Tak mungkin ia membiarkan perusahaan terbengkalai atau mempercayakan perusahaan pada orang lain. Sheila harus membesarkan baby Arsheno dengan kasih sayang yang melimpah.
Semua tertawa mendengar perdebatan kecil Sheila dan mama Rani. Rupanya bukan hanya Abimana vs mama Kalisha namun Sheila pun sama haknya dengan sang suami. Kehangatan keluarga mereka membuat Shandy sedikit demi sedikit menumbuhkan keyakinannya untuk mengarungi baterai rumah tangga dengan Alisha.
"Jangan dimatikan teleponnya, kebetulan Alisha sedang bicara sama papanya."
Mama Rani menghampiri anak dan suaminya yang sedang berbicara entah apq yang sedang mereka bahas.
"Sayang, mama mau ngomong." Terdengar mama Rani berbicara pada putrinya.
"Bicara aja ma, pembicaraan kami gak serius banget kok." Balas Alisha tersenyum manis.
"Ini lho, nanti malam mama Kalisha akan ke rumah kita untuk melamar kamu. Katanya kalau kamu setuju bisa juga langsung menikah."
"Mama suka asal deh kalau ngomong. Pernikahan itu memerlukan kesepakatan dua orang yang berbeda ma. Gak bisa dong hanya karena desakan para orang tua atau hanya dengan persetujuan saja." Terdengar suara Alisha menyampaikan pemikirannya.
Semua perkataan Alisha dimaklumi dan dimengerti oleh semua orang. Shandy yang ikut mendengarkan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memahami pemikiran Alisha karena berdasarkan kegagalan pernikahannya yang lalu.
__ADS_1
"Bukan desakan orang tua sayang, tapi nak Shandy juga menyetujuinya makanya mama Kalisha meminta persetujuanmu agar setelah kalian menikah tak terjadi masalah."
"Bener nak Alisha, disini juga ada Shandy kok." Terdengar suara mama Kalisha menimpali.
"Astaga mama ?!" Setengah berteriak Alisha melotot pada sang mama. Wajahnya memerah karena malu.
"Gak usah malu nak, gak ada orang lain yang mendengarnya kok." Ucap mama Kalisha mengisyaratkan agar Sheila dan Abimana tak bersuara.
"Kali ini kami mendukungmu nak." Timpal papa Shehzad.
"Baiklah, Alisha setuju. Apapun keputusan kalian aku mengikut." Balas Alisha yakin.
Karena dukungan kedua orang tuanya maka Alisha tak lagi merasa ragu untuk memulai kehidupan baru dengan pasangan yang baru. Semoga saja kali ini ia akan berakhir dengan bahagia.
"Ok, sampai ketemu nanti malam. Kita langsung menikahkan mereka saja." Ucap mama Kalisha mematikan sambungan selulernya.
Abimana menggoda Shandy dengan menaik turunkan alisnya sedangkan Sheila menatap calon adik iparnya dalam-dalam.
"Shandy, antar mama cari cincin kawin dan seserahan."
"Memang masih bisa ma ? Hampir siang lho, ini ,,," Sheila menatap takjub mama mertuanya yang terlihat sangat antusias.
"Sempatlah. Kan hanya telepon teman mama, nanti setelah beli cincin kami mampir ke butiknya sekalian ngambil seserahannya. Gak usah khawatir, serahkan semuanya ke mama." Balas mama Kalisha membanggakan diri.
"Kalau menyangkut urusan seperti ini, mama kalian jagonya." Timpal papa Kuncoro dan langsung dipelototi oleh sang istri.
Pria paruh baya itu cengar cengir, hampir saja ia keceplosan mengenai proses pernikahan Abimana dan Sheila. Untung baby Arsheno menangis sehingga Sheila berlari masuk ke dalam kamar melihat putranya.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1